Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
46. Kembali ke Rumah


__ADS_3

Part 46 PI


Saat berada di Galley belakang pesawat kala itu hanya ada dua pramugari. Akhirnya kala itu Tokai memutuskan untuk sama sama sekali tak mau tahu apa yang dilihat rekan kerjanya itu dari awal di ground sampai take off. Meskipun pada saat itu, di pikiran Tokai masih penasaran. Dia ingin mengetahui sebenarnya apa yang ada di kabin.


Baru sepuluh menit setelah lepas landas, Royco bangkit dari kursinya dan menuju ke area lavatory. Tokai langsung merasa bulu kuduknya meremang. Rekan kerjanya yang bernama Niu Niu juga merasa merinding. Apalagi saat itu Tokai bilang kalau dia melihat rekan kerjanya naik ke meja galley sedang duduk sambil menundukkan kepala.


"Ngaco ah kamu. Si Riumi itu sedang membagikan makanan ke penumpang. Mana mungkin dia ada di galley belakang?" tukas Niu Niu.


Tiba-tiba, salah satu pramugara datang mendekat.


"Aku lihat di depan lavatory tadi ada bapak tua pakai baju haori. Aku kaget banget, perasaan aku tak ada penumpang pakai baju itu. Lalu, saat wajahnya menoleh ke arahku, wajahnya hitam semua dan gosong. Aku langsung tutup muka karena takut. Nah, begitu aku buka tanganku, kakek tua tadi udah menghilang," ucapnya menggebu-gebu penuh ketakutan.


"Tuh kan, kata aku apa. Anak tadi itu bawa makhluk gaib yang menyeramkan dan dia juga aneh," bisik Tokai.


Tak lama kemudian, Royco keluar dari toilet pesawat dan sempat tersenyum ke arah para pramugari. Mereka terlihat slah tingkah dan pura-pura menyibukkan diri. Anak kecil itu kembali duduk di kursi kabin. Tiba-tiba, dia berteriak histeris. Ibunya yang tengah duduk di sampingnya tak bernyawa.


Wanita itu berlumuran darah di pergelangan tangannya. Wanita berusia empat puluh lima tahun itu sudah tak bernyawa. Begitu juga dengan ayahnya yang mulutnya keluar busa seperti orang keracunan. Pesawat akhirnya kembali ke bandara untuk menjalani investigasi lebih lanjut atas kematian dua penumpangnya..


"Pesawat kita delay katanya sekitar tiga puluh menit," ucap Tasya.


"Anta mau beli makanan di kafe sana dulu, boleh kali, ya?" tanya gadis itu.


"Boleh mungkin." Tasya mengangguk.


"Eh, ada apaan tuh? Kok kayaknya ada beberapa polisi masuk sini?" Arya menunjuk ke arah mereka.


Kapten Conan yang hadir bersama Ken undur diri dan bergegas menuju ke para polisi tersebut. Rupanya ada dua jasad yang keluar dari bandara dan dibawa ke mobil ambulans. Anta melihat sosok Royco yang sedang menangis. Dia terlihat kebingungan bersama para petugas. Anta langsung menghampiri gadis kecil tersebut dan menanyakan apa yang terjadi.


Royco langsung memeluknya sambil menangis.


"Ada apa ini, Sayang?" tanya Anta.


Gadis kecil itu hanya menangis sesenggukan. Arya menanyakan perihal tersebut ke pada Kapten Conan. Pria itu langsung menceritakan kalau ayah dan ibu dari Royco ditemukan meninggal di pesawat. Hanya saja rekaman cctv tidak menangkap adanya tersangka yang membunuh mereka. Begitulah yang Arya tangkap dari penjelasan Ken yang mendengar para polisi membicarakan kejadian perkara.


"Lho, kenapa bisa begitu?" Anta ikut menimpali penuh penasaran.


"Nggak tau, Kak. Aku juga bingung kenapa bisa begitu."

__ADS_1


"Ada yang aneh katanya Ken. Pada rekaman cctv, ibunya Royco tiba-tiba nunduk terus pas Royco balik langsung terluka dan berdarah banyak sampai meninggal," ucap Arya yang tiba-tiba datang di samping Anta.


"Lalu, perihal ayahnya?" tanya Anta.


"Dia kejang-kejang, kayaknya keracunan," jawab Arya.


"Ya, kamu yakin cctv nggak lihat yang bunuh ibunya Royco?" bisik Anta.


"Iya, dia bilang gitu. Rekaman cctv cuma ngerekam gambar ibunya Royco nunduk terus pas anak ini balik, dia teriak-teriak ternyata tangan ibunya berdarah. Ayahnya juga mulutnya berbusa. Mereka juga nggak menemukan senjata tajam yang digunakan. Meninggalnya gaib ya, Nta," tukas Arya.


