
Dua minggu berlalu.
Entah mengapa malam ini suasana taman begitu lengang. Biasanya taman tersebut ramai sampai pukul sembilan malam. Apalagi kalau malam minggu. Ada pasar malam yang kerap diadakan untuk menjajakan kuliner setempat dan juga hasil tangkapan laut.
"Asahi, kau sedang apa?" tanya Hanako.
Arya berdiri di pagar pembatas pantai Pulau Ju.
"Aku hanya sedang menikmati pemandangan laut malam hari yang tampak terang itu," sahut Arya.
"Dingin, ya?" Hanako memeluk dirinya sendiri.
Dia berharap Arya akan memberikan jaket yang dia pakai dan mengenakannya pada Hanako. Namun, gadis itu salah, Arya malah merapatkan resleting jaket yang dia gunakan karena udara malam yang makin terasa dingin.
"Sepertinya akan turun hujan jadi tambah dingin," sahut Arya.
"Hmmm, sepertinya. Mau makan ramen?" tanya Hanako.
"Boleh." Arya mengangguk.
"Ayo, kita makan ramen di sebelah sana saja, ya." Hanako menunjuk salah satu kios yang menjual ramen di pasar malam itu.
"Cieee … sepertinya Hana makin dekat saja dengan Asahi." Suara seorang gadis dengan rambut dikepang dua itu menggoda Hanako dan Arya.
Yakin merupakan teman sekelas Hanako di sekolah.
"Iya, dong! Kami memang semakin dekat." Hanako melingkarkan tangannya di lengan kiri Arya.
"Hmmm, sepertinya aku mengganggu. Oh iya, Asahi…." Yuki menghentikan langkahnya.
"Kau mau mengajar di sekolah? Ayahku sedang mencari guru Bahasa Inggris. Aku lihat sepertinya kau bisa Bahasa Inggris," ucap Yuki menawarkan.
"Ummmm–"
"Tidak boleh! Asahi akan menjadi penjagaku," potong Hanako.
"Oh, ya sudah kalau begitu."
"Tunggu, Yuki! Aku mau mencobanya," ucap Arya menghentikan langkah Yuki.
"Asahi!" Hanako mencoba menarik Arya dan menatapnya tajam.
"Aku tak mau menjadi parasit untukmu. Aku tak suka mendengar cibiran beberapa murid ayahmu tentang aku," ucap Arya.
"Siapa yang mengganggu mu? Jika ada yang berani mengganggumu bahkan mengeluarkan cibiran padamu, maka akan aku pastikan dia tak akan bisa bernapas dengan baik, atau melihat matahari dengan jelas," ancam Hanako.
__ADS_1
"Aku tak suka kau berkata seperti itu. Kalau kau memang benar menghargaiku, maka izinkan aku bekerja. Paling tidak aku punya harga diri dengan bekerja dan tidak bergantung padamu," ucap Arya dengan tegas.
"Wah, Asahi keren sekali," puji Yuki.
"Ish!" Hanako meliriknya dengan tajam. Seketika itu juga, Yuki menunduk takut.
"Baiklah. Kau boleh bekerja di sekolah. Tapi, setiap hari kau harus pergi dan pulang sekolah bersamaku, mengerti?"
"Oke, aku mengerti. Ayo, kita makan ramen!" ajak Arya.
Anta dan Ria yang datang ke pameran pasar malam itu baru saja keluar dari kedai ramen. Arya melihat Anta dan Ria menjauh. Seketika itu juga, ada perasaan aneh yang timbul.
"Kenapa, Asahi?" tanya Hanako.
"Entahlah. Sepertinya aku pernah melihat dua orang jtu," jawab Arya.
"Dua orang yang mana?" tanya Hanako.
Sosok Anta dan Ria sudah pergi dengan menaiki bus sedang yang berhenti di halte yang tak jauh dari pasar malam tersebut.
"Hmmm, mungkin salah orang. Ayo, masuk!" ajak Arya.
Hanako mengangguk. Saat memasuki kedai, terdengar pemilik kedai dan seorang pelayan sedang membicarakan Anta dan Ria.
"Halo, Tuan Kagawa! Apa yang sedang kalian bicarakan?" sapa Hanako.
"Kau sedang membicarakan apa tadi?" tanya Hanako lagi.
"Tadi ada perempuan muda yang makan tiga mangkuk ramen padah tubuhnya kecil. Dia bilang ramen milikku yang terenak. Dia sangat baik hati, Nona. Dia menolong ibuku untuk membersihkan rumah ibuku dari hantu. Lalu, ibuku memberi kupon makan di kedai ini. Dia sampai makan tiga mangkuk, benar-benar luar biasa. Dia juga gadis yang cantik," pujinya dengan mata berbinar.
