
"Eh, ada anak kembar akur banget. Kalah si Fasya Disya, sama Dira Adam," ledek Tasya kala melihat Anan dan Raja bersama.
"Berarti gue masih ganteng ya awet muda kayak anak kembar sama Raja," kata Anan dengan bangga seraya memberi kecupan di pipi Dita lalu duduk di kursi makan tersebut.
"Iyain aja lah biar seneng," sahut Tasya lalu menyapa Raja, "Hai, Ja! Gemes banget Bunda Tasya udah lama nggak acak-acak rambut kamu!" Tasya mendekati Raja yang duduk di meja makan, lalu mengacak-acak rambut pemuda itu. Raja jadi teringat dengan perlakuan Mama Dewi terhadapnya. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Kak Raja, kok nangis?" tanya Fasya dengan bahasa cadelnya.
Semua mata langsung menoleh ke arah Raja.
"Aku … aku kangen Mama Dewi," ucap pemuda itu seraya terisak.
Hening sejenak seolah waktu terhenti kala Raja menyebutkan nama itu. Anta juga mengusap bulir bening di sudut mata lentiknya.
"Udah, yuk! Kita lanjut sarapan. Jumat sore kita ziarah bareng," ucap Anta.
Setelah mereka sarapan bersama, Anan pergi ke kafe baru. Kafe yang dia usung bersama Herdi dan Arya. Sedangkan, Anta mengendarai mobilnya ke rumah sakit. Kuliah dokternya sudah mulai kembali bersama Arga.
Sementara itu, Dita mengendarai mobilnya bersama Tasya, Raja, dan anak-anak kembar lainnya menuju ke sekolah. Saat hendak naik ke dalam mobil, tetangga di seberang rumah yang bernama Ibu Siti, datang menyapa.
"Halo, tetangga baru! Wah, ini pasti teman-temannya Alvin nanti di sekolah," ucap wanita berhijab merah muda itu seraya mencolek pipi Dira.
"Hai, Ibu Siti! Halo, Alvin! Nanti temenin Dira, Adam, Fasya, dan Disya, ya, di sekolah." Dita balas menyapa.
Anak lelaki bertubuh kurus bernama Alvin itu mengangguk seraya tersenyum.
"Nanti sore datang ke rumah saya, loh. Soalnya Alvin mau ulang tahun sekalian perkenalan sama anak-anak tetangga sini," ujar Ibu Siti.
"Baik, Bu." Dita menjawab seraya melirik ke arah para anak-anak yang melonjak kegirangan. Mereka sudah membayangkan kue ulang tahun, hadiah merchandise, bahkan badut pesta.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Ibu Siti yang masuk ke dalam mobilnya. Sang suami sudah ada di kursi kemudi.
Sebelum Anta masuk ke mobil bersama Arya, ada keanehan yang terlihat. Alvin menatap Anta dengan pandangan tak suka. Aura kehitaman juga muncul di tubuh anak tersebut.
"Kenapa, Nta?" tanya Arya.
__ADS_1
"Ada yang aneh aja, Ya."
"Udah aneh-anehnya nanti aja! Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit!"
"Oke!" Anta duduk di kursi depan samping Arya.
...***...
Sore itu di rumah Alvin, beberapa tetangga yang memiliki anak sebaya dengan Alvin, hadir memeriahkan pesta sederhana tersebut. Bahkan, anak-anak tampak senang karena tuan rumah menciptakan suasana luar angkasa pada hari ulang tahun anaknya. Alvin sangat suka dengan hal-hal yang berbau luar angkasa.
Dita dan Tasya juga mengagumi tema buatan ibunya Alvin. Selain tema yang unik, ternyata menurut Ibu Siti mudah juga membuat dekorasi ulang tahun anak laki-lakinya.
Tak banyak warna yang dibutuhkan, serta hanya tinggal mendekorasi ruangan dengan bentuk roket dan beberapa benda langit lainnya. Dia juga mengungkapkan kalau pembuatan dekorasi ini cukup sederhana dan bisa memanfaatkan barang-barang yang ada di rumah. Misalnya membuat planet dari karton ataupun styrofoam kertas. Ibu Siti memang benar-benar terampil.
Anta yang baru pulang ikut membantu pesta ulang tahun tetangga baru itu. Tiba-tiba, gadis itu melihat sosok yang tak kasat mata dan menakutkan di jendela dapur menuju ke halaman belakang yang terdapat kali di seberangnya.
"Kak, itu apa?" bisik Raja saat mendekat kala Anta sedang memperhatikan makhluk itu.
