Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
58. Keluarga Tak Kasat Mata


__ADS_3

Arya merasa tidak yakin dengan keadaan saat itu. Terlebih lagi saat dia mendengar suara seperti tulang patah dari dalam perut wanita hamil tersebut. Dia menahan napas kengerian di dirinya. Kepercayaan diri Anta yang semula ada dengan cepat menguap begitu saja.


"Neng, tunggu apa lagi?" tanya Pak Rudi cemas. 


"Bentar, Pak. Ga, ini gimana?" tanya Anta seraya berusaha menguasai diri terlebih dahulu.


"Aku googling dulu," bisik Arga.


"Ada gitu dokter mau bantu pasien googling dulu, hadeh….!" cibir Arya.


Arga, Ria, bahkan Anta langsung menatapnya dengan sorotan mata tajam.


"Hehehe." Arya meringis.


Perlahan Anta mendekati istri dari Pak Rudi yang bernama Liya. Rudi sudah bersimpuh di samping Anta seraya memegangi tangan istrinya. Arga menunjukkan layar ponsel pada Arga. Video proses wanita melahirkan secara normal terlihat di sana. Anta dan Arga mengamati sejenak. Lalu, keduanya mengangguk.


"Aku siap, Nta, kamu siap?" bisik Arga.


"Oke, Anta siap. Toh, ibunya juga udah jadi hantu, jadi tetep mati juga, kan? Yang penting kita keluarin anaknya," bisik Anta.


"Arya sama Ria kalau nggak kuat mending minggir!" titah Arga.


"Aku kuat, Sayang. Insya Allah," sahut Ria.


"Gue juga kuat, kok, tenang aja." Arya berucap dengan yakin.


"Oke, Ibu Liya, sekarang harap tenang dan rileks, ya. Atur napas juga, yuk!" pinta Anta meminta Ibu Liya untuk tetap tenang dan menghirup udara secara teratur. 


"Baik, Neng." Liya tersenyum.


"Kalau Anta bilang dorong, Ibu ngeden sekuat tenaga, ya?" 


Liya mengangguk menanggapi Anta.


Anta sempat tersentak kala menyentuh kepala belakang Liya. Dia merasa ada darah kering pada luka yang menganga tersebut. Namun, masih tertutup rambut yang menutupi luka.


"Yuk, dorong Bu! Ayo, mulai sekarang Bu!" seru Anta.

__ADS_1


Liya lantas mengejan sekuat tenaga. Telinga Anta sampai terasa ngilu saat mendengar suara tulang bergemeretak. Arga bersiap menyambut kedatangan sosok bayi dari arah depannya meskipun kedua matanya tertutup. 


Begitu juga dengan Ria yang memilih menutup mata tak mau melihat proses melahirkan di depan kedua matanya. 


Brug!


Ria jatuh tak sadarkan diri kemudian kala melihat proses melahirkan di depan matanya kala itu. 


"Yah, ngapa cewek luh mala pingsan, Ga!" 


"Angkat dia dulu, Ya. Biar ini gue sama Anta yang urus!" titah Arga.


"Okelah kalau gitu." Arya bergegas mengangkat tubuh Ria.


"Siap, Nta?" Arga menoleh pada Anta.


"Oke!"


Di luar rumah, Arya meletakkan Ria di sebuah kursi kayu yang usang.


Sosok hantu Marina datang mengejutkan.


"Hai, ganteng! Butuh bantuan?" tanyanya.


Saat Arya menoleh pada wajah wanita itu, sang wanita malah mengedipkan satu matanya menggoda Arya.


"Hadeh, ganjen banget luh! Jangan genit gitu! Geli gue liatnya. Nih, elu jagain temen gue dulu, ya. Gue mau bantu di dalam," ucap Arya meskipun ada ketakutan yang terasa. 


"Ternyata enak ya jadi Silla. Temannya cowok-cowok cakep. Pantes dia betah di rumah manusianya," tukas Marina.


"Udah pokoknya jagain dia yang bener.  Nanti gue kenalin sama pocong ganteng, deh. Namanya Doni," ucap Arya.


"Ih, jangan bohong! Masa ada pocong ganteng. Lagian emangnya aku satpam apa suruh jagain ini cewek." Marina mengerucutkan bibirnya. 


Arya tak mengindahkan, dia berlalu menuju ke arah Arga dan Anta yang sedang berjibaku dalam proses persalinan gaib.


