Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
30. Cerita dari Yuki


__ADS_3

Bab 30 PI


Penemuan mayat dengan kondisi tubuh tak utuh itu menghebohkan pihak panitia penyelenggara Lomba Kapal Layar. Namun, para panitia berusaha menutupi agar turis tak takut dan tetap datang ke Pantai Pulau Ju.


Sosok hantu pria yang Arya temukan itu ternyata suami dari Saori. Keduanya lantas berpelukan sampai Saori mengangkat tubuh bagian atas suaminya yang terbelah tiga itu saat berpelukan. Sebenarnya, Paman Mito dibunuh oleh Endo dan Hoka karena memiliki bukti rekaman pembicaraan pembunuhan terhadap bandar judi.


Hoka ingin menguasai tempat perjudian tersebut. Namun, Mito ketahuan oleh Endo sehingga dihabisi dan mayatnya dibuang ke tebing setelah dibuat tak utuh.


Saori dan Mito berterima kasih pada Anta dan Arya. Keduanya lalu pamit. Mereka menghilang.


***


Yuki berada di Pantai Ju bersama ayahnya. Dia berdoa pada laut yang telah menenggelamkan ibunya. Laut yang membawa ibunya pergi sehingga tak ditemukan saat terjatuh dari perahu layar. Mata lentik itu berkedip menatap langit jingga. Udara senja di Pantai Ju semestinya menyejukkan, apalagi pada saat matahari terbenam. Namun, yang Yuki rasakan saat ini berbanding terbalik dengan ketenangan yang seharusnya dia dapatkan.


"Tolong aku," bisik rintihan yang muncul dari belakang. Terdengar begitu dekat, sedekat denyut nadi di leher yang denyutnya hampir tak bisa dia rasakan saat ini.


"Apa ayah dengar itu?" Yuki menoleh pada ayahnya.


"Memangnya kau dengar apa?" tanya Tuan Takura.


"Ada yang meminta tolong," ucap Yuki.


Tuan Takura Simitzu hanya tersenyum menanggapi. Pria itu lalu kembali ke mobil yang terparkir jauh dari pantai.


"Jika sudah selesai, cepat kembali ke mobil!" titahnya.


"Baik, ayah."

__ADS_1


Yuki lantas memutar badan untuk melihat ke belakang, ke kanan, ke kiri, bahkan ke segala arah untuk mencari sumber rintihan misterius itu. Tiba-tiba, Yuki melihat sosok bayangan seorang perempuan. Kulitnya bengkak dan tampak busuk. Benar-benar tidak terbayang akan seperti apa bau yang menguar dari kulit tak mulus itu. Rambutnya terombang-ambing, mengikuti arah ombak yang bergerak ditiup angin.


"Tolong aku." Dia kembali memohon dengan suara lirihnya. Kali ini rintihan suara itu menjauh. Entah menghilang bersama ombak di laut yang tersiram senja, atau tenggelam ke dasar laut yang menghitam.


Pikiran Yuki entah berada di mana, dia tak sadar kan diri kemudian.


Malam harinya di rumah Yuki, tubuh gadis terbaring di atas kasur. Gadis itu bermimpi, dia merasa tak bisa menggerakan tubuhnya.ungkin karena bengkak yang sepertinya berasal dari balik telapak kaki kanannya. Padahal sebelumnya tidak terasa dingin. Namun sekarang dingin. Lama kelamaan Yuki merasa menggigil, lalu menyadari bahwa dia sedang mengapung sembari dibanting ke sana ke sini oleh ombak yang ganas pada senja hari itu.


Pikiran Yuki pun melayang mulai panik. Konon kata orang yang pernah bertemu dengan roh halus, jika mendengar suara rintihan dari kejauhan, berarti roh halus itu berada sangat dekat denganmu bahkan lebih dekat sekitar lima sentimeter dari ragamu. Namun sebaliknya, ketika mendengar suara yang begitu dekat, berarti roh halus itu berada begitu jauh darimu.


Yuki menyesali pemikirannya barusan. Kenapa dia jadi kepikiran seperti itu di saat begini. Yuki memantapkan hati harus fokus, dan menyelamatkan diri. Dia mengeluh dalam hati begitu menyadari tempatnya berada saat ini.


"Kumohon tolong aku." Suara itu muncul sekali lagi. Yuki bisa saja menolongnya, tetapi kaki kananku yang saat ini berada di bawah air laut terasa seperti dililit oleh tali. Ya, Yuki sangat sadar kalau dia berada di lautan yang dua harap hanya sebatas mimpi.


