
Part 40 PI
"Hanako belum pulih, kan?"
"Belum. Lalu?"
"Bantu aku melakukan ini." Kakek Hoki lalu berdiri dari tempatnya duduk, menunjukkan dua boneka wara ningyo dan dua buah foto.
Sesaat Nyonya Micin mengamati foto tersebut lalu mengangguk.
"Sepertinya aku mengenal pria ini," gumam Nyonya Micin.
"Aku pun kenal. Tapi, klien kita lebih penting. Apalagi dia pengikut setia kita," ucap Kakek Hoki.
Keduanya lantas memperhatikan pantulan bayangan wajahnya di dalam cermin. Di dalam cermin, wanita itu melihat dua sosok makhluk yang sedang memperhatikannya dari jauh. Wajah makhluk-makhluk itu terlihat sangat marah dan buas, seolah-olah menahan lapar sejak lama. Kedua makhluk gaib milik Kakek Hoki dan Nyonya Micin seakan tak sabar menunggu santapan mereka malam itu.
Nyonya Micin menuju ke sebuah ruangan lain dengan tangga menurun ke bawah. Kakek Hoki mengikutinya. Wanita itu mulai menyusuri ruangan itu. Keduanya berjalan begitu tenang, selangkah demi selangkah. Ruangan itu ternyata sudah dipenuhi banyak boneka wara ningyo yang digantung dengan seikat tali. Cahaya lampu petromaks tergantung di setiap sisi dinding sebagai penerang. Pada bagian wajah boneka terdapat sebuah noda darah yang sudah lama mengering.
Tak lama kemudian, keduanya berhenti di depan sebuah meja batu. Di atasnya tergeletak cawan emas yang terdapat jarum-jarum sepanjang tusuk konde Jepang. Kakek Hoki meletakkan dua lembar foto yang dia bawa ke atas meja, lantas tangannya bergerak menyusuri wara ningyo yang lain yang sudah berbaris tersusun rapi.
Kakek Hoki mengambil sebuah boneka, meletakkannya tepat di samping lembar foto. la lalu menyalakan tungku kecil berisikan arang hitam. Asap seketika menyembul memenuhi ruangan dengan bau yang begitu menyengat.
Nyonya Micin mulai mencabut beberapa helai rambut miliknya, menyerahkan pada Kakek Hoki. Pria itu lalu menggulung beberapa helai rambut di atas leher boneka. Kemudian ia mulai merapalkan mantera sihir yang digunakan untuk memusnahkan pemilik foto yang dituju.
__ADS_1
Nyonya Micin dan Kakek Hoki terus mengulang kalimat-kalimat mantera sembari meletakkan masing-masing boneka jerami di atas kedua foto tersebut. Setelahnya, Nyonya Micin meraih satu tusuk konde. Dia menusuk jari telunjuknya sampai berdarah. Membiarkan cairan merah segar itu keluar dari sela daging jemarinya.
Dia lalu meneteskannya pada kepala boneka. Kakek Hoki juga melakukan hal yang serupa. Kemudian, mereka menggantungkan boneka itu pada seikat tali-temali yang tersambung dari atas langit-langit dalam ruangan.
"Kalian mulailah berburu!" titah Nyonya Micin pada dua makhluk gaib itu.
...***...
Di sebuah resort yang baru dibuat milik Hoki Takurugi. Suara gelak tawa terdengar dari seorang pria dan wanita. Mereka sedang berbincang-bincang di atas ranjang tempat tidurnya setelah kegiatan panas berlangsung.
"Selamat ya sayang, kau berhasil mengalahkan Todachi seperti biasa. Proyek besar ini memang harus kita yang pegang. Kalau tidak maka akan berimbas pada perusahaan dan kita akan rugi besar." Seorang wanita molek berbaring dibalut selimut tebal. Di tangannya ada sebatang mild yang bari dia nyalakan.
Pria paruh baya itu masih tertawa di sampingnya, lalu menyibak selimut. la berjalan menuju ke cermin rias dalam kondisi tubuh tanpa sehelai benang pun. Sejenak pria bernama Takura Simitzu itu meneguk seperempat gelas kristal berisi wine yang ada di atas nakas. Kedua matanya lantas tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang berbaring bertutupkan selimut.
