
Bab 79 PI
"Bilang apa barusan, Ya?" tanya Dita.
"Nggak bilang apa-apa, Bunda, hehehe … pada salah denger kali." Arya menggaruk-garuk kepalanya meski tak terasa gatal.
Bu Fatimah lantas membenarkan posisi gaun yang dikenakan Anta.
"Gaun ini memang sangat cantik dan paling cantik dari gaun yang lain. Saya menghabiskan ratusan jam dalam pembuatan gaun ini. Semua payet saya jahit dengan tangan menggunakan benang sutera dan manik-manik, bahkan saya mengharuskan asisten saya untuk mencuci tangan setiap setengah jam sekali jika ingin membantu. Semua saya lakukan untuk menjaga warna kerudung, benang, dan manik-manik tetap sempurna," tutur Bu Fatimah.
"Wah, keren banget, Bu." Anta sampai takjub dengan gaun yang ia kenakan.
Arya sampai menyeka bibirnya seolah ada air liur yang keluar dari bibir itu dan menetes saking terpana dengan kecantikan Anta. Raja sampai menoyor kepala Arya lalu tertawa meledek. Arya membalas Raja. Terjadilah saling kejar-mengejar antar keduanya di dalam ruangan itu.
"Anta ambil yang ini aja kalau gitu, Bu," ucap Anta tak peduli dengan ulah Arya dan Raja.
"Sempurna, Nak Anta! Saya pastikan Anda akan sangat sangat sangat tambah cantik pakai gaun itu. Benar-benar pilihan yang bagus," ucap Ibu Fatimah seraya menepuk bahu Anta dan tertawa.
...***...
Di rumah Keluarga Prayoga.
Malam sebelum acara pernikahan Anta dan Arya diadakan acara pengajian. Anta sampai mengeluh karena sangat merasa lelah dengan segala persiapan pernikahan yang dibuat Tante Tasya dan Bunda nya.
Akan tetapi, Anta berusaha untuk menghormati kedua wanita tersebut karena mereka sangat terlihat bahagia. Ria juga selalu ada untuk memberi semangat.
"Kak Anta, kamu undang keluarganya Pak Rio, kan?" tanya Raja.
"Undang, kok. Kak Anta juga undang Mbak Ratu dah suaminya. Memangnya kenapa?" tanya Anta.
"Soalnya aku mau ketemu Rara, hehehe."
__ADS_1
"Huuuu, dasar! Tapi, baguslah kamu udah move on dari Alisha. Jadi, Kak Anta seneng dengernya." Anta sampai mengacak-acak rambutnya Raja.
Di malam sebelum pernikahan itu, Raja tahu kalau Arya selalu berusaha mencuri pandang pada kakaknya saat pengajian berlangsung. Begitu juga dengan Anan. Mereka dengan isengnya selalu menggoda Arya agar tak bisa melihat Anta. Anan juga berusaha membuat Arya sibuk.
Namun, Arya selalu berhasil lepas dari usilnya Raja dan Anan. Arya kembali mendapatkan tatapan dari paras sang gadis pujaan yang terlihat makin menawan malam itu. Para tetangga dekat yang diundang juga turut serta melantunkan ayat-ayat suci dan doa agar acara pernikahan esok berjalan lancar.
Di sebuah kebun pisang yang hendak digunakan untuk acara pernikahan Anta, para hantu juga tak mau kalah. Tante Silla dan Om Lee Junior memimpin acara pesta sebelum pernikahan Anta dan Arya dengan mengadakan sebuah pesta kecil. Mereka juga mengundang pasangan pengantin itu untuk hadir setelah pengajian berlangsung.
Anta sampai terlalu lelah dan memutuskan untuk kabur di tengah acara pesta yang diadakan para hantu. Gadis itu malah masuk ke sebuah ruangan dadakan yang dibuat untuk tempat pengantin berganti pakaian dan diberi riasan. Gadis itu langsung berbaring di atas sofa.
"Ah ... akhirnya Anta bisa rebahan. Capek banget ikutin acara para hantu. Mana makanan mereka aneh-aneh lagi," gumam Anta dan tanpa sadar akhirnya dia memejamkan mata.
