
"Ra-Ratu Masako?"
"Iya, Hana Sayang."
"Jadi saya ditumbalkan oleh orang tua saya sendiri?"
Wanita itu menggeleng.
"Bukan ditumbalkan, Nak. Justru kamu diselamatkan," tuturnya.
Hanako masih menggeleng berusaha memproses informasi ini. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
Nyonya Micin hanya tersenyum.
"Saya akan memberitahumu sesuatu, mungkin ini akan sedikit mengganggu.
Apakah kamu masih ingat di mana kamu tinggal dulu?" tanya wanita itu.
Hanako sejenak berpikir, ia terdiam lama.
"Di mana aku tinggal dulu? Kenapa memangnya? Astaga, bagaimana aku lupa di mana dulu pernah tinggal sebelum kematian ayah dan ibuku?"
Hanako menatap Nyonya Micin. Dia benar-benar tak bisa mengingat dengan jelas ingatan saat atau sebelum orang tuanya meninggal.
'Ada apa ini? Apakah itu berarti dirinya benar-benar dihilangkan memorinya oleh Kakek Hoki? Tapi kenapa?'
Wanita itu kembali melihat Hanako.
"Sekarang jawab lagi, apa alasan Kakek Hoki tetap membayar biaya sewa rumah di Hokaido? Tempat dirimu tinggal dulu. Padahal, dirimu sendiri tahu bahwa kau sudah tidak lagi tinggal di sana?"
Hanako terdiam, tiba-tiba dirinya sadar.
__ADS_1
"Rumah di Hokaido? Apa itu rumahku yang dulu? Benar juga, untuk apa kakek tetap membayar semua biaya itu? Kalau untuk Kak Hoka, Bukankah sudah lama dia lulus dari kampus itu? Kami juga tak pernah kembali ke sana." Hati Hanako bergejolak.
Nyonya Micin itu kembali tersenyum sebelum mendekati sosok yang disebut Yagi. Ia lalu berkata, "Menurut Yagi, kakekmu itu sedang menyembunyikan sesuatu di sana. Sesuatu yang teramat sangat penting yang membuat kami sempat murka dan melakukan hal ini kepadamu."
Hanako termangu mencoba kembali mengingat hal itu. Namun semakin keras ia mencoba mengingat-ingat, semua itu terasa sia-sia belaka. Hanako lalu menatap wanita itu dengan sorot curiga.
"Tunggu dulu, untuk apa And mengatakan hal ini ke padaku?"
Wanita itu lantas menjawab dengan percaya diri, "Tentu saja menuntunmu, menuntun dirimu menuju takdir besar. Takdir di mana kamu akan bertemu sang ratu."
Sosok Yagi lalu berdiri dari tempatnya tidur. Dia menyibak tirai sehingga bisa melihat Hanako menjerit. Sosoknya berkepala kambing, tinggi, dengan kedua tangan memanjang.
"Hidupmu akan mudah mulai sekarang," katanya sembari mengulurkan tangan melambai meminta Hanako agar mendekat.
Hanako tercekat melihat penampilannya. Apakah yang ada di hadapannya ini benar-benar jelmaan iblis atau malah monster.
"Ke mari, Nak!" katanya dengan suara yang berat.
Sejenak, Hanako menatap ke arah Nyonya Micin yang mengangguk seakan-akan mempersilakan kepada Hanako agar menuruti apa kata Yagi untuk mendekatinya. Gadis itu mendekat, ia bisa merasakan tangan Yagi yang berbentuk jemari panjang dengan ujung kuku tajam tengah membelai rambutnya.
"Tapi, karena Matsumoto tak kuat menahan, kita harus percepatan kebangkitan ini, Yagi!" seru Nyonya Micin.
Hanako hanya bisa diam sembari terus mendengarkan. Telapak tangannya terasa dingin. Cukup lama mereka saling terhubung satu sama lain. Entah mengapa tiba-tiba kepala Hanako terasa ditekan oleh sesuatu. Yagi menatap Mira dengan satu bola matanya yang berwarna hitam pekat. Sampai akhirnya Hanako menoleh melihat wajah Yagi yang tengah tersenyum menyeringai kepada dirinya.
Yagi melepas tangan Hanako. Ia memberi tanda kepada Nyonya Micin yang kemudian mulai menanggalkan satu per satu kain yang menutupi tubuh Yagi. Di sana Hanako tersentak saat melihatnya. Tubuh manusia sosok Yagi terlihat hancur lebur seperti korban dari kobaran api. Kakinya jauh lebih pendek bila dibandingkan dengan tubuhnya, kedua tangannya yang kurus kering, panjang, dan kuku tajam itu, membuat Hanako tak sadarkan diri kemudian.