"Tapi, Ya…."


"Tapi kenapa?"


"Tadi Anta lihat sosok kakek kakek mukanya gosong kayak korban kebakaran gitu. Dia ngikutin Royco."


"Wah, jangan-jangan makhluk gaib itu yang menyebabkan orang tuanya mati," ucap Arya.


Anta langsung membekap mulut Arya agar tidak terdengar oleh yang lain di sekitarnya.


"Jangan berisik dulu. Ini kan baru penglihatan Anta. Nanti malah repot kalau ditanya sama Kapten Conan perihal ini."


"Waduh, bagaimana ini? Nggak semudah itu, Royco sayang. Kamu harus ikuti aturan kepolisian terkait penyelidikan kasus kamu, ya. Nanti Kak Anta janji akan kembali ke sini. Kak Anta mau minta izin ke bunda dulu, boleh nggak bawa kamu ke rumah. Kamu sama Om Ken dulu, ya." Anta mencoba menenangkan Royco.


"Tapi, Kak Anta janji, ya, kalau Kakak akan kembali ke sini?"


"Janji. Kak Anta bakal hubungi kamu setiap hari sama Om Ken. Sekarang Kak Anta mau titip kamu dulu sama Om Ken, ya." Anta berhasil menenangkan Royco.


Untuk sementara waktu, gadis itu berada di bawah penanganan dinas sosial. Ken juga mengatakan akan mendampingi Royco selama menuntaskan kasus kematian orang tuanya. Ken berjanji akan mengantarkan Royco ke Indonesia jika ibunya Anta mengizinkan untuk dikunjungi. Mereka lalu berpisah.


...***...


Di Komplek Villa Berlian. Anta dan Arya tinggal di komplek yang sama. Rumah mereka bersebelahan. Bahkan, Dita menyekolahkan anak kembarnya di tempat yang sama dengan anak kembarnya Tasya dan Herdi.


Suara bel rumah Dita berbunyi, Tasya sudah berdiri di depan pintu bersama Fasya dan Disya.


"Ja, bukain pintunya!" seru Dita.

__ADS_1


"Oke, Bunda!"


Raja sempat mengintip dari jendela.


"Duh, gawat!" Dia buru-buru menarik sosok pocong yang mirip dengan Doni dan sedang berbincang dengan Anan di halaman belakang. Anan hendak membuat kolam ikan kecil di sana.


"Sakit, Ja! Kenapa sih elu tarik gue?!" keluh Doni.


"Ada Bunda Tasya, kamu harus sembunyi!" kata Raja.


"Waduh, bisa baper nanti si Tasya liat pocong yang mirip Doni." Anan yang gemas sampai ikut menggotong Doni. Dia memasukkan Doni dalam kardus besar bekas kemasan mesin cuci yang baru dibeli Dita kemarin.


"Sesek, Om. Nggak muat ini ada selang segala," ucap pocong tersebut mencoba meronta.


"Udah situ aja diem-diem. Atau kamu mau aku taro di kuburan sana?!" ancam Anan.


"Nggak mau, Om. Banyak kuntilanak ganjen di sana, ngeri diperkosa sama mereka. Saya di sini aja," jawab Doni.


"Nah, udah deh diem-diem aja di situ," ucap Anan.


Dira dan Adam turun dari lantai dua bersama Anta.


"Kok, nggak ada yang bukain pintu?" tanya Anta.


"Tadi Bunda suruh Raja, tapi dia langsung panik ke halaman belakang. Kayaknya si Tasya deh di depan, makanya Raja mau buru-buru sembunyikan Doni."


"Ya udah kalau gitu Anta aja yang buka pintunya, Bun." Anta lalu melangkah ke pintu utama rumahnya.


"Ingat ya Dira dan Adam, jangan ngomong-ngomong soal pocong yang di rumah," ucap Dita menegaskan pada dua anak kembarnya.


"Beres Bunda, Om Pocong itu punya kita. Fasya sama Disya Nggak boleh tau," sahut Dira dengan bahasa cadelnya.


"Pinter anak Bunda."


Tasya masuk bersama kedua anaknya.


"Pagi, Ta! Aku numpang mobil kamu ya, Ta. Herdi ada panggilan kerja di sekolah mana gitu aku lupa," sapa Tasya.

__ADS_1


"Oh, pantesan aja si Herdi nyuruh gue kerja sama ama Arya di kafe tuh bocah. Ternyata dia mau balik lagi ngajar," sahut Anan yang muncul dari halaman belakang bersama Raja.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2