Anta menghela napas panjang lalu kembali memandu hantu Liya hingga akhirnya wanita itu berteriak-teriak dan sebuah kepala mulai keluar dari selangkangannya. Arga sampai tak mau menoleh ke arah wanita melahirkan itu.

__ADS_1


"Terus Bu, tarik napas yang dalam kemudian embuskan!" kata Anta menyemangati.


Teriakan kembali terdengar dari Liya sampai melengking. Kali ini Arya yang baru datang langsung menutup telinganya karena merasa ngilu.


"Nah, benar begitu, Bu. Dikit lagi nih!" seru Anta.


Setelah melihat proses melahirkan pada ponsel Arga, gadis itu mulai memberanikan diri. Apalagi tadi sempat melihat oara mahasiswi baru diminta untuk makan siang sambil melihat proses melahirkan di ruangan sebelah yang hanya dibatasi oleh kaca transparan. Beberapa di antaranya banyak yang mual dan tumbang. 


Akhirnya setelah kurang lebih dua puluh menit berlalu, bayi itu terlahir sepenuhnya. Bu Liya lantas terlihat keletihan di pembaringan. Anta meminta tolong pada Pak Rudi untuk membersihkan darahnya sebelum dia menjahit luka pada sosok hantu tersebut. Akan tetapi, luka itu sudah kembali seperti semula. Tak ada luka di sana. 


Anta lalu membawa bayi yang masih terbungkus darah ke pembaringan yang satunya untuk membasuhnya. Tali pusarnya masih menjuntai.


Anta melihat bayi tersebut tenang-tenang saja. Bahkan anak itu tidak menangis. Saat Anta mengguncang-guncang bayi itu beberapa kali, mulut bayi itu terbuka lebar dan mengeluarkan tangisan bayi terkeras yang pernah dia dengar. Suaranya melengking memekakkan telinga. 


Anta lantas menyerahkannya pada Pak Rudi karena tangisan itu sampai membuatnya menutup telinga, begitu juga dengan Arya dan Arga. Setelah bayi itu tenang, Anta meminta Pak Rudi meletakkan bayi itu di atas ranjang samping ibunya untuk dibedong. Betapa terkejutnya dia kala bayi itu sudah bisa membuka mata. Namun, matanya terlihat  putih semua. Tidak ada pupil sama sekali. Anta lalu menatap Pak Rudi dan tak kalah terkejutnya ketika gadis itu mendapati mata pria itu juga tidak memiliki pupil.


Anta lalu menoleh pada Raja dan mulai memperhatikan sekitar. Bu Liya juga  


memiliki bola mata serupa. Hantu wanita itu sudah bersih dari darah. Dia lalu berdiri menghampiri Anta.


"Neng, tolong dipotong tali pusarnya. Saya ingin segera menyusui anak saya," katanya lembut.


Anta hanya mengangguk meskipun berusaha mengacuhkan tatapan kosong tanpa pupil bola mata yang tertuju padanya di ruangan itu. Anta meraih pisau lipat milik Arya. Dia lalu menyentuh tali pusar bayi yang masih menangis dengan lantang itu. Tiba-tiba, tangan Pak Rudi terulur ke lengan Anta. Kulitnya pucat dan kuku kukunya yang panjang menyentuh lengan gadis itu sehingga menimbulkan sensasi yang mengerikan.


"Maaf ya, Neng, kami tidak bermaksud menakuti. Kami hanya butuh pertolongan Neng. Setelah ini kami berjanji akan kembali dengan tenang," ucap Pak Rudi dengan suara berat sambil menghentikan tangan Anta.


"Tenang aja, Pak. Anta udah terbiasa bertemu dengan kaum kalian."


Perlahan Anta memotong dan mengikat tali pusar bayi itu meskipun tubuh sang bayi dihinggapi belatung. Bau busuk juga tercium. Kemudian, gadis itu meneruskan membasuh badan bayi dengan mata tanpa pupil dan terlihat pucat yang baru lahir itu. 


"Ih, lucunya … sehat terus ya, Dek," ucap Anta. 


"Sengklek cewek, luh! Lucu dari mana?" bisik Arga pada Arya.


"Gue juga heran. Anak setan kayak gitu seremnya, dibilang lucu." Arya menyahut. 


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2