
Di kafe milik Arya dan Anan.
"Om, please ya tahun ini boleh ya nikah sama Anta?" Arya terus merengek.
"Tunggulah Anta lulus sebentar lagi. Elu bisa sabar kan, nungguin anak gue. Itu juga kalau elu bisa nunggu." Anan berusaha menghindari tatapan Arya yang masih sibuk dengan mencicipi masakan koki baru.
"Tapi, semuanya sudah saya rencanakan dengan baik, Om." Arya terus saja mengganggu pekerjaan Anan.
"Elu tahu nggak kalau Ratu Masako masih mengincar Anta? Beberapa hari yang lalu Dita mimpi tentang Masako," ujar Anan.
"Apa hubungannya, Om?! Lagian si nenek bumbu masakan itu bukannya udah musnah?"
"Kata siapa? Masih banyak orang bego di dunia ini yang cinta banget sama tuh Masako! Om belum yakin aja elu bisa jagain Anta."
"Aku bisa Om jagain Anta. Nyawa pun aku pertarungan, loh." Arya terus merengek pada Anan.
"Arya, go!"
"No!"
"GOOOOOO!"
"NOOOOOO!"
"Arya…."
"Om Anan…."
"Astagfirullah, ini bapak dan anak masih aja berdebat." Raja datang ke kafe lalu mencium punggung tangan Anan dan kemudian dia beralih mencium punggung tangan Arya.
"Tuh, bokap elu selalu aja bikin pernikahan gue sama Anta didelay," sahut Arya bersungut-sungut.
"Pesawat kali ah didelay! Lebay luh!" Anan menoyor Arya dengan gemas lalu berucap ke arah Raja, "Yanda mau ke sekolah barunya si kembar. Bunda kamu pasti udah nunggu," ucap Anan lalu beranjak pergi.
"OM ANAN!!!"
Arya terus saja berseru memanggil pria tampan itu. Namun, Anan hanya melambaikan tangan dan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Dia melajukan civic hitam miliknya keluar dari halaman kafe.
"Gue pengen santet bokap elu aja jadinya. Demen banget dia bikin gue ngamuk." Arya meremas kain lap lalu menyerahkan ke wajah Raja.
"Astagfirullah! Emangnya muka aku tempat lap apa! Ini yang bikin yanda mikir dua kali buat jadiin Kak Arya mantu soalnya Kak Arya–"
__ADS_1
"APA?!" Arya langsung melotot menatap Raja dengan tajam.
"Soalnya Kak Arya ganteng, hehehe."
Salah satu pelayan mendekat mencari Arya.
"Bos, ada yang cari. Tuh, perempuan yang pakai topi di sana!" tunjuk pelayan pria itu.
Sosok wanita blasteran dengan rambut coklat bergelombang sedang menyeruput segelas es jeruk di hadapannya. Kulit pucat seperti susu itu memantul menyiratkan kulit sehatnya.
"Cewek cakep, tuh," gumam Raja.
"Perasaan biasa deh, cakep dari mana? Cakepan juga Kakak elu," sahut Arya.
"Coba samperin dulu!" titah Raja.
"Ayo, ikut gue, Ja!" Arya merangkul bahu Raja.
"Halo, Mbak. Elu cari gue? Ada apa?" tanya Arya kala berada di hadapan gadis tersebut.
"Halo! Kamu yang namanya Arya, kan?" tanyanya.
"Iya, gue Arya. Ada apa, ya, cari gue?" tanya Arya lagi.
"Maaf, gue udah makan tadi sarapan sama pacar gue. Ini kenalin adeknya pacar gue namanya Raja," ucap Arya menarik tangan Raja untuk memperkenalkan diri ke arah gadis itu.
"Halo! Kamu mirip deh sama Om yang tadi." Gadis itu tersenyum dengan manisnya.
"Itu pasti yanda aku." Raja terlihat mengamati wajah gadis itu dengan saksama. Begitu juga dengan Arya.
"Oh iya, tadi itu Om Anan. Ayahnya si Raja Ini. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Arya.
"Oh iya, saya belum memperkenalkan diri. Namaku Mina. Aku ingin mengajak kafe ini bekerja sama denganku semacam membuka cabang baru. Apa kamu tertarik?" tanyanya.
