
Arya sampai di sebuah gedung sekolah. SMA Ju Wakanda. Sekolah yang berbasis teknologi informasi modern meskipun berada di pulau. Hampi semua murid sudah menggunakan laptop dan aplikasi pembelajaran melalui internet. Namun, ada keanehan yang terjadi, Arya merasa sekolah itu ada penunggunya.
"Kayaknya aura sekolah ini horor banget," gumam Arya saat menatap gedung sekolah.
"Ehm ehm, ya gimana ya, Pak, memang kata kakak kelas aku tuh di sini banyak penunggunya," sahut seorang murid yang muncul tiba-tiba di belakang Arya.
"Astaga, ini bocah main ngagetin aja!"
"Hehehe, mau denger nggak ceritanya, Pak?" Anak perempuan berkepang dua itu mengerling.
"Coba coba ceritakan kayak apa?" Arya menelisi tanda pengenal di dada gadis itu. Namanya Yuna Matsumoto.
"Mau tau aja apa mau tau banget?" Anak perempuan itu makin mengulik rasa penasaran Arya.
"Tau biasa aja, lah. Kamu cerita sumur enggak juga nggak apa-apa. Nggak masalah buat saya." Arya hendak melangkah masuk tetapi Yuna menahannya.
"Ayo, dong dengarkan saya dulu!" ucap Yuna.
"Waktu itu aku sedang mendaftar jadi pengurus OSIS karena aku pengin banget dong ikut berorganisasi. Dari situ kakak kelas mulai tuh suka nakut-nakutin kami, para murid baru. Mereka bilang, sekolah ini adalah bekas kuburan masal. Karena katanya pas sekolah dibangun, kuburan di sekitar sini digusur. Jadi, tinggal tersisa komplek kuburan yang ada di seberang sudut depan dan belakang arah selatan sekolah ini. Itulah sebabnya sekolah ini angkernya kebangetan," kata Yuna.
"Oh, bekas kuburan rupanya. Kok, saya jadi merinding," sahut Arya, "Terus ada kejadian aneh nggak di sini?"
Akan tetapi, bel sekolah sudah berbunyi dan Yuna memilih untuk berlari menuju kelasnya. Dia melambaikan tangan pada Arya untuk pamit.
"Sudah kuduga kalau dia hantu. Untung aja aku mulai terbiasa liatnya," ucap Arya kala melihat tubuh bagian belakang Yuna bersimbah darah. Ada lubang seukuran pipa di bagian punggungnya.
Hanako yang tadi sempat meninggalkan Arya sejenak, telah kembali dari toilet. Dia menggandeng mesra tangan Arya seolah menunjukkan kalau pria itu miliknya. Hanako mengantar Arya menuju ke ruang kepala sekolah. Arya sempat melihat ada sebuah sumur tua di seberang pagar halaman belakang.
"Aku rasa itu tempat hantu sadako," lirih Arya.
"Hah? Sadako? Maksud ka.u apa?" tanya Hanako tak mengerti.
__ADS_1
"Nggak kok, cuma apa ya? Nggak tau keceplosan gitu aja," sahut Arya.
"Oh…."
Arya sempat mengingat film The Ring yang pernah dia lihat bersama Anta. Namun, dia hanya ingat sekilas tentang filmnya. Ada hantu bernama sadako keluar dari sumur kala itu.
Sumur tua itu pastinya tempat yang asyik bagi para makhluk astral untuk nongkrong. Mungkin para penghuni kuburan seberang sering datang dan. bermain-main di sumur tua itu. Arya sempat tertawa kecil melihatnya.
...***...
Pukul satu siang, setelah membuat kehebohan karena tebar pesona pada murid perempuan, Arya menuju ke area kantin lalu hendak menuju ke kamar mandi. Dia sempat kembali berbalik sampai menabrak Yuna.
"Halo, Pak Guru!" sapa Yuna.
"Halo, Yuna. Apa kamu sering bergentayangan jam segini?"
"Wah, rupanya Pak Guru sudah tahu, ya, kalau aku hantu? Gentayangan? Hahaha."
"Apa Pak Guru sudah lihat ular?" tanya Yuna.
"Ular?"
Arya tiba-tiba mendengar suara mendesis seperti desisan ular. Suaranya cukup jelas terdengar. Suara cukup besar dan rasanya tak mungkin suara ular bisa sebesar itu kedengarannya.