Anta malah terlelap karena lelah yang mendera. Namun, tak hanya gadis itu yang kabur dari pesta para hantu sebelum pernikahan mereka, rupanya Arya juga kabur dan masuk ke ruangan yang sama dengan Anta.
"Yes, akhirnya lepas juga dari para kunti itu," gumam Arya yang merasa lega setelah beberapa kali para kuntilanak teman Tante Silla mengajak menari.
Mereka bahkan mencubit pipi Arya dengan gemas. Tetapi, kuku mereka tajam dan membuat Arya kesakitan. Jadilah Arya memanggil Raja dan Arga untuk dijadikan tumbal. Untungnya, Ria yang tengah mengandung sudah tidur dan tidak ikut serta ke kebun pisang itu.
Tiba-tiba, dia mendengar suara dengkuran yang tercipta dari bibir calon istrinya.
"Suara apa itu, ya? Waduh, jangan-jangan babi ngepet yang dilepas ke sini buat ngambilin isi amplop gue besok," gumam Arya.
Pemuda itu menelisik sekitar dan langsung terkejut kala mendapati sosok Anta terbaring pulas di atas sofa. Gadis itu sangat terlelap dengan mulut terbuka dan kaki yang melebar atau mengangkang ke atas sofa.
"Lho, bisa-bisanya si Anta juga ada di sini?"
Muncul niat hati yang jahat Arya untuk menggerayangi tubuh calon istrinya.
"Toh, besok juga dia jadi istri gue. Nggak apa kali ya kalau gue cuma icip icip dikit," ucapnya seraya mendekat.
Saat hendak mencium bibir Anta, gadis itu mengeluarkan sendawa di wajah Arya. Dengkuran Anta benar-benar membuat telinga Arya merasa sangat terganggu.
__ADS_1
"Astagfirullah! Sadar Arya! Besok juga dia jadi istri elu. Elu bisa nikmatin Anta sepuas luh semalaman suntuk!" Arya berbicara pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk kedua pipinya agar sadar dan terhindar dari keinginan mesumnya.
Rasa lelah sudah menggerogoti tubuh Arya dan membuatnya menguap. Arya memilih untuk tertidur di sisi sofa. Keduanya terlelap sampai pagi menjelang.
***
Keesokan harinya, pesta pernikahan siap digelar. Anta terbangun karena azan subuh berkumandang. Gadis itu langsung terkejut kala melihat wajah Arya. Lalu, suara ketukan pintu terdengar.
"Nah, ketemu kan kalian di sini!" seru Raja yang dimintai tolong oleh bundanya untuk mencari Anta dan Arya.
"Apaan, sih? Jangan pada berisik, deh. Gua ngantuk!" Arya mengigau dan kembali terlelap.
"Woi, bangun woi! Kalian itu mau nikah hari ini. Bisa-bisanya kalian berdua di sini. Hayo, semalam jangan-jangan pada icip icip terus unboxing, ya?" tuduh Raja.
"Sembarangan!"
Sontak saja Anta langsung kesal dan mengejar adiknya. Arya juga tak mau kalah mengejar. Mereka menuju ke rumah kemudian.
"Heh, pada dari mana?!" tanya Anan yang hampir bertabrakan dengan Anta.
"Dari kebon, Yanda!" sahut Anta.
"Emang Bu Fatima udah datang buat ngerias? Kok, si Anta dari kebon?" gumam Anan lalu meneriaki Raja. "Raja, ayo ke masjid!" pekik Anan lagi.
"Iya, Yanda!" Raja segera menurut. Anan juga menarik Arya untuk mengikutinya menuju masjid.
Herdi juga baru keluar dari rumahnya. Dia sempat heran kenapa Arya bisa berada bersama Anan. Dia sempat berpikir kalau Arya ada di rumah dari semalam.
Sementara itu, Dita meminta Anta untuk mandi dulu lalu menunaikan salat subuh. Dita juga meminta Anta untuk berjamaah dengannya menunaikan sunah salat hajat. Dita berharap hari itu tidak hujan dan acara akan berjalan lancar.
Namun, perasaan Dita mendadak aneh. Ada sesuatu yang seolan akan terjadi. Sesuatu yang tidak baik. Apalagi saat Dita melihat ke arah jalan utama di depan rumahnya. Dita merasa ada yang sedang mengawasinya dari kejauhan.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...