Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
35. Arya Ingin Pindah


__ADS_3

Bagaimana mungkin Ken bisa melihat Dahyun yang cantik tetapi para indigo itu melihat Dahyun yang menyeramkan. Terakhir Ken bertemu memang saat hari kematian Dahyun. Saat itu juga ada orang tua Dahyun. Karena Ken saat itu pergi bersama neneknya mengunjungi makanm orang tua dan adiknya, dia tidak tahu berita kematian Dahyun. Dan kekesokannya, karena tidak bertemu Dahyun, dia berpikir mereka hanya sedang liburan.


Arwah Dahyun yang tadinya bersembunyi di dalam villa akhirnya bisa keluar saat ada sosok lain yang bisa mwnggantikannya menetap di villa tersebut. 


"Jadi ... jadi ... inikah hal yang ingin kamu ceritakan kepada Anta? Bahwa kamu bisa pergi dari villa ini karena ada yang lain yang menjadi penunggu selanjutnya?" tanya Anta.


Dahyun mengangguk.


"Tuh kan, aku bilang apa. Ada kakak lagi nangis di sana." Masayu menunjuk ke arah sesuatu di balik sofa usang. Tempat Endo mengambil kardus tadi.


Suara gemeratak tulang terdengar. Dua tangan terlihat mencoba merangkak. Perlahan rambutnya terlihat dan lama kelamaan terlihat wajah pucat. Namun, tubuh perempuan itu hanya setengah. Membuat yang melihatnya berteriak. Termasuk Dion, Ria, dan Ken karena menggunakan kamera ajaibnya Ria.


"Kabur, guys! Kabur aja, yuk!" pekik Arya.  Alhasil semua yang ada di sana berlari kecuali Anta.


Bahkan Arya dan Dion kembali hanya untuk menarik tangan gadis itu.


"Anta mau tanya Mbak nya kenapa," ucap Anta.


"Jangan sekarang! Malam ini cukup dengan si Dahyun. Biar dia jadi temennya Masayu dulu!" seru Arya yang berhasil menarik tangan Anta lebih dulu. 


Mereka berlari meninggalkan Villa kosong di Pantai Ju seketika.


"Aku numpang di rumah, Ken, ya? Aku takut pulang ke rumah Hanako. Tadinya aku mau menyelidiki keluarga itu, tetapi pas Hanako nekat ngajak tunangan gini, aku jadi takut," ucap Arya.


"Aku sih terserah, tapi kamarnya penuh," sahut Ken.


"Iya, bener. Elu mau tidur di mana? Rumah Ken penuh kayak penampungan aja," sahut Dion.


"Sama elu, lah! Masa sama Anta! Ya mau gue itu mah!" Arya terkekeh.

__ADS_1


"Ah, jaing luh!" Dion mendorong bahu Arya. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling membalas.


"Elu, kampret!" seru Arya.


"Elu, curut!" seru Dion.


"Mereka ngomong apa, sih?" tanya Ken tak mengerti.


"Mereka lagi ngomong bahasa kasih sayang penuh cinta," sahut Anta merangkul Ria.


"Iya bener penuh cinta," sahut Ria seraya menatap Ken lekat.


"Ingat sama Arga!" bisik Anta seraya meraup wajah Ria.


...***...


Hanako merengek pada Kakek Hoki. Dia ingin mencari Arya. Namun, Kakek itu melarangnya. Arya hanya akan menjadi masalah yang akan menimpanya kelak. Bahkan, Kakek Hoki sudah memutuskan menyetujui Hoka dan Endo untuk memberikan Arya pelajaran tanpa sepengetahuan Hanako.


Paman Kenta melirik Hanako, mencoba menenangkannya. 


"Nona, apa yang kau pikirkan?" tanya Paman Kenta.


"Tidak ada, Paman. Hanya saja… ah, sudahlah." Hanako tak mau mengatakan lebih jauh tentang semua yang dia rasakan tanpa menjelaskan apa-apa lagi.


"Kadang orang tua memang seperti itu, Nona Hana. Mungkin saja Tuan melarang Anda menikahi Asahi karena itu yang terbaik. Dia tak ingin Anda terlalu serius mencintai laki-laki untuk kali ini. Agar kamu tidak keluar lebih jauh seperti yang sekarang ini," kata Paman Kenta.


