Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
71. Kecelakaan Misterius


__ADS_3

Dua orang pria itu membawa seekor kambing yang warna kulitnya hitam semua. Kambing itu diberi kain kafan sebagai penutup tubuhnya.


Kambing itu dibawa ke hadapan Karta dan Karina. Keduanya mengusap, mengelus, memeluk, bahkan menciumi kepala kambing itu. Mereka begitu hormat seakan-akan binatang itu sangat mereka hormati.


Asep datang membawa sebilah golok yang tajam. Ia berlutut pada Karta sebelum menatap kambing hitam itu. Karta berlutut lalu mengusap leher kambing itu berkali-kali. Dia lalu meraih golok dari tangan Asep. Dengan gerakan cepat ia mengiris leher kambing itu, membiarkan tenggorokannya terbuka lebar. Darah merah menyembur lalu menetes menghujani bumi tempat Karta berpijak. 


Asep sampai terkesiap, terkejut dengan apa yang baru saja dia saksikan. Kambing itu digorok begitu saja, tetapi anehnya binatang itu tak melawan. Bahkan saat lehernya nyaris putus, binatang tak menggelepar. Dia hanya diam saja meskipun tetesan darah keluar deras dari batang lehernya. 


Karta menjatuhkan golok yang ada di tangan lalu menadahkan kedua telapak tangannya menikmati semburan darah segar itu. Lalu, pria itu meminta Hanako agar membuka lebar-lebar mulutnya. Karta lalu meminumkan darah itu ke dalam bibir Hanako yang terbuka lebar. 


Hanako langsung jatuh tersungkur dari tempatnya berlutut kemudian mengejang-ngejang hebat di tanah. Nyonya Micin sampai tak tega melihatnya. Dia pernah gagal menjadikan Hanako sebagai media Ratu Masako. Kini Karta menjadikannya sebagai pembangkit kekuatan Nyi Ageng. Padahal dia sudah menjelaskannya.


"Kalian benar-benar keras kepala," gumam Nyonya Micin.


Tak ada satu pun dari mereka yang ada di sekitar, termasuk Nyonya Micin sendiri, untuk bergerak menolong gadis malang itu. Hanako terlihat tersiksa dalam kesakitan.


Nyonya Micin sampai tak mau menoleh ke arah Hanako. Gadis itu terus menerus menghantamkan kepalanya ke tanah. Lalu, menjejak-jejakkan kakinya sembari menyentuh leher. Dengan wajah merah, Hanako berteriak-teriak layaknya tengah kerasukan.


Di antara itu semua, Asep tak mengerti karena melihat wajah Karta dan Karina yang tampak begitu kecewa. Harusnya mereka bersuka cita ketika mendapatkan gratis weton kelahiran yang cocok seperti Hanako. Nyatanya, memang bukan gadis itu yang mereka cari. 


...***...


Sore itu setelah mengantarkan Arga dan Ria untuk pergi ke bandara dan berbulan madu ke Dubai, Anta membantu ibunya berkemas. Mereka kembali ke ibukota bersama yang lain. Tiba-tiba, ponsel Anta berdering. Saat menerima sambungan ponsel itu, raut wajah Anta berubah. 


"Ada apa, Nta?" tanya Dita.


"Arya, Bunda … dia kecelakaan." Anta mulai panik dan bergegas menuju mobilnya.


"Kecelakaan di mana, Kak?" Raja menimpali.


"Dia kecelakaan pas bantuin bawa mobil pick up yang isinya bahan-bahan makanan buat koperasi. Pak Asep tadi nelpon Anta. Dia bilang rem pickup-nya blong dan masuk jurang," ucap Anta dengan panik.


"Terus Kak Anta mau ke sana gitu sendirian? Dengan kondisi kalut begini?" tanya Raja.


"Dia koma, Ja, dia gak sadarkan diri!" seru Anta.


"Aku ikut!" sahut Raja.

__ADS_1


"Raja benar, Nta. Biarkan dia ikut. Bunda nanti cari yanda. Katanya mereka lagi panen apel di kebun sana," ucap Dita.


"Nah, Bunda aja setuju. Pokoknya aku nggak mau Kak Anta sendirian dalam kondisi kalut begini," ucap Raja yang segera mengambil kunci mobil.


"Bunda kasih tahu Ayah Herdi sama Bunda Tasya juga, ya," pinta Anta.


Dita menjawab dengan anggukan. Dita juga meminta Shincan, anak dari Ratu Sanca, untuk ikut. Siluman ular itu lalu duduk di kursi belakang mobil sedan baleno hitam itu. 


"Hati-hati, ya!" seru Dita saat mobil sedan itu melaju pergi.


...***...


