
Bab 22 PI
Anta mendapat telepon dari Tuan Kagawa. Dia meminta tolong pada gadis itu agar mau mengusir hantu di rumah sepupunya. Ria bersikeras untuk menolak, tetapi karena uang muka sudah ditransfer ke rekening Anta, maka mau tak mau mereka harus menyelesaikan kasus tersebut. Dion meminta untuk ikut, begitu juga dengan Saori. Hanya Masayu yang berada di rumah Ken dan tetap menjaga tebing.
"Halo, namaku Rinai. Kalian pasti orang suruhan Paman Kagawa?" Seorang gadis muda berusia 15 tahun menyapa Anta dan yang lainnya.
"Halo, namaku Anta. Ini Ria dan Dion, yang ini– bukan apa-apa, hehehe." Anta hampir saja memperkenalkan Saori si hantu.
"Mari ikut saya! Ayah saya sedang pergi ke pulau sebelah. Dia meminta saya menemani kalian," ucap Rinai.
"Kita mau ke mana?" tanya Anta.
"Rumah kosong yang pernah ditinggali nenek dan kakekku."
"Oh, jadi hantu pengganggunya nenek sama kakek kamu?" tanya Ria menyela.
"Bukan. Dua bulan lalu saat rumah kosong ini mau direnovasi, hantu itu mulai datang mengganggu. Dia membuat para pekerja ketakutan dan meninggalkan pekerjaannya. Jadi, tidak ada mau yang bekerja lagi untuk merenovasi rumah itu," ucap Rinai.
Anta sampai di sebuah rumah kosong berlantai dua. Sebenarnya rumah ini cocok untuk dijadikan villa, tetapi ya karena berhantu itu jadi menghambat renovasi rumah tersebut.
"Bisa bantu aku membuka pintu ini. Sepertinya ada yang menahan dari dalam," pinta Rinai.
Anta mengangguk lalu menoleh pada Dion.
"Kak, silakan!" titah Anta.
"Hmmmm, aku lagi aja deh kalau soal kekuatan. Ujung-ujungnya bawa gender," keluh Dion. Pria itu akhirnya berusaha membuka pintu rumah secara paksa. Dion mendobraknya.
"Siapa yang mau tinggal di tempat begini? Biar pun udah direnovasi kayaknya masih serem, deh," celetuk Ria mengerucutkan bibirnya ke arah Anta.
Akhirnya setelah mencoba mendorong bahkan mendobrak, Dion berhasil membuka pintu utama dan mengizinkan para wanita untuk masuk lebih dahulu.
"Halah, bilang aja Abang takut!" sahut Ria.
__ADS_1
"Emangnya kamu berani?" Dion balik bertanya.
"Yeeee, nggak lah!" tegas Ria.
Sontak saja Anta dan Rinai tertawa kecil mendengar kelakar Ria dan Dion.
"Lewat sini!" Rinai memandu menuju sebuah pintu besar lainnya lalu membukanya.
Di dalam sana mereka bisa mendengar suara hentakan kaki mereka pada lantai keramik yang menggema di ruang megah tetapi kosong tersebut. Temboknya sudah terlihat mengelupas di sana-sini dengan sulur-sulur liar yang tumbuh serampangan, tetapi rumah besar itu masih terlihat kokoh.
Aroma pengap serta lumut yang lembap tercium dari segala penjuru, diikuti pemandangan tak mengenakkan selama mereka masuk ke rumah tersebut. Banyak yang mereka lihat seperti benda-benda bahan untuk renovasi yang ditinggalkan berserakan begitu saja.
"Aku yakin villa ini akan menjadi bagus nantinya," ucap Rinai.
"Aku setuju. Rumah ini masih bagus, loh. Siapa tahu banyak pengunjung yang akan betah menginap di sini. Padahal kalau dilihat lagi dengan saksama, rumah ini terasa nyaman, loh," ucap Dion.
Anta sempat melihat benda-benda tersebut dipenuhi debu dan lumpur akibat langit-langit yang mulai bocor. Ada yang menarik perhatiannya kala dia sekilas melihat bercak darah di sebuah keramik yang tadi dipegang Ria.
