Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
43. Ritual Terakhir


__ADS_3

Hanako melihat sebuah ruangan yang besar. Di dalamnya terdapat meja panjang dengan beberapa kursi kosong. Tak ada siapa pun di tempat tersebut. Semua terasa sunyi seolah mereka semuanya menghilang.


Hanya Hanako seorang. Di atas meja terdapat sebuah piring yang terdapat daging mentah berwarna kehitaman. Hanako langsung sumringah sampai terhuyung saat melihatnya. Gejolak rasa lapar yang sudah menyiksa dirinya perlahan-lahan mulai kembali.


Dengan nafsu yang sudah tak dapat ditahan lagi, Hanako langsung mendekat. Ia melangkah sebelum kedua kakinya benar-benar kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Namun, gadis itu tidak pernah menyerah. Keinginan untuk menghilangkan rasa lapar yang sudah menyiksa dirinya selama ini sudah tak terbendung lagi.


Hanako bahkan merangkak sejengkal demi sejengkal sampai berhasil mencapai meja. Ia berdiri dengan menahan beban tubuhnya, sebelum menatap daging mentah yang ada di atas meja. Tanpa membuang waktu lagi, gadis itu mulai melahap habis, merobek serat daging yang berwarna kehitaman.


Tak lagi rasa jijik pada daging mentah yang bahkan mulai membusuk itu. Tak ada lagi khawatir perihal rasa yang ada di dalam daging. Padahal selama ini, Hanako merupakan gadis kaya raya dan pemilih saat makan.


Gadis itu benar-benar seperti seseorang yang sedang dirasuki iblis. Bahkan ketika gadis itu sudah melahap habis daging yang tersaji di atas piring, rasa lapar itu tak kunjung menghilang. Hanako bahkan menjilati permukaan piring berharap hal itu bisa sedikit mengurangi rasa dahaganya. Tapi semuanya terasa sia-sia belaka.


Saat itulah dari arah pintu, Hanako mendengar seseorang melangkah masuk. Kakek Hoki datang bersama Nyonya Micin. Mereka berdiri menatap gadis itu dengan ekspresi wajah yang datar. Rasa marah mulai menghinggap, Hanako ingin menyerang keduanya.


Namun, sebelum dia bereaksi dengan kedua orang yang sedang menyiksa dirinya, Kakek Hoki mendekatinya. Ia menyentuh pipi Hanako sebelum berkata kepadanya, "Maafkan Kakekmu ini, Hana. Maaf, sampai harus melakukan ini kepadamu."


"Kakek tega! Apa yang Kakek inginkan dariku?!" pekik Hanako sekuat tenaga yang tersisa.


"Dengar, Hana, hanya ini satu-satunya cara yang tersisa untuk membuatmu siap menjadi media sang ratu dan pemilik Yagi. Kau akan menggantikan posisiku menjadi penguasa Pulau Ju."


Hanako tak lagi perduli dengan kata-kata yang keluar dari mulut pria tua itu. Saat ini yang ada di dalam kepala gadis itu hanya lah menghabisi sang kakek. Pria paruh baya itu mulai membuatnya jengkel. Bagaimana bisa seorang kakek tega melakukan ini pada cucunya? Pria ini menyebabkan rasa lapar yang tak tertahankan lagi.


Namun, sebelum Hanako mencengkeram leher Kakek Hoki, dengan gerakan yang cepat sang kakek langsung menghunuskan sebilah belati yang tadi berada di belakang punggungnya. Kakek Hoki menusuk tepat di perut Hanako sampai gadis itu akhirnya tak sadarkan diri.


"Maaf, Hana… sebentar lagi kau akan menyatu dengan sang ratu." Kakek Hoki menoleh pada Nyonya Micin.


"Siapkan ritual kebangkitan sang ratu. Kita sambut kedatangannya segera!" ujarnya.


"Baik, Tuan Hoki." Nyonya Micin tersenyum dengan puas.


...***...


Di rumah sakit tempat Arya dirawat. Anta dengan setia menemani kekasihnya. Panggilan ponselnya berdering. Dita menghubungi Anta dengan menggunakan video call.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Bunda!" sapa Anta.


"Walaikumsalam, gimana keadaan Arya?" Dita dan Anan sedang berebut untuk masuk frame kamera ponsel tersebut.


"Baik, Bunda. Kata dokter kondisi Arya pulih dengan cepat. Cuma kepalanya masih suka sakit katanya," tukas Anta.


