Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
6. Interview


__ADS_3

Bab 6 PI


Sebenarnya Ria merasa malu dengan teguran itu sampai mukanya memerah. Ria belum pernah naik kendaraan beroda tiga itu seumur hidupnya. Apalagi sebelum mobilnya dijual tahun lalu, ke mana-mana ia selalu membawa kendaraannya sendiri. Karena itulah ia tidak tahu tarifnya.


"Saya nggak sanggup, Mbak, kalau segitu. Saya juga setoran soalnya. Kalau mau murah mendingan Mbak naik kopaja 75 aja," kata sopir bajaj.


"Saya nggak paham jalan, Pak," ucap Ria.


 "Nanti bilang aja turun di fly over. Jangan malu nanya, Mbak, daripada nyasar."


"Makasih, Bang."


Ria berjalan menuju pintu keluar terminal, tempat angkutan umum Kopaja mengetem. Melewati berapa orang


kernel, preman terminal, juga anak jalanan yang bersiul menggodanya. Ria memilih untuk tidak peduli.


Seorang kernet bertubuh besar, baru saja turun dari kopaja nomor 75. la melangkah menghampiri Ria. 


"Ke mana, Mbak?" tanya Kernet itu. 


"Ke Halte Busway Pasar Kliwon," sahut Ria.


"Fly over? Naik 75 jurusan Pasar Kliwon, Mbak. Tuh, yang itu."


"Makasih, Bang."


Ria mengikuti arah tunjuk kernet tersebut. Kopaja nomor 75 yang mulai bergerak meninggalkan terminal. Seketika, Ria menjadi panik. Gadis itu langsung melesat meninggalkan kernet tadi.


"Bang, tunggu Bang!"


Ria berteriak sambil mengejar kopaja nomor 75 tersebut.


"Tungguin saya, Bang! Please!" 


Kopaja tersebut akhirnya berhenti juga.


Ria naik ke kopaja dengan terburu-buru. Hawa panas dan terik matahari yang menyengat, membuat keringatnya mengucur deras. Ria sampai mengipasi mukanya dengan telapak tangan.


Karena seluruh kursi penuh, ia terpaksa berdiri berdesakan. Ria berpesan kepada kernet agar menurunkannya di tempat yang disebut sopir bajaj. Gadis itu menghela napas, Perjuangan yang begitu melelahkan untuk menjadi seorang SPG di mall. 


"Apa cuma aku, ya, yang model yang bernasib mengenaskan gini?" batin Ria saat memegang pintu kopaja.

__ADS_1


Ria menghela napas dengan sedih saat melihat penumpang-penumpang yang duduk didominasi kaum pria. Namun, tidak ada seorang pun yang berbaik hati memberikan kursi padanya. Punya wajah cantik pun tidak menjadi jaminan dirinya ditolong orang.  Atau mungkin mereka sama-sama lelah. Ria mencoba berpikir positif.


***


Resepsionis kantor Beauty Lover menyambut kedatangan Ria dengan ramah. Setelah mengisi form pelamar kerja, Ria diantar ke ruang HRD. Di tempat itu. Gadis itu menerima banyak pertanyaan terkait visi dan misinya melamar kerja oleh Kepala HRD yang bernama Tuan Wang.


Anta menemui Ria di gedung tersebut setelah menjalani kuliah hari ini. Dia juga tak mengatakan pada Arga perihal akan menjalani magang menjadi sales kosmetik bersama Ria. 


"Bawa lamaran kerja yang aku minta, kan?" bisik Ria.


"Iya, iya. Demi kamu, Anta bakalan nemenin kamu."


"Tau nggak, Nta—"


"Enggak!"


"Yeee, denger dulu. Aku tadi naik kopaja tau."


"Kenapa kamu nggak bilang? Kan bisa Anta pesenin ojek online," ucap gadis itu seraya meringis.


"Aku nggak mau merepotkan kamu terus, Nta." 


Selesai menjalani proses interview, Tuan Wang, manajer HRD Beauty Lover, terlihat puas. Beliau berkata kalau Ria bisa diterima bekerja di sana. Namun, ia tetap harus menjalani proses training selama tiga hari sebelum resmi menandatangani kontrak dan menerima surat tugas.