"Kayaknya nenek sihir zaman now," ucap Anta seraya terkekeh.
"Masa, sih?" Anta menoleh ke arah Alvin lalu berucap, "Alvin, jangan lihat ke situ lagi, ya. Ikut sama Kak Anta aja yuk ke depan!" ajak Anta langsung meraih Alvin agar bergerak menuju area pesta.
Pesta ulang tahun pun digelar dengan penuh keseruan. Jam dinding di ruang tamu telah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ibu Siti telah menyiapkan teh manis hangat dan kudapan untuk keluarga Dita dan Tasya yang mau repot membantu. Dia juga menyiapkan sesuatu untuk menjamu teman-teman suaminya yang diundang ke rumah untuk syukuran ulang tahun Alvin.
Anta dan yang lainnya lalu pamit kala suara azan maghrib berkumandang. Dia sempat menceritakan pada Dita tentang apa yang dilihat Alvin. Namun, anak itu telah kembali asyik bermain dengan mainan mobil dan robot baru di depan pintu kamarnya bersama Dira dan Adam.
Namun, Fasya dan Disya juga bertingkah aneh. Mereka ketakutan dan merengek untuk pulang. Alhasil Arya menggendong keduanya untuk pulang, sementara Tasya pamit seraya membawa bingkisan ulang tahun untuk anak kembarnya.
"Assalamu'alaikum!" Terdengar suara kawan-kawan dari suami Ibu Siti di luar diiringi suara mesin-mesin sepeda motor yang dimatikan.
Dari jendela rumah, Bu Siti melihat rombongan suaminya dengan perasaan kaget bercampur rasa kesal yang tiba-tiba menyergap hati wanita itu.
"Waalaikumsalam, duh … kok magrib-magrib baru pada dateng, sih," gumamnya.
"Eh, Bu Siti, kalau begitu gantian saya pamit ya. Anak- anak juga udah merapikan dan membersihkan semuanya," ucap Dita.
__ADS_1
"Maaf, Bu, saya nggak bermaksud menyinggung Ibu Dita, tapi saya kesel aja sama temen suami kenapa datangnya pas magrib gini," keluhnya.
"Saya nggak tersinggung kok, Bu. Oh iya, tolong jauhkan Alvin dari jendela belakang yang ke arah kali, ya," kata Dita.
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Ya, namanya anak-anak ada aja yang ganggu. Lagi pula kalau magrib atau malam hari suka ada aja makhluk lain yang lewat, takutnya nanti ganggu Alvin."
"Ah, Bu Dita ini, jangan terlalu percaya sama hal kayak gitu. Tapi, makasih juga sarannya," ucap Bu Siti.
Dita dan yang lainnya lalu pamit tak lupa juga mengucapkan salam. Dita juga pamit pada Pak Herman yang tersenyum kecil sambil mempersilakan teman-temannya untuk masuk ke teras rumah.
"Teman-temanku datang cuma sebentar saja, Mah," ujarnya yang tampak berusaha menenangkan istrinya. Ia hafal benar raut wajah serta sikap wanita itu jika merasa jengkel.
Meski mengeluh, Bu Siti masih juga cekatan. Setelah berganti pakaian lalu ia membuatkan kopi di dapur dengan segera. Saat hendak melaksanakan salat magrib, Pak Herman dan teman-temannya masih asyik berbincang di teras rumah.
"Pah, apakah perlu dibuatkan kopi lagi?" tanya Bu Siti seolah dia memberi kode pada suaminya untuk menunaikan salat magrib terlebih dahulu.
Akan tetapi, Pak Herman tampaknya menganggap itu sebagai pertanyaan serius dan justru meminta untuk dibuatkan kopi lagi untuknya dan teman-temannya.
"Pah, tapi bisa kan salat dulu?"
"Iya, Mah, sebentar lagi."
"Waktu magrib singkat, Pah." Bu Siti masih bersikeras sampai suaminya bangkit untuk mengambil wudu.
Alvin mengendap-endap keluar menuju ke teras, meskipun ibunya sudah melarang. Anak itu penasaran juga dengan tamu-tamu ayahnya.
"Alvin, mau ke mana? Sudah magrib, Nak," ujar Bu Siti saat mengetahui pergerakan putranya.
"Mau liat sebentar," ucapnya dengan suara masih cadel.
"Kalau Magrib harus masuk ke rumah. Alvin mainnya di dalam aja, ya," lanjut wanita itu sambil menggendong putranya.
Namun, ada sesuatu di jalanan depan pagar rumahnya yang Alvin perhatikan sedari tadi.
__ADS_1
...**** Bersambung ****...