Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
53. Bu Siti Pamit


__ADS_3

Sore ini hari berkabung di rumah Pak Herman masih berlangsung. Hari ini merupakan tujuh harian kematian Bu Siti.


Seorang wanita bernama Vivi, rekan kerja dari Herman masuk ke dalam rumah itu. Dia memakai kemeja hitam dan celana panjang hitam. Selendang hitam itu di kalungkan menutupi rambut pendek tipisnya.


"Mas, saya turut berduka cita atas kematian Mbak Siti," tukasnya.


"Makasih, Vi. Terima kasih sudah datang," ucap Herman.


"Alvin ke mana? Dia pasti sangat shock mengetahui ibunya meninggal," ucapnya.


"Ada di rumah seberang, lagi main sama teman-temannya. Dia tahu ibunya meninggal, tetapi dia belum paham kalau tidak akan bertemu lagi dengan ibunya," jawab Herman. Isak tangisnya kembali terdengar dan tak terbendung lagi.


"Bunda, Anta nggak suka deh sama perempuan itu," bisik Anta saat menyiapkan kardus putih yang akan disiapkan sebagai tempat makanan yang akan mereka masak seraya menunggu juru masak tiba.


"Anta nggak boleh bilang gitu. Kamu bantuin Tante Tasya gih, dia lagi siapin bihun goreng sama sayur," pinta Dita.


"Oke, Bunda." Anta menemui Tasya yang sedang memotong sayur yang nantinya akan disajikan sebagai pelengkap bihun goreng.


"Hai, Nta! Mau bantuin Mama Tasya, ya?" tanyanya.


Anta menjawab dengan anggukan.


"Tolong goreng ayamnya aja!" pinta Tasya.


"Baiklah kalau begitu." Anta bersiap untuk menggoreng ayam.


"Astagfirullah," ucap Tasya kala melihat Siti duduk termenung di samping meja kompor rumahnya.


Anta memberi kode pada Tasya agar tak mengindahkan keberadaan Siti.


"Kenapa saya pergi secepat ini? Saya masih ingin melihat Alvin tumbuh besar," ucap Siti seraya terisak.


Dengan tangan gemetar, Tasya berusaha memberi garam tambahan pada bihun goreng yang sedang dia buat.

__ADS_1


"Suami saya lebih suka pakai kaldu ayam, jangan cuma garam aja," ucap Siti pada Tasya.


"Oh … ya udah kalau gitu saya tambahin kaldu ayam aja." Tasya tak sengaja menjawab ucapan Siti.


"Tante!" Anta sampai menepuk punggung Tasya kala itu.


"Uppsss, gimana ini Nta?" Tasya mulai was-was dan panik.


Siti makin mendekat dan mencoba mengamati wajah Anta dan Tasya dari dekat.


"Anta, Bu Tasya, kalian bisa lihat saya, kan?" tanya Siti.


Anta akhirnya mengangguk mengiyakan. Siti memeluk Anta dan Tasya. Dia pun akhirnya meminta Anta mempertemukan dia dan suaminya. Dia ingin meminta maaf dan berterima kasih atas jerih payah suaminya dalam menjaganya sebelum dia pergi.


"Baiklah kalau begitu." Anta lantas mempertemukan Siti dan suaminya.


Tangis haru tercipta. Siti pamit pada suami dan anaknya.


...***...


Tatapan sosok itu begitu mengerikan. Bola matanya sungguh besar dan tampak seperti akan meloncat keluar. Malam itu hujan lebat tak kunjung berhenti. Listrik rumah yang sudah satu jam padam pun tak kunjung menyala. Keadaan yang gelap gulita di luar rumah membuat Alvin sangat takut sampai mengguncang tubuh ayahnya.


"Kamu kenapa sih, Vin?" tanya Herman.


"Pah, itu ada yang ngeliatin aku," kata Alvin seraya menunjuk ke arah atap rumah.


"Tikus kali, Vin. Udah tidur aja kamu!" pinta Herman lalu melanjutkan kembali tidurnya dan langsung terlelap dia


atas kasur busa dengan alas sprei warna hijau.


