
Tubuh Arya masih terbaring koma. Pemuda itu duduk di depan kantin rumah sakit. Anta yang sengaja berada di sekitar rumah sakit, sudah tahu kalau Arya hanya bisa bergentayangan sekitar rumah sakit.
"Hai!" sapa Anta.
"Kamu masih di sini?" Arya menoleh pada gadis itu.
"Anta mau nemenin kamu di kamar ICU, tapi si kaca nako masih ada di sana. Dia selalu aja nemenin kamu. Mana pasang dua penjaga biar aku nggak bisa deketin kamu," keluh Anta.
"Lagian, kamu ngapain sih perhatian sama aku?"
"Karena Arya milik Anta. Anta miliknya Arya. Dulu Arya nggak pernah nyerah sama Anta. Jadi, Anta juga nggak akan nyerah sama Arya." Anta melayangkan senyum termanisnya.
Wajah cantik itu melintas di pikirannya. Senyum dan tawa milik sang gadis yang ada di sampingnya terngiang. Kepala Arya berdenyut dan membuatnya mencengkram rambutnya sendiri.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Anta.
"Maaf, Nta, aku nggak bisa. Aku nggak bisa ingat semuanya."
"Udah, sih, jangan dipaksa! Anta juga nggak maksa. Anta akan tetap berjuang buat mengembalikan ingatan Arya."
Arya menatap lekat wajah cantik itu.
"Nta…."
"Ya?"
"Aku laper, nih. Gimana caranya aku makan, ya?" Arya memegangi perutnya.
"Oh, gitu. Harus ada orang yang memberikan kamu makan. Dulu, kata Yanda, para hantu bisa makan kalau ada manusia yang kasih."
"Dih, aku bukan hantu tau! Aku kan masih koma," sahut Arya.
"Sama aja, sekarang kayak hantu. Mereka nggak ada yang bisa lihat kamu kecuali anak perempuan di sudut sana itu!" tunjuk Anta.
Anak perempuan dikepang dua itu terlihat ketakutan melihat ke arah Arya. Anak itu langsung bersembunyi di balik tubuh ibunya.
"Hai!" sapa Arya sambil mengibaskan tangannya.
"Jangan, deh! Nanti dia tambah takut, loh. Ayo, ikut Anta ke kantin!"
Arya mengikuti Anta. Namun, pemuda itu menghentikan langkahnya karena banyak para hantu di dalam kantin. Ada yang sama dengan Arya, masih mengalami koma. Ada juga yang sudah menjadi hantu karena meninggal di rumah sakit. Arwahnya masih bergentayangan di sana.
"Cuekin aja," ucap Anta.
__ADS_1
Gadis itu lalu memesan dua porsi nasi dan sup ikan. Anta juga memesan salad sayur dan buah serta dua air mineral. Seorang ibu penjaga kantin sampai heran dengan dua porsi pesanan Anta. Gadis itu hanya tersenyum menanggapi.
...***...
Selama seminggu, Anta menemani Arya di rumah sakit. Keduanya menjadi semakin dekat. Arya juga kerap menanyakan masa lalunya. Anta juga menceritakan dari foto-foto kebersamaan mereka di ponsel Anta.
Setelah koma selama satu minggu, Arya dapat kembali ke dalam tubuhnya atas bantuan Kakek Hoki. Entah apa yang dilakukan pria itu. Namun, sejak membuat ritual bersama para anak buahnya di kuil dekat penginapan, arwah Arya langsung tertarik dan masuk ke dalam tubuhnya lagi.
Selama satu minggu kemudian, lagi-lagi Hanako melarang Anta bertemu dengan Arya. Ria juga menguatkan gadis itu untuk tetap tegar. Dion sedang pergi ke London selama satu minggu. Ken juga sedang menginvestigasi kecelakaan maut pada sebuah kapal besar di perairan dekat pulau seberang yang terjadi secara misterius. Oleh karena itu, Ria dan Anta tinggal di rumah Ken hanya berdua.
Ketukan pintu terdengar. Ria mengintip. Gadis itu langsung mencari Anta yang sedang berada di dapur.
"Nta, ada Arya!" seru Ria.
"Hah? Mau ngapain?"
Ria mengedikkan bahu. Anta bergegas membukakan pintu.
"Arya! Ada apa?" tanya Anta.
"Ikut aku!" Arya menyerahkan helm kepada Anta.