"Pukul lagi aja pakai tongkat baseball, nanti Yanda yang pukul kalau perlu," sahut Anan.


"Astagfirullah, punya ayah mertua sadis banget," celetuk Arya.


"Heh, pede banget elu! Siapa yang mau jadi ayah mertua elu. Berantem mulu gue besanan sama si Herdi," tukas Anan yang sampai dipukul bahunya oleh Dita.


"Tasya sama Pak Herdi lagi jalan ke sana, ya, baru aja berangkat buat jemput kalian. Si Fasya sama Disya ada di sini sama Dira dan Adam," ucap Dita.


"Ya udah kalau gitu."


Ria dan Dion datang menyapa.


"Halo, Om! Halo, Tante! Apa kabar?" sapa Dion.


"Baik, Tante." Dion melambaikan tangannya.


"Ya ampun, itu kutu kupret satu kenapa ada di situ? Makin bikin saya nggak tenang aja ngebiarin Anta sama kunyuk macam kalian," ucap Anan menatap tajam ke arah Dion.


"Yanda, nggak boleh gitu." Dita berusaha menenangkan Anan.


"Saya nggak gangguin Anta kok, Om. Tapi kalau Anta mau gangguin saya–"


"Apa elu! Macam-macam sama cewek gue awas aja—" Arya menarik pakaian Dion dan hendak memukulnya, tetapi Anta langsung menahannya.


"Udah ah, jangan mulai lagi! Ini rumah sakit, jaga ketenangan. Yanda, Bunda, udahan dulu, ya. Nanti Anta sambung lagi." Anta menutup sambungan ponsel itu.


Ken datang bersama Kapten Conan.

__ADS_1


"Hoka sudah tertangkap, tetapi kakeknya dan Hanako menghilang belum ditemukan," ucap Kapten Conan.


"Anta, tadi saya udah jelaskan ke Kapten Conan mengenai kemampuan kamu. Dia mau minta bantuan kamu untuk menemukan korban-korbannya Hoka dan mencari tahu bagaimana mereka bisa meninggal. Mau kan?" tanya Ken.


"Oke, Anta bisa bantu." Gadis itu mengangguk yakin.


"Baiklah kalau begitu… apa kita bisa mulai dari sekarang?" tanya Kapten Conan.


"Boleh." Anta mengangguk setuju.


"Aku ikut, ya?" pinta Ria yang ingin berdekatan dengan Ken.


"Hmmm, ya udah deh." Anta setuju lantas pamit pada Arya untuk mengikuti Ken.


"Lah, aku sama siapa yang nunggu?" tanya Arya.


"Sama Kak Dion, lah! Anta mohon ya, Kak, tolong jagain Arya, please…." Anta melayangkan wajah memelasnya.


"Ummm, sebenarnya sih…."


"Gue juga males ya dijagain sama elu!" sungut Arya.


"Arya! Kali ini nurut sama Anta. Kamu yang anteng ya sama Kak Dion. Anta nggak lama, kok. Nanti kalau udah selesai urusannya Anta segera balik ke sini." Gadis itu lalu pamit meninggalkan Arya dan Dion yang saling menatap tajam.


...***...


Hanako terbangun dari pingsannya. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan karena tusukan belati tadi. Gadis itu berusaha bangkit dan memuntahkan isi perutnya. Sejak dirinya sadar dari siuman, Hanako mulai menjerit, membentak, serta mengutuk sang kakek. Gadis itu masih berusaha mempertahankan diri agar tak dikuasai oleh sang Ratu Masako.


Tangan dan kakinya terikat sehingga dia tak dapat bangkit. Rasanya dia ingin membiarkan dirinya melahap habis jantung milik Kakek Hoki di saat nafsu lapar sedang memenuhi isi kepalanya. Hanako mulai membenci kedua orang tersebut.


"Kita masih harus bersabar, satu ritual untuk melengkapi ritual lain sedang dia lakukan," ucap Kakek Hoki mengamati Hanako dari balik kaca ruangan bersama Nyonya Micin.


"Sepertinya aku harus melakukan ini," ucap Nyonya Micin.

__ADS_1


Wanita itu lalu meraih sebilah belati milik Kakek Hoki. Dia meraih sapu tangan untuk dia gigit. Lalu, menggunakan belati itu mengiris lengannya sendiri. Membelah daging lengannya lalu merobeknya. Nyonya Micin mencengkeram segenggam dagingnya lalu masuk ke dalam ruangan tempat Hanako disekap.


...*** Bersambung ***...


__ADS_2