Alvin memastikan lagi penampakan tadi, tetapi sosok itu sudah tak ada. Sosok itu sudah hilang. Suara menyalak anjing dari kejauhan yang tak henti-henti melolong terdengar menakutkan. Semakin membuat rasa kantuk enggan menghampiri Alvin. Akhirnya anak itu bangkit, dan meraih ponsel milik ayahnya.


"Pah, pinjem hape, ya, Alvin mau main game," ucapnya.

__ADS_1


"Hmmm." Rasa kantuk Herman sudah teramat dalam sehingga hanya menjawab dengan deheman.


Alvin meraih tangan ayahnya untuk membuka kunci ponsel melalui pemindai sidik jari. Saat tiduran sambil bermain game di beberapa aplikasi ponsel, suara ketukan pelan terdengar dari jendela kamarnya itu. Hal itu langsung membuat Alvin tersentak. Ia menoleh ke arah kusen jendela yang saat ini tertutup tirai berwarna hijau tua.


Anak kecil itu sempat terpikir kalau hal barusan itu mungkin saja angin sehingga ia menepis perasaan takut yang mulai merambah benak. Meskipun begitu, Alvin juga takut kalau suara ketukan itu muncul dari sosok hantu yang ia lihat tadi.


Alvin lalu membalikkan badan membelakangi jendela dan lanjut memainkan permainan di aplikasi ponsel favoritnya. Sekali lagi suara ketukan terdengar. Kali ini diketuk secara beruntun. Seolah-olah ada seseorang di luar jendela yang sedang mencoba memanggilnya.


Alvin kembali mencoba membangunkan ayahnya. Herman akhirnya terbangun. Menuruti permintaan Alvin, Herman lalu menoleh ke arah jendela. Alvin meletakkan gawai milik ayahnya di atas nakas. Herman bangkit diikuti Alvin yang mengangkat tubuhnya. Alvin duduk di pinggiran kasur sementara ayahnya menuju ke jendela kamar. Benar saja, ketukan tersebut kembali terdengar dengan alunan mulai melambat tetapi beraturan.


Tuk, tuk, tuk.


Dorongan rasa penasaran, akhirnya membuat Herman melangkah menuju jendela dan menyingkap tirai tersebut secara perlahan. Tak ada orang yang dia dapati seiring dengan suara ketukan yang terhenti. Herman lalu melirik ke arah kiri dan kanan, mencoba mencari sosok orang iseng yang mungkin sedang bersembunyi saat ia menghampiri jendela. Suara embusan napasnya terdengar lebih kencang di tengah suasana hening yang diiringi dengan rintik hujan.


Herman melihat melalui jendela penuh hati-hati. Dia dapat melihat pemandangan halaman depan rumahnya. Ada beberapa tanaman milik pemilik rumah yang ada di seberangnya. Di rumah tetangga samping juga ada tanaman dalam pot-pot besar di tepi pagar.


Herman kembali memicing, dia mencoba melihat ke arah semak-semak yang tumbuh liar di halaman depan rumahnya. Dia tak tahu tanaman yang entah apa namanya karena tanaman tersebut ditanam oleh mendiang istrinya.


Tiba-tiba, Alvin merasa ada yang sedang disembunyikan oleh sayup malam yang gelap. Sepasang mata berkilat membalas tatapan pria itu, membuat raganya tersentak dan mundur beberapa langkah.


"Apa itu, ya?" gumamnya.


"Pah, Alvin takut…." Anak itu menarik ujung piyama yang Herman kenakan.


Alvin mencoba memperhatikan lagi dengan saksama. Ada dua bola mata yang tampak menyala itu yang ternyata berasal dari seekor kucing hitam yang tengah duduk di antara semak belukar di halaman depan rumahnya.


"Cuma kucing, Vin," ucap Herman menenangkan putranya.


Herman akhirnya bisa menghela napas lega dan mendekati jendela kembali. Rupanya mata yang berkilatan tadi berasal dari mata sepasang kucing.


Setelah merasa yakin ketukan barusan disebabkan oleh kucing warna hitam tersebut, ia pun menutup tirai jendela.


Herman lalu mengangkat Alvin untuk kembali ke atas ranjang. Baru satu langkah berjalan, ketukan dari balik jendela kembali terdengar.

__ADS_1


Tuk, tuk, tuk!


...**** Bersambung ****...


__ADS_2