
"Heh, mau apa kamu?" Anta keluar dari mobil Arga.
"Yah, repot deh nih urusannya." Arya menyusul.
"Hai! Kalian temennya Silla, kan? Aku Marina. Ada yang mau minta tolong sama kalian. Tuh, bapaknya di sana!" Hantu perempuan itu menunjuk ke arah sosok hantu pria yang menunduk di bawah pohon asem.
"Mau minta tolong apa?" tanya Anta.
"Kasihan istri saya, Neng. Dia mau melahirkan," tutur pria itu menghampiri. Bagian kaki sebelah kirinya hampir putus terkoyak. Rupanya pria itu merupakan korban kecelakaan di jalan raya besar yang tak jauh dari kedai.
"Kenapa, Nta?" bisik Ria dari dalam mobil.
"Istrinya mau melahirkan," sahut Anta.
"Kuntilanak itu istrinya?" tanya Ria seraya mengarahkan kamera ajaib dengan tangan gemetar.
"Bukan. Mbak Kun ini temennya Tante Silla. Dia mau minta tolong sama Anta buat nolong bapak itu dan bantu istrinya yang mau melahirkan."
"Istrinya hantu apa manusia?" imbuh Arya.
Bapak itu hanya diam dan menunduk.
"Tolong kami, saya mohon. Ini satu-satunya agar kami bisa kembali ke alam kami dengan tenang," lirihnya setelah sekian lama hening.
"Astagfirullah, Nta, kamu kan bukan bidan! Apalagi dokter ginekolog. Bantu ke bidan aja yang di pertigaan kompleks," ucap Ria.
"Saya nggak mau, Neng. Cuma kamu yang bisa bantu kami," pinta bapak itu.
"Waduh!" Anta menepuk dahinya. Gadis itu lalu menoleh pada Arga.
"Kenapa liat aku kayak gitu?" tanya Arga.
"Kamu lebih senior dari Anta. Jadi, kamu bisa nolong Anta kalau Anta nanti panik," pinta gadis itu.
"Nurut aja, Ga, biar cepet pulang!" titah Arya.
"Ini yang lainnya gimana?" Arga menoleh pada anak kembar yang sedang bercanda menarik-narik rambutnya kusut hantu perempuan tadi. Hanya Royco dan Ken yang masih agak syok duduk di sudut mobil tersebut.
"Pulangin dulu, deh. Terus kamu sama Ria balik lagi ke sini." Anta memberi perintah.
Arga dan Ria saling menatap satu sama lain lalu menyetujui ide tersebut.
...***...
__ADS_1
Tak lama kemudian, Ria dan Arga kembali.
"Ayo, Neng. Ikut saya!" ajak pria bernama Rudi itu.
"Emang istrinya di mana, Pak?" tanya Anta.
"Di rumah kosong dekat sini," ujarnya.
"Bapak udah lama kecelakaan? Kenapa nggak diobatin?" celetuk Arya sampai Arga memukul kepala belakangnya.
"Cuma nanya emang nggak boleh?" bisik Arya.
"Jangan kebangetan dongok!" Arga menatap tajam. Ria langsung melewati keduanya.
"Dua hari yang lalu kami kecelakaan. Kami hanya bisa berputar-putar di sekitar sini. Lalu kami bertemu Marina. Dia bilang ada manusia sekitar sini yang suka menolong hantu," ucap Pak Rudi.
"Wah, cocok udah. Emang itu kerjaan Anta," celetuk Ria.
"Tapi masalahnya Anta nggak berani bantu orang, eh hantu latihan. Takut kenapa-kenapa nanti sama istrinya," sahut Anta penuh perhitungan.
"Nta, udah jadi hantu, nggak bakal kenapa kenapa juga," bisik Arya.
"Iya juga, sih. Tapi porno aja gitu."
"Saya yakin cuma Neng yang bisa bantu," ucap Pak Rudi.
"Nggak usah tatap-tatapan sama cewek gue macam itu!" Arya meraup wajah Arga.
"Masa sama gue elu masih cemburu, sih!" Arga balas menarik rambut Arya.
"Udah udah udah, aku juga masih suka cemburu kalau kamu perhatian sama Anta. Tapi aku yakini diri aku kalau kalian bisa layaknya sayang sebagai adik kakak," tutur Ria.
