
Herman mulai merasa kesal seraya berpikir.
"Kucing itu kenapa, sih? Apa dia mau minta makan, ya?" gumamnya.
Herman kembali membuka tirai. Namun, anak itu terburu-buru dengan maksud hendak menghardik kucing hitam usil tadi. Alangkah terkejutnya pria itu ketika mendapati sosok yang berada di balik jendela bertubuh tinggi dan terbalut kain kafan yang kotor oleh tanah. Kain kafan itu menutup seluruh tubuh kecuali bagian wajah.
DUARRR!!!
Tiba-tiba, suara petir menggelegar mengejutkan Alvin dan membuat anak itu menangis. Hal yang langsung membuatnya menjadi tambah ketakutan. Herman segera menenangkan Alvin. Keduanya berbaring di atas kasur. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Herman tak mau kalau Alvin sampai melihat penampakan seperti pocong yang mengerikan tadi.
Kisah malam itu akan menjadi kisah yang tidak bisa dia lupakan hingga kini. Malam itu berhasil membuat Herman terjaga hingga listrik kembali menyala. Begitu keadaan rumah kembali terang, dia pun baru bisa tertidur lelap.
...***...
Keesokan harinya, wanita bernama Vivi itu datang dan berusaha mendekati Alvin. Kebetulan hari itu, Alvin sedang bermain bersama Dira dan Adam di rumah Dita.
"Alvin, Tante Vivi bawa kue nih buat kamu," ucapnya seraya menunjukkan kotak kue lapis legit kesukaan Alvin.
Awalnya Alvin merasa ragu, tetapi aroma kue itu terasa enak dan lezat merasuk ke dalam indera penciumannya. Tiba-tiba, Dira mendekat dan sengaja menumpahkan kue tersebut.
"Kue na 'ndak enak! Banyak latungnya hiiyyy," ucap Dira.
"Eh, kamu ya nggak sopan banget sama Tante. Dasar anak kurang ajar!" Vivi mencubit pipi Dira dan menariknya kencang sampai anak itu menangis.
Adam segera masuk ke dalam rumah untuk melaporkan tindakan Vivi pada bundanya. Kebetulan Raja yang baru pulang sekolah masuk ke dalam halaman rumahnya dan mendapati adiknya sedang dicubit oleh Vivi. Langsung saja Raja menarik tangan wanita itu.
"Eh, apa-apaan ini?! Kamu apain adik saya?" hardik Raja.
Dita keluar bersama Adam dengan tatapan marah dan kesal.
__ADS_1
"Dia tumpahin kue yang saya bawa buat Alvin. Dia bilang kue saya nggak enak ada belatungnya. Jelas-jelas ini kue mahal baru saya beli di toko kue ternama tadi," jawab Vivi dengan ketus. Wanita dengan tinggi 170 cm dan kulit sawo matang serta rambut keriting sebahu itu merasa kesal dengan hardikan Raja.
"Maaf kalau anak saya tumpahin kue kamu, mungkin dia nggak sengaja," ucap Dita seraya memeluk Dira.
Raja memungut kue lapis tersebut yang tampak baik-baik saja. Namun, Adam juga menunjuk ke kue yang di tangan Raja kalau kue itu ada belatungnya. Pemuda itu sempat melirik ke arah Dita. Dia yakin penglihatan Dira dan Adam tidak bohong. Ada yang tak beres dengan kue lapis legit yang dibawa Vivi untuk Alvin. Sementara itu, Alvin malah meringkuk di sudut. Dia jadi merasa takut dengan Vivi karena sudah berani mencubit Dira di hadapannya.
"Ini kuenya saya balikin!" Raja menyerahkan kue yang dia pungut dan dia masukkan kembali dalam kotaknya.
"Buat apa kue bekas gini?! Kamu aja yang makan situ! Jorok banget, sih! Memangnya aku gembel mau makan kue bekas jatoh gitu," ucap Vivi dengan ketus.
Dita lantas mengulurkan tangannya ke arah Vivi.
"Maafkan kelakuan anak-anak saya," ucap Dita.
"Bunda!" Raja tak terima jika bundanya harus minta maaf pada perempuan menyebalkan di hadapannya itu.
"Maafkan saya," ucap Dita lagi tanpa mengacuhkan Raja.
