Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
67. Keluarga Pemburu Hantu


__ADS_3

Banyak orang menganggap pukul tiga dini hari adalah saat di mana energi negatif dari para makhluk halus sedang dalam mode aktif total. Tidak sepenuhnya salah, mungkin yang terjadi di lintas dimensi memang yang begitu. Lain di dunia manusia, khususnya di lingkungan masyarakat dari sekitar Villa Kemuning.


Masyarakat dari sebuah desa kecil yang mayoritas mata pencahariannya masih sederhana, seperti bertani, berkebun, berdagang di pasar tradisional, dan lain sebagainya yang menempuh jarak jauh jika menuju kota, contohnya pedagang sayur yang berdagang di pasar induk.


Bagi para pedagang di pasar, dini hari adalah waktu dinas mereka. Anan dan Dita yang sedang terjaga ketika Fasya dan Disya terus menangis itu terpaksa mengusir para penampakan. Anta, Raja, dan si kembar juga ikut membantu.


"Ckckck, kalau gue gabung sama mereka, pasti jadilah gue mantunya keluarga pemburu hantu," bisik Arga.


"Ga, elu mau gue habisi jalur cepat apa jalur siksaan?" ancam Arya seraya mencubit pinggang Arga.


"ADAWWW!!!" Arga pun langsung berteriak, "Gue cuma bercanda, Ya!"


"Elu tau nggak kenapa Anta jadi jodoh gue?" tanya Arya.


"Kaga kaga tau! Kaga mau tau juga gue!"


"Keluarga gue sama dia tuh sama. Sama-sama bisa lihat hantu dan jadi tim pemburu hantu," ucap Arya penuh bangga.


"Ya, tapi beda tau. Keluarga Bunda Dita bukan penakut kayak keluarga elu!" cibir Arga.


"Iya juga, sih … eh, sial luh ngatain keluarga gue!" Arya dan Arga kembali terlibat pergumulan saling mencubit dan menggigit tangan satu sama lain.


Sementara itu, Dita, Anan, Raja, dan Anta melihat sesuatu saat sedang berada di luar villa, kecuali si kembar yang ditahan oleh Tasya untuk tetap di dalam villa.


"Bunda itu apa?" tanya Raja.


Seorang kakek tua yang hendak pergi ke pasar dini hari itu terlihat berlari kecil ketakutan. Raja menahan laju pria yang tengah panik tersebut.


"Kenapa, Kek?" tanya Raja.

__ADS_1


"Ka-kamu, kamu manusia apa setan?!" Pria paruh baya itu terlihat sangat ketakutan dan memundurkan langkahnya.


"Yee si Kakek, mah! Nih, lihat aja kaki kita napak semua!" tukas Raja seraya menunjuk ke arah kaki ibunya, ayahnya, dan juga Anta.


"Oh syukurlah … tapi kenapa jam segini kalian pada di sini?" tanya kakek itu.


"Kita habis usir—"


"Kita lagi mau olahraga, Kek," potong Anta sebelum Raja keceplosan kalau mereka baru saja jadi tim pemburu hantu dadakan. Dia juga membekap mulut Raja.


"Kakek kenapa ketakutan begitu?" Dita mendekat.


"Saya lihat hantu, Bu."


Kemudian, kakek yang menggunakan kemeja warna krim yang terlihat kusut dan celana kulot hitam itu menceritakan kisahnya. Beliau melewati rute yang biasa ia lalui. Di tengah hawa dingin yang menusuk, kakek itu merapatkan jaketnya. Sesuatu mengganggu penglihatannya ketika melewati sebuah rumah dua tingkat berwarna merah muda pucat tak jauh dari Villa Kemuning.


Rumah yang sudah berdiri selama sepuluh tahun lebih itu berdiri megah di sisi jalan dengan pagar menjulang dan taman kecil yang menghiasi halamannya. Dua pohon cemara rimbun ditempatkan di dua sisi pagar, layaknya pilar tinggi yang menopang keindahan rumah. Berbagai jenis pohon dan tanaman juga ditanam di halaman rumah.


