
Part 26 PI
"Kamu mau ke sana naik apa, Nta?" tanya Ken.
"Naik taksi," sahutnya.
"Terus, Anta mau ke sana gitu sendiri dengan kondisi kalut begitu?"
"Kalau Ria mau ikut ya hayo, Anta takut Ara kenapa-kenapa!" tegasnya.
"Hayuk lah, aku ikut!" seru Ria menarik tangan Ken.
"Baiklah, baiklah, kalian boleh ikut aku," ucap Ken yang mengambil alih kemudi.
***
Anta, Ria, dan Ken sampai di rumah sakit tempat Arya dilarikan untuk mendapatkan pertolongan pertama. Kedua sahabat itu sempat berpapasan dengan dua suster yang sedang mendorong ranjang besi berisi seseorang yang sudah ditutupi selimut putih.
"Pak Ken!" seru salah seorang suster memanggil nama Ken.
"Ya, Tahikoto, ada apa?" Ken mendekat.
"Ini jasad korban kecelakaan siang tadi. Nona Riyuka bilang kau mau membantunya untuk mengotopsi," ucap suster itu seraya menyerahkan berkas kematian si pasien pada Ken.
Anta dan Ria saling menatap satu sama lain. Mereka punya pemikiran yang sama. Jasad yang sedang dibawa suster tersebut merupakan korban kecelakaan dan ada kemungkinan dia lah Arya.
Sontak saja, Anta dan Ria langsung menubruk mayat yang berada di atas ranjang. Anta menangis dengan kencang. Gadis itu meraung-raung memeluk jasad yang sudah terbujur kaku itu. Sementara itu, Ria juga tak kalah menangis.
"Arya kamu tega banget ninggalin Anta. Kamu belum pulih dari amnesia kenapa udah mati aja, sih," isak Ria.
Ucapan Ria makin membuat Anta menangis.
"Pada nangis kenapa, sih?" tanya Ken yang tak mengerti dengan sikap Anta dan Ria.
"Ini Arya kan, Ken? Kenapa sih takdir jahat banget sama Anta. Belum juga ingatannya kembali, masa Arya udah pergi gitu aja ninggalin Anta," ucapnya tersedu-sedu.
"Hah, Arya?" Ken menatap tak percaya. Dia juga menatap para suster yang mengernyit.
"Iya ya, Nta. Aku juga nggak nyangka kalau Arya bakal kecelakaan kayak gini, huhuhu." Ria menimpali.
"Kalian pada ngapain, sih, peluk mayat itu?" tanya Ken.
"Emangnya kenapa, Ken?" Anta menoleh.
__ADS_1
"Itu bukan Arya. Nih, namanya Kora Edogawa." Ken menunjukkan berkas laporan di tangannya.
Anta dan Ria saling menatap. Lalu, mendekat untuk mengamati nama pada berkas. Anta lalu menoleh ke atas ranjang jasad pria tersebut. Di atas jasad yang mereka tangisi itu, ada sosok pria dewasa berusia empat puluh tahun tengah duduk di atas mayatnya sendiri. Jemari tangan kanannya yang remuk melambai ke arah Anta dan Ria. Wajah pria itu hancur dan bersimbah darah. Bahkan hidungnya hampir saja jatuh saat tersenyum. Tempurung kepala bagian kiri juga hancur dan bolong sehingga memperlihatkan lelehan otak yang hampir jatuh.
"Astagfirullah!" pekik Anta.
"Astagfirullah, Nta!" Ria yang baru saja mengarahkan kamera ajaibnya langsung mundur dari ranjang beroda itu. Dia menuju ke belakang punggung Ken.
"Kenapa suster nggak bilang dari tadi, sih, kalau ini bukan Arya nya Anta?" protes Anta.
"Kamu juga nggak nanya, sih. Kamu main tabrak aja. Kirain saya, kalian itu keluarganya pasien. Lagian main peluk -peluk aja," jawab suster tersebut.
"Hih, bawa gih mayat ini!" titah Ria.
"Lihat apa, sih? Hantu, ya?" tanya Ken.
Ria langsung memberikan kamera ajaibnya untuk Ken lihat. Pria itu bergidik ngeri saat melihat sosok hantu yang tengah di didorong oleh dua suster yang sedang tertawa kecil dan membawa mayat tersebut pergi.
"Itu bukannya si Arya," ucap Ken yang melihat sosok Arya di lensa kamera Ria.
