Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
29. Mulai Baper


__ADS_3

"Iya, Kak Dion nembak aku. Anta bilang, kalau sebulan apa dua bulan lagi kamu masih lupa sama Anta, ya bisa aja Anta terima dia. Apalagi kalau kamu sampai nikah sama Hanako. Buat apa Anta bertahan lagi, toh kamunya juga nggak mau berjuang," jawab Anta.


"Tadi, katanya kamu mau berjuang. Kamu mau bertahan dan terus ada di sisi aku, kok nyerah?"


"Makanya, Arya juga berjuang. Cewek juga butuh kepastian!"


"Tadi kayanya nggak mau nyerah," tukas Arya.


"Tetep aja, perasaan seseorang bisa berubah seiring waktu dan kejadian yang menimpa, iya kan?" Anta mengerucutkan bibirnya mulai kesal pada sikap Arya. Intinya, gadis itu sebenarnya ingin membuat Arya cemburu.


Anta memandangi Arya sambil tersenyum. Entah sejak kapan darah di kepala Arya jadi terasa berdesir tiap kali melihat senyum lebar yang cantik milik Anta. Anta lalu memandangi langit, kemudian berkata seraya menunjuk.


"Eh, ada bintang jatuh!"


Arya lalu menoleh.


"Arya merem! Terus ucapin permintaan!" seru Anta.


"Buat apa?"


"Biar romantis kayak di film-film!" sahut Anta seraya menunjukkan deretan gigi putihnya.


Arya semakin tak mengerti dan menggaruk kepalanya. Pemuda itu menatap lekat mata cantik milik gadis di hadapannya.


"Anta minta apa?" tanya Arya.


"Minta Arya, lah, hehehe."


"Aku boleh nanya, nggak? Sejak kapan kamu indigo?" Sepasang mata lentik yang biasanya bersinar ceria itu kali ini tampak redup.


Tanpa sadar, Arya pun mengeratkan genggaman pada jemari Anta.

__ADS_1


"Anta berbeda sejak lahir. Anta nggak pernah takut sama mereka. Hanya saja bunda selalu minta Anta untuk menutupi itu semua demi kewarasan sesama manusia." Anta menghela napas dalam dan mengembuskan penuh kelegaan.


"Hmmm, pernah dibully, Nta?"


"Kalau dibully, sih, nggak. Hanya saja sejak kecil Anta dijauhi teman-teman karena Anta berbeda." Anta mengatupkan bibirnya. Senyum terulas di bibirnya setelah itu, tapi hanya sebias senyum terpaksa. Bukan senyum tulus seperti biasa.


"Di dunia ini nggak ada manusia yang benar-benar sama, sih. Bahkan kembar pun enggak sama." Arya akhirnya berusaha mengeluarkan kata-kata positif menghibur Anta, "Dan perbedaan itulah yang bikin manusia unik."


Anta mengerjapkan matanya sambil memandangi Arya dengan tatapan lebih dalam. Tanpa sadar Arya sudah mengelus rambut sang gadis yang sudah tertiup angin. Tatapan Anta berhasil membuat jantung pemuda itu berdegup dua kali lebih cepat. Anta pun berdeham supaya tidak terlihat kikuk di depannya.


"Anta seneng, deh, Arya perhatian lagi ke Anta kayak gini," ucapnya seraya mengayun-ayunkan tangannya yang masih Arya genggam erat.


Anta langsung menghentikan langkahnya, mendadak, membuat Arya harus mengerem kaki tiba-tiba dan nyaris terpeleset.


"Kenapa?" Arya masih shock karena nyaris jatuh. Tidak lucu juga jika dia harus jatuh di karang terjal ini, pasti bakalan menyakitkan.


"Masayu ke mana, ya?" tanya Anta.


"Waduh, tadi kan masuk ke bangunan itu. Apa kita harus masuk ke sana?" tanya Arya.


"Nta, tunggu! Ada sesuatu di pipi kamu." Arya mengangkat tangan kanan, lalu mendaratkannya ke pipi gadis itu. Seekor binatang kecil hinggap di sana. Arya berhasil meraihnya dan menepis. Sejurus kemudian, Arya malah mengusap pipi Amta pelan, selayaknya bagai mengusap boneka porselen mahal dari luar negeri.


Anta juga tidak menghindar. Dia hanya tersenyum memandangi Arya. Senyumnya kali ini terasa lebih hangat daripada senyum senyum sebelumnya atau hanya perasaan Arya saja? Entahlah. Arya memutuskan untuk mencoba menautkan hatinya pada gadis di hadapannya meskipun belum sepenuhnya pulih.


