Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
10. Mulai Sekarang Namamu Asahi


__ADS_3

Part 10


Anta menarik kaki Ria dan menjatuhkannya tepat ke atas kasur. Anta lantas menjambak rambut Ria dengan kencang sampai mengaduh.


"Keluar dari tubuh teman Anta! Nanti Anta akan berusaha mengungkap kejahatan kepala desa ini sambil cari Arya. Kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Anta.


"Kalau bicara yang nggak baik-baik, yang kayak gimana, Nta?" bisik Arga.


"Ya, ngomongnya kasar. Semua kebun binatang diucapkan sama umpatan, hehehe."


"Kirain ada pertarungan gitu. Kan kasian hantu itu lagi pakai badannya Ria," ucap Arga.


"Tenang aja. Kamu berdiri!" Anta meminta Mibabi untuk berdiri. 


Selepas menurut, Anta menepuk punggung tubuh Ria sampai terbatuk-batuk. Arwah Mibabi seketika keluar dari tubuh Ria.


"Lho, lho, lho? Kok, bisa?" Mibabi menatap tak percaya. Begitu juga dengan Tuan Watanabe.


"Kasih Ria minyak kayu putih, Ga!" titah Anta. Arga mengangguk.


Anta lalu menjambak rambut Mibabi dan menghantamkan wajah hantu wanita itu ke dinding. Rahangnya miring seketika.


"Kalau kamu berani lagi masuk ke tubuh Ria. Awas aja nanti. Anta patahin semua tulang kamu!" ancamnya setelah membaca Google translate.


"Ba-baiklah, saya tak akan menganggu lagi," ucap Mibabi lalu memberi hormat ala Jepang dengan membungkukkan tubuhnya.


Tuan Watanabe mendekat pada Anta. Arga terdengar bertepuk tangan pada gadis itu.


"Wah, Nona seperti dukun sakti. Nona bisa kaya raya bekerja di sini menjadi pengusir hantu," ucapnya.


"Hmmmm, ide bagus buat nambah uang saku di sini. Tapi, Anta lagi cari pacar Anta, korban kecelakaan kapal Konoha." Raut wajah Anta yang tadinya ceria menjadi sedih.


"Oh, saya mendengar tak ada korban yang selamat "


"Heh, jangan sembarangan, ya! Kalau Arya tidak selamat, Anta udah bisa ketemu sama arwahnya," ucap gadis itu bersikeras.

__ADS_1


"Hmmmm, begini saja. Saya bisa bawa Anda masuk ke akses posko pencarian. Nona bisa mencari tahu secara langsung. Saya punya kenalan seorang tim SAR bernama Ken Matsumoto," tukasnya.


Anta menatap ke arah Arga yang mengangguk. Rasanya penawaran tersebut sayang untuk ditolak.


"Oke, antar kami ke sana ya, Pak." Anta tersenyum dengan manisnya.


...***...


Dalam perjalanan pulang, seorang gadis Jepang dengan rambut hitam legam, lurus, panjang sebahu, menelisik sekitar dari balik netra cantiknya. Pada waktu itu langit yang sudah temaram membuat pandangan sedikit samar. Semak dan pepohonan bagai ingin menunjukkan sisi lain dari mereka. Suara serangga mengiringi perjalanannya melewati jalanan yang semakin memanjang ke belakang seperti sedang bermain ular naga panjang.


Tatkala melintasi pepohonan bambu yang sangat lebat di sisi kiri dan kanan jalan setapak, entah kenapa suasana menjadi makin mencekam. Saking panjangnya bilah-bilah bambu itu, antara sisi kiri dan kanan bertemu satu dengan yang lainnya sehingga menutupi langit di atas pengendara motor matic itu seperti kanopi. Wanita bernama Hanako itu sedang mengendarai sepeda motor yang mulai masuk ke dalam terowongan gelap nan lembap.


Setiap yang melewati terowongan gelap itu pasti akan menangkap perasaan gelisah dan was was, tetapi tidak bagi Hanako. Gadis bertubuh mungil, rambut berponi dengan wajah dingin dan terlihat judes itu selalu membuat kawan sebayanya kehilangan selera untuk bergurau. Jadilah Hanako gadis pengendara yang tak punya teman. Bahkan, seseorang yang ada di belakangnya malah bersiap untuk mengebut melewati Hanako yang masih berkendara dengan santai. Pengendara lainnya takut kalau-kalau ada gerakan yang mencurigakan di terowongan yang mencekam itu.


Perjalanan terasa semakin menyeramkan. Angin berembus kencang ketika gadis itu keluar dari terowongan. Angin yang menerpa pohon-pohon bambu, menciptakan bunyi berdecit yang membuat ngilu siapapun yang mendengarnya lantaran permukaannya yang saling bergesekkan.


