Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
64. Villa Kemuning


__ADS_3

Hari pernikahan Ria dan Arga akan segera diselenggarakan. Nyonya Laila, ibunya Arga, sengaja memilih villa pribadi suaminya sebagai tempat pernikahan agar mengurangi budget pernikahan. Dia membuat pernikahan Arga dan Ria murah dan berada di pelosok dengan dalih bertemakan dekat dengan alam. Hanya keluarga dekat yang diundang ke acara pernikahan tersebut.


Ria yang tak punya siapa-siapa lagi karena ibunya masih berada di tahanan meminta keluarga besar Anta untuk mewakilinya. Dengan senang hati Dita menuruti permintaan Ria. Gadis itu juga meminta keluarga Tasya dan Herdi untuk ikut serta.


Untuk mencapai villa tempat pernikahan akan dilangsungkan tersebut, rupanya masih harus menggunakan jasa tukang ojek atau naik motor sendiri karena belum ada angkot yang melewati daerah tersebut. Untungnya, Anan sudah berinisiatif membawa kendaraan pribadi. Ada tiga mobil yang mengiringi Ria menuju saya tempat pernikahan.


Anan mengendarai mobil dengan keluarganya. Arya mengendarai mobil dengan Anta, Ria, dan Raja yang menjadi penumpangnya. Lalu, ada Pak Herdi yang mengendarai mobil dengan keluarganya.


Jarak dari Jalan raya utama ke arah dalam pelosok tersebut memang masih jauh sekitar dua kilometer. Namun, saat di perjalanan mereka akan leluasa melihat keindahan panorama di sepanjang jalan. Para rombongan keluarga Arga sudah sampai lebih dulu ke tempat acara. Laila benar-benar menyiapkan semua dan tak ingin siapapun ikut campur.


Para rombongan melewati dua buah tanjakan yang terasa curam. Di Tanjakan ke dua inilah mereka akan sampai di Villa Kemuning, tempat pernikahan Ria dan Arga akan berlangsung. Rumah berlantai dua dengan bagian di kiri kanannya penuh kesunyian.


Sebelah kanan hamparan sawah dari lapangan Golf Hijau yang belum digunakan oleh perusahaan, sehingga menjadi lahan pertanian yang digarap oleh penduduk sekitar. Lengkap dengan jurang terjal dan empang yang bila dilihat saksama lebih menyerupai telaga. Apalagi bila malam tiba, telaga itu tampak hitam pekat.


Di sisi depan dan kiri villa tersebut terdapat sebuah tanah kosong. Di bagian kiri penuh semak belukar yang semula digunakan sebagai lapangan bulu tangkis. Sayangnya, tempat itu pada akhirnya dibiarkan mati begitu saja menjadi rimbunan rumput ilalang.


Penduduk sekitar kerap membicarakan wilayah tersebut angker. Apabila malam hari mereka melewati jalanan di depan villa, pasti akan tergerak untuk melihat kesunyian yang mendirikan bulu roma. Sunyi dan hanya terdengar desau angin dan gesekan rumput ilalang.


"Serius ini tempatnya?" gumam Ria yang tampak terlihat sedih saat keluar dari mobil Arya.


"Hmmm … kan umminya Arga bilang mau menyatu dengan alam temanya," sahut Anta.


"Iya sih, tapi … ah sudahlah. Bayangan kemewahan pernikahan sepertinya tak akan terjadi." Ria menghela napas berat.


"Yang penting kan kamu bisa menikah dengan Arga," ucap Anta seraya memeluk Ria dari samping.


"Iya sih. Aku berhasil dapat restu dari umminya. Tapi, restu yang setengah hati." Ria membalas pelukan Anta.


"Ummm … kayaknya tamu undangan Kak Ria bakalan rame deh bukan cuma keluarga kita aja," celetuk Raja kala melihat sekeliling.


"Maksudnya, Ja?" tanya Ria yang akhirnya paham kala melihat Anta dan Arya yang juga mengamati sesuatu seperti Raja.

__ADS_1


Dari kejauhan juga dia melihat Fasya dan Disya ketakutan tetapi tidak dengan Dira dan Adam yang malah antusias ingin menghampiri para makhluk astral yang mereka lihat. Namun, Anan dengan sigap menatap penuh ancaman agar para putra putrinya berlaku normal dan berpura-pura tak melihat para makhluk astral itu.


