Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
41. Sosok Yagi Milik Hoka dan Micin


__ADS_3

Tak ada jawaban yang terdengar ketika Takura bertanya pada sosok tersebut. Sembari menjaga keseimbangan dengan mengarahkan senapan, Takura bertanya kembali. Tiba-tiba, suara mengerang yang keras tiba-tiba terdengar dari sosok tersebut. 


Pria yang ketakutan itu mulai menembakkan senapan di tangannya bertubi-tubi. Suara tembakan dari colt itu seketika terdengar memekakkan telinga. Pria itu tak kunjung berhenti sampai akhirnya isi peluru terakhir melayang keluar dari moncong senjatanya. Saat itulah lampu yang ada di dalam kamar resort menyala.


Betapa terkejutnya Takura terhenyak dalam diam. Wajahnya tampak terkejut dengan jantung berdegup kencang. Sosok yang baru saja ia berondong dengan peluru adalah wanita selingkuhannya. Motoku terbaring tak bernyawa. 


Di dalam kepala Takura kini dipenuhi oleh pikiran buruk. Bagaimana nasibnya selanjutnya? Apa yang akan terjadi dengan dirinya ketika orang-orang tahu kalau dia membunuh selingkuhannya sendiri? Bagaimana tanggapan istrinya nanti? 


Takura kebingungan dengan nasib apa yang sudah menunggunya. Orang-orang akan segera tahu aib yang dia miliki. Tak hanya itu saja, bagaimana dengan nasib putrinya bila tahu ayahnya adalah seorang pembunuh. Dan yang lebih menakutkan dari ini semua adalah, istrinya akan segera tahu bangkai busuk yang selama ini ia sembunyikan.


Dengan ketakutan yang perlahan memenuhi isi kepalanya, tiba tiba Takura tersadar dengan senjata yang ada di tangannya.  Detak jantungnya semakin terpacu. Dengan dada berdebar-debar, ia membuka tas koper miliknya. Meraih sebuah kotak berisi peluru dan memasang peluru yang baru ke dalam colt tersebut. 


Kini, sorot matanya memandang wanita yang terbaring di sudut kamar dengan tubuh dan wajah berlubang bersimbah darah. Sembari membalikkan badan, pria itu membalik senapan miliknya, mengarahkannya tepat ke dalam mulutnya. Ia merasa sudah tidak punya lagi harapan untuk selamat dari semua ini. 


Namun, sebelum dia menarik pelatuk, pria itu melihat dalam kegelapan yang remang-remang di luar kamar. Ada sosok tinggi besar, dengan dua tanduk menyerupai kambing. Dialah Yagi yang memiliki tanduk yang panjang menjulang. Wajahnya begitu mengerikan, diselimuti oleh bulu berwarna hitam dengan mata merah menyala. Takura tahu makhluk tersebut pasti datang untuknya.


"Jadi begini caramu Kakek Hoki membalas bantuanku. Kau kirim dia untukku seperti ini. Baiklah kalau begitu, sepertinya memang tak ada harapan lagi bagiku malam ini," ucap Takura bermonolog pada dirinya sendiri.


Tanpa merasa ragu lagi, pria itu menarik pelatuk, membiarkan peluru panas menembus kepalanya.


...***...


Kakek Hoki tersenyum pada Nyonya Micin. Setelah dia pasang boneka sihir itu menggantung, wajahnya menyeringai setelah baru saja menyelesaikan tugas yang mudah untuk Yagi. Ia berjalan menuju meja, mengambil foto pria itu, lalu menempelkannya ke tembok kayu.


Pada dinding kayu itu juga digunakan sebagai tempat di mana Kakek Hoki lalu melihat puluhan foto-foto bahkan ratusan foto yang sudah menempel lebih lama dengan bagian mata ditandai huruf X oleh darah. Darah yang dihasilkan dari ujung jarinya. Termasuk foto pria yang baru saja dia singkirkan.


Kini, pria paruh baya itu menoleh pada Nyonya Micin dan berkata, "sekarang giliranmu."

__ADS_1


Nyonya Micin mengangguk. Dia juga mengulas senyum menyeringai pada foto wanita yang tersisa. Suara gemeretak tulang punggung terdengar seiring dengan teriakan dari Nyonya Micin. Tiba-tiba, muncul sosok kepala wanita dengan kepala yang hampir botak masih tertutup rambut tipis. Memperlihatkan luka borok berbau busuk anyir nanah dan darah menjadi satu. Nyonya Micin kini menoleh melihat ke arah sosok berwajah mengerikan yang ada di punggungnya. 


