Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
33. Hantu Pantai Ju


__ADS_3

Para perempuan yang mengerubuti Hoka dan Endo langsung mengajak bersalaman, beberapa sekedar melakukan rangkulan dan kecupan di pipi. Sepertinya kepopulerannya restoran di resort ini tidak kalah dengan restoran resort luar negeri. Bedanya, jika pengunjung di kafe milik Hoka tumpah ruah berbagai umur dan jenis kelamin, pengunjung di sini sebagian besar adalah perempuan dan tidak ada laki-laki. Jika ada, itu pun jarang. 


Tidak jarang para pria tampan seperti Dion dan Arya mendapatkan sorotan tajam dari para lelaki lain yang ikut serta. Mereka seolah tidak rela jika gadisnya ikut nongkrong bersama para pria sampai larut. Namun, semenjak video penampakan dan kasus bunuh diri Miyako, para kaum pria sepertinya sedikit bersyukur. Itu berarti hanya sedikit para perempuan yang akan berani nongkrong sampai larut malam dekat pantai.


Hanako menarik tangan Arya dan membawanya ke atas panggung. Gadis itu memperkenalkan Arya sebagai tunangannya di depan para tamu undangan.


"Eh, tunggu bentar. Sejak kapan kita tunangan?" tanya Arya.


"Sejak sekarang, Asahi. Kakek sudah menyiapkan cincin untuk kita." 


"Tunggu! Maaf ya, Hana. Tapi aku belum siap. Aku saja belum tahu pasti asal usulku, kenapa kamu mau sama aku? Lagi pula, aku nggak akan siap sebelum tahu siapa aku." Arya mencoba menentang.


"Tapi, Sayang…." Hanako mencoba merangkul tangan Arya, tetapi pria itu menepisnya. 


Arya lantas pergi meninggalkan acara.


"Kurang ajar si Asahi itu!" Endo terlihat geram. Dia juga memanas-manasi sang kakak agar sangat marah dengan Arya. Hal itu berhasil.


Arya berlari jauh ke pantai. Dia tidak peduli dengan Hanako. Dia tak peduli dengan pesta tersebut. Kepalanya berdenyut mencoba mengingat semuanya. Meskipun belum ingat, tetapi jauh di lubuk hatinya, dia tak mau bersanding dengan Hanako.


"Apa aku boleh bergabung?" Ken bertemu dengan Arya. Tadinya Arya mempercepat langkah karena takut kalau suara itu dari seorang penjahat.


Namun, suara tersebut adalah suara Ken. Arya lantas memperlambat langkahnya. Ken yang tadinya tampak murung mulai bisa bercanda dengan riang. Siapa juga  yang tak akan murung kalau Ken tak bisa tidur nyenyak setelah menemukan Miyako yang gagal di beri arahan. Perempuan yang pernah disukai itu terjepit di tebing karena bunuh diri.


Arya menceritakan perihal masalahnya dengan Hanako. Arya bahkan menceritakan sesuatu tentang Anta yang sebenarnya malah membuatnya lebih merasa nyaman. Arya bisa melamun sepuasnya tentang Anta. 


Ken juga menceritakan masalahnya. Hal itu terlalu lama melamun membuatnya terpikir akan sesuatu, membuat gelisah. Tiba tiba, Ken mulai kepikiran dengan yang sempat 'singgah' berkali-kali dalam mimpinya sebelum jasadnya ditemukan.


Suara perempuan yang menangis terdengar. Menyentak raga Arya dan membuatnya langsung berlindung di belakang Ken.


"Kamu kenapa, Ya?" tanya Ken.


"Ngeri, Ken. Kamu denger, kan, suara perempuan nangis tadi?" bisik Arya.


"Apa jangan-jangan, dia adalah perempuan mengerikan yang juga ada di dalam mimpi aku, ya? Jangan-jangan ... dia perempuan sama seperti yang menyapaku tadi. Jangan-jangan itu...."

__ADS_1


"Hantu perempuan yang bunuh diri itu, kan?" terka Arya.


"Ah! Tapi mana mungkin? Katanya, kalau jasad dari arwah penasaran sudah ditemukan, dia sudah bisa beristirahat dengan tenang di alamnya. Katanya sih begitu, ya kan?" sahut Ken.


"Tapi, video di sosial media itu, gimana? Dia masih gentayangan, loh," tanya Arya.


