
Hanako sontak merasa marah, dia tak suka diperlakukan seperti itu. Tangannya ditarik paksa keluar dari mobil. Gadis itu mencoba menepis. Dia ingin berteriak dan memaki. Namun, sebelum melakukan hal itu, tiba-tiba wanita dengan kimono itu mengancam dengan kata-kata yang tajam, "Jika kau menolak, aku pastikan kalau wajahmu tak akan cantik lagi."
Tiba-tiba tubuh Hanako serasa membeku tak dapat berbuat apa-apa. Seakan wanita itu baru saja menyihir dirinya dengan kata-kata tajam tadi. Hanako melihat ke arah kakeknya yang mengangguk dan tersenyum. Seolah dia meminta Hanako untuk tunduk.
Gadis itu melihat ke sekeliling mobil, tiba-tiba tempat ini sudah dipenuhi oleh banyak wanita yang lain. Sebagian besar dari mereka melihat Hanako dengan ekspresi bengis. Arisa, asisten sang kakek, juga sudah berganti pakaian memakai kimono. Tatapan matanya datar.
Paman Kenta mendekati Hanako, seakan melindungi dirinya dari kepungan wanita-wanita itu. Ia bahkan berbisik, menyatakan tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini. Dari belakang, tiba-tiba seseorang mendekati sosok Kakek Hoki lalu berkata kepadanya, "anak ini sudah ditunggu oleh sang ratu."
Hanako yang mendengar penuturan itu, sempat menatap ke arah kakek yang berjengit, menganggukkan kepala. Hanako juga menoleh ke arah Paman Kenta. Pria itu juga benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Ia bahkan tak diberitahu mengenai perihal mereka ke sana.
"Kau siap menyerahkan cucumu, kan?" tanya wanita yang memakai kimono dan bertudung hitam.
Kakek Hoki menoleh pada Hanako, lalu mengangguk, "Jika Matsumoto sudah membebaskan Yagi itu, aku harus bilang apa? Yang jelas aku tak ingin dia menguasai Yagi itu. Pindahkan ke tubhh cucuku!" titah Kakek Hoka.
"Paman, bagaimana ini?" Mira terlihat panik.
"Turuti saja, Nona. Sepertinya kau akan aman jika menurut," bisiknya.
Awalnya Hanako menolak tawaran dari wanita yang melihat dirinya dengan sorot mata tenang tersebut. Namun, tatapan dari mengintimidasi ke arahnya, membuat ia akhirnya tak punya pilihan lain. Hanako berjalan mengikuti tepat di belakang wanita itu, menyusuri teras rumah.
"Semalam aku bermimpi kalau kau akan mampir ke rumah ini. Lalu, aku juga bermimpi akan ada seseorang yang membawa kekuatan maha dahsyat untuk Ratu. Apa itu mungkin saja cucu Anda, Tuan Hoki?" tanyanya yang berjalan beriringan dengan Kakek Hoki.
"Hmmm, aku memang mempersiapkannya untuk sang ratu." Kakek Hoka sempat melirik ke arah Hanako.
"Begitu rupanya. Tapi jika gagal, kau siap dengan risikonya, kan?" tanya wanita yang bernama Micin Hime, seraya tetap berjalan menuju pintu.
"Aku tau. Nama cucuku adalah Hanako Takurugi. Dia pasti siap menyandang kekuatan itu." Kakek Hoka tersenyum bangga.
__ADS_1
Wanita itu menoleh sembari tersenyum tipis menatap Hanako yang sebenarnya merasa tidak nyaman saat mendengarnya.
"Aku dipersiapkan untuk apa? Menerima kekuatan apa?" tanya Hanako dalam hati
Mereka melewati pintu kayu yang digeser. Tiba-tiba Hanako terhenti, Micin Hime menoleh ke arah Hanako yang sedang berdiri diam. Tepat saat melewati pintu tersebut, sekujur tubuhnya mendadak saja merinding.
Gadis itu merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan di dalam rumah kuno ini. Sesuatu yang benar-benar gelap bersemayam di dalam kediaman asing ini. Dada Hanako terasa sesak. Ia menatap Nyonya Micin yang masih melihatnya dengan tenang.
"Tenanglah, Nak, ini masih belum seberapa. Seharusnya tidak berpengaruh pada kamu yang seharusnya lebih sakti dari ini," ungkapnya.
Hanako tertegun.
'Apa maksudnya? Sakti?'