Yuki tersentak kala mendapati kakinya sepertinya ada yang menarik dengan erat dari kedalaman yang tak terbaca. Yuki berusaha untuk terus mengapung, mengerahkan seluruh tenaga kepada kedua tanganku yang memar. Segalanya terasa kebas, seperti dipukul menggunakan sesuatu yang keras.


Kembali ia mengedipkan mata. Terasa pedih. Rasa perih yang Yuki rasakan kali ini disebabkan oleh garam air laut yang sepertinya sengaja menusuk retina. Yuki terus terombang-ambing dalam ketidakpastian. Hingga akhirnya di tengah pekat dan dinginnya udara menjelang malam, Yuki bisa melihat sebias cahaya terang.


"Kenapa, Yuki?" Terdengar suara serak sang ayah.


Ayahnya Yuki paham kalau yang introver satu itu bakal tidak bisa tidur lagi setelah diganggu tidurnya. Sang ayah menguatkan gadis itu setelah kembali sadar dari alam mimpinya. Yuki memeluk ayahnya seraya sesenggukan.


Yuki menceritakan kalau dia diganggu oleh makhluk tak kasat mata?"


Sembari masih memeluk ayahnya. Yuki tak tahan jika mimpi itu terus menghantuiku akhir-akhir ini. Padahal, sudah empat tahun sejak terjadi insiden tersebut. Akan tetapi, kenapa mimpi tentang insiden itu datang lagi?


Anehnya, yang Yuki lihat dalam mimpinya adalah sosok perempuan, yang bahkan tidak dia kenal. Mirisnya tak ada yang menemukan. Jasadnya di atas perairan lautan luas tanpa batas, dan bisa menimpa orang yang berbeda.

__ADS_1


Perempuan dalam mimpi Yuki itu menyebutkan namanya sambil meringis kesakitan. Rambutnya panjang, dan perempuan itu sepertinya memakai gaun berwarna gelap yang tidak terlalu jelas karena terendam air laut.


Yuki mencoba mengingat karena sepertinya dia ingat bahwa perempuan itu mirip dsngan sepupunya. Soson itu menyebutkan namanya samar-samar, tetapi tiap kali Yuki terbangun, dia selalu lupa nama yang telah disebutkannya.


Yuki tak henti-hentinya merintih dalam hati. Sepertinya dia memang harus bercerita para Arya. Jika curhat ke ayahnya, Yuki nanti malah diberi wejangan yang panjang tak berujung.


Sesampainya di sekolah, Yuki mulai mencari Arya. Yuki mengoceh langsung ke Arya padahal sifat Yuki lebih tertutup dan suka pilih-pilih teman cerita. Karena alasan itulah, dia memutuskan untuk mengeluarkan unek-unek kepada Arya.


Arya membawa gadis itu untuk menemui Anta. Dulu sebelum kenal dengan para manusia indigo, Yuki kerap menghabiskan waktu di Pantai Ju untuk menikmatai sejuknya udara di pesisir. Dia juga ber-surfing ria pada pagi hari


Namun kali ini, Yuki tampak ketakutan.


Yuki bertemu dengan Anta. Dia menceritakan para gadis itu soal hantu wanita yang mengganggunya di Pantai Ju. Yuki yakin kalau itu Miyako, kakak tirinya. Anta terkejut kala mengetahui kalau Miyako adalah kakak tirinya Yuki.


"Apa ini ada kaitannya dengan kematian para gadis di pulau ini? Orang yang sama yang menghabisi mereka?" gumam Anta.


"Bisa jadi. Temannya Yuna juga tewas di pantai. Tapi, orang sekitar bilang ayahnya yang bunuh. Ayahnya juga sampai dirawat di rumah sakit jiwa karena stres. Masa iya ayahnya yang bunuh?" terka Arya.


"Tunggu, bagaimana Pak Guru tau tentang Yuna? Bukannya dia sudah meninggal?" Yuki menyentuh bahu Arya.


"Ummm, itu… saya anu… duh, gimana bilangnya ini." Arya salah tingkah.


"Bapak lihat hantunya Yuna di sekolah?" tanya Yuki.


Arya menoleh pada Anta.


"Akui saja." Anta mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, iya saya lihat hantunya Yuna," jawab Arya.


...*** Bersambung ****...


__ADS_2