Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
8. Sepenggal Kisah Hantu Penunggu


__ADS_3

Anta yang mendengar suara teriakan dari ponsel Ria langsung bergegas kembali ke kamar penginapan. Sesampai di sana, ternyata Arga sudah berada di depan pintu penginapan dan sedang mengetuk pintu berulang kali. Namun, tetap tak ada jawaban.


"Gimana, Ga?" tanya Anta.


"Aku juga nggak tau, Nta. Ria teriak doang di dalam kamar," sahut Arga.


"Dobrak aja, deh!" seru Anta.


Arga mengangguk. Pemuda itu lalu bersiap berancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar penginapan tersebut.


Brak!


"Ria!" pekik Arga.


Gadis itu sudah duduk di atas ranjang dengan senyum yang menyeringai. Ria menyanggul rambutnya ke atas dengan tusuk konde dari sumpit bekas makan mie. 


"Konnichiwa," sapanya.


"Ria, itu kamu, kan?" tanya Arga. 


Sosok Ria itu kembali membuka suara dengan bahasa Jepang yang Anta dan Arga tak mengerti. Rupanya, Ria tengah kerasukan arwah hantu gadis penunggu kamar penginapan tersebut. 


"Waduh, gimana ini, Ga? Anta nggak ngerti dia ngomong apa. Coba tanya bisa bahasa inggris, nggak?" ucap Anta.


"Kamu aja deh yang tanya, aku ngeri juga."


"Gimana, sih! Itu kan pacar kamu, Ga. Coba pakai google translate dulu," ucap Anta.

__ADS_1


Dia lalu mendekat pada sosok Ria yang tengah kerasukan. Anta bertanya menggunakan ponselnya via google translate. 


"Siapa kamu? Mau apa kamu ganggu pacar saya? Pergi kamu dari dia!" tegas Arga mengucap.


"Hmmmmm …." Sosok wanita itu malah bersenandung seraya mengepang rambutnya. 


"Yeee, dia malah nyanyi," keluh Arga. 


Anta melihat ke arah Ria kemudian.


"Kamu siapa? Kamu mau apa ada di tubuh temennya Anta?" tanya Anta.


Ria yang tengah kerasukan hanya menatap Anta dengan mata melotot. 


"Yeeee… nyari ribut emang nih hantu diajak ngomongnya malah melotot. Pinjem tangannya!" Anta meraih tangan gadis di hadapannya.


...***...


Gadis itu terus mengeluh pada seorang penumpang laki-laki yang tidak punya hati dan membagi asap rokoknya ke seluruh penumpang. Padahal di kapal layar itu ada beberapa anak kecil dan wanita seperti Mibabi yang sangat membenci asap rokok.


Mibabi hendak menuju Pulau Ju karena kakeknya telah meninggal dunia. Gadis yang baru lulus SMA itu menginjak usia delapan belas kala itu. Anta juga ingin rasanya menarik puntung rokok itu dan membalik posisi rokoknya ke wajah si pria. Dia ingin pria itu jadi menghisap bagian yang terbakarnya. Sayangnya, Anta tak bisa menyentuhnya. 


Mibabi berusaha untuk protes ke si bapak perokok itu dengan cara memandangnya. Namun, pria itu malah ke geer-an karena disangkanya kalau wanita itu tengah mencuri pandang pada bapak itu. Mibabi malah dikira perempuan genit karena sepertinya wanita yang duduk di samping bapak itu adalah istrinya dan malah melotot tidak senang ke arah wajah Mibabi.


Akhirnya, gadis itu membuang muka. Gadis itu emilih memandangi jalan menuju desa kelahirannya. Tak lupa dia memasang headset di telinganya dan memutar musik dari ponselnya dengan harapan pikirannya lebih jernih dan tenang.


Sampai di Pulau Ju, Mibabi mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah rumah milik anak dari tetua desa yang tinggal di pesisir Pantai Pasir Biru. Awalnya, gadis itu ragu untuk menerimanya. Namun, dia butuh uang untuk membayar hutang operasi ibunya. Padahal, ibunya punya uang tabungan hasil panen. Namun, tabungan itu diberikan pada si tetua desa bernama Hoki Takurugi. 

