
"Kayaknya Masayu suka ada di sini," ucap Anta.
"Siapa Masayu?" Arya sampai mengernyitkan dahi.
"Nanti kamu juga tau."
Anta dan Arya menyusuri pantai sesuai gambaran yang Arya ingat sedikit demi sedikit. Banyak rumah warga setempat yang dijadikan sebagai tempat usaha baik dari segi kuliner atau barang-barang cinderamata. Sekarang, walaupun Pantai Pulau Ju masih lumayan sepi, banyak sekali kedai yang mempertahankan ciri khas bangunan dinding-dinding kayu dan bambu dengan atap dari jeram.
"Belum ada lokasi yang mirip dalam mimpi aku," gumam Arya.
"Tuh, si Masayu kayaknya," tunjuk Anta.
Arya pun memutuskan untuk menitipkan motor di salah satu kedai yang ada di
Pantai Pulau Ju, lalu melanjutkan pencarian dengan berjalan kaki.
Di ujung horizon, matahari mulai tenggelam. Warna langit mulai berubah menjadi kemerahan, pertanda bahwa sebentar lagi malam akan menjelang. Arya mulai ragu apakah akan meneruskan pencarian atau menyudahinya saja karena dia merasa sama sekali kehilangan petunjuk.
Arya merasa konyol sebenarnya di hadapan Anta. Lokasi dalam mimpi yang kebetulan sama ini malah membingungkan. Lalu, apa bedanya dengan anak kecil yang masih percaya bahwa nenek sihir itu ada? Ditambah lagi, Arya juga belum jua mendapati Masayu seperti yang Anta katakan. Arya belum menemukan sosoknya sejak menginjakkan kaki di Pantai Pulau Ju.
"Kak Anta!" Tiba-tiba, terdengar suara Masayu.
"Hai, Masayu! Akhirnya kamu ada di sekitaran sini juga," ucap Anta seraya menyongsong anak kecil itu.
Arya masih kebingungan saat menyusul di belakang Anta. Pasalnya sosok yang ternyata ingin ditemui Anta dan dibicarakan sedari tadi adalah sosok hantu anak perempuan.
"Kok, kalian bisa kenal?" tanya Arya yang masih agak takut mendekati Masayu.
"Kenal, dong. Ayo, Masayu salam sama Kak Arya!" titah Anta.
"Masayu menuruti perintah Anta. Lantas, Arya menceritakan perihal mimpinya untuk memcari Paman Mito.
"Aku tahu lokasinya, Kak! Aku ingat kalau kemarin menemukan dia. Tapi, aku lupa mau bilang, soalnya aku sibuk menolong orang-orang yang hampir saja jatuh dari tebing sejak pembatas itu belum diperbaiki," tuturnya.
"Baik banget jadi hantu, bukannya nakutin malah rajin nolong manusia," lirih Arya.
__ADS_1
"Iya, dong. Dulu aku anak nakal. Aku tenggelam di laut karena nggak nurut sama mami. Aku juga suka mencuri dan membantah perintah mami. Kata Mami, aku bisa bersamanya asal melakukan seribu kebaikan di sini," tutur Masayu.
"Mami kamu di mana?" tanya Anta.
"Sudah di surga. Seminggu setelah aku meninggal, mami ditabrak sama pengendara mabuk. Kata mami dia juga salah karena melamun dan terlalu sedih karena aku meninggal."
Anta langsung memeluk Masayu. Usianya baru tujuh tahun, tetapi setelah menjadi hantu, pemikirannya malah sangat dewasa. Arya juga sampai menahan haru dan menyeka bulir bening di sudut matanya.
Masayu dengan lincah berjalan menuju ke tebing karang terjal yang belum pernah Anta dan Arya telusuri. Deburan ombak pada malam hari semakin terdengar lebih kencang di telinga keduanya. Untungnya malam ini langit terljhat cerah. Bulan purnama seolah menggantung di atas keduanya. Walaupun tidak seterang cahaya matahari, setidaknya sinar bulan bisa membantu penglihatan Anta dan Arya.
Tebing yang ditunjukkan Masayu tertutup pepohonan. Tebing itu terlihat berlumut dari kejauhan.
"Hati-hati, Nta!" ucap Arya.