Anta dan Raja sampai di rumah sakit tempat Arya dirawat. Dia dilarikan Pak Asep ke Rumah Sakit Daerah Kemuning. Kedua kakak beradik itu ternyata sudah melihat si kembar Fasya dan Disya yang juga sudah sampai bersama Pak Herdi dan Tasya. Si kembar berdiri sambil menangis. Tak jauh dari mereka ada dua suster yang sedang mendorong ranjang berisi seseorang yang sudah ditutupi selimut putih.


Sontak saja, Raja dan Anta langsung menubruk mayat yang berada di atas ranjang. Anta meraung-raung memeluk jasad itu lalu berkata, "Arya nggak boleh pergi! Kita belum nikah, Ya! Arya janji mau jagain Anta seumur hidup. Arya bangun!"


Anta terus saja mengguncang tubuh itu.


Sementara itu Raja juga tak kalah menangis dan meminta maaf pada jasad yang hendak dibawa suster ke kamar mayat.


"Pada nangis kenapa, sih?" tanya Pak Herdi yang baru saja tiba setelah menyelesaikan urusan administrasi putranya.


"Hah, maksud kalian gimana, sih?" Herdi menatap tak percaya.


"Anta nggak sangka kalau Arya bakal kecelakaan kayak gini, huhuhu." Anta makin terisak.


"Kamu ngapain sekarang peluk mayat itu?" tanya Pak Herdi.


Anta dan Raja saling menatap. Di atas jasad yang mereka tangisi ada sosok pemuda yang tengah duduk di atas mayatnya sendiri. Jemari tangan kanannya melambai ke arah Anta. Wajah pria itu robek dengan kulit pipi yang mengelupas hampir jatuh. Tangan kirinya patah. Tubuhnya juga masih bersimbah darah.


"Astagfirullah!" Anta dan Raja langsung mundur dari ranjang beroda itu.


"Kenapa suster nggak bilang, sih?!" protes Anta.


"Kirain saya kalian itu keluarganya pasien. Lagian main peluk ajaa!" jawab suster tersebut.


"Hih, bawa gih mayat ini!" titah Raja yang mulai merinding melihat kulit pipi hantu pria itu hampir lepas.

__ADS_1


Dua suster tadi lalu tertawa kecil dan membawa mayat tersebut pergi. Raja lalu menunjuk sosok Arya yang berdiri di sudut koridor rumah sakit. Adik kembar pemuda itu malah bersembunyi di belakang Pak Herdi.


"Itu Kak Arya!" seru Raja.


"Nah, akhirnya ketemu kalian yang bisa lihat aku," ucap Arya mencoba memeluk Anta tetapi tak bisa. Wujud roh yang keluar dari tubuhnya itu belum stabil.


"Aku yang bawa dia keluar dari tubuhnya, tapi dengan syarat kondisi tubuh dia harus tetap stabil kalau sampai nggak stabil nanti bisa-bisa dia mati beneran," ucap Shinchan yang datang mendampingi rohnya Arya. 


"Ja-jadi, jadi Arya koma?" Anta mencoba memeluk kekasihnya tetapi tak bisa. Gadis itu malah memeluk sosok pocong yang mengikuti Anan dan Shinchan sedari tadi.


"Lumayan dipeluk cewek cakep," ucap pocong berwajah hitam gosong itu.


"Kok, Anta nggak bisa sentuh aku?" tanya Arya.


"Makanya kamu konsentrasi dan stabil dulu," ucap Shinchan.


"Dih, kamu siapa?" tanya Anta menunjuk si pocong.


"Aku Joko," sahutnya.


"Heh, Potem! Bisa-bisanya elu peluk cewek gue?!" seru Arya lalu menyelengkat kaki pocong itu sampai terjatuh. 


"Dia duluan yang peluk saya, kok!" Pocong wajah hitam gosong itu tak mau kalah dan tinggal diam.


Dia membalas Arya dengan menyundul dada pemuda itu sampai terjatuh. Tubuh pocong itu kini sudah berada di atas tubuh Arya. Arya makin kesal dan tak mau kalah, ia menarik tali pocong milik Joko. Keduanya bergulingan, berputar-putar saling menindih bergantian.


"Seru ya, Kak? Kak Anta pegang siapa?" ucap Raja yang sedari tadi menahan tawa melihat perkelahian Arya dan pocong hitam itu.


"Apaan sih kamu, Ja!" Anta mendorong bahu Raja pelan. 


"Astagfirullah! Kenapa pada ribut di sini?!" Tasya datang membawa teh kotak untuk anak kembarnya.


"Bawa anak-anak pergi, Bun. Mereka ketakutan dari tadi," pinta Herdi berusaha menenangkan kedua anak kembarnya agar tidak menangis lagi karena takut.


Anta meminta Shinchan untuk memisahkan Arya dan pocong wajah hitam itu.


"Kenapa saya ngerasa pernah mengalami hal ini ya sebelumnya? Kayak pernah ribut sama si Anan guling-guling begitu," gumam Pak Herdi.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2