
"Hai!" sapa Anta. Senyumnya yang menawan mampu membius siapa pun yang berada di dekatnya.
"Hai!" sapa Arya.
"Boleh Anta tetep panggil kamu dengan nama Arya?" Gadis itu bertanya seraya berdansa dengan Arya.
Alunan lagu tetiba berubah menjadi lambat. Diiringi binar lampu yang romantis.
"Namaku Asahi. Panggil saja Asahi!" pinta Arya.
"No, no, no, itu nama pemberian gadis itu. Nama kamu Arya. Bagi Anta kamu tetep Arya-nya Anta. Kamu juga masih punya ayah yang tampan, ibu sambung yang cantik dan baik hati. Kamu juga punya adik kembar yang lahir bareng adik kembarnya Anta," ucap gadis berparas ayu itu.
"Benarkah? Kenapa mereka tidak mencariku?"
"Kamu udah dinyatakan hilang dan meninggal. Tapi, Anta yakin kamu masih hidup. Terus kenapa sekarang mereka nggak ke sini, karena Anta belum bilang sama mereka. Tante Tasya itu bawel, kalau tahu kamu amnesia, beuhhh bisa habis kamu dipukulin kepalanya biar cepet sadar, hehehe."
"Kata kamu dia baik, kok gitu?"
"Cuma bercanda Arya. Yang jelas Anta mau kamu ingat dengan cara Anta. Biar Papa Herdi sama Mama Tasya tenang dulu. Si kembar juga lagi sakit," tutur gadis itu.
Pandangan Arya tiba-tiba terpaku pada sosok gadis yang menunduk. Saat mengangkat kepalanya, wajahnya terarah ke arah Arya dengan air mata darah membasahi pipi dan gaun malam warna putih tulang itu. Arya langsung menunduk.
"Oh, itu hantu emang dari tadi berdiri di sana sambil nangis," ucap Anta.
"Ka-ka-kamu, kamu bisa lihat?" tanya Arya.
"Iya, kamu juga bisa lihat, kan? Udah cuekin aja. Oh iya, kamu tahu kenapa kita bisa lihat hantu?"
Arya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Karena kita pasangan indigo." Anta tersenyum dengan manisnya. Suara perut Anta bergemuruh.
"Suara apa itu?" tanya Arya.
"Hehehe, kayaknya nasi goreng hawai tadi kurang, deh. Anta masih laper, hihihi."
"Astaga, satu porsi nasi goreng belum kenyang?"
"Kaya Arya nggak tahu Anta aja, hehehe."
Kali ini detak jantung Arya berdetak tak karuan. Rasanya mau melompat dari rongga dadanya mendapat senyuman manis dan kerlingan mata cantik dari Anta. Tiba-tiba, seseorang menepis tangan mereka, memisahkan.
"Kalau aku tahu dari tadi kalian berdansa, udah dari tadi aku samperin," ketus Hanako lalu menarik Arya pergi.
__ADS_1
"Huuuuu… dasar Neneknya Sadako!" seru Anta.
Acara tukar pasangan dansa pun berakhir.
"Siapa Neneknya Sadako?" tanya Dion mendekat.
"Tuh, si Kaca Nako," sahut Anta.
"Siapa, sih? Hanako maksud kamu?" tanya Ria.
"Ya, siapa lagi." Anta melenguh kesal.
"Apa kalian mau makan ramen di rumahku?" tanya Ken.
"Wah, Ken porno nih, ngajak makan ramen di rumahnya." Ria sampai terbahak-bahak sendiri sementara yang lainnya menatap gadis itu dengan aneh.
"Aku hanya mengajak makan ramen, apanya yang porno?" tanya Ken tak mengerti.
"Iya ya, apa yang porno. Justru malah Anta seneng soalnya Anta masih laper," sahut Anta.
"Nta, sepiring nasi goreng hawai, loh, aku aja nggak habis," kata Dion sambil menggaruk-garuk kepalanya meskipun tak gatal.
"Kurang banyak buat Anta, mah, hehehe. Eh, apa maksud kamu Ken ngomong jorok?" Anta menelisik ke arah Ria.
"Artinya ngajak begituan," bisik Ria.
"Begituan bagaimana?!" pekik Anta.