Permukaan jalanan licin dan Arya takut kalau mereka akan jatuh. Berbeda dengan Masayu. Gadis itu berjalan dengan lincah, seolah ada pegas di kakinya. Ya jelas saja, karena Masayu adalah hantu. Kalau pun dia jatuh, tak ada yang akan terjadi padanya, berbeda dengan Anta dan Arya.
Arya yang sejak tadi memperhatikan langkah Masayu sampai bergidik ngeri dan merinding. Dia tidak bisa membayangkan seandainya kakinya selip, terpeleset, lalu terjatuh dari tebing.
"Di sana, Kak!" Masayu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Arya yang terkejut sampai berpegangan pada Anta. Untungnya, gadis itu cekatan memeganginya. Gadis kecil di depan mereka sedang menunjuk ke tebing terjal yang berada di depan mereka. Ada sebuah bangunan terapit karang-karang curam yang tampaknya tak berpenghuni.
"Bangunanya bagus, ya?" Arya bergumam.
"Iya, ya. Anta juga baru tahu kalau ada bangunan megah seperti itu di tengah karang sini," sahut Anta.
Arya sudah bersedekap sambil mengusap-usap lengan, tiba-tiba merinding melihat pemandangan sepi di depan sana. Sesekali Arya juga memegangi tengkuk yang terasa makin dingin. Hawa ketakutan mulai menghinggapi pemuda itu. Ditambah lagi, malam itu adalah malam Jumat. Malam yang dipercaya lebih angker atau keramat dari malam lainnya.
Di sela keterpanaan Arya dari serangan rasa horor yang tiba tiba menciutkan nyali Arya, Masayu tiba-tiba kembali berjalan. Anak kecil itu semakin mendekat ke arah bangunan tersebut. Anta mengikutinya.
"Kalian, mau ke mana?" Arya mulai cemas.
"Mau makan bakso," sahut Anta.
Arya celingukan mencari si pedagang bakso.
__ADS_1
"Mana tukang baksonya?" tanya Arya.
"Ya nggak ada lah! Anta mau ke bangunan sana tau!" sungut Anta.
"Ayo, Kak, ikut aku! Aku lihat kaki di sana," ucap Masayu.
"Hah, kaki?" Arya makin ketakutan.
"Iya, Kak!"
Masayu menjawab tanpa menoleh. Suaranya yang dingin tidak selugu biasanya, membuat Arya makin bergidik ngeri.
"Ayo, Ya! Menurut Anta, lebih baik kita ikuti Masayu tanpa ragu." Anta kembali dan menepuk bahu Arya tiba-tiba.
Arya sempat terlonjak tanpa sadar karena kagetnya.
"Aku takut, Nta."
"Lah, kan kamu yang ngajak ke sini. Anta juga sebenarnya merasa ngeri. Tapi, kalau kita nggak nyari jawabannya, teka-teki ini nggak akan terpecahkan."
Bujukan Anta akhirnya berhasil mengembalikan sedikit keberanian Arya yang sempat menguap.
"Sini!" Anta mengulurka tangannya.
Arya hanya memandangi tangan halus milik Anta, lalu sedetik kemudian, Anta sudah menautkan jemarinya yang ramping ke jemari Arya. Rasanya hangat, seolah olah membuat Arya terasa seperti tersengat listrik dalam voltase kecil.
"Dulu kata Arya, bergandengan tangan bisa mengurangi rasa takut." Anta tersenyum dengan manisnya.
Arya merasa pikirannya kacau. Senyum Anta terlihat beratus kali lebih menarik ketika wajahnya tersapu sinar bulan dari atas lautan. Genggaman jemarinya menawarkan rasa nyaman. Arya luluh dan mereka pun berjalan bersisian. Keduanya tetap bergandengan untuk mengusir rasa takut sambil terus mengikuti Masayu.
"Anta, masih cinta sama Arya?" tanya Arya tiba-tiba.
"Ya, cintalah! Kalau Anta udah nggak cinta, ya Anta lebih milih terima pernyataan cinta dari Kak Dion," sahutnya.
Arya menghentikan langkahnya dan otomatis langkah Anta juga terhenti.
__ADS_1
"Dion nembak kamu?" tanya Arya memicingkan kedua matanya menatap tajam ke arah gadisnya.
...*** Bersambung ***...