Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
16. Menemukan Arya


__ADS_3

Di apartemen lima lantai yang hanya terdapat dua puluh unit itu, Anta dan Ria sedang menatap ke arah layar laptop.


"Kita udah cari ke daerah ini, ya, tapi belum yang ini. Hmmm, besok kita pergi ke sini aja, Ria." Anta menunjuk layar laptop. 


Ria menghela napas dalam. 


"Sampai kapan kita begini, Nta?" Ria menoleh pada Anta.


"Ria nggak percaya ya sama Anta? Ria mau pulang? Kangen sama Arga, gitu?" 


"Bukan gitu, Nta. Susah ya buat bikin kamu percaya kalah Arya udah meninggal," ucap Ria.


"Arya belum meninggal! Kalau Ria mau pulang, pulang aja sana! Anta bisa kok hidup sendiri di sini," tuturnya.. 


Ponsel Ria berbunyi, Arga mengirimkan sejumlah uang sebagai uang saku untuk Anta dan Ria. 


"Kalau Arga kirim uang balikin aja! Anta bisa kok punya penghasilan tambahan di sini. Anta juga mau cari pekerjaan di sekitar sini juga," ucapnya bersikeras.


"Terserah kamu lah, Nta. Aku ikut aja." 


Ponsel Anta berdering, suara seorang wanita terdengar ketakutan. Anta menekan loud speaker pada ponselnya.


"Ha-halo, apa aku berbicara dengan saudari Anta?" 


"Saya Anta sendiri bukan saudarinya," jawabnya polos.


Ria langsung menarik rambut Anta dengan gemas. 


"Kamu itu saudari, kalau cowok saudara. Kumpulin dulu nih otaknya." Ria mengguncang kepala Anta dengan gemas.


"Oh, gitu… ya, Bu, bisa Anta bantu?" 


"To-tolong, di rumahku ada hantu jahat," bisiknya.


"Rumah Ibu di mana?" tanya Anta lagi.


"Ramenci 3, blok 20, nomor 10 to-tolong saya, aaaaaaaaaa." Suara teriakan wanita itu memekakkan telinga Anta dan Ria.


"Ayo, kita ke sana sekarang!" ajak Anta meraih mantelnya.


"Ini kenapa kita mau nyari Arya malah jadi tim pemburu hantu gini, sih," keluh Ria yang juga mengikuti Anta.


...***...


Berhasilkan membebaskan seorang wanita paruh baya dari hantu perempuan yang kerap mengganggu, Anta dan Ria diberi hadiah tiket masuk ke taman hiburan dan juga bekal makanan.


"Lumayan dapat tiket taman hiburan," gumam Anta.


Ria masih gemetar karena sosok hantu tadi mencengkram kedua tangannya dan berteriak di hadapan wajahnya.


"Ria! Udah jangan dipikirin! Sekarang kita seru-seruan bareng, ya." 


"Kamu mah, e-emang nggak pernah mikir berhadapan dengan hantu. Mana tadi bau banget hantunya. Hiiiiiii."

__ADS_1


"Ya, habisnya salah nenek itu juga punya suami tukang nabrak lari. Mana pas suaminya udah meninggal, hantu yang ditabrak masih gentayangan." 


"Oke, aku bisa jalan bisa jalan bisa jalan." Ria menepuk kedua kakinya seraya menyemangati diri.


"Bisa lah, kamu kan nggak lumpuh!" sentak Anta.


"Tapi aku gemeter, Nta! Aku takut! Kamu sih enak bisa bergaul sama han–" 


Anta buru-buru membekap mulut Ria yang berteriak di tepi jalan. Semua orang kini menatap ke arah mereka kala melintas.


"Udah stop! Jangan bahas hantu lagi. Ayo, kita naik roller coaster!" Anta menarik tangan Ria.


"Anta! Aku takut!" 


"Kamu boleh teriak sepuasnya kalau naik roller coaster. Mau maki-maki Anta juga boleh," ucap Anta. 


"Wah, boleh juga, tuh." 


Setengah jam berlalu, Anta sudah berhasil membuat Ria pusing dan muntah. 


"Aku ke toilet dulu, ya," Ria langsung berlari menuju kamar mandi.


Anta tak sengaja bertabrakan dengan Hanako yang sedang menggandeng Arya. Keduanya sama-sama memperhatikan kincir angin tersebut.


"Aduh ... kalau jalan tuh lihat lihat–" Anta menunjuk ke wajah Arya.


"Jangan tunjuk-tunjuk seperti itu! Dasar nggak sopan banget,  sih!" maki Hanako.


Arya pun tak mengerti saat kedua tangannya memeluk pinggang ramping itu seraya berjingkrak-jingkrak. 


