Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
11. Tak Mau Mengikhlaskan


__ADS_3

Tuan Watanabe membawa Anta, Ria, dan Arga menemui tim SAR. Di sana sudah ada Pak Herdi dan Tasya begitu juga dengan si kembar. Mereka bertemu dengan Ken Matsumoto. Pria tinggi, tubuh tegap dengan rambut cepak itu menyambut kehadiran Anta dan yang lainnya. Dia menyambut dengan ramah. Namun, setelah Anta dan yang lainnya duduk, dia mulai memperlihatkan wajah tak enak.


"Begini, Nona Anta, saya dan tim sudah menyerah karena rasanya para kru dan penumpang Kapal Konoha sudah dipastikan tidak ada yang selamat," tuturnya dengan bahasa Inggris yang fasih.


"Nggak mungkin! Nggak mungkin! Anda pasti salah. Anda tak boleh berhenti. Anda harus kembali melakukan pencarian!" Anta masih bersikeras.


Dia lalu menghampiri Pak Herdi. Rupanya sejak kemarin pria itu sudah diberitahukan berita terburuk yang kemungkinan terjadi pada Arya. Hanya keajaiban Tuhan yang dapat menolong Arya.


"Papa Herdi, masa mau diem aja begini? Anta nggak bisa ketemu sama arwah Arya. Anta yakin Arya masih hidup," ucap Anta. 


Kedua mata sayu itu sudah tampak berkaca-kaca. Dia lalu memeluk Anta seraya menangis.


"Nggak bisa, Papa Herdi nggak boleh begini! Arya masih hidup, Pa! Papa Herdi, nggak boleh nyerah!" isak Anta.


"Maaf, Nona. Kami sudah berusaha sebaik dan sebisa mungkin dengan kekuatan yang kami kerahkan." Ken mencoba untuk memperjelas lagi.


"Nggak! Kamu nggak boleh bilang gitu!" seru Anta.


Tasya berusaha menenangkan Anta. Dia meminta Ria membawa gadis yang sudah berteriak histeris itu.


"ARYA! ARYA NGGAK MUNGKIN MATI KAN, MA?" pekik Anta berada di pelukan Tasya.


"Ikhlasin Arya, Nta. Kita juga udah pada ikhlas," isak Tasya.


Ria juga tak bisa menjawab Anta selain dengan tangisan. Dia hanya bisa memeluk sahabatnya dengan erat. 


Seseorang wanita dan seorang pria berlari dengan kencang menghampiri tubuh anak mereka yang sudah dipenuhi dengan darah. Jasadnya baru saja dievakuasi karena terjepit di bangkai perahu yang terhimpit di batu karang.


"Nini, Nini sayang kau akan baik-baik saja, Nak. Ibu janji kamu akan baik-baik saja." Wanita itu mendekap erat tubuh lemah tak berdaya yang sudah tak bernyawa itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan sang pria yang mendekap tubuh anak perempuan remaja berusia lima belas tahun itu. Keduanya lalu bergegas mengikuti anak mereka masuk ke dalam mobil ambulans. Semua orang yang melihat keduanya segera berlari mendekat. 


"Anakku, tidak mungkin meninggalkan ku, Yah. Nini tidak mungkin meninggalkan kita."


Tangis sepasang suami istri itu semakin kencang dan saling memeluk. Lalu, dia melangkah menuju ke tubuh putrinya yang hendak dimasukkan ke dalam mobil. Sang ayah mengambil alih tubuh putrinya yang sudah tanpa nyawa itu ke dalam pelukannya. Didekapnya dengan erat, diciuminya wajah pucat itu.


"Kau tahu kan, Sayang, Ayah sangat menyayangimu. Kami sangat menyayangimu, Nak." Ayahnya menangis sesenggukan. Sementara sang ibu sudah tak sadarkan diri.


Seorang tim SAR melapor pada Ken. Jasad gadis itu baru saja ditemukan nelayan. Maka, mereka makin bulat menyimpulkan kalau para penumpang yang lain cepat atau lambat pasti akan ditemukan meninggal. 


Tasya meminta Arga untuk menghubungi Anan. Pak Herdi sedang mengikuti Ken untuk mengurus surat kematian Arya. Mungkin esok akan diadakan upacara penghormatan terakhir di atas kapal. Para keluarga akan menaburi bunga ke laut demi menghormati sisa kru dan penumpang yang belum ditemukan.


...***...


Malam itu, Anta bermimpi.