"Tuh, dengerin! Cewek gue aja bisa bijak sama gue. Masa elu nggak!" sahut Arga.
"Ah, asu!" Arya mencebik.
"Bisa pada diem, enggak?! Pusing Anta dengerinnya!" tukas gadis itu.
Kerlip intang-bintang bersinar gemerlapan di atas sana kala Anta sampai di rumah kosong yang Pak Rudi maksud.
"Rumah bekas siapa ini, ya?" gumam Arya.
"Gue juga baru tahu kalau deket komplek rumah si Anta ada hutan tepi jalan raya terus ada rumah kosongnya," sahut Arga.
__ADS_1
"Apa kita masuk ke alam gaib?" tanya Ria.
"Nggak kayaknya. Bapak tadi bilang kan dia belum bisa kembali sampai istrinya melahirkan. Jadi kita nggak ada di alam gaib," bisik Anta.
"Ya mungkin sih, bisa jadi." Arga mengangguk.
"Mana istrinya, Pak?" tanya Anta.
"Ada di dalam. Mari masuk semuanya! Dia pasti sudah menunggu di dalam!"
Anta menoleh pada Arya, Ria dan Arga. Lalu, akhirnya gadis itu mengiyakan ajakan Pak Rudi dan melangkah masuk bersama pria dewasa sekitar usia empat puluh tahun itu.
Baru satu langkah memasuki rumahnya, Anta langsung melihat istrinya Pak Rudi tersenyum. Pakaiannya yang dia kenakan robek dan memperlihatkan perut yang mengalami benturan.
"Ini namanya Neng Anta kata si Marina," ucap Rudi memperkenalkan.
"Oh, yang katanya bisa nolongin hantu? Halo, Neng Anta. Nama saya Liya." Wanita berambut keriting yang digerai berantakan itu langsung berkenalan dengan Anta dan yang lainnya.
"Saya cuma bisa nolong dikit-dikit, Bu," ucap Anta mengangguk.
"Dikit dikit tapi sering," celetuk Arya. Anta langsung mencubit pinggangnya sampai Arya mengaduh.
Kemudian, suami istri hantu itu tersenyum pada Anta dan yang lainnya. Arya terus saja memegangi tangan kekasihnya agar tak mencubit lagi. Tubuhnya juga mulai terasa gemetar saat melihat darah masih mengucur deras dari ************ milik si wanita hamil itu.
"Maaf, Pak, Bu, kalau boleh tahu, kalian kecelakaannya bagaimana?" tanya Anta.
"Saya mau bawa istri saya ke rumah sakit. Tapi di tengah jalan, kami dihantam sebuah mobil box. Setelah itu saya taunya orang dalam mobil box itu bawa istri saya masuk ke dalam mobil box. Lalu saya nggak ingat lagi." Pak Rudi sampai menggaruk kepalanya kebingungan.
"Dua hari yang lalu, ya? Coba aku cek ke rumah sakit kita, Nta. Kali aja korban-korban ini dilarikan ke sana," ucap Arga.
Pria itu lalu menghubungi Rumah Sakit Keluarga dan menanyakannya pada suster jaga. Namun, tak ada laporan menerima korban wanita hamil dan suaminya.
"Terus mereka dibawa ke mana, Ga?" tanya Arya.
"Gue juga nggak tahu, nih," sahutnya.
"Anta nggak bisa nerawang?" tanya Ria.
Anta menggeleng lalu berkata, "Anta cuma bisa lihat sampai mereka kecelakaan. Setelah itu gambaran tentang mereka juga terhenti karena ingatan mereka terhenti. Kecuali Anta pegang tangan si pelaku."
Rudi lalu menggiring Anta ke tempat istrinya dibaringkan. Jujur saja Anta agak takut karena tidak pernah sedekat ini dengan wanita yang hendak melahirkan. Hal yang membuat gadis itu makin ngeri adalah ketika melihat perutnya bergerak-gerak liar seolah ada makhluk yang ingin keluar secara paksa dari perutnya.
"Nta, serius nih mau membantu dia melahirkan?" bisik Arya.
__ADS_1
"Udah terlanjur sampai sini, Yang. Udah jangan buat Anta makin cemas, ya."
...*** Bersambung ***...