__ADS_1


Mibabi sudah lama tidak mengunjungi tempat tersebut. Terakhir dia ke sana ketika dia sedang mendapat libur sekolah saat SMA. Itu pun sudah berlangsung lima tahun yang lalu. 


Kapal yang ditumpangi gadis itu benar-benar membuat gadis itu mual. Ombak terasa bergejolak dan seperti memperlihatkan jalan yang berkelok membuat siapa pun ingin muntah. Akan tetapi, Mibabi berusaha bertahan. Sebentar lagi dia akan turun di pelabuhan Pulau Ju. Sejak setengah jam yang lalu, cuaca memang mendung dan gelap membuat sore itu terlihat seperti malam hari.


Gadis itu kemudian turun tanpa mencopot headset-nya. Semua penumpang turun dengan penuh keriuhan dan terlihat sibuk membawa segala bawaan mereka. 


Rata-rata mereka semua adalah para pekerja di ibukota yang rutin pulang tiap minggu ke kampung halaman dengan sering membawa banyak barang bawaan sebagai ciri khas yang dipandang lebih hebat saat pulang merantau dari kota.


Mibabi kembali melihat alamat rumah sang majikan yang diberikan ibunya tersebut. Setelah dia menanyakan pada salah satu warga, gadis itu menyiapkan sebuah kartu bernama Kartu IC.


Kartu yang dapat digunakan untuk bepergian dengan transportasi umum di dalam dan pinggiran Sapporo. Para penumpang dapat naik-turun transportasi umum secara cepat, hanya dengan menempelkan kartu pada pembaca di pintu tiket atau mesin pembayaran ongkos. Kartu ini juga dapat digunakan sebagai uang elektronik. Saat ini, kartu IC yang dapat digunakan di Sapporo adalah SAPICA (Biro Transportasi Kota Sapporo).


Anta masih berada di dekat Mibabi kala itu. Dia masih mengamati dengan saksama. Gadis itu berdiri di tepi jalan dengan membawa tas ranselnya sambil menunggu angkot lewat. Beberapa jasa travelling hilir mudik menawarkan jasa mereka.


"Nona, mau ke mana?" tanyanya dalam bahas Jepang.


"Saya mau naik trem saja, Pak," jawab Mibabi yang sebenarnya takut jika harus bertemu orang asing dan baru dikenal. Dia lupa dan tidak tahu jalan jadi timbul prasangka buruk kalau nantinya orang asing itu akan membawanya kabur atau ke tempat yang kosong.


"Oh, Anta pikir dia meninggal karena pemandu wisata nakal tadi," gumam Anta.


Mibabi tampak menggelengkan kepala menjawab Anta. Apalagi alamat hotel itu sepertinya  sangat jauh dari pelabuhan dan melewati jalan sepi. Dia tidak mau. Kalau naik angkot setidaknya dia dapat teman penumpang yang lain. Namun, hampir setengah jam berlalu, bus itu tidak datang juga.


"Apa benar bus trem kalo jam segini udah nggak ada, ya?"  pikir Mibabi dalam hati. 


Gadis itu melihat suasana menjadi tambah mencekam karena mulai terdengar gemuruh suara petir. Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan. Sekali lagi Mibabi tidak melihat kendaraan yang dia tunggu akan datang dari kejauhan akan datang. Seketika hujan langsung tumpah ruah langsung sekaligus besar. Membuat semua orang di sekitarnya pontang-panting untuk berteduh. 


Dia langsung mencium wangi aneh dari tubuh laki-laki itu. Gadis itu kemudian mengibas-ngibaskan rambutnya yang sempat terkena air hujan tadi. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mibabi baru sadar kalau ponselnya mati karena low battery. Seorang pemuda mengendarai mazda warna putihnya melintas di hadapan Mibabi.

__ADS_1


"Apa kau yang bernama Mibabi Kawasan?" tanya pria misterius itu.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2