Tiba-tiba, motor yang dikendarai Hanako mogok tanpa tahu sebabnya. Gadis itu akhirnya menepi. Di pinggir kiri jalan raya yang sepi itu sebenarnya merupakan pantai dengan batu karang mencuat ke permukaan. Deburan air bertalu dengan ombak yang saling berkejaran. Setelah menepi untuk mengecek kondisi motornya, Hanako sempat menangkap suatu pemandangan ganjil. 


Tubuh seorang pria tampan terbaring lemah di tepi bibir pantai. Dialah Arya, sang kekasih yang sedang dicari oleh Anta. Hanako mendekat menghampiri Arya. Dia menyentuh pergelangan tangan untuk memastikan kalau pria itu masih hidup. Hanako lalu mengeluarkan ponsel. Dia menghubungi asisten kakeknya untuk datang menjemputnya di tepi pantai.


...***...


"Kau sudah sadar?" Suara itu mengalun merdu, sangat perlahan dan terdengar lembut sekali.


Arya mengerjap perlahan. Dirinya tersadar sedang terbaring di sebuah ranjang. Iris cokelat pria tampan itu menatap ke atas, mendapati langit-langit genteng tanah liat. Tirai jendela warna hijau melambai tertiup angin. Terbuka separuh menutupi bilik kecil tempat dia berada.


Suara samar-samar yang didengarnya mulai terdengar lebih jelas. Arya menolehkan kepalanya dan mendapati, seorang perempuan muda berkulit seperti putih susu dan menatapnya melalui sepasang iris cokelat muda agak sipit itu.


"Ah, syukurlah!" seru perempuan itu bernada rendah, tetapi jelas tersirat rasa senang dan syukur.


"Akhirnya kau sadar juga," lanjutnya lagi.


Arya masih berusaha untuk mencerna keadaan. Kepalanya terasa sakit berdenyut. Tubuhnya terasa remuk dan sakit semua. Tak lama kemudian, tenaga medis datang. Seorang laki-laki dewasa sekitar empat puluh tahun dan berkacamata itu menancapkan sebuah infus di punggung tangan Arya.


"Saya akan memberi Anda obat penghilang rasa sakit," ucap pria itu.

__ADS_1


Dia lalu menyuntikkan obat penghilang rasa sakit. Perlahan tetapi pasti, rasa sakit itu mulai menghilang.


"Kau ingat siapa namamu?" tanya si perempuan lagi sebab Arya belum sama sekali membuka suara. 


Gadis itu menatap Arya dengan lekat. Arya berdeham pelan. Lalu dia menggeleng.


"Hah? Kau tak ingat namamu?" tanya Hanako lagi. Bahasa Jepang yang Hanako katakan dapat dimengerti oleh Arya yang sudah mulai fasih.


Anggukan samar yang diberikan sang pria asing sebagai respons menjawab pertanyaan si gadis. 


"Bagaimana ini Paman Kenta?" tanya Hanako.


"Sepertinya dia kehilangan ingatannya. Kau tak mau membawanya ke rumah sakit saja?" tanya pria itu. 


"Tidak usah. Aku tak mau repot berurusan dengan pihak berwajib. Aku pusing menjawab pertanyaan mereka nanti. Sampaikan saja pada kakek kalau aku akan merawatnya," ucap Hanako.


"Tapi, dia pria asing, Nona," bisik Laman Kenta.


"Aku tahu. Aku tak merasa dia orang jahat. Lagipula kenapa kita harus takut? Bukankah kita orang jahatnya di pulau ini?" Hanako tersenyum menyeringai.


Kenta tak berani menjawab lagi. Jelas terlukis di wajah sang nona kalau dia menyukai pria asing itu. Hanako sangat antusias merawat Arya. Dia tak ingin meninggalkan pemuda itu dan membiarkannya dirawat orang lain.


Arya belum tahu siapa gadis ini. Namun, dalam hati dia telah menduga bahwa gadis inilah yang menyelamatkannya, meski itu juga masih tak bisa dia ingat.


"Arigatōgozaimashita," ucap Arya akhirnya, terbata. 


Hanako mengangguk. 


"Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Hanako, panggil saja Hana."


Arya masih menancapkan netranya pada wajah cantik sang gadis asing. Rasanya dua harus bersyukur karena bertemu Hana sebagai penolongnya kemarin.


"Ummm, a-aku–"


"Kau tidak usah banyak bicara dulu," sela Hanako cepat, "Aku akan memanggilmu Asahi. Mulai sekarang namamu Asahi, bagaimana?"

__ADS_1


Arya mengangguk setuju.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2