"Kini giliranmu, Sayangku. Kembalilah pada Ibu dalam keadaan kenyang. Puaskan hasratmu, Nak," tutur Nyonya Micin pada sosok yang menempel di punggungnya.


Sosok itu menyatu dengan tubuh Nyonya Micin. Dia merupakan putri tunggalnya yang telah lama meninggal saat berusia sepuluh tahun. Dan ketika arwahnya dibangkitkan, sosok putrinya malah menjadi makhluk gaib ganas yang menempel di tubuhnya. Putrinya dijadikan sarana untuk membasmi musuhnya.


...***...


Malam itu, Anak buah Kapten Conan melaporkan kalau istri dari Tuan Takura Simitzu telah meninggal. Sosok wanita itu tergantung di halaman belakang. Seutas tali menjerat lehernya. Tali tersebut diikat dari beranda lantai dua. Besar kemungkinan, Nyonya Simitzu menghabisi nyawanya sendiri.


Apa lagi di malam yang sama, berita menggemparkan terjadi. Tuan Takura ditemukan tewas di penginapan setelah suara tembakan terdengar. Sangat mengerikan bagi pengunjung yang melihatnya. Pria itu dan selingkuhannya telah bersimbah darah dengan luka menganga akibat terbangun peluru.


Anta terpaksa pulang ke rumah Ken bersama Ria, Dion, dan Ken. Hatinya sangat risau memikirkan keadaan Arya. Namun, secercah harapan datang kala Masayu muncul mengejutkan. Hampir saja mobil yang dikendarai Ken menabrak pohon.


"Masayu jangan seperti itu tiba-tiba muncul," ucap Anta.


"Apa? Kekasihnya Kak Anta? Maksud kamu dia?" Anta mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Arya pada layar ponsel itu.


"Iya, aku lihat dia." Masayu mengangguk seraya menunjuk.


Anta langsung bersemangat mengikuti Masayu. Ria langsung meminta Dion untuk ikut serta. Ken memarkirkan mobilnya terlebih dulu, lalu mengikuti Anta dan yang lainnya memasuki kawasan hutan.


...***...


Di sebuah rumah dalam hutan tempat Arya disekap. Endo sedang menemui Hoka setelah membawa Yuki keluar dari kamar tersebut. Arya berusaha untuk bangkit dan menabrakkan kursi yang diikatkan ke tubuhnya itu. Setelah berkali-kali menghantamkan kursi kayu tersebut, Arya berhasil membuka ikatan di tangannya. 


Endo kembali dan langsung menyerang Arya dengan sebilah pisau lipat di tangannya. Untungnya, Arya berhasil menghindarinya. Dengan gerakan cepat ia berhasil mendorong tubuh Endo hingga tersungkur. 

__ADS_1


Arya akhirnya keluar dari rumah kayu tersebut. Suara Anta yang sedang mencarinya terdengar. Arya lalu bersiap mencari asal suara sang kekasih, akan tetapi dia teringat dengan Yuki.


Arya kembali ke ruangan tempat dia tadi disekap. Dia meraih pisau lipat milik Endo dan mengancam pria itu.


"Di mana Yuki sekarang?" ancamnya seraya mengarahkan ujung pisau ke bagian leher Endo.


"Entah dia sudah berada di surga atau malah di neraka, hahaha. Hoka tidak pernah melepas mangsanya hidup-hidup," ucap Endo menyeringai dengan puasnya.


"Dasar manusia gila! Kenapa sih orang jahat selalu saja hidup lebih lama! Dasar biadab kau!"  Arya bersungut-sungut dan memukul Endo berkali-kali. 


Bahkan Arya yang kelap hampir gelap mata. Dia hendak menghujam pisau lipat itu ke arah Endo.


Namun, Ken menahannya.


"Jangan jadikan tangan mu sama kotornya dengan dia, Arya!" Ken meraih pisau lipat itu.


Anta langsung menarik tangan Arya. Pemuda itu segera memeluk sang kekasih.


"Aku ingat semuanya, aku ingat, Nta," isak Arya.


"Alhamdulillah… kita ke rumah sakit sekarang," ucap Anta. 


"Tapi Yuki disekap sama Hoka. Kita harus menolongnya!" seru Arya.


"Aku akan lapor sama Kapten Conan. Paling tidak kepala polisi kita yang baru tidak akan tunduk dengan uang. Dia juga berniat memenjarakan Hoka karena semua kelakuan bejatnya pada beberapa wanita. Semoga saja Endo bisa mengaku dengan jujur." Ken meyakinkan Arya.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2