Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
72. Niat Arya dan Anta


__ADS_3

Bab 72 PI


Satu minggu berlalu.


Di rumah sakit tempat Arya dirawat. Sosok pocong hitam sedang mencoba masuk ke dalam raganya yang terbaring koma. Arya melihat hal tersebut dan berusaha mencegahnya  


"Woi, Pocong Angus! Mau ngapain luh?! Awas lu, ya! Wah, sialan banget elu mulai ngelujak. Wah, berani-berani mau masuk ke tubuh gue, ya?" Arya menghampiri tubuhnya sendiri lalu mengguncang tubuhnya agar sosok pocong itu keluar dari tubuhnya.


Anta yang datang bersama Dita, Anan, dan si kembar untuk menjenguk Arya, mendengar keributan tersebut.


"Arya, hati-hati dong! Nanti tubuh kamu bisa kenapa kenapa, loh!" Anta segera  bergegas mengenakan pakaian APD bagi pengunjung pasien saat masuk ke ruang ICU.


Sosok pocong berwajah hitam itu akhirnya dapat dikeluarkan. Dia meringis menitip Arya dan yang lainnya.


"Kali aja bisa saya masukin, kan lumayan saya jadi cowok ganteng," akunya.


Arya yang terlanjur emosi, langsung meninju wajah pocong itu dan membuat sosok itu sampai jatuh ke lantai. Sosok pocong itu bangkit lalu menyerang Arya dengan tandukan kepalanya. Keduanya terlibat duel yang sengit saat berguling-guling.


"Ayo … Adam belain siapa?" tanya Dira yang berdiri mengamati dari luar ruang ICU tersebut. 


"Aku belain Kak Arya, dong!" jawabnya.


"Kalau Fasya sama Disya belain siapa?" tanya Dira lagi pada dua anak kembar Tasya dan Herdi saat tiba menyusul.


"Belain Kak Arya dong! Tapi aku takut," ucap Disya.


"Iya, aku juga takut," sahut Fasya.


"Kenapa aku ngerasa dejavu ya, Bun?" tanya Anan yang berdiri di samping Dita.


"Iyalah! Dulu kan Yanda dulu pernah alami ini," ucap Dita.


"Kalau liat Arya guling-gulingan begitu sama pocong, kenapa saya jadi ingat kalian, ya?" Tasya menoleh pada Herdi dan Anan lalu tertawa cekikikan bersama Dita.

__ADS_1


Kedua pria itu saling tatap lalu bergidik dan kembali menatap jijik. Tak jauh dari mereka, sosok dokter yang bernama Donald Setiawan datang. Dia dokter yang bertugas merawat Arya. Sosoknya sangat mirip dengan wajah milik Doni. Tasya sampai menatap tak percaya. Bibir mungilnya itu terbuka menganga.


"Sya, jaga sikap! Kamu udah punya Pak Herdi. Hormati suami kamu," bisik Dita sambil melotot ke arah Tasya lalu mencubit pinggang perempuan itu.


"Tapi, Ta … dia mirip banget sama Doni. Semua badannya dan wajahnya, terus senyumnya, semuanya sama. Dia cakep banget, Ta," sahut Tasya.


"Iya sih, emang kalau dilihat-lihat cakep ini sama Doni yang versi lama," kata Dita berdecak kagum.


"Ehem, ehem, oh jadi gitu? Kamu masih bisa bilang ada orang lain yang lebih cakep dari aku? Kamu lupa, ya, kalau ada suami kamu yang cakepnya tak tertandingi siapa pun di alam semesta ini?" Anan sudah bertolak pinggang di hadapan Dita.


"Eh, ada si Yanda Ganteng. Duh, emang Yanda paling cakep se semesta alam dan tak tertandingi ketampanannya oleh siapa pun," ucap Dita yang sengaja menginjak kaki Tasya agar membantunya menyenangkan hati Anan. Sesekali Dita mengusap dada Anan.


"Iya, iya, cakep banget. Cakepnya kelewatan kebangetan!" teriak Tasya di hadapan Dokter Donald karena menahan sakit di kaki. 


Herdi langsung menghalangi pandangan Tasya dari sosok dokter tampan itu. Dia berdiri di hadapan Tasya dengan gaya yang sama dengan Anan, berkacak pinggang.


