
"Masayu, kamu mau kasih tau apa?" tanya Anta.
"Lihat rumah tua itu!" tunjuk Masayu.
"Kenapa dengan rumah tua itu?" tanya Anta.
"Jangan bilang itu angker," sahut Ria.
"Tau nih, mau ngajak uji nyali kali ni bocah." Arya menimpali.
"Ada wanita yang menangis di sana," ucap Masayu.
Anta lantas mengikuti Masayu ke rumah tua tersebut.
"Hadeh … mulai lagi!" Arya menepuk dahinya sendiri.
"Udah sih kita santai aja di sini," kata Ria seraya menahan Dion dan Arya.
"Udah, deh. Kasian Anta kalau kenapa-kenapa. Ayo, ikut aja!" ajak Dion.
"Bentar, deh. Aku mau tunggu Ken," tukas Ria.
"Terserah kamu, lah!" Dion bergegas menyusul Arya dan Anta.
Malam pun semakin larut dan udara dingin mulai merasuk. Tak lama kemudian, mereka menemukan bekas api unggun yang sudah mati. Namun, perlengkapan berkemah terlihat sudah dimasukkan kembali ke tas masing-masing, tetapi masih ada sampah yang sudah dibuang ke tempatnya. Menjelang jam satu dunia hari, mereka kembali melangkah di atas pasir.
Mereka kembali melintasi jajaran pohon kelapa yang tinggi dan besar. Meskipun langit terlihat cerah, cahaya bulan yang pucat justru menimbulkan fantasi yang menyeramkan di benak mereka masing-masing. Arya mempercepat langkan karena udara juga semakin dingin.
Kini, Anta dan Arya disusul Dion berada di depan rumah tua tersebut. Mereka serentak menoleh ke rumah tua di sebelah kanan tepi pantai setelah melintasi pasir putih.
Ria yang tak kunjung mendapati Ken menyusulnya, segera berlari kecil menghampiri Dion dan yang lainnya. Para rekannya itu sudah berada di depan teras. Arya memanjat dengan cekatan celah jendela dan mendarat sepelan mungkin agar tak bersuara, diikuti oleh Dion.
"Mana yang nangis?" bisik Anta pada Masayu.
"Tadi ada, Kak."
"Manusia apa hantu?" tanya Anta lagi.
"Entahlah." Masayu mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Eh, kita lewat belakang, ya?" tanya Arya.
"Kayaknya iya. Emang kenapa?" tanya Dion.
"Ada si Hoka sama Endo." Arya terlihat cemas lalu menarik Anta untuk bersembunyi.
Mereka berongkok di semak-semak yang cukup tinggi. Dion menarik Ria untuk ikut bersembunyi. Tampak Endo masuk ke dalam rumah tua, sedangkan Hoka menunggu di mobil. Endo terlihat mengangkat satu kotak kardus lalu dibawa ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pergi lagi.
Anta buru-buru meninggalkan semak-semak karena penasaran. Arya juga langsung mengikuti sehingga pemuda itu tidak bisa memilih selain menuruti instruksi dari Anta. Dion dan Ria melangkah ke depan mencoba mengikuti.
Para remaja itu segera mengecek setiap jendela yang untungnya semuanya dalam kondisi tidak terkunci. Dion menunjuk tembok di pojok kiri bangunan, persis di dekat tembok tersebut ada tumpukan batu bata dan genteng. Tumpukan itu tidak terlalu tinggi, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tersembunyi.
Seketika bulu kuduk Dion dan yang lainnya itu meremang. Ia menatap sekelilingnya dengan waspada. Ria tampak mendahului Dion melangkah ke dalam rumah tersebut karena tak mau tertinggal di belakang. Mereka sempat terkejut melihat isi bangunan dan kondisinya. Untuk rumah tua yang lama tidak ditinggali hal itu termasuk bersih.
"Kok, rumah ini seperti dibersihkan secara rutin, ya?" gumam Ria.
"Iya, tadi kan ada si Endo sama si Hoka. Bisa aja dia yang bersihin," sahut Anta.
"Kayaknya nggak juga. Nih, kusen-kusennya masih berdebu," jawab Arya saat meraba-raba mencari pegangan.
"Ini kenapa jadi ngomongin kebersihan, sih?" Dion membuka seluruh pintu yang ada di dalam ruangan lalu setelahnya mereka akan masuk ke dalam pintu-pintu yang terbuka tersebut.