Betapa terkejutnya si kakek. Tanpa berpikir panjang, ia melanjutkan perjalanannya ke pasar dengan bibir terus bergerak melafalkan doa-doa. Dia pun berlari kecil sampai bertemu dengan keluarga Anan.


"Sungguh, saya tidak bohong, Bu! Sosok pocong itu terlihat dengan jelas berdiri di halaman rumah mereka!" ujar si kakek tua kepada Dita dan Anan.


"Iya, Kek. Tenang aja kita percaya kok. Kakek terus mau ke mana?" tanya Anan.


"Saya mau ke pasar naik mobil sayur yang biasa nunggu saya di depan sana," ujarnya.


"Ja, Nta, antar Kakek ini sampai ketemu angkot. Biar Bunda sama Yanda yang di sini. Kayaknya pocong yang diceritain kakek tadi masih ngejar. Tuh, dia lagi ngintip di ujung sana," bisik Dita pada Anta.


"Oke, Bunda," sahut Anta lalu menoleh pada si kakek, "Kek, mari saya antar sampai ketemu angkot!" ajak Anta.

__ADS_1


"Benar mau antar saya?" tanya kakek tadi.


"Beneran!" sahut Raja. Pemuda itu dan Anta lalu menemani kakek tersebut sampai bertemu mobil losbak yang mengangkut beberapa sayur dari desa ke pasar induk.


"Rupanya, cerita hantu pocong itu menyebar dengan cepat. Cerita tentang pasangan tua pedagang toko kelontong. Pasangan yang tak lain adalah pemilik rumah besar itu," ucap Pak Asep yang muncul mengejutkan Dita dan Anan.


"Maksud Bapak rumah yang diceritakan kakek tadi?" Dita menoleh.


"Ya, Nyonya. Rumor jahat dengan cepat menebar. Beberapa orang menggunjing dengan dalih bahwa sosok pocong di rumah mereka adalah peliharaan yang membuat usaha keduanya bisa sesukses sekarang," tutur Pak Asep.


"Jadi, pocong itu merupakan pocong pesugihan?" tanya Anan.


"Katanya begitu, Tuan."


"Bapak kenapa bisa ada di sini?" tanya Anan.


"Saya lagi ronda, Pak." Pak Asep tersenyum.


"Hmmm … sebaiknya kita masuk saja ke dalam villa. Besok acara pernikahan Ria sama Arga soalnya. Bunda nggak mau kita jadi kesiangan karena hal ini," ucap Dita pada Anan.


...***...


Anta yang hendak merebahkan diri di kamar, melangkah menuju ke tirai jendela karena terbuka tertiup angin. Namun, sesuatu membuatnya fokus. Dari tempat dia berdiri, Anta melihat salah satu warga laki-laki yang rumahnya terlihat dari Villa Kemuning tampak mengguyurkan segayung air ke tanah dekat pohon palem.


Kemudian, orang asing itu seperti melakukan sesuatu yang Anta tidak mengerti. Gadis itu tidak tahu apakah pria itu sedang baca doa atau komat-kamit. Yang jelas, saat orang asing itu berlutut, Anta melihat air itu tidak diserap oleh tanah. Melainkan menimbulkan gelembung-gelembung dan naik kembali ke atas. Menyemburkan benda kecil berwarna putih.


Pria yang ternyata bernama Karta itu, terlihat seperti menyembah tak lama kemudian. Dan yang lebih mengejutkan Anta kala pria itu melihat ke arah jendela tempat dia mengintip dari kamarnya, lalu si pria tersenyum menyeringai seperti tahu kalau dia sedang diamati. Anta segera berpindah dan bersembunyi ke balik tirai jendela. Pria itu mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi seseorang dari ponselnya.


"Target benar adanya sedang berada di Villa Kemuning, Nyonya. Lalu apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya Karta berbicara dengan seseorang yang ada di dalam gawai miliknya.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2