Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
24. Penginapan di Pulau Ju


__ADS_3

Arya sempat melihat Arisa dan Tuan Hoki di dalam sebuah mobil sedan dekat dengan penginapan milik Kakeknya Hanako. Mobil tersebut bergerak dan bergoyang.


"Pada ngapain itu, ya?" gumam Arya. Pemuda itu dengan isengnya turun dari mobil dan menepi. Arya berjalan jinjit untuk mengintip.


Terlihat Arisa tengah berada di atas pangkuan si pria paruh baya tanpa sehelai benang pun. Keduanya tampak terengah-engah.


"Waduh! Mataku, mataku kotor ini!" pekik Arya.


Namun, rasa penasaran membuatnya tetap berada di balik pepohonan untuk mengintip. Sesosok tangan menarik kaus Arya.


"Duh, jangan ganggu, deh. Kalau mah ikutan ngintip, ngintip aja!" tukas Arya.


Sosok itu menarik lagi dari arah bawah. Arya merasa mungkin saja seorang bocah yang menarik.


"Rese banget sih, luh!" ucap Arya dengan nada kesal.


Namun, saat Arya menoleh dirinya langsung berteriak. Sosok hantu manusia tanpa bagian perut dan kaki tertawa meringis ke arah Arya.


"Hantuuuuuuu!" Arya langsung berlari ke arah mobilnya lalu melaju pergi. 


Kakek Hoki dan Arisa mendengar teriakan Arya. Mereka langsung bergegas menyelesaikan aktivitas liar nan panas di malam itu.


...***...


Hanako menghubungi Arya dan memintanya mengantar ke penginapan sang kakek. Padahal, Arya baru saja dari sana. Jantungnya masih berdebar ketakutan. Pemuda itu agak takut jika harus kembali ke sana. Namun, Hanako memaksanya.


Tuan Hoki baru saja memiliki penginapan yang baru. Ada dua puluh kamar yang ada di sana. Hanako membantu kakeknya untuk menyiapkan penginapan tersebut karena rombongan menteri Pariwisata akan datang ke Pulau Ju. 


Rombongan tersebut juga akan mempersiapkan event lomba perahu layar kelas dunia. Sehingga, Pak Menteri ingin bukan hanya penginapan milik Tuan Hoki yang berbenah, melainkan juga penginapan lain untuk ikut berbenah mempersiapkan hunian yang layak bagi para turis asing maupun lokal. 


Penginapan tersebut menghadap ke jalan besar atau jalan utama tak jauh dari tebing dan juga pantai. Tak jauh dari penginapan ada rumah milik Hoka. Rumah tersebut konon katanya, memiliki posisi yang tidak baik untuk sebuah rumah karena kerap mendatangkan hal-hal buruk bagi pemilik sebelumnya. 


Namun, Hoka merasa nyaman-nyaman saja. Hal itu tentunya hanya isapan jempol belaka bagi Hoka. Jadi, selain warga beranggapan rumah tersebut sial dan terkenal angker, ternyata ada desas-desus yang berhubungan dengan kejahatan Hoka yang takut untuk diungkap. 


"Halo, Tuan Hoka apa kabar?" Paman Kenta menyapanya saat tiba di penginapan milik Kakek Hoki. Dia menggunakan mobil Jeep keluaran terbaru dan mengendarai sendiri.

__ADS_1


"Wah, mobil Anda keren sekali!" Puji Paman Kenta. Namun, Hoka hanya diam saja. 


"Halo, Kenta! Apa kabar?" Endo muncul di belakang Hoka.


"Kabarku baik. Endo, bos mu itu kenapa?" bisik Kenta.


"Dia kesal karena belum bisa mendapatkan mangsanya," jawab Endo.


"Mangsa yang mana? Bukankah dia selalu bisa dapatkan mangsanya?"


"Kali ini agak sulit. Gadis pendatang baru bernama Anta itu sulit untuk didekati," bisik Endo.


"Oh, gadis baru yang kerap aku jumpai bersama Ken rupanya."


"Yah, begitulah. Kenta, apa rombongan Pak Menteri sudah sampai?" tanya Endo lagi seraya melihat rumah besar bercat putih yang kini dijadikan penginapan itu.


"Belum, Endo. Harusnya tiba hari ini juga. Tapi sepertinya diundur." 


