Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
50. Penyakit Aneh


__ADS_3

Anta memukul punggung Ibu Siti dengan kesal saat memarahi sosok gaib tersebut.


Sosok itu keluar begitu saja dari tubuh Bu Siti berkat pukulan Anta.


"Wuidih, keren juga si Anta!" ucap Pak Herdi.


"Ayah, kalau dia aja dipukul Anta langsung keluar dari tubuh Bu Siti, gimana kalau Anta nanti pukul aku, ya?" bisik Arya yang berdiri di belakang Pak Herdi.


"Roh kamu langsung keluar dari badan kamu, hahaha. Serem juga si Anta," jawab Pak Herdi seraya berbisik.


Ratu Sanca dan Kuntilanak Silla langsung memegangi sosok nenek berkuku panjang itu.


"Siapa yang udah kirim kamu ke sini?" tanya Ratu Sanca.


"Sa-saya, saya cuma disuruh menakuti kok," tukasnya. 


"Hayo jawab? Siapa yang suruh kamu?" tanya Anta yang kini mengancam dengan gunting di tangannya.


"Kak, gunting itu buat apa?" tanya Raja berbisik.


"Buat potong kuku dia, jijik Kak Anta liatnya."


"Jangan! Jangan potong kuku saya! Saya hanya disuruh oleh Mbah Jin." 


"Siapa itu Mbah Jin?" tanya Anta lagi.


"Orang pintar di kampung sebelah yang ada di seberang kali itu," jawabnya.


"Buat apa dia menakuti keluarga Bu Siti?" tanya Anta lagi.


"Karena Mbah Jin juga dibayar seseorang untuk melakukannya." Tiba-tiba, sosok itu langsung lari dan menghilang.


"Yah, dia kabur. Tante Silla megangnya gimana, sih?" ucap Raja.


"Tante juga jijik sama dia, Ja," sahutnya.


"Sudah biarkan! Aku yakin dia akan kembali ke Mbah Jin itu. Dia pasti bilang tentang saya dan Silla. Biar orang itu tau kalau saya yang menjaga wilayah ini," ucap Ratu Sanca.


"Wuih, keren ya. Komplek kita dijaga Ratu Siluman ular." Raja sampai menepuk tubuh belakang sang Ratu. Sosok siluman itu menatapnya tajam.


"Maaf, Tu, kelepasan, hehehe."


Herman dan Anan sampai berbarengan dengan Bu Ustaz. 

__ADS_1


"Oh, istri kamu dirasukin sama kuntilanak rupanya. Ada juga siluman ular besar di sini," ucap Bu Ustaz salah paham ketika merasakan dua sosok gaib itu dari arah depan.


"Lho, kok jadi saya?" tanya Silla tak mengerti.


"Mending kalian kabur deh daripada kepanasan dibacain ayat suci," bisik Anta.


Silla dan Ratu Sanca lalu pergi menghilang dengan segera menembus dinding.


Pak Herdi dan Arya mengangkat tubuh Bu Siti ke atas sofa.


"Tenang Herman, makhluk tadi sudah pada pergi. Mereka takut juga sama saya," ucap Bu Ustaz.


Raja mau buka suara tapi Anta menahannya.


"Anta buatin teh manis anget dulu buat Bu Siti," ucap Anta yang izin permisi ke ruang dapur.


Setelah Bu Siti sadar dia merasa lebih tenang dan mencoba untuk tidur. Namun, Dita meminta Alvin untuk tidur di rumahnya agar Pak Herman bisa fokus menjaga istrinya dulu. 


"Anta jaga Alvin. ya," pinta Dita saat meletakkan Alvin yang terlelap ke atas ranjang Anta.


"Oke, Bunda." 


"Besok aku mau cari orang yang bernama Mbah Jin itu," ucap Raja yang berdiri di depan pintu kamar Anta.


"Iya, Bunda nggak mau kamu terlibat lebih jauh. Kalau dia datang dan cari perkara ke wilayah kita, baru kita hajar balik. Tapi jangan kita yang nantang mendatangi dia," ujar Dita. 


"Tuh, dengerin Bunda kamu. Percayalah, Ja, Bunda lebih menyeramkan dari makhluk apapun kalau marah," ucap Anan. 


"Aku nggak ikut-ikutan ya, Yanda." Raja menunjuk ke arah Dita yang sudah bertolak pinggang di hadapan suaminya.


Anta hanya bisa tertawa kecil melihat adegan Raja dan ayahnya yang ketakutan melihat ibunya yang tampak kesal.


Sementara itu di rumah Herman, pria itu mulai kembali merasakan sesuatu. Pukul dua malam, dia mendapati istrinya kembali kejang-kejang. Pria itu berusaha menahan Siti agar tidak berteriak teriak kesakitan.


