Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
80. Happy Wedding Anta dan Arya


__ADS_3

Bab 80 PI


Dita menyiapkan jas hitam bergaris vertikal warna putih yang akan Anan kenakan itu. Sang suami tampak termenung. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Yanda, pikirin apa, sih?" tanya Dita.


"Ummm … Anta bakalan bahagia nggak ya, Bunda?" tanya Anan akhirnya.


"Yanda kok ngomongnya gitu, sih? Yanda masih ragu sama cintanya Arya ke Anta?" Dita mengerling.


Anan mengangguk.


"Berada di sisi Anta nggak mudah loh, Yanda. Berapa banyak perjuangan yang udah Arya lakukan buat putri kita. Bahkan dia sering loh hampir kehilangan nyawanya. Arya bahkan mengingatkan aku sama Yanda," ucap Dita.


"Oh iya, apa itu?" tanya Anan memeluk sang istri dengan mesra.


"Arya nggak pernah pantang menyerah buat mendapatkan Anta. Sama ama Yanda waktu berjuang buat dapatkan Bunda, iya kan?"


"Hmmm…."


"Percayalah, Yanda, nggak ada pria yang bisa mencintai putri kita seperti Arya." Dita meyakinkan Anan sekali lagi.


Masih terbersit di hati Anan, apa nantinya Anta dan Arya bisa menemukan kebahagiaan?


"Ah, sudahlah, Yanda. Yang terpenting untuk saat ini kita doakan saja kebahagiaan Anta dan Arya," ucap Dita lagi meyakinkan Anan.


Dita melirik ke arah jam tangan di tangan kirinya. Lalu, dirinya tersadar kalau Anta harus bergegas dirias. Wanita itu langsung berteriak memanggil Anta. Dita menghentikan langkahnya lalu menghampiri suaminya kembali. Mendaratkan kecupan di bibir sang suami seraya berkata, "putri kita akan bahagia bersama Arya. I love you, Yanda."


"I love you too, Bunda."


"Yanda mandi dulu, ya. Bunda mau ke kamarnya Anta."


Anan mengangguk mengiyakan. Dita kembali berteriak seraya menggedor kamar putrinya. Anta sampai tersentak dan menghentikan langkahnya yang baru saja selesai dari kamar mandi kala mendengar suara teriakan memanggil nama Anta. Gadis itu membukakan pintu kamar lalu mempersilakan ibunya untuk masuk. Tak lama kemudian, Tasya menyusul untuk membantu Dita merias Anta.


***


"Ya, kamu siap?" tanya Herdi pada putranya.


"Siap dong, Yah. Siap banget, malahan aku udah nggak sabar," sahutnya.


"Jangan lupa, niatkan ibadah dalam pernikahan kamu. Jaga komunikasi juga Setiap kali berbicara, maka ucapkanlah dengan cara yang baik. Jika suami dan istri dapat berkomunikasi dengan baik, ini akan meminimalisir kesalahpahaman dalam rumah tangga." Herdi menepuk bahu Arya seraya memberikan wejangan pernikahan pada putranya.

__ADS_1


"Pasti, Yah."


"Ada lagi, Ya. Belajarlah untuk mencintai ketidaksempurnaan pasangan. Para pengantin dapat memilih untuk terus berusaha mencapai kesempurnaan yang tidak akan pernah tercapai, atau menerima bahwa setiap orang memiliki keunikannya masing-masing.


Memaafkan kesalahan. Ini adalah yang paling sulit, tetapi menjadi hal yang paling penting. Menurunkan ego dan saling memahami membutuhkan waktu untuk tumbuh, tapi pasangan suami istri memiliki banyak waktu untuk berproses bersama." Herdi menjelaskan lagi.


"Kok, tumben banget Ayah bijak. Bagus banget lagi kata-katanya," ucap Arya.


"Ayah nyontek di google nih, barusan." Herdi terkekeh seraya menunjukkan layar ponselnya.


Senyum manis menghiasi wajah Arya seketika saat memikirkan ucapan sang ayah tentang menjaga seorang istri. Tasya lalu masuk ke ruangan di mana Arya dan Herdi berada.


"Yuk, gantian Arya yang Bunda rias," ucap Tasya.


Arya mengangguk dan tersenyum. Namun, langkahnya terhenti, ia memeluk sang ayah saat itu juga seraya mengucapkan terima kasih telah menjadi ayah yang baik dan merawatnya. Dia juga memeluk Tasya dan mengucapkan hal yang sama.


"Kok, jadi sedih begini, sih? Udah dong jangan bikin Bunda jadi nangis lagi, nanti make up Bunda luntur. Tadi juga Bunda udah sedih-sedihan di kamar Anta sama Dita juga," ucap Tasya.


Arya dan Herdi tertawa. Pemuda itu lalu menuju ruang ganti dan mendapat riasan pengantin dari Tasya.


