Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
20. Masayu dan Saori


__ADS_3

Tiba-tiba saja anak kecil itu menyeret tangan Anta. Yang lainnya mengikuti. Rasa penasaran juga mereka rasakan.


Waktu terasa tak terhitung. Yang jelas, Anta dan yang lainnya tiba-tiba sudah berada di sisi sebuah tebing yang curam. Pantai berpasir putih di sekeliling dan dibentengi tebing-tebing hitam yang tampak semakin pekat karena langit sudah mulai petang.


"Kakak cantik itu mau terjun!" Anak kecil itu menunjuk seorang perempuan berambut gelap yang sedang menghadap laut dari tebing curam. Rambut legamnya berkibar tertiup angin. Ujung bawah gaun selututnya yang berwarna hitam berkelip-kelip terlihat berkibar-kibar.


Ken berusaha memanggil perempuan itu. Dia akan mencoba bernegosiasi. Jarak tebing tempat perempuan itu berdiri dengan jarak Ken berpijak lumayan jauh. Lagi pula, apa yang bisa Ken lakukan jika berhasil menyongsong perempuan itu? Mereka bisa terjun bersama alih-alih selamat.


"Ajak ngomong, Ken, mungkin aja dia stres," seru Dion.


"Kalian tunggu di sini." Setelah berpikir panjang, akhirnya Ken memutuskan untuk menjangkau perempuan itu.


Jiwa kepahlawanan Ken memang cocok menjadikannya ketua tim SAR di Pulau Ju.


"Hei, jangan terjun!" Ken berteriak sambil tertatih-tatih mendaki tebing. Suara pria itu berkejaran dengan debur ombak dari bawah tebing. Kalau saja dia tidak hati-hati, Ken bisa saja terpeleset. 


Perempuan itu sepertinya mendengar teriakan Ken. Dia lalu menoleh, memandangi Ken. Pria itu langsung terkesiap. 


"Kau ... Miyako? Apa yang kau lakukan di sana?!" pekik Ken.


"Ken? Pergi, Ken! Jangan dekati aku!" seru Miyako.


Perempuan itu sebenarnya cinta pertama untuk Ken, sayangnya Miyako saat itu memiliki kekasih. Jadi, Ken melabuhkan hatinya pada Harumi, sepupu Miyako demi pelarian. 


"Miyako, kita bisa bicarakan ini baik-baik," pinta Ken.


"Tak ada yang lagi baik padaku. Dia telah menghancurkan semuanya!" pekik wanita itu.


"Apa itu Hoka? Dia menyakitimu?" tanya Ken lagi.


"Pria itu menghabisi kekasihku. Dan dia memanfaatkanku. Dia bilang Honda akan selamat. Nyatanya kini Honda tiada!" 


"Miya, kau masih punya aku. Kita bisa buka kebusukan Hoka bersama." Ken masih mencoba membujuk.


"Tidak, Ken! Aku sudah hancur. Dia–" Miyako terisak.

__ADS_1


Ken menelan ludah, entah untuk keberapa kalinya lagi-lagi dia mendengar kejahatan Hoka. Pita-pita memori beberapa tahun lalu kembali berputar. Ken masih ingat betapa gencar selama beberapa tahun lamanya dia melakukan pendekatan pada Miyako. Namun, gadis itu lebih memilih Honda.


Ken bahkan mencoba berbagai cara supaya Miyako itu mau berpaling dari Honda ke padanya. Ken pernah berharap Miyako akan melupakan pria yang membuatnya tergila-gila. Padahal, Honda merupakan pria berengsek yang terjebak dengan lingkaran obat-obatan terlarang yang disediakan oleh Hoka.


Ketika Miyako sakit, Ken akan siap menemani dan menjenguk. Ketika perempuan itu berulang tahun, Ken akan memberi kejutan. Hadiah yang lebih mahal dibandingkan dengan Honda yang selalu memperalatnya. Ken mengutamakan Miyako melebihi apa pun saat mereka di bangku SMA. 


Dan hasilnya, Ken benar-benar paham bahwa cinta itu tidak bisa diukur dengan materi dan perhatian. Cinta itu hati yang berbicara. Apalah artinya segala perhatian, materi, dan sebagainya kalau tidak bisa menarik hatinya. Sampai Harumi datang dan membuka hati Ken.


Awalnya, Ken dan Harumi sering berkomunikasi. Mereka sering mengobrol tentang hobi yang sama yaitu menonton film-film terbaru berdua. Mereka benar-benar cocok jika saling berbicara. Pengetahuan tentang film Harumi benar-benar kelas dewa.


