
Anta dan Dita masih menyimak kejadian masa lalu sebelum Yanti meninggal. Polisi yang datang ke lokasi melakukan olah tempat kejadian perkara saat Dita dan Anta berada di sana dalam bayangan masa lalu itu. Lusayang mengatakan pada para polisi kalau sehari sebelumnya korban mengeluh sakit gigi. Korban meminta bantuan diantarkan berobat ke puskesmas. Setelah pulang, korban meminta dibelikan susu murni cair kemasan kaleng.
Para polisi langsung memeriksa kondisi tubuh korban. Korban yang sudah tidak bernyawa dari mulutnya mengeluarkan busa dengan kondisi wajah terlihat lebam. Dalam ruangan salon tersebut, petugas juga menemukan empat strip obat sakit kepala.
Lusayang memberi kesaksian pada pihak polisi dengan mengatakan saat tiba di salon korban, dia sempat menaruh curiga lantaran salon milik sahabatnya masih tutup. Biasanya korban sudah bangun dan di waktu tersebut sedang sarapan. Kecurigaan semakin bertambah saat dirinya memanggil korban tak ada jawaban sementara televisi di dalam salon masih menyala.
Merasa penasaran, Lusayang mematikan aliran listrik melalui meteran listrik salon tersebut. Dia juga berusaha kembali memanggil korban sambil menggedor–gedor pintu, akan tetapi tetap tidak ada sahutan. Saat itu juga, ia menuju belakang salon kemudian membuka paksa pintu belakang. Dia mendapati korban tergeletak di ruangan salon dalam kondisi meninggal dunia. Saat ditemukan korban masih mengenakan pakaian lengkap dan berjaket.
Lusayang kemudian memberitahukan peristiwa tersebut ke warga sekitar dan oleh warga dilaporkan ke perangkat desa setempat lalu diteruskan ke pihak kepolisian di daerah itu. Jasad korban lalu
kemudian dibawa ke puskesmas terdekat. Menurut pihak polisi akhirnya disimpulkan kalau kematian korban diduga akibat over dosis setelah mengonsumsi obat sakit kepala.
"Lusa memang tidak membunuhku. Tapi, karena dia, aku jadi mati," ucap Yanto alias Yanti.
"Kok, bisa?" tanya Anta.
"Dia mencuri kalung pesugihan milikku yang tadi dia pakai. Dia ambil itu setelah memberikanku bubur ayam berisi obat tidur," jelasnya.
"Hmmm, lalu kamu terbunuh kan sama Lusa?" tanya Anta lagi.
"Bukan begitu! Aku terbunuh karena kalung itu terlepas dariku. Itu sudah perjanjiannya. Aku bisa sukses karena kalung itu. Jika kalung itu terlepas maka aku akan mati dengan cara apapun. Makanya ahli forensik bilang, aku mengalami overdosis," jelasnya.
"Lalu, kamu masih gentayangan karena apa?" tanya Dita.
"Mungkin menunggu hari pembalasan untuk si Lusa itu tiba. Harus ada yang melepas kalungnya. Aku cuma mau itu," ucap Yanti.
Dita dan Anta lalu kembali ke masa kini.
Tasya sudah menyadarkan ahli terapis yang pingsan tadi. Lalu, Dita dan Anta menceritakan semuanya pada Tasya.
"Kalau kalung itu kita ambil, si Lusa itu mati, dong?" tanya Tasya.
__ADS_1
"Ya, katanya gitu. Tapi kalau dia mati nah ini salon siapa yang akan kelola? Mereka kan nggak punya ahli waris, ya, Bun?" Anta menoleh pada Dita.
Dita lalu menoleh pada Yanti.
"Sumbangkan saja pada pemilik panti asuhan. Namanya Bu Retno. Dia bisa jadikan tempat ini sebagai wadah anak-anak panti asuhan yang besar besar untuk dijadikan usaha," ucap Yanti.
"Niatnya baik, ya. Tapi niat kamu ingin saudara kamu si Lusa itu mati, juga buruk tau," ucap Anta.
"Udah sih ikutin aja." Yanti mencoba merasuk ke tubuh Tasya setelah memastikan dia dan Tasya memiliki kecocokan tanggal lahir dan weton.