Suasana hening menyelinap di antara kedua insan tersebut. Mereka hanya saling tatap. Salah satu tangan milik Arya


dan Anta masih bergandengan, sementara tangan Arya yang satunya masih mengusap pipi milik Anta. Terlintas ingin menyesap bibir mungil milik si gadis, Masayu tiba-tiba berteriak.


"Kak Anta! Kak Arya! Sini buruan ke sini!" seru Masayu.


Arya langsung tersentak dan menyadari posisinya yang salah. Keduanya sedang berada di karang-karang, bukan di taman bunga. Mereka sedang mencoba memecahkan misteri keberadaan jasad Mito, bukannya berkencan. Arya dan Anta pun langsung mendekat ke titik yang ditunjuk oleh Masayu.

__ADS_1


Titik yang ditunjuk oleh gadis kecil itu ternyata adalah sebuah pantai yang posisinya terjepit di antara dua bukit karang. Jika siang hari, mungkin saja tempat ini terlibat sangat indah. Sangat sempurna untuk digunakan secara private. Di sana para pengunjung bisa


menikmati pemandangan, atau gulungan ombak tanpa terganggu oleh keramaian lain mirip seperti pantai pribadi. Pantas saja ada turis asing yang mendirikan bangunan kokoh tadi di tempat terpencil dan sepi seperti ini.


"Kak, Anta, di sana!" Masayu tiba-tiba berlari ke arah Anta. Maka dengan terpaksa Arya melepaskan gandengan tangannya ketika Masayu tiba-tiba datang memeluk Anta. Gadis kecil itu juga memaksa Anta untuk mengelus-elus kepala anak itu supaya tenang.


"Ada apa, Masayu?" Arya mendekati titik yang ditunjuk Masayu.


"Di sana, Kak Arya! Lihat! Di sana!" Masayu tiba-tiba sesenggukan.


Arya lantas mengambil ponsel dari saku celana jins yang ia kenakan. Menyalakan senter dari sana, lalu menyorotkan ke arah yang ditunjuk Masayu.


Ada sepotong kain cokelat yang tersangkut di salah satu bebatuan karang yang mencuat. Namun, setalah di amati, Rara bilang, Itu bukan kain berwarna cokelat, melainkan kain hijau yang tersiram cairan merah sehingga menjadi berwarna cokelat."


"Hanya kain, Masayu, tadi kamu lihat apa sebenarnya?" Arya mengedikkan bahu. Dia berusaha menyangkal dengan sok bersikap tenang.


Saat Arya berniat mematikan senter, dia merasa ada yang janggal. Akhirnya, Arya sorot ulang kain tersebut. Sinar bulan purnama malam ini membantu penglihatan nya. Akhirnya Arya sadar, potongan kain itu ternyata tersambung dengan potongan potongan lain yang lebih kecil. Sepasang mata memandang ke arah sesuatu seperti iseng mengikuti arah potongan-potongan kain tersebut Sobekan-sobekan kain cokelat semakin banyak di lapisan bawah karang terjal, tersambung dengan sebuah badan, yang terlihat samar telentang di sana.


"Astaga!" pekik Arya.


Arya. Masayu masih memeluk cewek itu, menyembunyikan wajahnya. Respons Anta begitu cepat. Arya belum sempat menunjuk ke bawah karang terjal, tetapi gadis itu segera menghampiri tanpa rasa takut.


Arya menelan ludah. Teror tergambar jelas di wajahnya. Ekspresi wajah Arya sangat tegang . Namun, dia berusaha mengesampingkan cekam yang tiba-tiba menggerogoti akal sehatnya. Pemuda itu segera menghubungi pihak kepolisian setempat juga.


"Selamat malam! Ada yang bisa kami bantu?" sambunan ponselnya tersambung dengan polisi bernama Bun Hu .


"Ada mayat di sini, Pak," ucap Arya dengan bibir gemetar ketakutan.


Anta juga menghubungi Ria.


Hening tercipta setelah dia memberitahukan penemuan mayat. Mungkin Ria sama terkejutnya dengan Anta dan Arya.

__ADS_1


Kali ini, pihak kepolisian berusaha melindungi para korban yang berani bersaksi. Terhadap kejahatan yang terjadi di pulau tersebut.


*** Bersambung ***


__ADS_2