Arga dan Angel menyambut kedatangan Ria dan yang lainnya. Hanya saja sang ibu memilih tetap duduk menikmati secangkir teh bersama sang suami di beranda. Benar-benar tuan rumah yang tak ramah.


"Bi Ijah sama Pak Asep akan mengantarkan kalian ke kamar masing-masing. Karena di sini hanya ada enam kamar jadi nggak apa ya kalau dalam satu kamar agak padat," ucap Arga.


"Nggak apa, Ga. Tante paham kok." Dita melukiskan senyum pada pemuda yang selalu tegar menghadapi ibunya itu.


Para asisten rumah tangga lalu mengantar Dita ke kamar di lantai bawah yang berdampingan dengan kamar yang akan ditempati Tasya dan keluarganya. Kamar para pria untuk Arya dan Raja ada di seberang kamar tersebut. Sementara itu, kamar yang ada di sudut akan dijadikan kamar pengantin bagi Arga dan Ria.


Ria sempat mengeluhkan tentang penerangan yang minim di villa tersebut saat Bi Ijah mengantar ke kamar para gadis.


"Yah, Non Ria, di sini mah jangan harap akan mendapatkan penerangan jalan dari sini. Meskipun ada beberapa stop kontak dan bekas lampu penerang di depan villa, tapi tidak pernah lagi kami nyalakan," ucap Bi Ijah.


"Memangnya kenapa, Bi? Nanti orang akan menuduh betapa pelitnya pemilik villa sampai lampu jalan atau minimal lampu depan villa saja nggak dinyalakan," sahut Ria.


"Ummm … itu sih mungkin pendapat orang yang baru lewat, Non. Tapi bagi penduduk sekitar kampung sini tentunya tidak asing lagi dengan hal gelapnya depan Villa Kemuning," jawabnya.


Sementara di sudut kamar tersebut terlihat Alisha dan Angel yang tampak canggung saat merapikan koper dan barang bawaan lainnya. Dua kasur angin juga sudah disiapkan untuk menemani kasur utama yang berukuran queen di kamar tersebut.


"Kami sengaja tidak menyalakan lampu depan villa, Non, karena kami sudah merasa bosan untuk menyalakannya, ucap Bi Ijah menjelaskan kembali.


"Kenapa bosan, Bi?" tanya Ria.


"Natinya juga pada tahu dengan sendirinya kenapa lampu depan sana terus mati, hehehe. Saya permisi dulu mau menyiapkan makan siang. Oh iya, Non Ria nanti ada Mbak Mayang yang biasa rias pengantin mau datang," kata Bi Ijah.


"Kan nikahnya besok, Bi. Kok dia mau datang sekarang?" tanya Ria.


"Dia mau kasih Non perawatan kayak lulur badan dan ratus itunya Non, hihihi." Bi Ijah terlihat mengikik menahan geli sendiri.


"Oh gitu, oke deh Bi makasih infonya."

__ADS_1


Bi Ijah lalu pamit. Ria merebahkan diri di atas kasur.


"Aku mau puas-puasin tidur sama kamu, Nta. Besok kan aku tidur sama Arga hehehe," tutur Ria.


"Huuu… udah nggak sabar tuh mau pamer adegan malam pertama iya kan?" goda Anta.


"Iya, dong."


"Hati-hati nanti malam pertamanya malah jadi pertunjukan live show depan para hantu hahahaha." Anta tersenyum puas menggoda Ria.


"Ah… Anta mah jangan gitu dong. Aku kan jadi risih. Apalagi si Arga bisa lihat gituan, wah makin risih nantinya."


"Baca doa dulu yang penting kan ada tuh doanya cari aja di internet biar pas anu-anu nggak digangguin demit," ucap Anta tersenyum.


Anta lantas bangkit untuk mengamati dekorasi yang hampir selesai dengan hiasan bunga itu dari sisi jendela.


"Bagus loh dekorasi pernikahan kamu, Ria."


"Masa, Nta? Aku mau lihat ah dekornya kalau gitu," ucap Ria.


"Eh jangan! Pamali tau, nanti nggak jadi surprise buat kamu sama Arga," cegah Anta.


"Iya juga ya."


...***...


Sementara itu di kejauhan seberang Villa Kemuning, dua sosok wanita sedang mengamati persiapan pernikahan Arga dan Ria.


"Sebentar lagi, sebentar lagi waktunya akan tiba," lirih Nyonya Micin sambil tersenyum menyeringai.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2