Ken mengedikkan bahunya. Setelah suara tangisan, dari kejauhan ada yang memanggil nama Arya dan Ken.


"Tuh, hantunya kenal kita," ucap Arya.


"Nah, loh."


"Arya! Ken!" seru suara Anta.


"Kok, dia manggil Arya, ya? Berarti...." Arya menoleh ke belakang.


"Anta!"


"Aduh! Anta capek nyari kamu sampai ngos-ngosan begini. Ria sama Dion ke arah sana pula," ucapnya.


"Ya, Anta takut kamu kenapa-kenapa."


Arya langsung memeluk Anta dengan erat.


"Aduh, manisnya." Ken sampai tak sanggup menatap kedua pasangan itu.


***


Malam Minggu selalu menyenangkan, karena banyak orang yang bisa berkumpul untuk menghibur hati dengan lantunan lagu-lagu cinta yang mereka nyanyikan. Tak hanya itu, tiap Malam Minggu mereka yang di area pesta sepakat untuk membawa cemilan menemani mereka mengobrol dan bernyanyi sampai larut. 


Di antara hiruk pikuk suara ombak yang menggelegar, terdengar suara perempuan yang seolah ikut bersenda gurau bersama Arya yang masih memeluk Anta.


Tiba-tiba, kedua mata Ken bertemu dengan tatapan Ria dan Dion yang datang mendekat. Dion berusaha memisahkan Anta dan Arya. Sementara, Ken dan Ria lantas sudah bicara satu sama lain dengan akrab, entah membahas apa. Samar-samar terdengar mereka membahas tentang tempat wisata kuliner yang baru.


Samar-samar tercium aroma mawar begitu Ken membalas lambaian seorang perempuan di kejauhan itu. Ria sampai tercengang ketika membaui aroma khas tersebut. Tanpa sadar Ria terkandung lalu terjatuh. Dan tanpa dia sadari Ken sudah tersenyum lebar meminta Ria untuk bangkit.

__ADS_1


"Makasih, Ken."


"Kita ngobrol di kedai sana, Yuk!" ajak Ken.


Semua sepakat. Dion dan Arya saling mendorong agar bisa berdekatan dengan Anta. Mereka menyantap ramen dan juga teh hijau. Dion dan Ken memesan kopi.


"Aku ke toilet dulu, ya." Ken pamit lalu bangkit menuju kamar mandi umum terdekat.


Selesai menggunakan kamar mandi, Ken bertemu dengan seorang gadis.


"Punyamu jatuh, nih." Seorang perempuan menyodorkan gelang di tangan Ken. Suaranya renyah.


"Terima kasih. Ini harta berharga, karena hadiah dari nenekku." Ken lantas menyodorkan tangan untuk berkenalan. Wajahnya sangat ayu.


"Dahyun," balasnya penuh percaya diri," 


Dahyun tertawa lirih sambil hanya memandangi uluran tangan Ken.


Awalnya, Dahyun terlihat ragu menyambut uluran tangan Ken, tetapi detik berikutnya dia menyalami Ken sambil tersenyum. 


Ketika bersalaman dengan dia, sesuatu terasa menjalar ke kulit jemari Ken. Sesuatu ini bukan aliran listrik yang biasa diasumsikan sebagai gejala jatuh cinta oleh kebanyakan orang. Namun entahlah, seperti ada aliran energi tak kasatmata yang disalurkan Dahyun kepada Ken.


Perkenalan yang hangat, memang, tetapi setelah berkenalan dengan Dahyun sesuatu di dalam diriku terasa bergetar dingin. Terasa janggal.


"Dahyun kenapa bisa ada di sini?" tanya Ken.


Dahyun tak menjawab. Keduanya saling bertatapan.


Sementara itu, sayup-sayup Anta mendengar suara anak kecil sedang cekikikan dari kejauhan, "Kak Arya! Kak Anta! Aku pengin ketemu," tukasnya.


"Nta, itu kayak suara Masayu?" tanya Arya.


"Iya, itu Masayu. Apa dia mau kasih tahu sesuatu, ya? Mungkin ada korban lagi di pantai?" Anta bangkit menuju Masayu.


Diikuti, Arya, Ria, dan Dion yang bersiap menahan kengerian agar batin dan raga medeka sudah siap melihat hantu yang lain selain Masayu. Atau bisa jadi mereka akan melihat mayat tergeletak di sana.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2