Ria lalu memastikannya juga. Dia menunjuk sosok Arya yang berdiri di sudut koridor rumah sakit. Anta menoleh karenanya.
"Nah, akhirnya ketemu kalian yang bisa lihat aku," ucap Arya mencoba mendekat dan menyentuh Ria. Namun, tak bisa.
"Arya udah mati? Huaaaaaaa!" Anta menangis kembali dan memeluk Arya dengan erat.
"Eh, siapa bilang aku udah mati? Aku koma tau! Sekarang roh aku keliaran gini. Mana hantu-hantu sini serem banget," jawabnya menjelaskan.
"Ja-jadi, jadi Arya koma?" Anta melepas pelukannya dan mengamati Arya dengan lekat. Gadis itu lalu memeluk kekasih kembali. Namun, Arya mulai risih dan melepasnya.
"Kalian ikut aku!" ajak Arya.
...***...
Anta berada di ruang ICU setelah mensterilkan diri dan memakai baju APD.
Anta mengitari ranjang tempat Arya berbaring. Dianmemperhatikan sosok Arya dengan saksama.
"Kok, gantengan ini ya sama kamu," ucap Anta.
"Benar, Nta. Kalau dilihat-lihat gantengan yang ini," sahut Ria.
"Yeeeee, sembarangan aja kalau ngomong. Jelas-jelas itu aku lagi koma. Tuh, lihat deh, tangannya gerak!" tunjuk Arya saat melihat jemari tangan tubuhnya yang barusan bergerak sebentar.
__ADS_1
"Masa, sih? Mana? Ah, perasaan kamu aja kali, Ya!" sahut Anta.
"Enggak kok, barusan gerak. Coba, Nta, sentuh lagi!" pinta Arya.
Anta mengiyakan perintah Arya. Dia menyentuh wajah pemuda itu sekali lagi. Tak Ada reaksi apa pun atau gerakan apa pun pada jari jemari Arya.
"Oh... perasaan ku aja kali, ya? Atau tempat nyentuhnya beda tempat gitu," ledek Arya.
"Huuuuuu, jangan mau, Nta! Si Arya mulai ngeres, nih!" cibir Ria.
Terdengar langkah dari luar ruangan yang ternyata Hanako. Dia datang bersama beberapa tim medis yang bertanggung jawab pada penanganan Arya di ruangan ICU tersebut.
"Kalian?! Siapa yang perbolehkan kalian ke sini, hah?!" hardik Hanako.
"Arya yang ajak kita ke sini," sahut Anta.
"Arya? Maksud kamu Asahi? Sudah gila ya, kamu. Asahi sedang koma, mana mungkin di mengajak kamu ke sini?" Hanako makin kesal dan marah.
Dia masuk ke dalam ruang ICU lantas menarik paksa Anta keluar dari sana.
"Lepas! Anta bisa kok keluar sendiri tanpa harus dipaksa paksa gini!" Anta menepis tangan Hanako dan tak sengaja mendorong gadis itu sampai jatuh terduduk di atas pot bunga.
"Waduh, nenek sihir nyusruk!" seru Anta.
"Gadis dungu! Menyebalkan! Awas kamu, ya!" Hanako berusaha menghampiri Anta dan ingin menjebaknya.
Namun, gadis itu segera berlari menghindar. Bahkan dia bersembunyi di belakang Arya. Hanako mengejarnya.
"Kalian pada ngapain, sih, kayak bocah aja main kejar-kejaran!"
Anta tak mau mendengarkan Arya. Dia sudah tersulut emosi dan mulai kesal dengan keberadaan Anta. Sosok Ria lantas menahan Hanako. Dia lalu memperlihatkan kamera ajaibnya.
Gadis itu kini dapat melihat arwah Arya yang tersenyum ke arahnya.
"Asahi?" Hanako menatap tak percaya. Apalagi saat dia melihat berkali-kali ke arah tubuh Arya dan roh nya Arya.
Hanako lalu jatuh tak sadarkan diri.
"Lha, liat yang ganteng kayak gue gini dia pingsan. Gimana dia lihat hantu serem di sini," ucap Arya.
Tim tenaga medis lantas menyiapkan kamar untuk Hanako sampai gadis itu siuman dari pingsannya.
"Kalau nggak diliatin pegawai RS di sini, Nta, si Hanako udah aku injek mukanya dari tadi," bisik Ria.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...