"Eh, lepasin pacar saya!" pekik Hanako.


"Ini pacar Anta! Ini calon suami Anta! Minggir!" Anta mendorong Hanako.


Gadis itu tak tinggal diam. Dia menarik rambut Anta sampai mengaduh. Anta dan Hanako langsung terlibat keributan. Saling menjambak, mendorong, dan memukul. Ken mendekat ke arah Arya.


"Wah, you're amazing, Bro! Dua perempuan cantik rebutan cowok kayak kamu, wow!" Sosok pria tinggi tegap, hidung mancung, dengan wajah tampan itu bertepuk tangan pada Arya. Dia berdiri di belakang Arya.


"Heh, Kutu Kupret! Kenal juga nggak main ngatain aja!" seru Arya.


"Arya! Kodok Buduk ngapain elu di sini!" pekik pria itu. Arya berusaha mengingat tetapi tetap tak bisa. Pemuda itu menggunakan Bahasa Indonesia.


"Berani-berani amat elu ngatain gue Kodok Buduk? Eh, kok gue bisa bahasa elu, ya?" Arya menutup mulutnya sendiri. 


Anta dan Hanako yang sudah bergulingan di permukaan rumput lantas menoleh. Rambut keduanya terlihat acak-acakan. 


"Kak Dion!" pekik Anta.


"Anta!" Dion langsung membantu Anta berdiri dan memeluk gadis itu dengan erat. Keduanya saling berputar.


"Arya! Ya ampun, Arya ini kamu! Alhamdulillah keyakinan Anta selama ini benar, kamu masih hidup!" Ria yang baru saja dari toilet sampai menatap tak percaya.


"Ini kenapa pada manggil gue Arya, sih?" Arya menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Ria!" pekik Dion.


"Abang Dion?! Wah, senangnya!" Ria gantian memeluk Dion dengan erat.


"Sayang, kita pergi dari sini!" Hanako mencoba menarik tangan Arya.


"Tunggu! Jangan sentuh milik Anta!" seru Anta.


Gadis itu menarik tangan Arya dari Hanako.


"Kalian ini siapa, sih?" tanya Arya.


Anta memperlihatkan layar ponselnya. Banyak foto dirinya yang terekam bersama Arya. Video perpisahan kala SMA juga masih tersimpan. Video ulang tahun Anta dan Arya juga masih tersimpan dan diperlihatkan secara jelas.


Sontak saja, Hanako menepis ponsel Anta sampai jatuh ke aspal. Layarnya retak dan mati total.


"Aku yang menyelamatkanmu, Asahi! Kau tetap Asahi tak peduli dengan masa lalumu!" Hanako menatap Arya dengan ancaman. Liontin yang Hanako gunakan berkilauan. Entah kenapa Arya menurut dan pergi mengikuti Hanako.


Anta ingin menghampiri tetapi Dion mencegah. 


"Biarkan, Nta!" ucap Dion. 


Anta tak bisa menahan tangisnya. Dion memeluk gadis itu dengan erat.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Dion. 


Ria menceritakan semuanya sampai akhirnya ada kemungkinan Arya kehilangan ingatannya. 


Dari kejauhan, Arya yang masuk ke dalam mobil Hanako masih memandangi Anta yang berada di pelukan Dion. Kejadian ini seperti pernah terjadi sebelumnya. Namun, saat itu sedang berada di bandara. 


"Aarrgghh!" Arya memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Paman Kenta, buatkan teh herbal untuk Asahi saat kita tiba nanti," pinta Hanako pada pria yang berada di kemudi.


"Baik, Nona."


Sementara itu, Ria mencari minuman untuk Anta dan Dion. Anta kini duduk di bangku taman. Dion masih berusaha menenangkan.


"Aku beli permen kapas dulu, ya, atau ada makanan lain biar kamu tenang?" tanya Dion.


"Boleh, permen kapas, jus mangga, es krim oreo, sama bola gulung matcha juga boleh, hiks hiks," sahut Anta terisak.


"Hmmm, sudah kuduga. Ada lagi tambahannya?" Dion masih hapal jurus jitu membuat Anta tenang dengan makanan.


"Nanti kalau masih laper boleh nambah, ya?" 


"Boleh. Tunggu sini dulu, ya." Dion mengusap kepala Anta lalu bangkit membelikan keinginan gadis itu.


Tiba-tiba sosok perempuan yang lehernya terdapat luka gorokan itu, duduk di samping Anta. Dari lehernya mengeluarkan darah yang masih mengalir membasahi dress putih kusamnya. Rupanya sosok tersebut adalah hantu yang suka menakuti anak-anak ketika berada di taman hiburan.


Krek krek krek!


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2