"Doni ternyata banyak kembarannya, ya. Hebat juga bisa reinkarnasi jadi dokter cakep gini," ucap Arya seraya merapikan dan membersihkan pakaiannya setelah pertempuran sengit dengan pocong wajah hitam itu. Si pocong akhirnya pergi menghilang dan mohon ampun.


"Iya ya, Anta juga nggak nyangka deh," sahut Anta yang berdiri di samping Arya.


Namun, Pak Herdi langsung menghalangi dan menggantikan Tasya untuk menjabat tangan pria itu. Dia tak mau Tasya baper menjabat tangan Dokter Donald.


"Nama panjang kamu pasti Donal Bebek, ya?" Herdi seolah mengejek dokter muda di hadapannya.


Para anak kembar langsung tertawa mendengar kelakar Herdi barusan.


"Hahaha, si bapak lucu juga, ya. Nama panjang saya Donald Setiawan," ucapnya terkekeh.


Dokter Donald hanya melayangkan senyum lalu membahas mengenai kondisi Arya. 


"Pasien harus dipacu dengan kebahagiaan. Jadi kalau menurut saya mungkin dengan pernikahan, pasien dapat kembali bangun seperti sedia kala. Kamu mau nikah sama dia, kan?" tanya Dokter Donald menunjuk Anta.


Arya menjawab dengan anggukan. Anan langsung berdiri di hadapan Anta untuk menghalangi.

__ADS_1


"Apa? Menikah?! Maksudnya nikahin si Arya sama si Anta? Nggak deh, jangan dalam waktu dekat ini. Duh, makasih banyak sarannya," sahut Anan seraya menatap Arya dengan tajam.


"Emang salah anak aku apa, sih? Arya dan Anta itu saling mencintai. Jadi jangan kamu pisahkan hanya karena rasa ego kamu!" tuding Herdi seraya menusuk dada bidang Anan dengan ujung jari telunjuknya berkali-kali. 


"Suka suka gue, dong! Anta kan anak gue, jadi wajar kalau gue mau yang terbaik buat anak gue. Elu mau apa?" tantang Anan berkacak pinggang.


"Elu pikir anak gue nggak baik, gitu?!" seru Pak Herdi. 


Pak Herdi dan Anan langsung terlibat adu mulut sampai Tasya dan Dita meredakan keduanya. 


"Aku pegang yanda, ya," bisik Dira.


"Kalau aku pegang ayah," sahut Fasya. 


Dua pasang anak kembar itu malah fokus bertaruh untuk membela Anan atau Pak Herdi.


Dokter Ronald sebenarnya dapat melihat sosok Arya dan makhluk gaib lainnya. Jadi, dia tahu keberadaan Arya. Dokter itu juga sudah berkomunikasi lebih dulu. Arya memintanya untuk mengatakan pada keluarga Anta agar segera menikahi mereka.


"Saya sudah tepati janji saya untuk meminta keluarga cewek kamu agar segera menikahkan kamu dengan Anta. Oleh karena itu, jangan suruh para hantu rumah sakit itu mengganggu saya lagi," bisik Dokter Donald pada Anta dan Arya.


"Siap, thank you banget nih, bro!" ucap Arya.


"Sekarang coba kamu yang masuk ke tubuh kamu lagi, karena saya sangat penasaran dengan reaksi tubuh kamu sekarang," ucap Dokter Donald.


Arya sempat memandang ke arah Anta dan mengiyakan apa yang Dokter Ronald barusan ucap untuk uji coba. Arya memandangi sejenak sosoknya yang tampan. Sesekali dia memuji dirinya sendiri seraya mengitari ranjangnya dan meyakinkan dirinya untuk merasuk ke dalam tubuhnya lagi.


"Ayo, Ya!" titah sang dokter.


"Baiklah, aku akan coba masuk," ucap Arya.


Anta mundur beberapa langkah melihat Arya yang sudah berbaring di atas tubuhnya sendiri. Gadis itu berharap kalau Arya akan sembuh. Arya dan Anta juga berharap kalau semua yang mereka inginkan akan terwujud, yaitu menikah.


Sementara itu, Dita dan Tasya sudah membawa Anan dan Herdi menjauh. Kedua pria dewasa itu masih terlibat adu mulut dan saling jambak atau menampar pipi. Keributan itu diiringi tepuk tangan dan semangat yang dilontarkan para anak kembar dalam mendukung ayah mereka masing-masing. 

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2