Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
61. Bebas dari Hutan Gaib


__ADS_3

Suara itu kembali terdengar. Arga lalu melangkahkan kakinya mencari sumber suara. la pun berlari tatkala matanya menangkap sebuah cahaya terang seperti api. Di tempat itu pemandangan mengejutkan langsung menyambutnya.


Ada banyak obor yang tertancap membentuk lingkaran. Di tengahnya ada sosok perempuan yang pernah dia cintai. Meskipun kini ada Ria di hatinya, tetapi sosok Anta masih kerap menari di pikirannya.


"Anta? Kamu kenapa? Kenapa kamu ada di sini?"  tanya Arga mencoba mendekat.


"Tolong aku, Ga, tolong lepaskan belenggu ikatan aku," pinta sosok yang menyerupai Anta itu.


Saat Arga mendekat, ada yang aneh dari kedua sosok yang menyerupai Anta itu. Namun, Arga tetap berusaha tenang dan mengikuti alur yang diinginkan sosok itu.


"Bagaimana caranya aku bisa menyelamatkan kamu, Nta?" tanya Arga.


Dia berpura-pura kebingungan dan merasa frustasi. Dia juga mencoba membuka ikatan di kaki sosok itu sekuat tenaga. Arga lalu membaca basmalah serta ayat kursi. Sontak saja sosok itu langsung menjerit. 


"Hentikan goblok! Jangan baca itu!" teriak sosok yang menyerupai Anta tersebut. 


"Hmmmm, sudah aku udah duga. Kamu bukan Anta. Mana mungkin si Anta ngomong aku, dia selalu sebut nama. Sekarang katakan siapa kamu, atau aku bacakan ayat kursi?!" tantang Arga.


"Ampun, Bang! Jangan baca itu!" 


Sosok yang terikat itu langsung mengubah wujudnya menjadi kuntilanak berwajah merah.


"Astagfirullah!" pekik Arga.


"Gue ngaku, Bang. Gue bukan temen temen elu. Ampun ya, Bang," pintanya.


"Hmmm, sekarang kasih tau ke gue, elu liat cewek gue, nggak? Sama temen-temen gue?" tanya Arga seraya menunjukkan layar ponselnya. 


"Oh, cewek ini tadi mau diambil nenek bongkok sama Nyai Kunti. Mereka ke arah sana. Kalau yang dua ini nggak tahu," ucapnya.


"Oke kalau gitu, makasih ya." Arga segera berlalu.


***

__ADS_1


Arya dan Anta berhasil membuat Mbah Marjan mundur setelah menyebut Bunda Dita sebagai titisan Ratu Kencana Ungu. Keduanya segera menggendong Alvin untuk keluar dari pelataran gua tersebut. 


Tiba-tiba, Arya menabrak Arga sampai terjatuh padahal Arya sedang menggendong Alvin. Ketiganya sama-sama terpental.


"Buset dah si Arga! Demen banget sih bikin gue sial!" tuduh Arya.


"Elu juga jalan, eh lari, nggak liat-liat!" Arga bangkit dan menarik kaus Arya.


"Eh, stop! Kenapa pada ribut gini, sih! Bantuin gendong si Alvin, nih! Terus kita lari biar cepet keluar dari sini!" seru Anta.


"Lagian si Arga, nih–"


"Arya udah!" Bentakan Anta langsung membuat pemuda itu terdiam.


Arya lantas menggendong Alvin. Namun, dia menyerahkannya pada Arga.


"Gantian elu yang gendong!" pinta Arya.


"Eh bentar, deh. Ada yang aneh. Kita masuk ke sini berempat," ucap Anta lalu menelisik semuanya.


"Itu maksud aku. Ria mau diculik nenek bungkuk ke sana!" sahut Arga.


Anta dan Arya langsung mengikuti Arga. Mereka menemukan dua sosok hantu yang sedang menyeret Ria di atas daun-daun kering tersebut.


"Heh, kalian mau apa? Lepaskan temennya Anta!" Anta langsung menghardik dua sosok hantu itu.


Dua sosok hantu itu hendak menyerang, tetapi Mbah Marjan datang berseru, "Lepaskan gadis itu! Gadis yang ada di depan kalian itu titisan Ratu Kencana Ungu, bestie dari Ratu Jin penguasa wilayah ini. Nanti Kanjeng Ratu bisa marah!"


"Tuh, dengerin! Nenek buyut Anta, bestie sama pengusaha di sini," sahut Anta.


