
"Ketiduran dari mana, Pak?! Mulutnya Bu Sajiku itu berbusa, woi! Terus di tangannya ada botol yang berisi racun serangga. Air dalam botol sampai menggenang di lantai." Yuna melihat terlihat kesal.
"Bunuh diri maksudnya?" tanya Arya.
Yuna menjawab dengan anggukan kepala pertanyaan Arya barusan.
"Ruangan itu langsung ramai, Pak.
Ada yang menangis juga. Mereka juga ketakutan, sama lah sama aku takutnya pas lihat peristiwa tragis itu. Pihak sekolah lalu membawa mayat Ibu Sajiku menuju rumah sakit. Setelah itu hantunya Bu Sajiku mendekam di ruang musik dan tak pernah keluar," ujar Yuna.
"Jadi, jangan-jangan suara yang lagi main piano tadi, suaranya hantu Bu Sajiku, dong?" tanya Arya.
"Ya iya lah! Suara siapa lagi memangnya, Pak. Makanya aku ngajak Pak Asahi untuk buru-buru pergi dari situ."
Tak lama kemudian, salah satu staf guru memanggil Arya agar segera bergegas.
"Oke, Yuna, terima kasih atas informasi yang nggak penting ini. Saya mau pamit dulu, ya." Arya tanpa rasa bersalah meninggal Yuna yang larut dalam kegeraman.
"Hiiiiih, nyebelin banget guru satu itu!" pekik Yuna.
...***...
"Hai, Yuasa! Sini ikut aku!" Hanako muncul tiba-tiba dan menarik tangan gadis itu. Dia membawanya ke toilet murid perempuan.
"Ayo, kita ke sini! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Santai saja Tak usah sungkan," ucap Hanako.
"Le-lepaskan cengkramanmu, Hana," lirih Yuasa ketakutan.
Sesampainya di dalam toilet, Hanako mendorong tubuh Yuasa dengan keras sampai jatuh terjerembab.
"Ups, padahal aku hanya mengabulkan permintaanmu untuk lepas.
Yuasa meringis, menunduk ketakutan dan tak mau menatap Hanako. Pada saat Hanako mendorong tubuh Yuasa ke dinding toilet pasti terasa sakit sampai berbunyi saat tubuh gadis itu membentur dinding toilet.
"A-apa, apa salahku, Hana?" Yuasa terbata-bata berusaha untuk bangkit, tetapi Hanako menekan punggungnya dengan kaki kanan agar tetap membungkuk.
"Aku tak suka dengan apa yang kau lakukan pada Asahi-ku. Bisa-bisanya kau beri dia bekal makanan, hah?"
"A-aku, aku hanya mempromosikan masakan ibuku. Itu juga kulakukan sebagai tanda perkenalan selamat datang," ucap Yuasa mencoba membela diri.
"Hah? Ucapan selamat datang? Perkenalan masakan ibumu? Lalu kau pikir Asahi akan menyukai masakan ibumu lalu pergi ke kedai ibumu dan menjadi langganan, begitu? Cih, murahan sekali caramu itu!" pekik Hanako.
__ADS_1
"Ma-maaf, maafkan aku Hana. Aku tak menyangka reaksimu akan seperti ini." Yuasa mulai menyeka bulir bening yang berjatuhan di lantai kala dia menunduk itu.
"Hmmm, jadi tahu, kan, apa salahmu sekarang?" tanya Hanako dengan tatapan tajam seperti singa betina yang hendak melahap mangsanya.
Yuasa mengangguk seraya menangis sesenggukan. Ibunya sangat galak dan selalu memarahinya. Namun, berhadapan dengan gadis seperti Hanako ternyata membuatnya sangat ketakutan. Hanako lebih menakutkan daripada ibunya yang galak menurut batin Yuasa.
Saat itu, Yuki diberitahu oleh temannya Yuasa kalau dia melihat Hanako membawa Yuasa ke kamar mandi. Yuki bergegas menghampiri, tetapi mendadak dia hentikan langkahnya di depan toilet. Meskipun ayahnya pemilik sekolah, tetapi jika berhadapan dengan Hanako dan keluarganya sangatlah mengerikan.
Yuki dan teman Yuasa tadi hanya bisa mencuri dengar di depan toilet. Sementara itu, Yuasa didorong ke dalam bilik toilet. Hanako memaksanya dengan membekap mulut gadis itu. Wajah Hanako yang cantik dengan senyum bak malaikat itu seketika bagaikan iblis nan bengis.