"Gadis pemburu hantu? Wah, menarik," ucap Arya.
"Hmmm, mungkin dia hanya seorang penipu. Lagi pula kau harusnya tahu kalau tak ada gadis cantik di sini selain aku," ucap Hanako.
"Tentu, tentu saja, Nona. Anda selalu jadi yang tercantik."
Arya melihat Tuan Kagawa memuji Hanako dengan terpaksa. Di wajahnya hanya ada ketakutan karena kakeknya Hanako merupakan orang yang berkuasa di Pulau Ju.
"Tolong siapkan dua ramen spesial untuk kami," ucap Hanako.
"Baik, Nona."
...***...
Suara detak jarum panjang dipenandatanganan waktu yang kian bergulir, memecah keheningan malam. Suara yang berasal dari kamar seorang pemuda yang tiba-tiba saja bergumam dalam tidurnya. Peluh bercucuran dari dahi pemuda tersebut.
__ADS_1
Ken bermimpi berada di sebuah taman yang kerap dia kunjungi untuk bertemu dengan sang kekasih, Harumi. Pemuda itu duduk di bangku taman seraya memandangi kolam ikan koi emas di hadapannya.
"Apa kamu sudah lama menungguku, Ken?" tanya Harumi.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Kamu mau apa, Haru?" sahut Ken.
"Aku merindukan masa-masa indah kita dulu," ucap gadis itu lalu duduk di samping Ken.
"Kamu harusnya sudah pergi, Harumi. Kenapa kamu menggangguku?" tanya Ken mulai cemas.
"Aku tidak sedang mengganggumu. Aku hanya sedang mengingat masa terbaik yang pernah aku miliki bersamamu, bukankan begitu, Sayang?" tanya Harumi sambil menatap Ken.
Harumi masih menatap Ken dengan saksama. Tangannya terulur hendak meraih punggung tangan kiri sang kekasih. Wajahnya sangat pucat. Namun, reflek pemuda itu menarik tangannya dan menyelipkannya ke saku jaket kulit warna hitam.
Hal itu jelas saja itu membuat Harumi tersentak dan kecewa. Itu adalah kali pertama Ken menolak tangannya digenggam oleh sang kekasih.
"Asal kamu tahu, Harumi. Kita sudah berada di alam yang berbeda sekarang.
Aku semakin tak sanggup menatap wajahmu. Hatiku terasa sangat sakit. Apalagi kepergianmu saat itu karena kau lebih memilih Hoka."
Diam diam sambil menunduk, Ken mengusap wajah yang mulai dialiri air mata menggunakan punggung tangannya.
"Tapi Hoka membunuhku, Ken!"
"Tak ada bukti yang kuat kalau dia membunuhmu. Kau mati keracunan. Kau harus pergi Harumi. Tenanglah di alam sana," pinta Ken.
"A-aku, aku merindukanmu," ucap Harumi lirih, "maafkan aku, Ken."
"Sudahlah, Harumi. Kamu tenang saja, aku akan selalu mencintaimu. Pergilah dengan tenang sekarang," pinta Ken.
Ken dan Harumi lalu terdiam cukup lama. Hanya ada suara daun kering berserakan dan angin.
"Apakah kamu ingin sesuatu dariku?" tanya Ken memecah keheningan yang mulai menyakitkan itu.
"Tidak. Aku ingin seperti ini saja bersamamu," sahut Harumi.
"Aku harus pergi," tukas Ken.
"Izinkan aku tetap bersamamu sampai kau bertemu dengan gadis baik yang aku rasa pantas untukmu," ucap Harumi terdengar bergetar.
Ken akhirnya mengangguk dan mulai beranjak dari tempatnya duduknya. Rasa sakit bagai dicabik-cabik itu sebenarnya belum juga mereda, membuat Ken enggan untuk mencoba menatap wajah cantik gadis itu. Apalagi malam itu Ken berniat melamat Harumi setelah mereka berpacaran selama lima tahun. Namun, dia menemukan Harumi sedang bercinta dengan Hoki di apartemennya.
Apartemen yang dia dan Harumi sewa dan dipersiapkan sebagai tempat tinggal nanti setelah menikah. Nyatanya, Harumi mengkhianatinya. Ken lalu pergi meninggalkan Harumi.
Suara panggilan seorang wanita paruh baya membangunkan Ken dari tidurnya. Dia bermimpi tentang Harumi lagi. Gadis itu selalu menemuinya dalam mimpi.
__ADS_1
"Ken, kau sudah kesiangan untuk bekerja. Bukankah hari ini kau bertugas jaga pos?" Suara sang nenek yang bernama Suzuka, terdengar berseru seraya mengetuk pintu kamar pemuda itu.
...*** Bersambung ***...