"Penguasa, Nta." Arya mencolek bahu gadis itu.


"Oh iya iya. Penguasa bukan pengusaha. Ayo, jangan main-main sama Anta, ya!" Gadis itu langsung meraih tangan Ria. 

__ADS_1


Tadinya, Anta ingin menggendong Ria tetapi dia tak mampu. Gadis itu langsung menoleh ke arah Arya yang tangannya kosong. 


"Gendong Ria, Ya!" 


"Idih, ogah ah berat! sahut Arya.


"Heh, Ria itu calon istri gue! Ini si Alvin aja yang elu gendong! Nanti gue yang gendong Ria!" seru Arga.


"Nah, gitu. Gue juga ogah gendong Ria. Kalau gendong si Anta, nggak usah disuruh juga gue gendong!" tukas Arya.


"Ayo, buruan! Nanti dicariin sama Yanda, bayar semuanya!" Anta bersungut-sungut.


...***...


Keesokan harinya, Vivi pulang menggunakan ojek online menuju butik gaun pernikahan. Herman sedang berada di luar kota dan menitipkan Alvin padanya. Namun, Vivi telah menumbalkan Alvin, membawanya ke dalam hutan gaib.


Ojek yang ditumpanginya terjebak di kemacetan. Matanya mengecil karena silau karena pantulan sinar matahari terik ke permukaan aspal. Padahal sepuluh menit juga sampai dari tempat dia bekerja. Sayangnya, dia terjebak macet.


Akhirnya, tukang ojek dengan lihai menyalip. Dia berhasil keluar dari kemacetan dan berada di jalur utarna yang terbilang mulai cukup lengang setelah tadi terjebak macet. Tiba-tiba, Vivi melihat sekelebat bayangan hitam terlihat dari spion motor si pengendara ojek.


"Apa itu, ya? Apa aku salah lihat?" batinnya.


Vivi menguap. Tiba-tiba, kedua matanya serasa sangat berat karena kantuk yang mendera. Ditambah jalanan itu hanya lurus tanpa tikungan.  Kemudian setelah melewati lampu merah perempatan, motor yang ditumpanginya berbelok ke arah kiri. Si tukang ojek melajukan motor lebih kencang dan menyalip sebuah bus.


Tiba-tiba, si pengendara motor terhenyak kala merasa melihat ada sosok hitam yang menyeberang dengan cepat dan membuatnya membanting setang ke arah kiri. Sayangnya, ada sebuah mobil yang menyalip dan membuat si tukang ojek oleng. Lalu, si tukang ojek dan Vivi terhempas tak jauh dari motor karena menyenggol sisi kiri mobil sedan hitam tersebut. Apalagi mobil itu tidak menghentikan kecepatannya. 


Mengetahui pengendara yang tersenggol olehnya tergeletak di jalan raya tengah bersimbah darah, pengemudi mobil itu tancap gas melarikan diri. Ya tentu saja dia melakukan tabrak lari. 


Vivi mendapati dirinya tergeletak di aspal dengan menahan sakit di sekujur tubuh. Isi tas yang dia kenakan berserakan, ponsel pintarnya terlempar entah ke mana. Vivi sempat melihat tukang ojek yang bergerak merangkak ke arah trotoar berharap bantuan. Tukang ojek tersebut masih selamat dan mengalami patah kaki.


Vivi sebenarnya juga ingin bergerak. Tetapi, tubuhnya terasa lemah dan hanya bisa pasrah berharap bantuan orang lain saat itu. Nahas, bus yang sempat tukang ojek salip sebelumnya, sudah melaju dari belakang. Bus itu tak sempat menginjak rem dan menghentikan lajunya karena kejadian itu berlangsung begitu cepat. Bus itu langsung saja menggilas bagian perut Vivi yang sedang tak sadarkan diri.


Detik-detik sebelum bus itu melindas bagian tubuh Vivi, sebenarnya dia masih bisa merasakan jantung yang berdegup sangat kencang serta tubuh yang menggigil ketakutan. Vivi merasakan seluruh tubuh sangat sakit setelah terjatuh dari motor dan betapa berdebarnya jantung itu saat ban mobil bus itu menggilas perutnya.

__ADS_1


Sontak saja saat itu kejadian mengerikan terjadi. Membuat orang-orang yang hendak membantunya malah berteriak. Seluruh organ dalam perut gadis itu tercerai berai ke mana-mana. Ban bus itu menggilas dan terasa menempel persis di pakaian yang Vivi kenakan.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2