Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
73. Arya Siuman


__ADS_3

Perlahan kemudian, Arya berhasil masuk ke tubuhnya. Pemuda tampan itu membuka mata dan tersadar. Sontak saja Anta langsung menghamburkan diri memeluk tunangannya. 


"Baiklah kalau begitu saya hubungi perawat agar memindahkan kamu dari sini," ucap Dokter Donald.


Keributan masih terdengar di luar ruang ICU. Anta meminta Arya untuk tetap di ruangan itu dulu dan berpura-pura masih terbaring lemah. Sementara itu, dia akan meyakinkan ayahnya untuk segera menyetujui pernikahan.


"YANDA, AYAH, HENTIKAN!" Seru Anta dengan suara lantang sampai semua orang menatap ke arahnya.


Anan dan Herdi sudah terlihat menjambak satu sama lain padahal. Mereka segera melepaskan cengkraman tangan mereka masing-masing lalu bergaya cool dan keren merapikan lipatan kemeja mereka yang berantakan.


"Maaf, ya … maaf semuanya kalau Anta udah bikin keributan," ucap Anta meminta maaf pada para suster dan pengunjung rumah sakit yang melintas.


"Arya udah sadar," ucap Anta.


"Syukurlah," ucap Herdi yang merangkul Tasya.


"Terus kenapa kalau dia udah sadar?" tanya Anan. Dita menepuk bahu suaminya agar bisa lebih sopan terhadap keluarga Arya.


"Anta mau menikah dengan Arya," ucap gadis itu.


"Tapi, Nta … kalau menurut Yanda–" 


Dita langsung membekap mulut suaminya. 


"Biarkan putri kita bicara. Dia sudah besar, Yanda," lirih Dita.


"Yanda memangnya mau kalau Anta hamil duluan? Yanda mau kalau Anta sama Arya test drive duluan karena selalu dihalangi pernikahannya sama Yanda? Mau kalau kita begitu?" tantang Anta.


"Anta kok ngomong gitu?" Dita berusaha menenangkan putri cantiknya.


"Habisnya Anta sebel banget sama Yanda. Anta selama ini diam dan nurut sama Yanda. Anta biarkan Arya terus membuktikan ketulusan dan pengorbanan untuk menikahi Anta. Tapi apa yang Arya dapat, Yanda terus aja ngerjain Arya dan menghalangi pernikahan kami," ucap Anta yang berusaha menahan dan membendung susah payah agar air matanya tidak jatuh.


Anan terdiam menatap putrinya. Anta baginya masih seperti putri kecilnya yang menggemaskan. Anan mau tak mau harus mengakui kalau putrinya sudah dewasa dan memiliki pemikiran jauh ke depan untuk berumah tangga. Rasanya Anan tak kuasa melihat putrinya tumbuh besar dan dewasa. Dita mendekat ke arah suaminya lalu mengusap punggung Anan agar membuatnya tenang dan menahan diri.


Sementara itu, para anak kembar saling berbisik kala melihat Anta yang sedang melakukan protes pada ayahnya.

__ADS_1


"Emang Kak Anta mau beli mobil ya, Dam? Kok, pakai test drive?" tanya Fasya.


"Adam juga nggak tau. Mungkin iya," sahut Adam.


"Orang lagi ngomong tentang nikah nikah kok jadi ke mobil, sih?" protes Dira.


"Iya ya," sahut Disya mengangguk.


"Eh, ini para anak kecil mendingan ke arena playground sana, yuk!" Tasya lantas menggiring ke empat bocah itu agar bermain di ruangan khusus untuk anak.


Dita menarik tangan Anan dan Herdi menuju ke ruang ICU bersama Anta. Mereka lalu melihat sosok Arya yang membuka mata perlahan dan menoleh ke arah mereka. Arya tampak lemah dan mengulurkan tangannya ke arah Anta. Gadis itu langsung memakai pakaian APD warna hijau memasuki ruangan ICU.


"Anta …." ucap Arya lirih dan mencoba untuk bangun.


"Hai, Sayang. Jangan gerak dulu, kamu rebahan aja," pinta Arya.


Dokter Donald melepas masker bantuan untuk napas di wajah Arya.


"Syukurlah pasien akhirnya sadar juga." Dokter Donald tersenyum ke arah Arya. 