"Memangnya kenapa dengan ular itu?" tanya Arya.
"Nanti juga ketemu. Dah, Pak Guru! Aku garus pergi!" Yuna menghilang karena melihat seorang penjaga sekolah datang mendekat.
Arya lalu melihat sosok ular itu melayang-layang lewat di atas kamar mandi. Lalu, ular itu mengarah ke arah sumur tua itu.
"Oh, kirain hantu Sadako taunya ular yang tinggal di sumur itu," gumam Arya.
__ADS_1
Bulu kuduknya berdiri perlahan-lahan. Rasanya seperti angin dingin berembus dari tengkuk leher menuju ke sekujur tubuh. Arya sedang memeluk dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Hanako datang mendekat.
"Hai, Asahi!" sapanya.
"Hai!" Arya sempat berpikir kalau ada hantu yang mendekatinya, tetapi ternyata sosok Hanako yang mendekatinya. Mungkin perempuan ini lebih mengerikan dari hantu, begitu batin Arya sampai tertawa sendiri.
"Apa ada yang menggodamu?" tanya Hanako.
"Menurutmu? Lihat saja aku duduk sendirian di sini. Mereka takut mendekat padaku sepertinya," sahut Arya.
"Hmmm, baguslah kalau begitu."
Tiba-tiba, Arya melihat ada sosok yang berdiri di depan kamar mandi perempuan tersenyum menyeringai ke arahnya. Kaki kirinya hancur dan mengeluarkan bau busuk bercampur anyir darah dan nanah.
"Sial, ada setan lagi!" keluh Arya yang mencoba tak mau melihat.
Hanako mengajaknya untuk berlalu. Namun, Arya ingin buang air kecil dan melanjutkan langkahnya menuju toilet untuk guru laki-laki. Di lorong menuju toilet itu juga terdapat sosok hantu perempuan lainnya mengenakan seragam guru terlihat berseliweran maju mundur.
Arya berusaha tak melihat hantu perempuan itu dan hanya bisa berharap agar tidak diganggu. Namun, hantu perempuan dengan bagian sekitar mata menghitam, wajah pucat, dan memakai seragam guru yang lusuh dengan bagian punggung berongga itu malah melihatnya. Sosok hantu itu mendekat lalu mencurahkan rasa kesalnya pada Arya.
"Nih ya kamu denger dulu penjelasan aku. Para murid di sini tuh jorok dan suka membuang pembalut menstruasinya sembarangan. Mereka tuh maunya buang saja dan nggak dicuci dulu sebelum dibuang, ya wajar aja kalau darahnya aku hisap hihihi," tukasnya membela diri kala ketahuan menghisap pembalut bekas wanita.
"Yeee, Kuntina yang jorok! Kalau haus jangan hisap darah haid perempuan. Kamu tiggal ke kantin aja minum minuman segar banyak, tuh. Ngapain pakai ngisep darah bekas haid, idih jorok banget sumpah!" tukas Arya.
Ternyata memang benar kalau sosok hantu perempuan itu suka sekali menghisap darah segar manusia. Pantas saja hantu perempuan ini suka sekali nongkrong gratisan di sini. Arya lalu melangkah ke bagian ujung karena toilet murid yang terbagi dua. Di sebelah toilet pria itu ada keran. Air dari keran itu terasa sangat menyegarkan. Kata Kuntina, air keran itu langsung dari mata air pegunungan bukan air PAM.
Kuntina tiba-tiba pamit undur diri seperti takut akan sesuatu. Hantu perempuan itu menghilang. Di antara keran air dan jalan masuk menuju toilet pria itu, untuk pertama kalinya Arya tersentak dengan sebuah penampakan sosok besar dengankulit wajah megelupas. Tepatnya di depan pintu toilet pria.
Kedua mata hantu itu melotot menatap Arya tajam. Pemuda itu merasa tubuhnya dibuatnya kaku. Jantung Arya tiba-tiba deg-degan setengah mati. Kedua kakinya gemetar. Hantu itu berwajah merah bersimbah darah. Tubuhnya sangat amis anyir darah dan berbau busuk bagaikan menghirup aroma seribu bangkai tikus. Arya sangat merasa mual.
"Duh, kacau nih," gumam Arya.
__ADS_1
...*** Bersambun.g ***...