Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
74. Direstui


__ADS_3

"Kok, saya ditampar, Om?" tanya Arya seraya memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.


"Yanda, apa-apaan sih? Kenapa Arya ditampar?!" protes Anta.


Anan langsung memeluk Arya.


"Welcome to my family!" seru Anan. 


"Hah?" Arya menoleh ke arah Anta.


"Kalian mau menikah, kan? Ya udah kita siapkan pernikahan dari sekarang," kata Anan.


"Ah… Yanda! Anta sayang banget sama Yanda," ucap Anta yang langsung menghamburkan diri memeluk Anan.


Dita sampai menangis dibuat haru oleh sikap suaminya. Dia bergabung memeluk Anan yang sedang memeluk Anta dan Arya.


Pernikahan Anta dan Arya sudah dipastikan akan segera dilangsungkan.


***


Satu minggu berlalu…


Pukul satu siang, Anta yang ditemani Dita dan Tasya, memesan sepaket perawatan pengantin di sebuah salon wanita yang Tasya kenal.


"Ini salonnya, Nta, rekomendasi Bunda Tasya. Pokoknya malam Jumat besok, kamu harus tampil cetar membahana," ucap Tasya.


"Biasa aja lah, Tante. Anta kan cuma ke kantor KUA aja. Anta yakin kok, Arya akan selalu suka sama Anta yang apa adanya," sahut Anta.


"Tapi, kan, Yanda ngadain garden party juga, Nta, buat kamu," sahut Dita menimpali. 


"Ya ampun, Dita … si Anan tuh nggak modal banget, sih! Masa dia ngadain pesta buat anaknya di kebon pisang. Mana malam jumat lagi," sungut Ria.


"Kan biar menyatu sama alam, Sya. Kalau perkara malam Jumat mah kerjaan si Anta, nih!" Dita menunjuk ke aray putrinya. 


"Hehehe, Anta udah janji mau undang semua temen Anta, Bun." Anta meringis.


"Ya tapi harusnya Anta ngundang yang manusia aja, jangan para demit segala diundang!" Tasya sampai mencubit gemas pipi Anta.


"Sakit, Buntay!" pekik Anta.


"Bunda Tasya, jangan singkat jadi buntai!" seru Tasya.


"Udah jangan pada ribut! Nta, Ria sama Arga jadi ke sini?" tanya Dita.

__ADS_1


"Jadi, Bunda. Katanya dalam perjalanan ke sini," sahut Anta.


"Syukur deh kalau begitu."


Seorang pria gemulai yang memakai pakaian mini dan seksi menyambut kedatangan mereka. Dua gundukan silikon hasil operasi itu sengaja ditampakkan dengan belahan kaus V yang rendah tersebut. 


"Halo, selamat datang di Salon Lusayang Sayang milik aku!" sapa waria bernama Lusayang.


"Halo, Sayang!" sapa Tasya.


"Mana calon pengantinnya?" tanyanya.


Tasya lalu menunjukkan Anta, "Nih, anaknya." 


"Wuihhh, cantik ya!" Lusayang mencolek pipi Anta.


"Makasih, Om," sahut Anta seraya mengusap bekas colekan waria itu.


Dita sampai mencubit ujung siku Anta.


"Panggil Tante," bisik Dita.


"Oh gitu… makasih ya, Tante."


"Nggak apa kok. Kamu boleh panggil saya Om tapi kalau kodam saya lagi dateng," capnya dengan suara berat seorang pria lalu dilanjutkan dengan suara wanita yang ditahan di hidung, "kalau sekarang ya panggil aja, Tante Sayang."


"Kalungnya lucu banget, Say. Beli di mana?" tanya Tasya seraya menyentuh kalung untaian tulang itu.


"Oh, ini limited edition. Hanya orang-orang tertentu yang dapat pakai ini biar makin sukses. Kalau minat nanti saya pesankan, mau?" tanya Lusayang.


"Nggak usah, nanti aja kapan-kapan belinya. Aku harus hemat nih," sahut Tasya. 


Anta dan Dita saling menatap bergantian. Mereka punya pemikiran yang sama. Ada yang aneh dengan kalung yang dikenakan Lusayang. Kalung yang terbuat dari tulang itu bukanlah kalung biasa. Ada aura magis yang kedua perempuan titisan Ratu Kencana Ungu itu rasakan.