"Pembukaan kafe milik siapa?" tanya Arya dengan wajah masih mengamati gadis tersebut.
"Milik aku. Aku dengar burger atau hot dog di kafe ini sangat lezat. Jadi, aku ingin kafe baruku nanti memiliki makanan khas masakan kafe ini," ucap Mina.
"Hmmm, nanti aku obrolin sama Om Anan," kata Arya.
"Okay." Mina mengangguk.
__ADS_1
Ponsel Mina berbunyi. Gadis itu meminta izin untuk pergi ke luar kafe sebentar. Arya dan Raja mempersilakan.
"Ja, ambilin paket gue di depan sana dong! Gue mau ke dapur bentar," mohon Arya.
"Iya iya iya." Meskipun terdengar malas, tetapi Raja tak pernah bisa untuk menolak titah dari calon kakak iparnya itu.
"Ibu, aku sudah bertemu dengan Arya. Ibu bisa membuat ramuan agar dia menyukaiku, kan? Aku janji setelah ini, aku akan dapatkan Anta untuk kita," ucap Mina.
Raja yang hendak menuju ke depan menghentikan langkahnya. Dia bersembunyi karena tak sengaja mendengar ucapan Mina. Gadis itu lalu meraih kotak kecil berisi beberapa batang rokok mild. Sebelum dia kembali ke dalam, Mina menghisap satu batang mild tersebut.
Raja yang sedang bersembunyi di samping bak sampah, mendapati sosok hantu perempuan yang wajahnya memiliki sayatan benda tajam melintang sedang menatap Raja penuh kagum. Darah segar masih mengalir sedikit demi sedikit.
"Astagfirullah! Ngagetin aja, nih!" tukas Raja dengan nada berbisik.
Raja harus menahan bau busuk dari tempat sampah. Ditambah lagi dengan bau anyir darah yang tercium dari hantu perempuan tersebut. Mina yang buru-buru menghabiskan sebatang rokok mild-nya langsung membuang puntung tersebut secara asal. Namun, puntung itu jatuh tepat di atas kepala si hantu.
"Aw, aw, panas!" pekiknya.
Raja langsung meraih puntung rokok tersebut. Dia lalu menginjak puntung itu agar apinya padam.
"Duh, rambut aku kebakar gini jadi jelek, acak-acakkan, deh," keluh si hantu.
"Kamu masih cantik, kok." Raja meraih puntung rokok itu dan merapikan ramput si hantu lalu menyentuh kedua pipi hantu tersebut tanpa rasa takut meskipun agak jijik lalu berkata, "Dah sana mojok lagi! Jagain kafe ini yang bener ya!"
Raja bangkit lalu melambaikan tangan dan mengedipkan satu kelopak matanya ke arah hantu perempuan tersebut.
Hantu perempuan itu lantas bersandar di dinding. Tubuhnya serasa lemas mendengar pujian dari Raja.
"Ah, si ganteng ini bisa aja ngerayunya, hihihi."
...***...
Malam itu, Siti sedang berdiri di depan rumahnya yang ramai. Dia melihat suami dan anaknya menangis. Ibunya dan beberapa kerabat juga masih terbengong-bengong menatap pilu ke arah sesuatu di depan mereka.
Siti berusaha menyapa mereka, tetapi tak ada yang mendengar dan melihat. Dia lalu masuk dan mendatangi ruang tengah. Banyak orang berkumpul sambil membaca Surah Yasin. Dia mendekati mayat yang sudah dipakaikan kain kafan beralaskan kain batik.
"I-itu, itu aku. Tidak mungkin!" Siti lantas berteriak dan menangis. Tubuhnya gemetaran.
Dia meminta pertolongan pada tetangga yang ada di dekatnya, tetapi tak satu pun yang mendengar, dan juga melihatnya, kecuali keluarga Dita. Namun, Dita meminta pada anggota keluarganya untuk tetap tenang dan berpura-pura tak melihat keberadaan Siti.
Anan dan Herdi berusaha menenangkan Herman yang masih menangis. Pagi itu setelah mandi dan hendak pergi ke kantor, dia mendapati sang istri sudah terbujur kaku di kamarnya. Dia masih tak mengerti jika memang istrinya meninggal karena disantet, siapa yang tega melakukannya?
__ADS_1
...*** Bersambung ***...