"Aku ingin kau menyegarkan diri dengan mencuci otakmu, Yuasa Sayang," lirih Hanako lalu memasukkan kepala Yuasa ke dalam kloset.
Dia tekan tombol flush agar airnya mengalir dan berputar di wajah Yuasa. Berkali-kali, Hanako mencelupkan wajah Yuasa ke dalam toilet.
"A-aku, aku tak akan berani melakukannya lagi, Hana! Lepaskan aku!" Yuasa mencoba mencari oksigen untuk dia hirup.
Hanako menatap gadis yang sudah menangis pilu itu penuh ancaman.
"Dasar gadis murahan!"
Bugh!
Hanako membenturkan dahi Yuasa ke tepi kloset dengan kencang. Yuasa tak sadarkan diri kemudian. Hanako lalu mencuci tangan di wastafel dan melangkah keluar dari toilet perempuan.
"Biarkan dia di sini! Kalian pergilah, jangan ikut campur!" ancam Hanako melangkah pergi.
"Kita harus bilang pada ayahmu, Yuki. Hana benar-benar keterlaluan," bisik Minasa.
Namun, Yuki malah meminta Minasa menuju kelas meninggalkan Yuasa. Gadis itu juga diperingatkan agar tidak mengadu ke pihak guru maupun penjaga sekolah. Apalagi pada ayahnya karena hanya akan sia-sia. Hana buka saja akan membuat musuhnya sengsara di sekolah, tetapi juga membuat keluarganya ikut sengsara.
"Ayo, kita pergi dari sini, Minasa. Kita sebaiknya turuti perintah Hanako," ajak Yuki.
"Ta-tapi, Yuki—"
"Minasa, tinggalkan dia!" perintah Yuki pada gadis itu.
Terlukis senyum kepuasan di wajah Hanako kala dia selalu berhasil menguasai sekolah. Seolah ada yang bisa dia luapkan dengan menjadi perisak di sekolah. Rasa trauma yang dia sembunyikan pada dirinya itu seolah menguar.
...***...
Arya melihat beberapa murid membopong tubuh Yuasa ke ruang kesehatan sekolah saat hendak pulang. Rasa penasaran membuatnya melangkah menuju ruang kesehatan sekolah.
__ADS_1
"Hana baru saja berulah," bisik Yuna sampai mengejutkan Arya.
"Astaga, Yuna!" Arya memegangi dadanya sendiri seolah menahan jantungnya tak melonjak keluar rongga dada.
"Hehehe, maaf ya, Pak." Yuna meringis.
"Apa yang Hana lakukan, memangnya?" bisik Arya kala beberapa murid melintas melihatnya dengan aneh.
"Dia menghajar Yuasa di toilet karena Anda," bisik Yuna lalu bergegas menghilang saat melihat Hanako datang menghampiri Arya.
"Hei, kau mau ke mana?!" Arya mencoba menahan Yuna.
"Aku mau mengajakmu pulang. Tapi apa sebaiknya kita pergi ke taman bermain saja?" tanya Hanako.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Arya balik bertanya.
"Boleh, asal temani aku ke taman bermain," pinta Hanako.
"Baiklah."
Sementara itu di ruang kesehatan sekolah.
"Yuasa, maafkan aku karena membiarkanmu celaka tadi," bisik Minasa yang duduk di samping ranjang Yuasa sambil mengamati tubuh kawannya itu dengan saksama.
"Tak apa," jawab Yuasa seraya menatap langit-langit ruangan. Dokter jaga sedang mengobati luka di dahi gadis itu.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Minasa lagi.
"Tenanglah, Mina. Tidak ada yang terjadi apa-apa ke padaku. Kami hanya saling berbincang," jawab Yuasa dengan datar.
"Aku masih tidak mengerti. Tapi, buktinya kau terluka," ucap Minas mencoba mengorek informasi lebih dalam.
"Aku hanya jatuh terpeleset lalu dahiku membentur toilet." Yuasa mencoba menyembunyikan keadaan. Dia tak ingin Minasa ikut terlibat dan dimusuhi oleh Hanako.
Hening sejenak, lalu Yuasa buka suara.
"Mina, sepertinya aku akan pindah sekolah," ucap Yuasa.
"Hah? Bukankah sekolah lain jaraknya cukup jauh? Kau harus naik kapal menuju ke sana, dan–"
"Mina, tolong jangan tanya apa-apa lagi." Yuasa menghentikan ocehan Mina. Membendung air mata yang mulai menggenang itu.
__ADS_1
...*** Bersambung ***...