"Bunda, dia apain Tante Tasya?" tanya Anta.
"Lepaskan Tasya!" pinta Dita.
"Pinjem sebentar, ya, nggak akan lama kok." Yanti yang sudah ada di dalam tubuh Tasya lalu berlari menuju ke Lusa.
"Ini gimana, sih? Paling nggak Anta kan mau perawatan dulu," keluh gadis itu.
"Kalung aku, kembalikan kalungku!" teriak Lusa.
Namun, karena Yanti membawa tubuh Tasya keluar dari salon alhasil saat Lusayang mengejarnya, pria gemulai itu tersambar mobil box yang melaju dengan kencang. Tubuh Lusa terlempar dan mendarat di aspal jalan. Darah mengalir dari tempurung kepalanya yang pecah. Kaki kiri dan tangan kanan juga patah.
Sosok Yanti menuju ke arah Dita. Dia memberikan kalung itu pada Dita.
"Jangan dipakai! Sekalinya kamu pakai dan terlepas, maka kamu akan mati dengan cara apapun!" Yanti memperingatkan.
Lalu, dia keluar dari tubuh Tasya yang langsung terbaring tak sadarkan diri. Sosok arwah Lusa keluar dari tubuhnya yang tewas mengenaskan. Dia langsung melihat penampakan Yanti menertawainya.
"Yantooooo! Kurang aja elu, ya! Gue baru mau enak-enakan sama brondong elu bikin mati gini! Awas luh, Yantooooooo!" Lusayang mengejar sosok hantu waria tadi ke segala arah.
"Dan akhirnya … mereka jadi kuntilanak waria yang mati gentayangan, tamat deh," ucap Dita secara terkekeh.
__ADS_1
"Terus, perawatan Anta gimana, nih?"
"Cari salon lain aja lah. Bangunin Tante Tasya terus bawa ke mobil!" titah Dita.
Akhirnya Dita meminta Anta untuk melajukan mobil mereka menuju ke sebuah salon yang menawarkan jasa perawatan sebelum pernikahan.
...***...
Keesokan harinya, Arga dan Ria datang dan menginap di salah satu hotel terdekat dengan kediaman Pak Herdi. Anta langsung memeluk kala menyambut sahabatnya dengan baik. Kini, Ria tengah mengandung dan akan menjaga bayinya dengan baik.
Anta dan Ria lantas mengunjungi salah satu butik ternama di kota itu bersama Raja, Arya, dan juga Arga. Sementara Tasya dan Dita memastikan persiapan area untuk melangsungkan pernikahan tertata rapi.
Arya dan Anta sempat bertengkar hebat menjelang pernikahan. Raja masih saja menertawai keduanya. Dia juga tak menyangka kalau dua orang yang baru baru ini sering bertengkar itu terkena sindrom akan menikah.
Saat tiba di parkiran, Arya bertemu bekas rekan bisnis yang selalu mengejeknya. Pria bernama Deni itu selalu saja memancing keributan dengannya. Arga tahu akan hal itu karena pernah diceritakan oleh Arya.
"Hai, Arya! Apa kabar? Jadi benar ya elu akan menikah?" sapa Deni.
"Kita pergi aja dari sini. Biar waras!" bisik Arya.
"Hei, gue denger, Ya. Oh ngomong ngomong, gadis manis itu boleh juga. Elu bayar berapa dia biar mau nikah sama elu?" tanya Deni yang suka sekali mencampuri urusan Arya.
"Heh, apa kamu bilang? Anta bukan wanita bayaran tau!" sentak Anta yang sudah terlanjur emosi dan menghampiri pria itu. Ia lalu menunjuk ke arah dada pria berambut kelimis dan berjambul yang ada di hadapannya itu.
"Woo … tenanglah cantik! Apa kau mau bersamaku dan aku bayar dua kali lipat? No, no, no, no, bagaimana kalau tiga kali lipat?" tanyanya seraya menyeringai.
Plak!
Pipi Deni merah seketika dan terasa pedas sampai ia mengusap bekas tamparan dari Ria yang datang penuh kegeraman.
"Berani kamu hina sahabatku, aku pastikan ibu hamil ini bisa menginjak-injak barang kamu yang kecil itu sampai kayak peyek," ucap Ria.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...