Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
76. Pocong Depan Butik


__ADS_3

"Ga, bini elu serem juga," bisik Arya.


"Emang juga gitu sejak hamil. Khodamnya galak suka marah-marah kalau salah dikit, hehehe," sahut Arga.


Sementara itu Raja menjauh dan mencoba mengambil rekaman gambar video tersebut karena dia yakin ini akan seru. Toh, para kakaknya juga pasti bisa mengatasinya.


Deni hendak menampar ke arah Ria untuk membalasnya. Anta sudah siap ingin menolong, tetapi Arga langsung menahan tangan Deni agar tak bisa menyentuh istri tercintanya di hadapannya itu. Arya juga maju bahkan mendorong mantan rekan bisnisnya itu.


"Wah, kalian beraninya main keroyokan," ucapnya.


"Kita nggak akan main keroyokan, kok," ucap Arya lalu menoleh ke arah Arga, "Elu mundur, Ga. Ini urusan gue sama dia," pinta Arya.


Melihat Arya yang maju penuh kegeraman dan emosi, ada nyali yang ciut pada diri Deni.


"Baiklah, gue akan pergi kalau begitu. Oh iya, jika elu sudah bosan dengan gadis itu, elu bisa berikan sama gue. Apalagi asal elu tau ya, rekan- rekan bisnis elu lainnya sempat berpikir kalau elu nggak menyukai wanita karena sering nolak cewek-cewek dari kita waktu kita party," ucap Deni.


"Itu karena gue setia, monyong!" 


Brug!


Arya langsung memukul Deni sampai pria itu jatuh terjerembab. Perkelahian pun terjadi.


"Hentikan, hentikan Arya! Nanti muka kamu jadi bonyok!" seru Anta.


"Biarin aja, Kak. Biarkan Kak Anta menunjukkan tanggung jawabnya menjaga kakak," sahut Raja. 


"Ya, kendalikan emosi elu. Kalau bisa elu bikin patah tulang dia," sahut Arga.


"Sayang, kamu bukannya misahin," bisik Ria.


"Seru tau, Yang," sahut Arga.


"Dasar playboy cap buaya buduk ngumpet di selokan! Awas aja kalau sampai elu berani-berani gangguin istri gue lagi, habis elu kayak kutu," ancam Arya memukuli Deni.


Anta menoleh ke arah Arya dan membantunya untuk mencubit dan menjitak Deni dengan puas seraya tertawa.


"Sebaiknya, kamu pergi aja, Kak. Nanti kamu bisa habis sama mereka," ucap Raja.


"Gue bakal lapor polisi atas tindakan kalian ini," ucap Deni menatap ke arah semuanya.


"Oh, silakan aja, gue nggak takut," sahut Arya.


Deni menunjuk seraya melangkah menjauh dengan badan sempoyongan menuju ke mobilnya.


Anta lalu memanggil salah satu kuntilanak yang bertengger di pohon kapas tak jauh dari mereka.


"Mbak Kunti, ikutin pria itu kalau perlu gangguan aja, ya. Kalau dia macam-macam telepon polisi, kamu gangguan terus," titah Anta.


"Beres, Non. Jangan lupa upah kemenyan campur KFC, loh," pinta sang kuntilanak. 

__ADS_1


"Beres." Anta menjabat tangan kuntilanak itu. Lalu, hantu itu pergi menghilang.


"Iyuh, bau tangan mbak kuntilanaknya. Kayak bau ****** gitu," ucap Anta.


"Wajarlah, Nta. Dia kan setan," ucap Ria.


"Oh iya iya."


Mereka akhirnya menuju ke dalam butik. Raja masih tertawa melihat kelakuan para kakaknya. Namun, langkah Anta terhenti. Dia melihat ke arah pot-pot tanaman di depan butik. Lalu, tatapannya mengarah ke jendela di atas pot.


"Kalian lihat apa yang Anta lihat, kan?" tanya Anta.


Semuanya mengangguk kecuali Ria saat mereka menoleh ke arah sudut yang sama. Sudut di mana sosok pocong berdiri di dalam butik tak jauh dari jendela. Tubuh dibalut kain kafan yang lusuh bercampur dengan bercak tanah itu berwajah merah. Kedua matanya menatap dengan tatapan tajam dan melotot. 


"Pasti pada lihat setan, nih," gumam Ria.


"Selamat siang, bisa saya bantu?" tanya seorang gadis penjaga butik.


"Selamat siang, saya Anta yang tadi sudah membuat janji dengan pemilik butik ini," ucap Anta.


"Atas nama siapa?" tanyanya.