Keringat dingin mengucur di pelipis.
"Mari, ikuti saya!" Nyonya Micin mempersilakan Hanako untuk masuk lebih dulu.
"Sekarang, sudah tiba waktunya bagi dirimu untuk tahu. Kau tahu, Cucuku tersayang, embusan angin barat yang gelap sudah mulai datang. Kakek yakin akan terjadi sesuatu yang dahsyat," ucap sang kakek.
"Aku pun tak sabar, Tuan Hoki. Aku saja sampai tidak bisa tidur berhari-hari karena darah yang sudah menetes telah memanggil sang ratu, yang perlahan akan menyebarkan kekuatan abadinya pada kita." Wanita itu kembali berjalan setelah mengatakan hal itu.
Hanako menahan nyeri di dadanya yang semakin lama terasa semakin menyakitkan. Tak hanya rasa sakit yang tiba-tiba muncul, gadis itu juga mencium bau amis dan anyir darah dari sudut-sudut rumah.
Di sepanjang jalan, Hanako akhirnya mencoba untuk mengabaikan semua ini. la melihat banyak pintu yang terbuat dari kayu yang dapat digeser khas pintu rumah Jepang zaman dahulu.
Di lorong yang panjang nan gelap, si wanita masih menuntun Hanako. "Tahan sedikit lagi, Nak, sebentar lagi kita akan sampai."
__ADS_1
Dari pintu-pintu kayu tersebut, beberapa kali Hanako mendengar suara jeritan yang memekikkan telinga.
"Kek, itu suara apa?" Hanako semakin ketakutan. Pasalnya Paman Kenta yang selalu melindunginya berada di luar. Hanya dia dan Kakek Hoki yang mengikuti Nyonya Micin.
"Tak usah kau hiraukan, Nak," kata si wanita. Namun, Hanako sudah terlanjur penasaran.
"Kek, tempat apa ini sebenarnya?" Hanako menoleh ke arah kakeknya.
Pria paruh baya itu menghela napas panjang sebelum berkata, "Rumah Suci Sang Ratu."
Hanako mengerti sekarang, jadi di sini tempatnya. Tempat di mana banyak orang datang untuk mencari penyucian diri. Tempat untuk mencari kesembuhan lewat dari jalan gaib untuk sebagian orang yang mulai hilang harapan pada kesembuhannya. Rumah yang diperuntukkan bagi korban - korban perdukunan. Kakek juga kerap melakukannya pada beberapa warga desa. Namun, Hanako baru tahu kalau pusat Kakek Hoki dengan para pengikutnya ada di rumah itu.
Meski sudah diberitahu, rasa penasaran masih menggoda Hanako. la ingin melihat orang-orang ini dengan mata kepala sendiri. Hanako bahkan tergoda untuk membuka salah satu pintu, tetapi Nyonya Micin melarangnya.
"Pintu yang ingin kau lihat sebelah sini," ucapnya. Perlahan, tangan wanita itu bergerak menyentuh gagang pintu sebelum menggesernya perlahan lahan.
Di sana, di dalam ruangan yang gelap, Hanako melihat sebuah ranjang kosong dengan seorang wanita sedang duduk di atasnya. la duduk dengan posisi membelakangi pintu. Hanako tertuju melihat wanita tersebut. Ia hanya diam, diam, dan terus diam. Sampai akhirnya sesuatu mengerikan terjadi.
Tubuh wanita itu perlahan - lahan bergerak, memutar tubuh bagian atas dari pinggang seratus delapan puluh derajat. Hanako memekik ngeri melihat bagaimana tubuh si wanita tersebut bisa berputar seperti itu. Kini, wajah wanita itu menatap kosong ke arah Hanako. Ia menyeringai.
"Nyonya Matsumoto, ada di sini rupanya," ucap Kakek Hoki.
Wanita mengerikan itu langsung menoleh ke arah Hoki Takurugi.
"Hoki sialan! Kembalikan anak-anakku!" Wanita yang wajahnya berlubang mengerikan itu mulai merangkak dengan tangannya.
Dia ingin menerjang Kakek Hoki. Namun, kedua kakinya terikat rantai dan tak dapat bergerak. Hanako yang masih ketakutan mencoba mengingat wajah wanita tersebut. Wajah yang mirip dengan seseorang yang pernah dia kenal.
__ADS_1
"Di-dia, dia mirip Yuna," lirih Hanako.
...*** Bersambung ***...