Anan hanya terdiam tetapi kepalanya mengangguk. Dia lalu duduk di kursi tunggu pasien.


"Lihat tuh mereka, persis kayak kita waktu muda dulu, kan? Mau sampai kapan kamu tahan Anta dan Arya untuk nggak menikah, Yanda?" tanya Dita lagi.


"Tapi, Bunda … kalau Anta menikah nanti kekuatan dan gelar titisan Ratu Kencana Ungu jatuh padanya, Bun? Lalu, memangnya Anta sudah siap mendapatkan mandat itu? Gimana kalau Anta nanti nggak siap dan malah akan celaka karena itu?" Anan terlihat panik.


"Yanda, Anta berada di tangan yang tepat. Ada Arya yang akan siap berkorban bahkan mempertaruhkan nyawa demi melindungi putri kita. Sama seperti Yanda melindungi Bunda," tutur Dita penuh kehangatan dan kelembutan pada suaminya.


"Baiklah." Anan akhirnya menyerah setelah menghembuskan napas kelegaan.


Pria itu akhirnya mencoba mengikhlaskan diri dan menerima Arya sebagai menantunya. Dita memeluk suaminya dengan erat. Namun, sesuatu yang hangat dirasakan oleh Dita dan Anan. Mereka akhirnya menyadari kalau Pak Herdi ikut bergabung memeluk mereka sambil terisak. Anan ingin marah dan mendorong Pak Herdi, tetapi Dita melarang dengan tatapan tajam. Ketiganya tetap berpelukan sampai para suster yang melintas mengamati dengan tatapan aneh serta kebingungan.


...***...


Keesokan harinya, tim medis melepaskan semua alat yang menempel di tubuh Arya pagi itu. Akhirnya percobaan Arya dan Anta berhasil membuat Anan mengizinkan mereka untuk melangsungkan pernikahan. Arya dipindahkan ke ruang perawatan dengan infus masih menempel di tubuhnya karena tubuhnya masih terasa lemas.

__ADS_1


Di ruang tunggu pasien, Dita sedang mengipasi Anan yang sedari tadi sebenarnya mulai geram melihat Arya yang menatapnya penuh kemenangan. 


"Jadi, gimana konsep pernikahan anak-anak kita nanti, Ta?" tanya Tasya.


"Serahkan semuanya sama Anta dan Arya aja," kata Dita.


"Nggak bisa gitu, dong! Mereka harus nurut sama konsep pernikahan dari aku," sahut Anan.


Herdi langsung menepuk bahu Anan.


"Konsep pernikahan dari kamu? Kamu lupa ya kalau putri kamu mau menikah dengan anak saya? Maka dari itu konsep pernikahan harus dibicarakan bersama," ucap Pak Herdi dengan raut wajah kesal. 


Mereka memulai lagi keributan sampai Dita dan Tasya melerai pertengkaran kedua suami mereka dengan cubitan yang perih dan panas. Anan dan Herdi sampai mengaduh dan meminta ampun.


"Kita ajak para si kembar untuk sarapan aja sekalian kita makan. Semalaman kalian cuma bertengkar aja," ucap Tasya.


Dita setuju. Namun, Anan meminta Dita untuk menemui Arya dan Anta dulu.


"Janji ya nggak buat keributan?" tanya Dita pada suaminya.


"Janji, Bunda. Aku cuma mau ngobrol aja sama Arya. Mau nanya keadaan Arya habis koma rasanya gimana, sama apa nggak sama aku koma dulu, gitu," ucap Anan.


Mereka akhirnya setuju. Tasya dan Herdi memastikan kondisi empat anak kembar masih baik-baik saja dan membawa mereka untuk sarapan. Sementara Anan dan Dita memastikan kondisi Arya setelah bangun dari koma.


"Ayo antar aku ke sana!" Anan merangkul bahu Dita. Keduanya menuju ruang perawatan tempat Arya dipindahkan. Sesampainya di ruangan tersebut, Anta sedang menyuapi Arya dengan bubur. Keduanya menoleh ke arah Anan dan Dita yang baru saja tiba di ruangan itu.


"Ha-halo, Om Anan," sapa Arya dengan kepala menunduk sedikit.


Anan tersenyum lalu menghampiri Arya, dan ….


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Arya.


...*** Bersambung. ***...

__ADS_1


__ADS_2