Pada sore itu, Arya datang ke rumah Ken untuk meminta tolong. Arya sudah berjanji pada sosok hantu Paman Mito untuk menemukan jasadnya yang selalu 'menghantui' mimpi Arya.
"Buat jadi gayung mandi!" seru Arya.
"Anta udah punya gayung, kok. Lagian di kamar mandi rumah Ken ada shower dan selang air."
"Nta! Ini buat ngelindungi kepala kamu. Ikut aku naik motor sekarang!" Arya memakaikan helm tersebut pada Anta.
"Oh, gitu. Emangnya kita mau ke mana?"
"Udah naik aja." Arya menunjuk ke arah boncengan di motor bebek yang masih kosong.
"Eh, kalian mau ke mana? Masa aku ditinggal sendirian?" seru Ria.
"Kan ada Tante Saori. Nanti Masayu juga ke sini," sahut Anta.
"Justru itu. Masa aku ditinggal sama hantu, sih?!" Ria bergidik ngeri.
"Kan udah biasa sama Tante Saori. Udah sih dia nggak nakal, kok. Please… Ria jangan ganggu Anta dulu, ya. Kali aja Arya mau ngajak Anta nge-date, hihihi." Anta mengedipkan matanya.
"Huh, kalau bukan gara-gara Anta, mana mau aku ditinggal di rumah bareng hantu," keluh Ria.
__ADS_1
Anta melambaikan tangannya pamit pada Ria, lalu mendekat ke boncengan motor. Sebelum naik, Anta tiba-tiba menatap Arya sambil tersenyum, "Sejak kapan kamu kepikiran mau ngajak Anta nge date?" tanyanya jujur.
Arya hanya meringis salah tingkah.
"Sebenarnya, aku nggak ngajak kamu nge-date. Aku cuma mau minta tolong kita cari keberadaan jasad Om Mito. Biar dia tenang dan nggak gangguin aku lagi tiap malam."
"Tapi, kondisi kamu udah lebih baik, kan?" tanya Anta.
"Udah, aku udah pulih, kok."
Motor bebek yang Arya pinjam dari Paman Edogawa, si pemilik kedai ramen, berdengung. Keduanya menyusuri jalanan yang dipenuhi hamparan pasir putih. Pohon lontar dan kelapa berjajar di sisi kiri dan kanan kami, seperti pagar alami yang tampak kukuh.
"Kamu tahu arahnya kita mau ke mana?" tanya Anta.
"Ke tebing dekat penginapan Kakek Hoki. Kayaknya."
"Kok, kayaknya?"
"Ya, habisnya aku sendiri enggak terlalu yakin di mana letak tebing tempat Paman Mito jatuh dalam mimpi aku itu. Tapi aku inget waktu si Hoka sama Endo buang karung ke dekat tebing itu. Apalagi pas di mimpi itu aku tahunya ada daerah bertebing curam di sekitar penginapan. Ya, kurang lebih sekitar lima sampai sepuluh kilometer ke arah selatan dari penginapan," jelas Arya.
"Hoka dan Endo? Maksudnya mereka yang bunuh Paman Mito?"
"Kasus mereka udah banyak, Nta. Aku pelan-pelan tau. Tapi nggak ada bukti kuat. Dan rasanya melawan keluarga mereka terutama Kakek Hoki itu berat."
"Lalu, kenapa kamu masih bertahan di sana?"
"Aku penasaran dengan kelompok misterius milik Kakek Hoki. Aku juga mau ngumpulin bukti kejahatan yang aku dengar dari gosip ke gosip."
"Gila! Itu sama aja membahayakan nyawa kamu, Arya!" seru Anta seraya berpegangan di pinggang Arya.
"Aku akan melakukannya secara hati-hati. Makanya kamu bantuin aku, ya?"
"Iya, pasti aku bantu kamu. Tapi, kamu hati-hati, ya." Anta makin erat memeluk pinggang Arya.
Senyum manis terlukis di wajah si pemuda yang perlahan menyentuh tangan Anta dan mengusap-usapnya.
Memasuki kawasan pantai Pulau Ju, suasana semakin sepi. Hanya terdengar deburan ombak yang memenuhi udara di sekitar keduanya.
"Sepi banget, ya? Apa karena udah sore?" tanya Arya.
"Bisa jadi. Ummmm, Anta mau minta bantuan dulu kalau gitu. Kali aja dia lagi di sini."
"Minta bantuan siapa?" tanya Arya.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...