Ria langsung membekap mulut sahabatnya karena malu.
"Oh, aku ngerti, nih. Maksud Ria berarti Ken bukan cuma ngajak makan tapi tidur bareng, gitu?" terka Dion.
Ria makin bertambah malu sampai menutup wajahnya.
"Wah, aku tak ada maksud seperti itu. Aku benar-benar tulus mau mengajak kalian main ke rumah dan makan ramen," tukas Ken yang tersipu malu.
"Ah, tau ah! Abang sama Anta nggak asik! Ayo, Ken! Rumah kamu di mana? Aku laper," sahut Ria lalu menarik tangan Ken pergi.
"Apa hubungannya ramen sama tidur bersama?" Anta menoleh pada Dion.
"Masih dibahas aja, udah lah skip skip skip! Jangan dipikirin, Nta. Repot kalau pikiran polos kamu nanti malah kotor," ucap Dion menarik tangan Anta.
Gadis itu masih mengernyit tak mengerti. Di belakangnya sosok hantu perempuan yang tadi berada di kafe mengikuti Anta dan yang lainnya. Berhubung mobil yang dimiliki Ken memiliki bak terbuka di bagian belakang, hantu perempuan itu lantas duduk di bak terbuka tersebut.
__ADS_1
...***...
Mobil yang dikendarai Ken mengerem mendadak, ketika sepasang matanya menangkap sosok yang bergerak-gerak di dekat pohon di tepi jalan. Ken tampak menelan ludah, antara merinding dan penasaran.
"A-apa itu, ya?" tanya Ken.
"Apa itu pengunjung kafe yang mabuk. Tengah malam seperti ini rasanya mungkin saja dia mabuk," sahut Dion.
"Atau bisa jadi lagi makan ramen kayak yang Ria bilang tadi," sahut Anta.
"Please deh, Nta! Jangan dibahas lagi, gue malu!" Ria mencebik kesal, sementara Anta hanya bisa meringis.
"Lalu... itu apa yang bergerak-gerak di dekat pohon?" tanya Ken.
Pria itu turun diikuti Dion. Ria bersiap dengan kamera ajaibnya. Anta melangkah santai, tetapi Dion memintanya untuk berjalan di belakangnya. Sambil menebalkan nyali dan setengah merinding, Ken mendekati pohon tersebut. Sosok itu beringsut pelan.
"Heh, siapa kamu?" Saking takutnya, tanpa sadar suara Ken terdengar lebih
keras daripada suara normal.
Sosok itu kontan berhenti. Seorang anak kecil perempuan yang rambutnya dikepang dua. mengenakan baju tidur terusan selutut berwarna kuning yang tampak lusuh.
"Kayak boneka Annabelle, ya? Jangan-jangan lagi cari mangsa," ucap Anta.
"Jangan ngomong macam-macam deh, Nta!"
Anak itu membalikkan badannya perlahan. Terlalu sering bersama Anta yang terlibat dengan kejadian-kejadian mistis, Ria langsung berteriak kala anak perempuan itu menoleh. Diikuti dengan Dion yang latah dan ikut berteriak juga.
"Kyaaaa, kalian apa-apaan, sih? Mengejutkan saja!" sungut Ken yang ikut terkejut.
"Bagaimana jika anak kecil itu wajahnya rata? Bagaimana jika anak kecil itu ternyata buruk rupa dan wajahnya berdarah darah? Kan serem, tuh," ucap Ria.
"Anaknya cantik, kok. Hai, adik kecil! Ngapain malam-malam di sini?" sapa Anta.
Anak kecil terlihat seperti anak perempuan yang normal, hanya saja wajahnya sedikit berlepotan lumpur.
"Nta, dia manusia apa hantu?" tanya Ria.
"Ada kakak cantik yang mau terjun ke laut. Dari tebing di sana!" Suara anak itu terdengar bergetar, sukses menularkan cekam. Membuat Anta lupa menjawab pertanyaan Ria.
"Hah? Terjun ke laut?" Semua menyahut bersamaan.
Anak kecil itu mengangguk. Dia tiba-tiba sesenggukan, "Di sana, Kak. Ada kakak cantik yang mau terjun ke laut!"
__ADS_1
...*** Bersambung ***...