Anta berada di rumah sakit. Dia melihat jasad Arya sudah ditangani. Selama para dokter menangani tubuh pemuda itu, Anta terus berjalan mondar-mandir dengan tubuh bergetar. 


Alat detak jantung itu menampilkan garis lurus. Para dokter sudah melakukan segenap upaya untuk mengembalikan detak jantung pemuda tampan itu. Tapi, semuanya sia-sia. Arya sudah tiada. Anta menangis histeris dengan menghampiri dan membawa tubuh Arya dalam pelukannya.


"Lepaskan, Nta. Ikhlaskan Arya," ucap Dita.


"Tidak, Bunda. Kita pindah rumah sakit. Arya bisa diselamatkan, dia pasti masih hidup, dia masih hidup, Bunda! Bilang sama dokter itu kalau Arya masih hidup." Anta masih bersikeras.


Anan menarik tubuh putrinya. Dia memeluknya dengan erat. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain hanya bisa menenangkan putrinya. Tuhan sudah mengambilnya kembali.


Sosok dengan balutan kain kafan itu sudah turun ke liang lahat. Anta menatap kosong ke jenazah sang kekasih. Dia duduk diam di sisi liang lahat, sedangkan Tasya dan Herdi masih dengan tangisnya menebarkan kelopak mawar merah setelah sosok pocong Arya terkubur di dalam tanah itu. 


Jasad sudah terkubur di dalam tanah. Tangis histeris makin terdengar mengiringi kepergian mendadak pemuda tampan, cuek, usil, dan periang itu.

__ADS_1


Kilasan-kilasan di hari terakhir Anta bersama Arya kala melihat semua ekspresi wajah sang kekasih terputar di memori. 


Seseorang mengguncang bahu Anta menyadarkan gadis itu dari mimpi pemakaman Arya. Anta langsung mendekap sosok yang ternyata Tasya itu.


"Mama Tasya!" pekiknya lalu terisak, "syukurlah cuma mimpi."


"Ayo, kita ikuti upacara larung buat Arya. Lalu, kita pulang." Tasya mengusap punggung Anta.


"Anta nggak mau pulang, Mama Tasya. Anta masih yakin kalau Arya masih hidup. Anta mau di sini dulu aja."


"Sampai kapan, Nta? Ikhlaskan Arya!" isak Tasya.


"Sebulan atau dua bulan sampai Anta yakin Arya meninggal. Sekarang Anta yakinnya dia masih hidup," tegasnya.


"Bunda Dita udah kasih izin, Tante. Semalam Anta nelpon Bunda sama Yanda-nya. Saya tetap di sini nemenin Anta," ucap Ria yang baru saja keluar dari kamar mandi penginapan itu.


"Anta emang keras kepala, ya, persis Dita." Tasya hanya bisa menghela napas dalam.


"Tante nanti kalau di Indonesia jangan bikin tahlilan, ya? Bikin pengajian buat doain Arya aja. Sekali lagi Anta tegasin kalau Arya masih hidup," ucap Anta lagi.


"Hmmm, baiklah. Mama Tasya nggak bisa menemani kalian di sini. Papa Herdi harus bekerja, dan si kembar harus sekolah." Tasya lalu pamit keluar dari kamar penginapan Anta dan Ria.


Anta meraih pigura pigura berisi foto sang kekasih lalu dia dekap erat. Anta masih sangat ingat senyum cerah sang kekasih. Sikap posesif dan protektif Arya sangat dia rindukan. 


Ria menatap lekat ke arah sahabatnya. Anta pasti belum bisa menerima ini. Arya masih sangat muda. Tujuannya adalah mencari uang yang banyak agar bisa menikah dan menghidupi Anta dengan berkecukupan. Sama dengan impian Arga pada dirinya. Namun, tak pantas rasanya menyalahkan Tuhan. Tuhan tak mungkin begitu tega mengambil Arya lagi kali ini. Tuhan belum menyatukan Arya dan Anta.


Anta tersadar dari lamunannya saat ada tangan halus menyeka air matanya. Sosok Ria berdiri di hadapannya. Mata bulatnya itu berkaca-kaca melihat sang sahabat menangis. Ria lalu memeluk sahabatnya dengan erat.


Anta berusaha keras untuk menghentikan tangisnya. Akan tetapi, dia kembali terisak saat melihat Arga yang berdiri mematung di pintu kamar penginapan yang terbuka itu. Pria itu juga sedih kehilangan sahabatnya. Dia sama hancurnya dengan dirinya. Arga bahkan tidak sanggup menatap wajah sembab Anta.

__ADS_1


...*** BERSAMBUNG ***...


__ADS_2