Wanita muda nan seksi yang usianya terpaut jauh dengan si pria paruh baya itu lantas tersenyum. Keduanya lantas kembali menghabiskan sepanjang malam dengan kesenangan dan kenikmatan sesaat, tanpa tahu apa yang sedang mengintai mereka kala itu.
Pukul dua dini hari, tiba-tiba dua pasangan itu tersentak dari balik selimut ketika mendengar suara benda jatuh. Entah dari mana datangnya. Takura yang kali pertama tersadar dari tidur lelapnya akibat kelelahan. Dia bangkit dari tempat tidurnya. Disusul si wanita bernama Motoku yang tersadar. Wajah si wanita tampak gelisah.
"Siapa itu, Bos?" tanya Motoku penuh curiga dan takut.
Wanita itu merasakan firasat yang tidak menyenangkan dari suara tersebut. Tangannya mencengkeram lengan Tuan Takura dengan kuat, seakan memberi isyarat untuk tidak meninggalkan dirinya seorang diri di dalam kamar.
Namun, Takura sangat penasaran. Dia takut jika ada yang sedang mengawasinya. Pria itu merasa tidak tenang. Bagaimanapun caranya, ia harus memeriksanya. Bisa saja itu kawanan perampok atau orang suruhan istrinya. Dengan mengenakan pakaian tidurnya, Takura meraih colt M1911 yang ada di dalam tasnya. Dia selalu membawa senjata api itu ke manapun karena sudah memiliki surat legalnya. Takura lalu berjalan perlahan-lahan menuju ke arah sumber suara.
__ADS_1
Ruangan dalam kamar resort tersebut sedang dalam kondisi gelap gulita. Takura berjalan menyusuri selangkah demi selangkah sembari mencari tahu sumber suara apa yang baru saja ia dengar. Sambil mengarahkan senjata api yang ada di tangannya ke beberapa sudut ruangan, Takura masih melangkah mengendap-endap.
Takura sedang berusaha untuk tak menimbulkan suara sedikit pun. Bisa-bisanya ada yang datang mengancamnya. Apa orang itu tidak tahu jika dia adalah salah satu dari orang yang sangat berpengaruh di tempat ini? Namun anehnya, Takura melihat siapa pun rumah ini kecuali dirinya.
Tiba-tiba, sekelebat bayangan melintas di belakangnya. Takura merasakan ada sesuatu yang baru saja melintas di dan membuat tengkuknya merinding. Pria itu berbalik, tapi lagi-lagi tak ada yang bisa dirinya lihat. Kecemasan dan ketakutan mulai menyeruak. Takura yakin kalau dia tak lagi sendirian di ruangan tersebut.
"Siapa kamu? Keluarlah! Berani-beran8 kamu ya menantang saya!" ancamnya.
Tak lama kemudian tercium aroma anyir darah nan amis. Takura yakin kalau ada yang tak beres, pria itu lantas berniat kembali ke kamarnya, menjemput wanita yang selama ini menjadi selingkuhannya.
Ketika pria itu menelusuri jalan menuju ke kamar, ia tersentak melihat ruangan kamar resort yang baru ia tinggalkan dalam keadaan gelap gulita.
Takura lantas mendorong pintu kamar ity perlahan. Dipanggilnya sang wanita yang tak menyahut. Indera penciumannya menangkap aroma anyir darah dan amis yang sama. Bau itu semakin menyengat seakan-akan di sana lah pusat aromanya berasal. Mendadak kemudian, pintu yang baru saja dia lewati menutup dengan sendirinya.
Brak!
"Gila! Ini gila! Siapa kamu, keluar kamu!" serunya.
Takura lantas berbalik berniat menarik pintunya. Namun anehnya, pintu itu tak bisa lagi terbuka. Seolah ada yang menguncinya dari luar. Takura mulai panik. Tiba-tiba, sesuatu mengejutkannya. Sosok bayangan itu berdiri di sudut ruangan. Takura lantas mengarahkan senapan di tangannya pada sosok itu.
"Sayang, apa itu kamu?" tanya Takura pada Motoku.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1