***


Tiga puluh menit berlalu, Tasya mengetuk ruang rias pengantin Anta yang berada di sudut area kebun pisang. Dia meminta sang gadis untuk keluar dari ruangan karena pak penghulu akan segera tiba. Lagi-lagi, Tasya dan Dita menatap dengan takjub wajah cantik sang mempelai wanita yang sudah dirias. Riasan wajah gadis itu sangat cantik dengan tubuh semampai dibalut gaun pengantin warna putih tulang yang bertahta bordir dengan benang emas.


"Iya, dong! Anak Bunda gitu, loh!"


"Tapi emang cantik banget, kok," sahut Tasya.


"Makasih, Mama Tasya."


"Jangan panggil aku Mama lagi, ya. Nah, mulai sekarang panggil aku bunda kayak Arya panggil aku bunda," pintanya.


Anta menoleh ke arah ibunya. Dia melihat bulir bening terlihat di ujung kelopak mata ibunya.


"Kenapa Bunda menangis?" tanya Anta.


"Bunda hanya terharu dan sangat bahagia, Nta." Dita memeluk Anta penuh kasih sayang.


"Hei, nanti kalau Anta ikut nangis, wajahnya jadi rusak, loh," tegur Tasya yang merapikan pakaian seragam yang dikenakan si kembar.


"Tau nih, Bunda dari tadi bikin baper aja!" sahut Anta.

__ADS_1


Dita lalu meminta putrinya agar jangan menangis lagi. Dia meminta sang pengantin untuk tersenyum bahagia,


"Apa kamu siap menikah dengan Arya?" tanya Tasya meledek Anta.


"Siap banget, Mama Tasya! Eh, Bunda Tasya!" Anta meringis.


"Semoga setelah ini cepet dapet momongan, ya. Momongan yang akan menjadi titisan Ratu Kencana Ungu selanjutnya," ucap Tasya.


Semua terkekeh menanggapi Tasya.


"Eh, eh, tapi kalau Anta menikah, gelar itu bakal pindah dari kamu ke Anta ya, Ta?" tanya Tasya pada Dita.


"Iya, pastinya. Aku juga mulai tua, Sya. Kekuatan Ratu Kencana Ungu pastinya akan semakin sulit berkembang di aku," ucap Dita.


"Pada ngomong apa, sih? Ratu siapa Bunda?" tanya Dira yang penasaran.


"Nanti kalau Dira udah besar dan udah mengerti, pasti bakalan Bunda jelaskan. Siapa tahu kekuatan Ratu Kencana Ungu nanti bisa ada pada Dira," sahut Dita.


"Bunda, kata Yanda buruan! Bapak penghulunya udah dateng," ucap Adam.


Anta yang didampingi para bundanya dan juga Ria melangkah menuju ke area pernikahan bersama. Hari itu Anta dan Arya akan dipersatukan oleh sucinya ikatan ijab-kabul yang dilaksanakan dengan cara menjabat tangan antara pengantin pria dan Pak Penghulu.


"Jangan sampai ada adegan cincin jatuh di got!" ancam Tasya yang sudah mendelik tajam pada Adam dan Fasya yang memegang kotak cincin pernikahan tersebut.


"I-iya, Bunda." Fasya tampak bergidik melihat tatapan melotot bundanya.


Tatapan sang bunda rupanya lebih menakutkan dari pada tatapan para kunti yang hinggap di ranting pohon nangka dekat kebun pisang tersebut.


Kembali ke area pernikahan Anta dan Arya. Sang penghulu lalu menuntun mempelai pria untuk mengucap ijab kabul dan diakhiri dengan persetujuan saksi dengan perkataan "sah".


Setelahnya, prosesi penghulu dan Arya berlangsung khidmat. Rasa sukacita seusai akad dirayakan dengan pembagian cemilan manis kepada para pengunjung. Agar para tamu juga bisa merasakan manisnya momen bahagia ini. Perayaan pernikahan itu diakhiri dengan santap malam bersama akhirnya.


Gelak tawa dan keriangan jelas terdengar. Arya selalu menatap lekat mata Anta dan sangat bersyukur mendapatkan istri seperti Anta. Sementara itu, Dita dan Anan berdansa dan berpelukan mesra. Ada keharuan yang coba Anan tahan.


"Kalau mau nangis, nangis aja, Yanda," bisik Dita.


"Emang aku secengeng itu, ya?" tanya Anan berusaha tegar tetapi akhirnya memeluk Dita seraya menangis.


"Putri kita udah nikah, Bunda, huaaaaa." Tangis Anan makin pecah di pelukan Dita.


*** Tamat ***

__ADS_1


Mohon maaf ya, untuk sementara cerita ini endingnya sampai di sini. Nanti akan ada ekstra chapter cerita para ratu iblis memperebutkan kekuatan Anta. Tapi, untuk sementara waktu, Vie harus istirahat dulu ya supaya bisa sehat lagi. Terima kasih atas dukungan semuanya.


__ADS_2