
"Jadi, kamu mau apa?" tanya Anta.
"Mau tinggal di sini."
"Yeeee, ngelunjak. Tapi di sini akan dibangun penginapan."
"Lu, bagaimana dengan kami? Kami juga butuh tempat tinggal. Kami sudah betah di sini," tegas hantu itu.
"Bilang padanya, Nona. Aku akan meminta pada ayahku sebuah kamar di belakang untuk mereka tempati," sahut Rinai menimpali.
"Tuh, denger sendiri, kan?" ucap Anta.
"Ummmm…. Lengkap dengan fasilitas, ya? Ada AC dan tv juga, kalau bisa ada DVD karaoke," ucap hantu itu.
"Hmmm, bener-bener ngelunjak itu hantu," celoteh Ria.
"Baiklah, aku akan bilang ayah untuk menyediakannya. Asal jangan ganggu renovasi rumah ini dan para tamu nantinya," imbuh Rinai.
"Baik, kami akan menjaga rumah ini dengan baik." Hantu itu lalu pergi ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras, mengejutkan.
"Hadeh… hantu zaman now ngelunjak amat, ya." Anta sampai menggeleng.
...***...
__ADS_1
Di sebuah bangsal rumah sakit jiwa seberang Pulau Ju, seorang wanita berambut ikal dengan usia 50 tahun melahap habis makanan yang tersaji di atas sendok. Seorang suster datang membawa sebuah suntikan. Wanita tadi meringis kala melihat sang suster yang duduk di hadapannya.
"Halo, Nyonya Matsumoto! Bagaimana harimu kali ini?" tanya Suster.
"Aku akan lebih bahagia kalau suamiku datang. Oh iya di mana Ken dan Yuna? Kau tak membakar mereka, kan?" Wanita itu lalu tertawa.
Si suster tak bergeming, tak juga merasakan takut. Ia sudah terbiasa mendapatkan intimidasi seperti ini. Pengalaman bekerja lebih dari lima belas tahun sudah membuat mental dan hatinya kuat. Sehingga, tawa misterius atau pandangan mengerikan dari orang-orang yang sakit dalam hal kejiwaannya tak akan membuatnya takut sedikit pun.
"Wah, membakar ayam saja aku takut. Apalagi aku membakar manusia. Tenang saja Nyonya, mereka akan segera datang." Sang Suster menyuntikkan obat penenang untuk wanita itu.
Suster itu hanya tahu Nyonya Matsumoto dikirim ke rumah sakit jiwa tersebut karena diduga stres dan membakar rumah yang berisi anak dan suaminya. Namun, pada kenyataannya bukan itu yang terjadi.
Suster Haruka lantas keluar dari bangsal yang membuat bulu kuduknya terus berdiri. Entah kenapa setiap hari rasa ngeri itu kian bertambah. Seharusnya dia tahu, tak ada yang perlu ditakuti dari seorang wanita gila yang sudah melakukan kejahatan brutal dengan membakar keluarganya sendiri.
Suster Haruka masuk ke salah satu bangsal seorang pria bernama Yamaha Kurata. Satu tahun yang lalu, dia mengalami gangguan jiwa setelah menghabisi seorang gadis di pantai yang merupakan putrinya sendiri. Dia juga menghabisi nyawa satu orang gadis di SMA Fuji yang merupakan teman putrinya.
Namun, hati Suster Haruka merasa tak mungkin rasanya Tuan Yamaha menghabisi nyawa putri semata wayang dan satu-satunya keluarga yang dia punya. Dia terlihat baik dan penurut. Hanya saja, beberapa kali dirinya tampak seperti kerasukan.
Tuan Yamaha tetap melihat ke arah Suster Haruka dengan senyum hangat. la segera membereskan semua karena harus mengunjungi beberapa kamar lagi sebelum tugas jaganya berakhir malam ini. Akan tetapi, belum juga dirinya keluar dari dalam ruangan, si suster tiba-tiba mendengar Tuan Yamaha duduk di atas ranjang tertawa terbahak-bahak. Ada gelak yang menakutkan dalam perilakunya.
"Iblis itu akan datang! Tolong aku! Tolong aku!" Tuan Yamaha terus saja berteriak.