"Arya dan Anta," sahut gadis itu.


"Baiklah, silakan duduk dulu!" 


"Biasa aja dong, nggak usah tebar pesona gitu!" Arya meraup wajah Raja dengan gemas.


"Sorry, Bro, orang ganteng mah nggak usah terbar pesona juga auto dilirik," sahut Raja dengan angkuhnya.


"Kampreto pulgoso delaroce!" sungut Arya.


"Sayang, aku mau minum susu yang ada di box pendingin yang di dalam mobil tadi," pinta Ria dengan manjanya pada Arga seraya mengusap perutnya.


"Oke, oke, sebentar ya dedek sayang. Aku ke mobil dulu ya. Mau berapa?" tanya Arga.


"Mau dua kotak, ya," sahut Ria.


"Anta juga mau, dong!" ucap Anta.


"Itu susu hamil, Nta," ucap Ria.


"Oh, nggak jadi deh. Tapi kalau Arga sempet boleh lah beliin Anta susu kotak di mini market depan itu," pinta Anta.


"Aku mau juga dong, Kak," ucap Raja.


"Gue juga ma–"


"Apa luh, Ya! Beli sendiri!" Arga lalu melangkah ke luar dari butik tersebut meninggalkan semuanya.

__ADS_1


"Giliran sama gue, masih aja pelit gitu laki luh, Ga," gumam Arya mencolek bahu Ria.


Sementara itu, Anta masih fokus dengan sosok pocong yang dilihat tadi.


"Udah jangan dilihat, Nta. Nanti tuh pocong minta bantuan malah tambah repot kita. Idih amit-amit jabang bayi, takut bayiku sawan nanti," ucap Ria.


Di sebelah ruangan tiba-tiba terdengar dua orang gadis sedang mencoba pakaian pengantin. Keduanya berbincang seru dan terdengar heboh. Anta sampai penasaran dan mengintip dari celah tersebut.


"Apa, Fin, elu udah hamil?" tanya gadis berambut pendek dengan meraba perut kawannya itu, ia menelitinya dengan saksama.


"Hahahah menurut elu, Cu?" goda teman satunya seraya membusungkan perutnya.


Perempuan itu terlihat bangga memamerkan perut buncitnya. 


"Wah, keren banget. Bisa bikin video tiktok nih kalau elu hamil duluan."


Anta sampai menoleh ke arah Ria yang menatap jijik ke arah dua perempuan itu


"Gue juga punya video si Openg pas unboxing gue. Sebagian juga gue taro di twitter, tapi cuma lima belas detik biar seru," ucapnya seraya terkekeh.


"Wah… keren tuh. Elu unggah di twitter Fina imut, kan?" tanya rekannya. 


Fina mengangguk. Lalu, dia mencium aroma busuk bangkai di sekitarnya sampai membuatnya mual. Pemilik butik yang mengenakan jilbab ungu dan gamis senada datang menghampiri. Dia menanyakan baju mana yang cocok. Namun, aroma busuk itu makin menguar. Apalagi ketika perempuan bernama Fina dan rekannya tadi mencium gaunnya.


"Kita nggak jadi deh, Mbak, nanti aja balik lagi. Itu juga kalau aku minat ke sini lagi," ucap Fina dengan ketusnya. Gadis itu langsung buru-buru melepas gaunnya di dalam ruang ganti.


Kedua perempuan itu tampak ketakutan dan pergi. Wanita berjilbab itu terduduk lemas dikipasi asisten wanitanya.


"Bu, masih ada pelanggan di depan sana," ucap sang asisten.


"Paling juga nanti pergi, Ti. Semua baju saya bau bangkai. Maaf ya, Ti, saya belum bisa gaji kamu," ucapnya.


"Saya yakin bulan ini gajian kok, Bu." 


Anta lalu menghampiri Ria.


"Dih, enggak nyangka ya zaman sekarang pada bangga banget hamil duluan. Terus dipamerin video senonohnya di sosial media," cibir Anta.


"Nih, si Raja lagi cari akun twitternya Fina imut," sahut Arya menunjuk Raja yang fokus dengan layar ponselnya.


"Ye, kan kamu juga, Kak, yang suruh aku cari," sahut Raja.


"Kalian ini, ya…." Anta menarik daun telinga Arya dan Raja sampai mengaduh.


"Udah udahan, woi! Jangan bikin malu pakai ngintip akun si Fina segala," sahut Ria seraya membolak balikkan majalah yang sedang dilihatnya itu.


Wanita pemilik butik lalu datang menghampiri.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2