Ada senyuman ketus di wajah Dita yang sebenarnya sengaja ingin menyentuh tangan Vivi. Titisan sang Ratu Kencana Ungu itu berniat melihat masa lalu Vivi.
...***...
Dita masuk ke dalam dimensi waktu milik Vivi. Dia berada di sebuah tempat yang asing. Dita merasa kalau kemungkinan dia masih berada di perkampungan tempat tinggal Herman dan Siti sebelum pindah ke seberang rumahnya.
Dita berada di sebuah halaman rumah yang ia yakini itu adalah rumah yang Herman dan istrinya sewa. la melihat Siti sedang menyiapkan keperluan untuk suaminya berangkat bekerja. Wanita itu tampak buncit perutnya. Pastilah Bu Siti sedang mengandung Alvin. Sosok perempuan yang mirip Vivi tampak mengintip di kejauhan dengan wajah geram.
"Mas, nanti pulang kerja tolong belikan aku nasi goreng seafood di pertigaan dekat pabrik, ya," pinta sang istri sembari memberikan tas kerja suaminya.
"Iya, Sayangku. Mas pergi dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Jaga anak kita baik-baik," ucap Herman lalu mengecup kening dan kedua pipi chubby istrinya. Dia juga mengecup perut buncit Siti yang tengah mengandung kala itu.
__ADS_1
Siti mengantar suaminya hingga ke depan pintu. Herman kembali pamit pada istrinya sebelum dia menaiki motor scoopy matic miliknya. Situ menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Tampak dari kejauhan Herman juga melihat Vivi yang sedang berdiri mengamati dirinya dan istrinya. Sempat papasan, Herman menyunggingkan senyum pada Vivi. Wanita itu tampak salah tingkah dan buru-buru mendekati para ibu yang sedang mengobrol sambil menunggu tukang sayur yang melintas.
Gerobak tukang sayur mendekat, Siti juga ikut mendekati suara khas sang tukang sayur. Penjual pria berkumis tebal itu langsung dikerumuni oleh para ibu yang menunggunya sedari tadi. Vivi berjalan mendekati Siti yang tengah sibuk memilih sayuran.
"Kamu Siti, ya, istrinya Mas Herman?" tanya Vivi tiba-tiba.
Siti dan para ibu menatap ke arah Vivi dengan heran. Ternyata wanita itu bukanlah penduduk asli perkampungan Kali Hitam.
"Ya saya Siti, istrinya Mas Herman. Ada perlu apa, ya?" jawab Siti yang selalu berusaha ramah pada siapapun.
"Kamu itu ... dasar perempuan tidak tau malu," ucap Vivi dengan kedua mata membulat dan menunjuk kasar ke arah Siti.
"Mbak ini ngomong apa, ya? Kok, datang-datang langsung tunjuk-tunjuk saya?" Siti mencoba menghindar.
"Kamu itu pelakor. Kamu itu sudah merebut calon tunangan saya tau!" pekik Vivi.
"Tunggu dulu, maksud kamu itu Mas Herman suami aku yang kamu bilang calon tunangan kamu?" tanya Siti.
"Siapa lagi kalau bukan dia! Pria yang saya bicarakan itu ya Mas Herman. Gara-gara kamu menikah dengannya, dia menjauhiku dan tidak mau lagi berhubungan denganku tau!"
"Lho, maaf ya sebelumnya, saya tidak kenal sama kamu. Ya, mungkin saja kamu punya masalah sama suami saya terdahulu. Ya, tapi maaf. Kamu bisa langsung mencari dia jangan datang pada saya. Lagipula saya dan Mas Herman memang dijodohkan, tapi dia bilang dia nggak punya pacar sebelum menikahi saya," tutur Siti menjelaskan.
"Sudah aku bilang ya, sejak dia menikahi kamu. Dia sudah tidak mau lagi bertemu dan menemaniku lagi. Kalau saja kamu nggak nikah sama dia, dia sudah jadi suami aku.," imbuhnya dengan penuh kegeraman.
"Itu masalah kamu dan dia, mengapa bawa-bawa aku. Lagipula dia suami aku, wajar saja dia menjauhi kamu," sahut Siti mulai bernada kesal.
"Udah, Ti, jangan diladenin! Mungkin dia pelakor yang ingin mengadu domba kamu dan suami kamu," ucap Ibu RT setempat membela Siti.
__ADS_1
"Tapi, Bu…."
...*** Bersambung ***...