"Nanti kalau sudah tiba tolong kabari saya. Tuan Hoki meminta saya membantumu mengurus penginapa." Endo mengamati Hanako yang datang bersama Arya dari kejauhan.


"Paling tidak pria itu lebih muda darimu, Endo. Kau terlalu dewasa untuk sang putri." Kenta terkekeh.


"Sial kau!" Endo bersungut-sungut pergi menghampiri tuannya.


...***...


Anta selesai merapikan dan membersihkan dapur. Dia juga sudah memasak mie rebus dan sosiz karena hanya tersisa bahan-bahan makanan cepat saji di lemari pendinginnya. Mungkin nanti dia akan minta diantarkan ke pasar oleh Ria dan Dion.


Kini, Anta dan Ria beserta Dion tinggal di rumah Ken. Di sana ada tiga kamar. Kamar milik Ken ditempati oleh Ken sendiri. Kamar milik neneknya yang kini ditempati Dion. Lalu, kamar milik ayah dan ibunya Ken yang ditempati Anta dan Ria karena lebih luas. 


Ruangan gudang di belakang dulu ditempati oleh adik perempuannya Ken. Namun, semenjak gadis itu meninggal, ruangan itu dijadikan gudang oleh almarhum sang nenek. Anta, Ria, dan Dion sepakat tinggal di rumah Ken karena pria itu tidak memungut biaya sewa. Sehingga akan menghemat pengeluaran mereka nantinya.


Anta dan Ria lalu memanggil Ken dan Dion untu makan pagi. Suasana sarapan bersama kala itu diisi dengan suasana canggung. Hubungan jarak jauh yang dialami Ria dan Arga cukup membuatnya mulai terlena akan kehadiran Ken. Dion juga tampak tak gentar mendekati Anta.


Selesai sarapan, Ria sudah bangkit berdiri menuju kardus yang berisi barang-barang pribadinya. Anta juga mengikuti. Begitu juga dengan Dion.

__ADS_1


"Maaf ya kalau aku tak bisa membantu. Aku harus kembali ke lapangan," ucap Ken.


"Tenang saja, Ken. Oh iya, aku siapkan bekal," ucap Ria segera menuju dapur lalu secepat kilat menyiapkan bekal untuk Ken.


"Terima kasih, ya." Ken pamit pergi.


"Hmmm, jadi mau nelpon Arga," celetuk Anta menggoda Ria.


"Nta, please deh! Itu kan cuma perhatian seorang adik ke kakak. Aku juga bakal ngelakuin itu sama Bang Dion," sahut Ria mulai emosi.


Gadis itu lalu menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Di sana ada dua kamar tidur. Satu kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi yang akan dia tempat bersama Anta. Dan satu kamar lainnya tanpa kamar mandi akan ditempati Dion. Sedangkan kamar Ken ada di bawah.


Anta dan Dion hanya saling berpandangan. Lalu, melanjutkan aktivitas mereka.


...***...


Pukul setengah empat dini hari, Arya terbangun di kamarnya. Dia menatap langit-langit. Pemuda itu tak habis pikir karena baru saja dia bermimpi tentang Anta. Gadis itu datang dengan pakaian pelayan seksi ala anime. Dan parahnya lagi, mimpinya malah berlanjut ke adegan liar, panas, dan menggairahkan.


"Astaga! Kok, gue bisa mimpiin cewek itu, sih! Mana seksi banget lagi si Anta bikin gue jadi basah aja!" Arya mengeluh dengan bahasa Indonesia yang sekarang semakin sering dia ucapkan tanpa sadar.


Duk! Duk!


Samar-samar, mendadak terdengar suara seperti hentakan yang seolah memukul dinding kamarnya. Arya sempat menengok ke arah jendela. Tetapi kemudian, dia mengabaikannya. 


Duk! Duk!


Suara itu kembali terdengar.


"Siapa sih, berisik banget?" gumamnya tak peduli.


Duk! Duk!


Tiba-tiba, suara hentakan di dinding itu kembali terdengar. Anehnya, suara itu seperti hentakan tinju seseorang ke arah dinding. Padahal, jelas-jelas tak ada seorang pun di sana karena Arya hanya sendirian.


Duk! Duk!

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2