"Iya nih, udah nggak ada apa-apa juga," imbuh Arya.
"Isi kotak tadi apa, ya?" tanya Anta.
"Tubuh kakak yang tadi nangis. Dia dilipat-lipat," jawb Masayu.
"Hah?" Anta, Arya, Dion, dan Ria menyahut bersamaan.
"Tapi kok Anta nggak nemu hantu mayat itu?"
"Mungkin yang lagi jalan sama si Ken itu!" tunjuk Arya yang melihat Ken di kejauhan diikuti perempuan.
"Kok, ada bau busuk, ya?" Ria malah bertanya balik.
Semuanya refleks mencoba mengendus-endus udara di sekitarnya. Mereka menatap ruangan yang terlihat seperti ruang tamu dan menoleh ke arah Arya kemudian mengangguk bersamaan.
"Kita nggak ketemu penunggunya, cuma nyium bau busuknya. Jangan-jangan si Arya kentut," tuding Dion.
__ADS_1
"Sembarangan! Tuh, lihat cewek yang sama Ken!" tunjuk Arya.
Sementara itu, Ken membawa sosok wanita dengan sebelah wajah yang hancur bahkan memperlihatkan tengkorak pipi yang sedang menatap tajam ke arah Ken. Dress hitam yang hantu itu gunakan tampak kotor dan robek.
Arya berusaha untuk menunduk dan berpura-pura tidak melihat para hantu tersebut. Aura mistis di ruangan itu yang semakin menyeruak membuat semuanya semakin merinding. Arya pun merasa tidak tahan lagi dan menurunkan ponselnya.
"Balik aja, yuk! Serem guys!" bisik Ria.
"Tanggung," jawab Anta.
Hantu wanita yang menyeramkan tadi masih mengikuti langkah Ken.
"Kalian pada ngapain ke sini?" tanya Ken.
Ria menarik Ken dan menunjukkan sosok wanita bernama Dahyun yang menyeramkan. Dia juga melihat hantu sosok besar yang mengunyah tulang.
Ken masih membisu, tidak percaya.
"Nggak mungkin, Ria. Aku ngobrol sama Dahyun barusan dalam keadaan baik Nggak serem begitu," kata Ken tak percaya.
"Kayaknya Anta tahu kok tentang perempuan ini," sahutnya.
Dia menghampiri Dahyun, menggenggam tangan gadis itu. Anta tahu sesuatu tentang Dahyun seketika. Berikutnya semuanya masih terdiam. Semua cuplikan tentang kematian Dahyun kembali terputar dalam pita pintasan memori.
***
Dahyun Fukusima dinyatakan menghilang tanggal lima di bulan Februari, satu tahun yang lalu. Ayah dan ibunya terlihat mencarinya. Anta melihat penduduk sekitar, yang meletakkan sebuah batu nisan simbolis di dekat Pantai Ju untuk para korban yang meninggal di Pantai.
Batu nisan itu sendiri sebenarnya tak ada jenazahnya, hanya simbolis karena jenazahnya tidak ditemukan. Ditelan lautan. Bersemayam di laut. Orang tua Dahyun memiliki villa di pantai ini. Yaitu, rumah tua yang sekarang Anta singgahi.
Menurut Dahyun, sebelum meninggal, setiap kali liburan ke sini, Dahyun gemar sekali melihat orang-orang berselancar dan sangat ingin latihan surfing sedikit-sedikit secara bertahap. Sampai suatu ketika dia terpikat pada pesona Hoka Takurugi.
Dahyun menjadi korban pelampiasan nafsu berat Hoka yang akhirnya dibuang ke pantai. Wajah Dahyun membentur karang dan robek. Setelah itu tubuhnya tidak pernah ditemukan karena terbawa arus dan tenggelam ke dasar lautan.
Anta kembali dan menceritakan penglihatannya. Ken menelan ludah berkali-kali. Sesekali dia memegang tengkuknya, merasa ngeri.
"Pantas saja tadi Dahyun cerita kalau dia ingin sekali berselancar, tapi dia tidak bisa berenang dan baru belajar. Karena begitu menyukai surfing, dia berlatih lebih keras daripada yang lain. Katanya renang, surfing, renang, surfing, ya gitu terus," lanjut Ken. Dia menjelaskan dengan begitu pelan.
...*** Bersambung ***...
__ADS_1