Melihat kejadian yang tidak wajar ini, sontak si suster segera melangkah pergi dari sana. la harus segera mengatakan kepada dokter jaga yang sedang bertugas bahwa pasien ini sedang mengalami trauma yang dapat membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Di lorong panjang tiba-tiba si suster merasakan kengerian yang tidak dapat dijelaskan oleh logika. Suhu udara tiba-tiba menjadi lebih dingin dari biasanya. Tak lama kemudian, lampu pijar yang ada di langit-langit mendadak mati. Lalu kembali hidup dan terus berulang mati dan hidup.
Terdengar suara teriakan melengking yang membuat Suster Haruka penasaran. Tak ada lagi suara yang dirinya dengar di tengah lorong panjang rumah sakit jiwa tersebut selain suara melengking tadi. Sang suster mendekat, menuju ke salah satu pintu yang ada di sampingnya, tak ada pergerakan sama sekali dari pasien-pasien yang biasa membuat keributan. Arah suara itu datang dari ruangan Nyonya Matsumoto.
Suster Haruka mendekat, menengok pintu kamar dari lubang yang biasa dipakai untuk melihat aktifitas dari para pasien sakit jiwa. Tiba-tiba, suster itu tersentak kala melihat wajah Nyonya Matsumoto. Wajahnya terlihat urat-urat nadi yang menonjol. Tak ada iris mata. Semuanya memutih menyeramkan.
Tak lama kemudian, semua pasien berteriak. Suster Haruka sampai heran dengan perubahan sikap yang rupanya terjadi kepada semua pasien. Semua pasien menunjuk ke arah ruangan Nyonya Matsumoto. Anehnya, tak ad petugas lain di sana yang sigap membantunya.
Dengan langkah cepat, suster itu berlari menuju ke kamar wanita tadi. Bulu kuduknya kembali meremang. Dia harus mencari tahu apa penyebab dari segala kejanggalan ini. Dengan tangan gemetar hebat, sembari mencari kunci yang tepat untuk kamar Nyonya Matsumoto, suster itu akhirnya dapat membuka pintu ruangan tersebut.
Seketika suara berdecit dari pintu yang terbuka terdengar menggema sampai ke seluruh ruangan. Si suster terdiam, tak tahu apa yang terjadi ketika dia melihat sosok bertudung hitam sedang berdiri memandangnya.
Suster Haruka melangkah masuk melihat ke seluruh ruangan. Nyonya Matsumoto tak ada di tempat tersebut seolah menghilang. Kini, hanya dirinya bersama dengan sosok yang tak diketahui dari mana datangnya itu.
"Si-siapa kamu? Di mana Nyonya Matsumoto?!" pekiknya.
Dengan wajah bertanya-tanya, si suster mengamati sekeliling mencari keberadaan Nyonya Matsumoto. Tak ada jawaban yang tercipta dari sosok bertudung di hadapannya itu. Sosok itu membuka penutup kepalanya. Sang Suster terhenyak kala melihat kepalanya seperti kepala kambing dan bermata satu. Sama persis dengan gambar yang kerap dibuat Nyonya Matsumoto di dinding.
Tubuh Suster Harako seolah kaku. Kedua kakinya tak dapat bergerak seolah terpaku ke bumi. Lidahnya kelu dan tak bisa mengeluarkan teriakan yang ingin dia lontarkan sedari tadi. Sosok itu mendekat. Tubuhnya seperti manusia memiliki dua kaki dan dua tangan. Namun, kuku-kuku tangannya lebih panjang, hitam, dan tajam seperti pisau.
"Terima kasih sudah merawatnya dengan baik. Kini, aku akan mencari penggantinya." Nyonya Matsumoto sudah berdiri di ambang pintu. Wanita itu menatap datar dan seperti tengah kerasukan.
Sejurus kemudian, tubuh Suster Haruka tergeletak di lantai dan bersimbah darah. Kepalanya menggelinding tepat ke arah kaki Nyonya Matsumoto. Sosok bertudung itu menghilang. Wanita itu melangkah melewati kamar Tuan Yamaha. Pria itu sedang meringkuk ketakutan sama dengan pasien yang lain. Nyonya Matsumoto keluar dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...