"Trainingnya di mana, Pak?" tanya Ria.


"Di kantor ini juga, dong. Tiga hari ke depan mulai pukul sembilan sampai jam lima sore, kamu akan menjalani training di sini, ya," ucap Tuan Wang.


"Baik, Pak." Ria dan Anta lalu memohon diri sambil mengucapkan terima kasih.


Langit sore tampak terasa lebih indah dari biasanya. Ria dan Anta lantas masuk ke dalam lift. Dia hendak menuju lantai dasar. Tiba-tiba, lift malah membawanya naik dan berhenti di lantai tiga belas. 


"Kok, kita naik ya, Nta. Bukannya kita May ke lantai bawah? Kenapa sekarang malah ke lantai tiga belas, ya?" Ria menggaruk tengkuknya saat melihat layar penunjuk lantai di dinding lift itu tertulis angka "13".


"Sebenarnya gedung ini ada berapa lantai?" tanya Anta. 


"Ada dua belas kayanya, sih."


"Lah, ini kita ada di lantai tiga belas," sahut Ria.


"Perasaan aku nggak enak nih, Nta. Biasanya kalau kejadian begini, nggak lama kemudian pintu lift kebuka terus ada hantunya, ya" ucap Ria meraih kamera ajaib dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Gimana nih, Nta? Tuh, kan, aku takut." Ria langsung berlindung di balik Anta saat pintu lift berbunyi seolah hendak terbuka sedikit demi sedikit.


"Kamu gimana, sih? Harusnya kamu udah biasa. Lagian ya, paling juga ketemu sama hantu doang!" sahut Anta.


"Paling ketemu sama hantu doang? Sama hantu doang katamu, Nta? Ya serem banget, Nta!" 


"Sssttt, lihat tuh yang lagi berdiri siapa, Ria!" tunjuk Anta saat melihat sosok penampakan pada layar kamera miliknya.


Sosok hantu wanita paruh baya mengenakan daster polkadot dan terlihat compang- camping itu penuh dengan noda darah. Sosok hantu wanita paruh baya itu menyambut Anta dan yang lainnya.


"Astagfirullah, Nta!" Ria langsung mundur beberapa langkah sampai membentur dinding lift.


Hantu wanita paruh baya itu tertawa menyeringai. Dia mendekat ke arah Anta.


"Nta… Dia mau apa, Nta?"  Ria langsung memekik ketakutan.


"Tenang, tenang. Aku tanya dulu, ya," kata Anta yang mencoba membiarkan si nenek mendekat. 


"Nek, ngapain lagi ada di lantai tiga belas gini?" tanya Anta. 


Perlahan-lahan, gemerutuk tulang leher hantu wanita paruh baya itu terdengar.  Seiring dengan tawa cekikikan dari bibirnya yang berkerut dan berkeriput.


"Nta, itu neneknya mau ngapain?" Ria mulai panik. 


Hantu wanita paruh baya itu perlahan menarik kepalanya. Makin lama kelamaan kepala itu tertarik dan terpisah dari tubuhnya. Dia melangkah mendekat dan menyerahkan kepalanya pada Anta.


"Idih! Anta nggak makan beginian, Nek. Mau buat apa juga kepalanya? Duh, buat Nenek aja!" Anta menyodorkan kepala itu kembali ke arah hantu nenek itu.


"Nek, kita mau pulang dulu, ya. Kayaknya kita salah lantai." Anta mencoba menekan tombol lift berulang kali.


"Apa kalian bawa kepala baru untuk saya?" Suara parau nan menyeramkan itu tiba-tiba terdengar dari hantu wanita paruh baya tersebut.


"Nggak, Nek. Kayaknya Nenek salah orang. Kita bawa kepala masing-masing,  kok. Kita nggak bawa kepala baru buat Nenek," sahut Anta yang perlahan-lahan mengajak Ria untuk membaca ayat kursi.


"Mana tumbal untuk saya, saya butuh kepala baru? Mana?!" Hantu nenek itu berteriak kepanasan saat menyentuh Anta.


"Hah? Tumbal?" 


Anta dan Ria menyahut bersamaan dan saling menatap satu sama lain.


...*** Bersambung  ***...

__ADS_1


__ADS_2