
Malam itu, Ken menghentikan mobilnya. Dia berada di tepi pantai.
"Ahh! Akhir-akhir ini kenapa sih pikiranku jadi runyam begini? Coba otak manusia bisa direfresh, atau ada option delete supaya yang dipikirkan tidak terlalu banyak." Ken yang kalut sampai menarik-narik rambutnya dengan tangan.
Namun, seberat apa pun masalah kehidupan, ya harus tetap dijalani dengan senyuman. Pria itu menghela napas dalam, dan mengedarkan pandangan. Memang, pantai ini terlihat hidup ketika matahari bersinar di atas sana.
Sayangnya, sejak ditemukan mayat, sore di Pantai Ju tak semeriah dulu. Hanya beberapa yang nekat menikmati senja, sementara lainnya memilih untuk mendekam di rumah atau di penginapan masing masing.
Ken juga yakin, kalau orang-orang di sekitarnya semakin paranoid jika bermain menjelang senja setelah video yang sempat beredar itu jadi viral. Ken duduk beralaskan pasir putih. Menatap langit senja dan menikmati sebulan ombak.
"Hai, kamu! Itu perahu boat-nya mau dicuekin gitu aja?!"
Tiba-tiba, ada sebias suara yang menyapa. Suara yang cantik nan seksi seolah-olah terdengar kembali. Hangat dan misterius. Anehnya, ada perasaan familier yang tiba-tiba mengetuk hati Ken. Sepertinya dia sudah kenal lama dengan pemilik suara tersebut entah di mana.
"Itu bukan punyaku," balas Ken malas, tanpa berniat menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Kalau bukan punyamu, punya siapa, dong?" timpal suara itu lagi. Kali ini suaranya lebih dekat dan berada di belakang Ken.
Jika saja suara perempuan itu tidak terdengar lembut hingga suaranya terasa manis, mungkin Ken enggan menjawabnya. Namun, kelembutan suaranya itu malah membuat Ken malas mengabaikannya. Membuat pria itu jadi tak tega jika harus menjawabnya dengan nada acuh tak acuh. Membuatnya jadi ingin berkata dan menjawab dengan nada yang juga semanis suara perempuan itu.
"Mana aku tahu, aku saja baru datang. Mungkin punya sepasang kekasih yang mau menikmati langit senja di tengah laut," sahut Ken.
Hening. Mungkin saja perempuan itu sedikit terkejut mendengarkan jawabanku.
"Beruntung sekali, ya, jika ada perempuan yang diajak oleh pasangannya seperti itu," kata perempuan itu akhirnya.
Ken hanya diam, dan termangu. Lama-lama perempuan itu membuat Ken penasaran. Kira-kira, seperti apa wajah pemilik suara lembut dan menenangkan seperti itu?
Akhirnya, Ken putuskan untuk menoleh, mencari arah sumber suara. Namun, sebelum dia bisa melihat si pemilik suara, tiba-tiba ada suara lain yang memanggilnya.
"Ken! Ada keluarga yang terjebak di dekat tebing!" seru Mamoto, rekan kerja Ken. Rambut gondrongnya tersibak angin malam. Arloji di tangan kanan sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Padahal, perasaan tadi masih senja, matahari hampir saja terbenam. Kenapa tiba-tiba jadi malam begini? Selain itu, sepertinya tadi ada seorang perempuan yang sedang berbicara denganku. Lantas perempuan itu pergi ke mana?"
__ADS_1
Ken beralih menelisik ke segala arah. Hatinya makin kalut memikirkan kejadian aneh barusan.
Bagaimana mungkin hari tiba-tiba menjelang malam dengan cepat? Senja baru saja menggantung di cakrawala.
Anehnya lagi, tiba-tiba saja Ken sudah berada di dekat pos jaga. Ken bukan lagi berada di tepi pantai.
"Aku mimpi atau... Janggal sekali rasanya. Aku seperti merasakan time traveler atau lompat waktu. Tidak... ini sepertinya bukan lompat waktu. Seperti ada jeda waktu yang terlewat begitu saja. Apa aku ketiduran, ya? Lalu kalau memang ketiduran, bagaimana caraku berpindah lokasi dari tepi pantai ke pos jaga?" Ken mendekati Namoto, lalu naik mobil tim SAR yang dikendarai rekan kerjanya.
"Kau kenapa?" tanya Namo.
"Hanya sedikit pusing," jawab Ken.
'Argh!! Kepalaku pusing! Mungkinkah aku... time travel. Ah! Sudahlah. Sepertinya aku hanya tidur kelamaan dan bermimpi aneh'
"Ken, serius tidak apa-apa?"