Pandangan mata Hanako menatap ke luar jendela. Sempat menatap ke arah seorang anak perempuan yang baru keluar dari minimarket. Dia digendong di bahu oleh sang ayah. Ada ibunya juga di samping mengiringi.


Hanako tidak pernah mengenal sosok orang tuanya. Mereka sudah lama meninggal saat dia masih kecil. Mengingatnya wajahnya saja walaupun sebatas kenangan pun, Hanako tak punya. Gadis itu menahan tangisnya. 

__ADS_1


"Untuk anak seusiaku seharusnya masih ada sedikit ingatan tentang ayah dan ibu walau pun hal itu samar-samar. Tapi, anehnya, semakin keras aku mencoba mengingat tentang mereka, semakin aku tidak tahu orang seperti apa mereka ini. Apa mungkin bila keluargaku dikutuk?" Lirih Hanako.


"Nona, bilang apa?" tanya Paman Kenta.


Hanako tak menjawab. Mobil terus melaju membelah malam, semakin lama semakin larut. Hanako masih tidak tahu ke mana Paman Kenta akan membawa dirinya. Ia hanya ingat kakeknya berkata kepada Paman Kenta bahwa mereka akan mengantarkan Hanako untuk menemui seseorang. 


Seseorang yang sudah sudah sangat dihormati oleh Keluarga Takurugi. Hanna pernah mencoba menelisik lebih jauh apa yang sedang terjadi kepada orang itu. Orang yang selalu saja disebut iblis oleh kakeknya sendiri.


Waktu terus berjalan, tak terasa mereka sudah berkendara lebih dari tiga jam. Langit masih gelap gulita, Paman Kenta tak kunjung juga menghentikan mobil. Beberapa kali Hanako menawarkan diri untuk menggantikan Paman Kenta menyetir, tetapi lelaki itu selalu menolak lalu berkata bahwa mereka akan sampai beberapa saat lagi. 


Hanako akhirnya mengalah, ia memilih memandang ke arah jalanan yang gelap sampai akhirnya tiba-tiba Paman Kemta menghentikan mobil, tepat di depan sebuah gapura pedesaan yang tak pernah Hanako ketahui di mana keberadaannya.


Paman Kenta sejenak mengamati tempat itu sebelum akhirnya merasa yakin. Tadinya dia hendak membangunkan Kakek Hoki tetapi tak jadi. Lalu, mobil berjalan masuk menelusuri jalanan desa yang terlihat seperti daerah pedalaman dengan rumah-rumah yang masih terbuat dari bahan kayu dan bambu. 


Mobil terus melaju melewati obor-obor di sepanjang jalanan kecil. Tak ada listrik di tempat ini sepertinya, hanya pohon pohon rindang serta beberapa kebun-kebun pisang, Hanako ingin bertanya di mana ini, tetapi wajah Paman Kenta terlihat tak seperti biasanya, ia tampak begitu serius, membuat Hanako jadi tak enak hati.


Paman melihat ke sebuah rumah khas Jepang zaman dulu yang cukup besar dengan teras yang luas serta pagar bambu mengitari kediaman tersebut. Di sana, Paman Kenta menghentikan laju mobil lalu menoleh ke Hanako.


"Kita sudah sampai, Nona."


Hanako berbalik badan dari empatnya duduk, hendak membangunkan kakeknya. Ternyata sang kakek sudah membuka kedua mata. Hanya saja, ekspresinya terlihat menelisik sekitar.


Hanako  yang khawatir lantas bertanya, "Kakek kenapa?" 


Kakek Hoki menggeleng, berkata bahwa dia tak apa-apa. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mobil. Hanako melihat rombongan wanita mengenakan kimono lengkap dengan rambut disanggul. Paman Kenta melangkah turun dari dalam mobil menyapa wanita-wanita asing itu. Lalu, membukakan pintu untuk Kakek Hoki.


Hanako memandang ke arah mereka. "Siapa-ibu-ibu ini?" batinnya.


Aneh, pikir Hanako, bagaimana orang-orang ini seolah bisa tahu kedatangan dirinya dan Kakek. Sadar dengan rasa penasaran Hanako, wanita yang paling depan, tersenyum kepada gadis itu sebelum membuka pintu mobil untuknya. 

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2