Kemudian, beberapa tahun lalu, setelah Ken dekat dengan Harumi, Miyako pergi dari Pulau Ju bersama Honda. Ternyata, Miyako dijadikan wanita bayaran oleh Honda demi membayar hutang pembelian obat-obatan terlarangnya. 


Ken sempat memcari media sosial dan kontak-kontak lainnya milik Miyako, tetapi tidak aktif. Wa-nya bahkan nonaktif. Ken merasa seperti dihapus perlahan dari kehidupan Miyako. Akhirnya, Ken menetapkan hati pasa Harumim


Akan tetapi, ternyata perkiraan Ken salah.


Sosok Miyako lima tahun lalu masuk dalam daftar orang hilang yang sedang dicari-cari oleh pihak keluarganya. Hal itu sudah lama berlalu. Bahkan setelah Ken disibukkan dengan kegiatan SAR ini pun, perempuan itu kabarnya belum juga ditemukan.


Tersadar dari angan masa lalu, akhirnya Ken terkesiap. Wanita yang dia rindukan muncul kembali dan saat ini bahkan ada di hadapannya. Namun, perempuan itu berdiri di atas karang, menatap laut, dan ingin mengakhiri hidupnya.


"Miyako, jangan lompat! Seberat apa pun masalah kamu, mengakhiri hidup sendiri tak akan pernah menyelesaikan masalah." Ken mulai panik. 


Miyako melemparkan seulas senyum lemah. Sayup - sayup Ken mendengar suaranya yang mengucapkan, "maafkan aku, Ken."


"Miya, tenangkan diri kamu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku janji, Miya."


Miyako tak mengindahkan perkataan Ken. Dia melangkah semakin maju. Deru ombak di bawah sana berdebur seolah merayu untuk terjun. Dalam hitungan detik, Miyako akhirnya melompat. 


"TIDAAAAAKKKK!"


"Astagfirullah, gimana ini, Nta?" Ria mulai panik.


Anta juga menatap tak percaya. Dia juga panik melihat adegan Miyako yang terjun ke dalam laut. Dion menghubungi nomor darurat untuk memberitahukan tentang seorang wanita yang terjun dari tebing ke laut pada pukul dua belas malam itu.


Tim evakuasi dan pihak berwajib Pulau Ju mendatangi tempat kejadian perkara. Mereka mengevakuasi jasad Miyako setelah dua jam pencarian. Anta, Ria, dan Dion, sampai menginap di rumah Ken yang dekat dengan pantai. Ken sedang bersama pihak berwajib memberi keterangan. Namun, pernyataan mengenai keterlibatan Hoka dan kejahatannya dihapus. Pihak berwajib seolah takut mengusik Hoka dan keluarganya.

__ADS_1


"Nta, anak ini serius ngikutin kita terus?" bisik Ria. 


Anak perempuan berusia tujuh tahun tadi ternyata hantu penunggu tebing. Namanya Masayu. Dia kerap menolong orang yang tersesat di sana. Namun, saat tahu Anta dan yang lainnya dapat melihatnya, anak itu malah kegirangan ingin mengikuti.


"Ya, mau gimana lagi. Bukan dia doang, tapi Mbak yang dari kafe juga masih ada di mobilnya Ken," ucap Anta.


"Hah? Serius kamu?" pekik Dion.


"Terus, kenapa aku sama Abang Dion bisa lihat ini anak tanpa bantuan kamera ajaib?" tanya Ria.


"Mungkin aura anak ini cocok sama kalian jadi kalian bisa lihat, Ken juga bisa lihat. Tapi sama Mbak yang itu, coba kamu lihat pakai kamera," ucap Anta seraya terkekeh.


"Ogah, ah! Males banget aku nambah-namabahin beban pikiran aja bikin takut," ucap Ria.


"Kasian juga sendirian di luar, Anta ajak masuk, ya?" 


"JANGAN!"


Ria dan Dion menolak bersamaan. 


Namun, Anta sudah terlanjur membuka pintu dan menghampiri hantu perempuan tersebut.


"Halo, kenapa kamu mengikuti kami?" tanya Anta.


"Kau dapat melihatku? Syukurlah… kau pasti bisa membantuku," ucapnya. 


"Membantu apa?" tanya Anta.


"Calon suamiku hilang. Aku kehilangan dia saat mabuk di kafe itu dua hari yang lalu. Aku tersadar sudah mati. Aku pun tak tahu di mana jasadku. Dan aku juga tak tahu di mana calon suamiku." 


"Di kafe? Dua hari yang lalu?" 


Hantu perempuan itu mengangguk.


"Namaku, Saori." Hantu perempuan itu mengulurkan tangannya pada Anta.

__ADS_1


"Halo, namaku Anta."


...*** Bersambung ***...


__ADS_2