Kali ini suara Namo lebih keras daripada sebelumnya. Sepertinya dia agak sedikit kesal karena berusaha menyadarkan Ken dari sesuatu yang bahkan tidak Ken ketahui.
"Tak apa-apa. Sudah jangan terlalu khawatir padaku."
"Apa gadis-gadis yang menginap di rumahmu membuatmu kesulitan?" tanya Namo lagi.
"Tentu saja tidak. Mereka malah merawat rumah dengan baik. Apalagi sekarang aku sering tidur di pos dan meninggalkan rumah," ujar Ken.
"Oh, syukurlah."
...***...
Malam itu, Hanako membuat acara ulang tahun di halaman resortnya. Dia sengaja menyewa Dion yang didapuk sebagai pengisi acara. Dia juga sengaja mengundang Anta dan Ria karena malam itu dia akan mengumumkan pertunangannya dengan Arya.
Anta datang bertiga bersama Dion dan Ria. Mereka juga akan menjemput Ken di pos jaga. Tiap kali disibukkan setumpuk laporan orang-orang yang meminta tolong, Ken tidak bisa bergabung bersama Anta dan yang lainnya kembali.
Dalam perjalanan dari pos jaga tempat Ken menuju penginapan milik Keluarga Takurugi, seperti biasa mereka harus melewati beberapa resort, tempat para pengunjung biasanya berkumpul dan tak segan-segan memperlihatkan adegan asmara bersama pasangannya.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di halaman tempat Hanako berpesta. Awalnya, Ria melarang Anta untuk pergi karena undangan tersebut seolah ada hal buruk yang akan disengaja oleh Hanako. Pesta pada malam ini terlihat lebih meriah dibanding hari biasanya. Tentu saja, karena bagi mereka melewatkan pesta Hanako akan merasa rugi.
Lagi pula, tempat itu menjadi satu-satunya lokasi yang cukup aman untuk berkumpul sejak video hantu tersebar di dunia maya. Jadi, daripada menghabiskan waktu di tepi pantai dan nantinya bertemu hantu, anak-anak muda itu lebih memilih menyatu dan berpesta di Takarugi's Resort.
Dion mulai melantunkan beberapa lagu yang langsung disambut keriuhan para perempuan. Apalagi, Dion mulai piawai memainkan alat musik elektronik yang disambungkan ke gitar kesayangannya.
Sejak setengah semester yang lalu, Dion mulai belajar menggunakan alat disk jockey. Hanako juga mendekor dengan menambahkan lampu warna-warni ala diskotik ke halaman resort tersebut. Bukan sesuatu yang mewah. Lampu sederhana, tetapi tak kalah cozy dengan lampu-lampu mahal diskotik yang ada di Tokyo.
Resort tersebut tentu saja menjadi tempat favorit para tamu untuk berkumpul dan bersantai. Terlebih, halaman penginapan itu memiliki restoran terbuka yang langsung menghadap ke lautan luas yang teduh. Jadi, sembari melepaskan penat, para tamu juga dimanjakan angin laut yang segar.
Ken dan Ria tengah berdansa. Di tangan mereka ada mocktail yang non alkohol. Arya juga terlihat berdansa menghampiri Anta saat Dion memainkan musiknya.
Arya mengenakan kaus putih dengan cardigan hitam yang biasa disalahartikan sebagai jas, hanya karena bentuknya sekilas memang mirip. Memadukannya dengan celana hitam berbahan jeans, serta sepatu kets warna putih.
Para perempuan yang sedang menari ringan di tempat tersebut juga sengaja menghentikan aktivitasnya, lalu menatap ke arah Arya bergantian. Mereka kebanyakan mengenakan gaun pantai ketat dengan nuansa gelap.
"Geser, yuk, Nta!" ajak Arya.
"Ke sebelah mana, ke kiri apa ke kanan?" tanya Anta dengan polosnya.
"Maksudnya pergi dari sini."
"Oh…." Anta mengangguk.
Tiba-tiba, Hoka datang bersama Endo. Salah satu pengunjung pria sudah babak belur. Hoka berdalih, siapapun perusak pesta maka akan dihukum seperti pria itu. Hoka dan Endo terlihat agak mabuk.
Senyum antusias para perempuan itu menyambut kedatangan mereka. Dari luar memang tampak seperti tak ada masalah. Namun Anta yakin, para tamu yang saat ini berkumpul di acara ulang tahun Hanako itu pasti sedang dilanda cekam.
"Asahi, mau ke mana?" panggil Hanako.
"Duh, kayak suara nenek lampir ya, Nta?" Arya enggan menoleh.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1