Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
9. Rahasia Keluarga Ketua Desa


__ADS_3

"I-iya, saya Mibabi. Anda siapa, ya?" tanya wanita itu.


"Saya Endo, asisten rumah tangga Tuan Hoka. Dia meminta saya untuk menjemput Anda, Nona," tukasnya.


"Oh, baiklah." Tanpa perasaan curiga, Mibabi mengikuti Endo masuk ke dalam mobil tersebut. 


Mereka sampai di sebuah rumah mewah di atas bukit di pesisir pantai. Mibabi mendapati Tuan Hoka duduk seraya membaca buku.


"Kau anak Ibu Mina?" tanya Tuan Hoka, pemilik rumah tersebut. Suaranya terdengar hangat dan ramah.


"Iya, Tuan. Anda pasti Tuan Hoka Takurugi," sahut Mibabi.


"Hmmm, tunjukkan kamarnya, Pak Endo!" titah pria berwajah tampan dengan lesung pipi tetapi tampak dingin itu. Tubuhnya tinggi, kurus seperti pemadat, dan berambut panjang sebahu yang sedang dikuncir satu. Usianya sekitar dua puluh lima tahun.


"Baik, Tuan. Mari, Nona Mi ikut saya," ucap Pak Endo.


Seminggu bekerja di rumah tersebut tak ada sesuatu yang aneh terjadi. Semua baik-baik saja. Tuan Hoka juga jarang terlihat. Namun, malam itu semuanya berbeda. Tuan Hoka masuk ke kamar Mibabi. Pria itu terlihat berbeda. Suaranya menjadi kasar dan lebih berat.


Mibabi terkesiap begitu melihat wajah Hoka makin mendekat ke arahnya. Pria itu memaksakan sebuah kecupan yang mendarat di bibir ranum milik Mibabi. Gadis itu kemudian menutup matanya. Dia merasakan tubuhnya seperti melayang ke udara saat sentuhan demi sentuhan itu dia rasakan.


Hawa dingin semakin terasa sampai ke tulang. Anehnya, seharusnya jika dia disentuh lelaki secara paksa seperti itu untuk pertama kalinya, dia akan merasakan kemarahan. Akan tetapi, saat itu dia hanya terdiam dan menjadi penurut.


"Astagfirullah! Waduh, ini nggak bisa Anta lihat!" pekik Anta yang mencoba menarik tubuh Hoka dari Mibabi tetapi tidak bisa.


Mibabi dirudapaksa oleh pria itu. Namun, saat melakukannya, Hoka menghujani tubuh sang gadis dengan tikaman bertubi-tubi. Gadis itu tewas terbujur kaku bersimbah darah. Hoka meninggalkan Mibabi begitu saja lalu pergi menaiki mobil Mercedes Benz miliknya ke arah pantai. Dia berenang di pantai tersebut tanpa sehelai benang pun.


Endo terbelalak kala mendapati jasad Mibabi sudah tak bernyawa. Kepanikan melandanya. Dia berlari menuruni bukan menuju rumah pemujaan tempat Tuan Hoki, kakek dari Hoka tinggal. Dengan panik dia menceritakan kalau Hoka telah membunuh asisten rumah tangganya.


Tuan Hoki bersama kaki tangannya yang bernama Arisa Suzuku terperanjat. Pria paruh baya itu memintanya untuk tenang. Arisa, wanita seksi dengan dandanan dan pakaian layaknya bintang panas karena ukuran dada yang besar itu, pergi menuju dapur. Dia membawakan teh herbal lalu meminta Tuan Endo untuk meminumnya. 


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Endo," ucap Tuan Hoka.


Endo seperti terhipnotis, lalu mengangguk. Pria itu kembali ke kediaman Tuan Hoka. Menguburkan jasad Mibabi di belakang penginapan tempat Anta menginap. Lantas, dia menggorok lehernya sendiri. Bayangan Anta lalu memudar. Gadis itu kembali ke dunia nyata. 

__ADS_1


...***...


Anta langsung terjerembab mundur ke belakang saking kagetnya. Arga langsung merespon gadis itu. 


"Makasih, Ga." Anta berusaha berdiri tegak. Dia lalu menunjuk ke arah sosok Ria yang masih kerasukan.


"Kenapa, Nta? Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Arga mulai panik.