"Hmmm, letakkan dia di meja persembahan," kata Yagi pada Nyonya Micin tiba-tiba.
"Inilah akibat bila manusia kalap dengan warna yang begitu hitam. Yagi dahulu adalah salah satu dari orang yang pernah menjaga tempat suci untuk Ratu Masako. Meskipun ia tidak terlibat langsung, terutama saat kejadian ketika wanita bernama Aiko menguasai saat menjaga tempat itu sebagai juru kunci.
Pertarungan antar saudara terjadi. Nenek dari Hanako merupakan adik dari Aiko. Yagi memilih untuk membantu Nenek Akiko, neneknya Hanako. Namun, Yagi tak kuat. Di dijadikan sosok Yagi berikutnya. Sosok seperti anjing peliharaan yang harus menurut pada sang ratu.
__ADS_1
Yagi juga tahu tentang keturunan Aiko yang memiliki seorang istri sempurna di mata makhluk gaib. Keturunan mereka lah yang kelak akan diincar untuk menyempurnakan kekuatan Ratu Masako.
"Ibumu telah gagal menjaga sesuatu yang sudah diwariskan lewat generasinya. la gagal memenuhi janjinya sebagai seorang penjaga. Setelah ini hidupmu akan terasa semakin sulit. Kamu tidak akan bisa mengendalikan diri sendiri. Sangat sangat sulit sampai kamu sendiri akan berpikir lebih baik mati saja. Dan ketika saat itu tiba, maka pilihan itu akan muncul. Takdir yang selama ini kau pikul di atas bahumu akan dipertaruhkan," kata Nyonya Micin saat meletakkan Hanako di atas ranjang persembahan. Nyonya Micin lalu menemui Kakek Hoki.
"Tinggalkan cucu Anda di sini. Biarkan kami yang akan menjaga dia. Sedangkan dirimu, pergilah ke tempat di mana kamu bisa memberi persembahan lainnya. Tuntaskan tugas Anda sebelum semua terlambat," kata Nyonya Hanako.
"Baik, Nyonya." Kakek Hoki mengangguk lalu pamit undur diri dari Rumah Suci.
Wanita itu melihat wajah Yagi sebelum mengangguk, mengerti. la lalu mengatakannya di telinga Hanako yang masih tak sadarkan diri.
"Selamat, Nak, kau menjadi yang terpilih. Jemputlah takdirmu." Nyonya Micin mengusap kepala Hanako dengan lembut.
...***...
Di sebuah ruangan tempat Arya disekap.
"Bangun!"
Seseorang berteriak ke arah Arya. Pemuda itu mengerjap saat tubuhnya disiram air dingin. la merasakan seluruh tubuhnya sakit dan perih. Arya juga melihat seorang gadis yang dia kenal, Yuki.
Gadis itu berada di depannya dengan tubuh diikat tali, tangan ke belakang, dan dalam keadaan mengenaskan. Ada darah menggenang di area kakinya. Sepertinya sesuatu telah terjadi padanya. Wajah Yuki tampak pucat pasi dan tercium bau busuk menguar dari ruangan 2 x 3 meter itu.
Arya menatap sosok pria berbaju hitam di depannya. Apakah ini sosok yang sama dengan yang semalam memberi tenor di depan rumah Ken? Tapi siapa? Apakah dia yang selama ini Arya curigai dan membencinya? Endo membuka topeng di wajahnya.
"Sudah aku duga. Dasar pengecut! Apa yang kamu lakukan pada Yuki?" bentak Arya.
Dia sudah tak kaget lagi melihat sosok di depannya. Orang itu adalah Endo, kaki tangan dari Hoka. Dan mungkin saja sebentar lagi, Hoka akan menyusul ke tempat itu.
"Apa perlu kujelaskan kenapa kalian ada di sini?" tanya Endo dengan tatapan nyalang. la pun menarik rambut Yuki hingga gadis itu tersadar dari pingsannya. Saat melihat Arya, Yuki langsung menangis dan menjerit histeris.
"Pak Guru! Tolong saya!"
__ADS_1
"Tolong?" tanya Endo, "Nggak akan ada yang bisa menolong kalian dari sini. Kalian akan mati membusuk di sini!" Endo tertawa terbahak-bahak.
...*** Bersambung ***...