Dari luar terdengar badai bergemuruh, hujan baru saja turun. Mereka yang masih dalam pencarian itu menelusuri altar yang dipenuhi benda-benda antik tak bertuan. Rumah itu lebih gelap dari yang pernah mereka kira. Firasat Anta menjadi tak enak semenjak menginjakkan kaki di tanah tersebut. Seakan rumah itu memanggil-manggil siapa pun manusia yang melewatinya.
"Ngerasa nggak, sih? Perasaan kayak ada yang merhatiin?" lirih gadis itu.
Anta menoleh ke sekeliling tetapi tak mendapati sosok apapun di sana. Dion juga ikut menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Perasaan kamu aja kali, Ria," ucap Dion.
Ria hanya mengangkat kedua bahunya. Akhirnya, Dion berhenti di depan sebuah pintu.
"Ini tempat apa?" tanya Dion.
"Entahlah, aku juga tak ingat karena sebenarnya malas sini," sahut Rinai.
Di hadapan mereka menjulang sebuah pintu kayu besar. Pintu yang diukir dengan halus dengan simbol-simbol hewan itu terlihat sangat tua tetapi masih kokoh. Pintu tersebut antik dengan ornamen khas akar menjalar yang membentuk sosok kepala singa.
__ADS_1
Rinai membuka pintu tersebut perlahan. Suara derita terdengar.
"Apa kalian sudah lihat hantunya?" tanya Rinai.
"Belum lihat apa-apa," jawab Anta.
Begitu juga dengan Ria yang mengarahkan kamera ajaibnya. Saat Dion hendak mengeluarkan ponsel, kunci mobilnya terjatuh di tumpukan kertas-kertas. Ria lalu membantu kakak sepupunya untuk mencari kunci mobil di antara tumpukan benda-benda yang tergeletak begitu saja di atas lantai yang tak terurus.
Dion bahkan mulai ikut membongkar benda-benda tua di sekitar tempat tersebut, tetapi mereka tak kunjung menemukan apa pun. Tiba-tiba, dari sudut mata gadis itu, sekelebat bayangan tertangkap lensa kamera. Ria lantas menggunakan kamera ajaibnya untuk melihat seseorang tengah berdiri memandang ke arahnya. Gadis itu melangkah mundur. Dia menarik ujung jaket yang Anta kenakan.
"Nta, itu apa?" tanya Ria.
Anta menoleh, kemudian menyadari bahwa mereka tak lagi hanya berempat di tempat tersebut. Ria melangkah mundur saat sosok asing itu berjalan mendekat.
"Maaf kalau boleh saya tahu, kamu siapa, ya?" tany Anta pada sosok yang seorang wanita. Dia mengenakan dress hitam selutut tanpa lengan. Tepat saat mereka saling berhadapan, Anta melihat sosok misterius yang akhirnya menurunkan kerudungnya, membiarkan pemuda itu melihat siapa dirinya. Wajahnya cacat sebagian seperti bekas luka terkena siraman air keras atau luka bakar.
"Kalian mau apa di rumahku?" tanya wanita itu. Wajahnya pucat dengan sorot mata tajam.
Anta memperlihatkan sosok itu pada Rinai dan Dion.
"Ka-kami, kami hanya–" Rinai sampai ketakutan tak bisa berkata-kata.
Hantu perempuan itu menunjuk sebuah pintu lainnya. Pintu itu kini akhirnya terbuka, menunjukkan sebuah ruang yang lebih hitam dan gelap dari semua ruangan di rumah ini. Ke empat pemuda itu bisa merasakan ada sesuatu di dalam sana yang sedang menunggu mereka. Sesuatu yang membuat Anta jadi merasa yakin kalau ada kehadiran makhluk lain yang membuat kawan-kawannya bergidik ngeri.
"Di dalam sana ada Hantunya Seiko. Dia sangat pemarah," ucap hantu wanita itu.
"Tapi kami harus membangunkan dia. Kan rasanya tidak mungkin kalau Anta cuma ngobrol sama kamu," ucap Anta.
"Memangnya apa yang kalian inginkan?" tanyanya lagi.
"Bisakah Anda pergi dari sini?" pinta Anta.
"Tidak bisa!"
__ADS_1
*****
Bersambung.