"Aku nggak apa-apa. Tapi gadis itu, dia mati karena dibunuh sama anak ketua desa ini," ucap Anta lalu menceritakan Pa yang dia lihat pada Arga.


"Ketua desa di sini? Tu-tuan, Tuan Hoki?" tanya pemilik penginapan dalam Bahasa Inggris yang ternyata sudah menyimak sedari tadi tanpa Anta dan Arga sadari.


"Sejak kapan Anda di sini?" tanya Arga.


"Se-sejak saya merasakan kehadiran Nona Mibabi," tuturnya.


"Jadi, Anda tahu kalau teman saya kerasukan arwah Mibabi?" tanya Anta.


Anta baru sadar kalau pemilik penginapan itu mirip dengan Pak Endo.


"Apa Anda mengenal Tuan Endo? tanya Anta.


"Dia kakak saya. Apa Nona Mibabi memperlihatkan kematian dia dan kakak saya?" tanyanya.


"Iya," jawab Anta seraya mengangguk.


"Lupakan semuanya. Amankan diri kalian. Tak ada yang berani berhadapan dengan ketua desa. Semuanya mati," ucapnya ketakutan.


"Tapi, kebenaran harus terungkap, Tuan Watanabe. Mibabi akan terus bergentayangan di penginapan karena belum tenang," tukas Anta bersikeras.


"Biarlah. Saya tak ingin kehilangan nyawa saya dalam waktu dekat. Begitu jug dengan Anda, bukan? Lupakan kejadian yang Anda lihat tadi." 


"Lalu, bagaimana dengan Hoka dan Hoki itu? Anda akan membiarkan mereka berkeliaran bebas setelah membunuh?" tuding Arga.

__ADS_1


"Mibabi dan kakak saya bukan orang pertama yang mati. Masih banyak korban lainnya. Tapi kami hanya diam. Jika kami nekat bahkan pergi dari pulau ini, maka kami mati," ucapnya seraya berbisik dan ketakutan.


"Kalian harus segera pergi dari sini!" Hantu Mibabi buka suara.


"Kenapa? Kenapa kita harus segera pergi dari sini? Anta masih cari Arya, pacar Anta," tanya Anta.


"Kalian harus pergi dari sini! Hoka itu jahat! Dia iblis!" pekik Mibabi yang kemudian  bergerak mundur dan menempel di dinding kamar. Makin lama makin naik sampai kepala Ria membentur atap. 


"Eh, eh, mau diapain badannya Ria? Jangan kayak gitu, dong! Nanti kalau badan dia jatuh terus luka-luka kan kasian!" Arga berusaha mencegah Mibabi untuk naik.


"Bener, Mi, jangan kayak gitu sama tubuhnya temen Anta. Tolong ya kamu ke luar dari tubuhnya Ria sekarang. Nanti kita selesaikan masalah ini," pinta Anta.


"Nggak akan bisa selesai. Hoka dan keluarga selalu bisa berdalih dan selamat. Kalian harus pergi dari sini!" pinta Mibabi. 


"Oke, kita akan pergi dari sini. Lalu kalau kita pergi dari sini, kamu akan bebaskan tubuh Ria, kan?" tanya Anta.


"Aku butuh tubuhnya untuk membunuh Hoka!" serunya.


"Heh, kamu bilang nggak akan bisa selesai terus kenapa kamu bilang mau membunuh Hoka?" pekik Arga yang mulai kesal dan mencoba menarik kaki Ria agar turun perlahan.


"Aku akan membunuhnya terserah mau berhasil apa tidak!" pekik Mibabi lagi.


"Kau tak akan bisa keluar dari sini, Nona Mi. Ruang lingkup mu hanya di sekitar penginapan," tukas Watanabe.


Anta mencoba menarik tangan Ria agar turun. Mibab sudah membawa tubuh sahabatnya itu mendekat ke dekat lampu hias.


"Kok, jadi kayak spiderman gini, sih? Ayolah turun! Nanti si Ria kesetrum," pinta Anta.


"Nta, dia mah enak udah mati kalau kesetrum nggak akan sakit lagi, lah si Ria belum mati nanti kalau dia kesetrum malah mati gimana? Dia belum aku nikahi, Nta," ucap Arga seraya menunjuk ke arah tubuh yang menempel di langit-langit kamar itu.


"Bentar, Ga. Anta mau maksa dia dulu buat lepasin Ria." Anta menatap ke arah Mibabi dengan tatapan tajam.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2