"Pantat aku ditusuk, Pah," kata Bu Siti dengan terbata-bata dan menahan gigil. 


"Nggak ada apa-apa yang nusuk kamu, Mah," ucap Herman.


Dia tetap menguatkan istrinya sampai wanita itu bisa menutup mata. Kenyataannya, dia memang tak tidur, Siti hanya menutup mata. Herman tetap menenangkan istrinya sampai terlelap. 


...***...


Menjelang subuh,Herman mendapati mimpi melihat tentang sosok tinggi dan kurus yang dia temui di dalam mimpi kala itu. Mimpi tentang lelaki yang berdagang makanan sate. Dia meminta Herman untuk menikmati sate itu sampai pria itu merasa giginya rontok seperti terkena pukul. 

__ADS_1


"Aarrrgghh!" pekik Herman.


Mata pria itu langsung kembali terbuka. Dia melihat  langit-langit kamar lalu berucap istighfar. Tubuh istrinya terlihat kembali kejang kejang. Dia berusaha menenangkannya. Sekiranya Siti telah kembali tertidur pulas, Herman kembali tidur. Namun, di dalam mimpinya dia melihat serigala mengaung di tengah hutan. Sementara dirinya sedang berdiri di bawah bulan yang besar. 


Herman lalu mengikuti serigala itu ke sebuah rumah kayu di tengah hutan. Di dalam ruangan rumah tersebut ada sosok yang menunggu lelaki itu. Ruangannya penuh keris dan benda benda mistis. Di meja ada boneka putih yang berdarah. Letak darah itu tepat di tengah ************ dan kepala. Sayangnya, saat ingin menanyakan keadaan pada saat itu, sosok lelaki itu menghilang menjadi gumpalan asap.


Herman langsung membuka mata dan mengucap istigfar. Dia merasakan lelah berlipat lipat. Keringatnya juga terlihat bercucuran, napas pria itu terdengar terengah-engah.


Kedua mata pria itu mendadak terbelalak kala melihat ular putih besar masuk ke ************ istrinya. Dia kemudian bergeser dan hendak memukul ular itu, tetapi tak dia temukan apa-apa di sekitar tubuh istrinya. Untuk memastikan lagi, Herman sampai menyalakan lampu kamar dan mengamati sekeliling.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Herman. 


Azan subuh berkumandang, pria itu lalu bangkit dan mengambil wudu.


...***...


Keesokan harinya, Siti semakin sering kejang. Sepertinya sudah bukan lima menit sekali, sebab untuk minum saja sudah sulit. Tubuhnya malah makin lemah, matanya juga lelah, dan keringatnya mengucur banyak hingga kasur sampai basah. Kejang-kejang yang wanita itu alami telah menguras tenaga dan perasaan Herman. 


"Tiap kejang pegang tangan saya, Bu, biar sakit yang kamu derita bukan cuma kamu yang merasakan," ucap Dita mencoba menguatkan Bu Siti hari itu. 


"Saya mau bawa istri saya ke dokter saja," ucap Herman.


"Sebaiknya begitu, Pak. Datang ke Rumah Sakit Keluarga, di sana ada putri saya yang sedang magang jika butuh bantuan," ucap Dita.


Herman mengangguk, dia kembali menitipkan Alvin pada keluarga Dita hari itu.


Setelah sampai di rumah sakit, dokter memerintahkan untuk melakukan USG dan tes urin. Perut Siti terlihat membesar kala itu. Dokter juga mengira sebab kejang-kejang yang dialami Siti diduga pertanda indikasi lemah otot perut. Namun, saat hasilnya keluar semuanya normal dan baik. Bahkan, dokter heran tubuh Siti sangat sehat dan tak ada masalah apa pun.


"Mungkin lagi stres, atau kelelahan," kata Dokter Tita.


"Hmmm … apa ada indikasi lain ya, Dok?" tanya Herman.


 "Bisa juga sih, Pak. Begini saja, sebaiknya Anda cek di bagian penyakit dalam, atau ahli syaraf juga untuk memastikan," kata dokter tersebut.


"Baik, Dok." 


Anta yang menemui Siti dan Herman, jadi merasa curiga kalau penyakit yang dialami Siti ada hubungannya dengan makhluk yang saat itu merasuki. Mungkinkah makhluk itu meninggalkan sesuatu di dalam tubuh Siti?


Anta menyarankan pada Herman untuk menemui Ustaz Abu Bakar kembali.


"Baik, Nta. Nanti malam saya ke sana. Terima kasih ya sebelumnya. Kamu dan keluarga kamu mau menolong keluarga saya ini," ucap Herman.


"Nggak usah dipikirin, Pak. Setiap tetangga wajib saling membantu," ujar gadis itu seraya menunjukkan senyum yang ramah.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2