"Sebentar, ya, saya panggil para 


dayang saya dulu," ucap Lusayang lalu mempersilakan ketiga perempuan cantik di depannya untuk duduk.


Tak lama kemudian, tiga orang perempuan tulen dengan seragam batik datang menyambut. Mereka membawa pakaian ganti untuk Anta, Dita, dan Tasya. Ketiganya lalu dibawa ke ruangan perawatan. 


Anta mendapat pijatan dengan lulur pengantin di sekujur tubuhnya. Sedangkan Dita memilih lulur bengkuang dan madu Afrika, begitu juga dengan Tasya. Setelahnya dilanjutkan dengan mandi susu di sebuah bath tub yang penuh dengan mahkota bunga mawar merah dan kuning di atasnya. Tiba - tiba, sosok sekelebat bayangan melintas. Anta yang menuju ke samping ibunya, lalu berbalik badan.


"Kenapa, Nta?" tanya Dita.

__ADS_1


"Perasaan ada yang lewat, Bun," sahut Anta.


"Wah, jangan-jangan tempat ini ada hantunya kayak Bunda ke salon dulu sama Tante Dewi," ucap Dita yang ikut mengamati sekelilingnya 


"Ada kayaknya, Bun. Tuh, lagi ngintip dari atas situ!" Anta menunjuk ke arah ventilasi. Sosok hantu pria menyerupai wanita mengintip dari celahnya.


Dita menoleh ke tempat yang ditunjuk Anta. Namun, hantu itu sudah menghilang. Dita lantas meminta Anta untuk tak acuh saja. Ketiga perempuan itu lalu lanjut diberi pijatan dengan massage oil yang menenangkan. Setelahnya, mereka dipersilakan untuk berendam.


"Yuk, pada berendam!" ajak Tasya.


Terdengar suara benda berjatuhan di atas permukaan air tempat mereka akan berendam.


"Apaan, nih?" tanya Tasya.


"Kayaknya ada belatung deh, Tante." Anta menoleh ke atas tepat di langit-langit, hantu laki-laki yang menyerupai wanita itu sudah menempel di langit-langit tersenyum. Dia menyeringai ke arah tiga perempuan tersebut. Seorang terapis wanita yang baru saja masuk, tiba - tiba bisa melihatnya.


"Aaaaaaaaaaaaaa...." Terapis tersebut langsung tak sadarkan diri kemudian.


"Yah, yah, dia pingsan!" Anta langsung menggotong wanita itu bersama Dita dan Tasya.


"Heh, turun kamu! Ngapain kamu ngintip-ngintip?!" tantang Dita.


Hantu waria itu melayang turun lalu tertawa menyeringai.


"Kalian nggak takut sama aku, Cyin?" tanyanya.


"Hidih, siapa juga yang takut sama kamu!" seru Anta.


"Dih, ini kuntilanak kayaknya bencong, ya?" Tasya sempat melirik ke arah hantu itu tetapi tak jadi melihat karena takut. Dia berpura-pura sibuk menepuk-nepuk pipi terapis yang pingsan tadi. 


"Sembarangan aja! Kalau aku nggak keburu mati, aku pasti udah cantik, seksi, montoksss. Si Lusayang itu pasti kalah saing sama aku. Lagian ini kan salon punyaku," ucapnya. 


Dita dan Anta langsung tertawa, sedangkan Tasya masih mencoba menjaga jarak dan menahan napas karena bau busuk yang menyeruak.


Anta dan Dita sepakat untuk mencari tahu kisah kematian hantu waria itu. Keduanya berada di depan salon tersebut. Ada garis kuning polisi. Seorang reporter wanita tengah memberikan berita eksklusifnya di depan TKP.


"Pemirsa News TV 999, seorang waria ditemukan tewas di ruangan salon yang dikelolanya, di Blok Lima Jalan Melati pada pagi hari. Diduga kematian korban bernama Suyanto alias Yanti yang berusia tiga puluh satu tahun itu, tewas akibat overdosis setelah mengkonsumsi obat sakit kepala yang dibelinya di warung."


"Ih, gue bukan overdosis, ya! Gue dihabiskan, Cyin… eh dihabisi maksudnya!" Yanto berusaha menjambak rambut sang reporter tersebut.


"Sabar, Tante, jangan marah-marah," ucap Anta.


"Kok, kalian bisa sih ke masa lalu aku?" tanyanya.

__ADS_1


Dita dan Anta hanya saling tersenyum.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2