Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
69. Villa Terminal Setan


__ADS_3

"Emang boleh, Bun?" tanya Herdi dengan penuh antusias ke arah Tasya.


"Boleh ... boleh boleh boleh. Tapi kamu juga harus di sunat lagi ya sampai habis, krek krek krek," ancam Tasya seraya menirukan gaya mematahkan sesuatu.


Herdi sampai bergidik ngeri merasa ngilu membayangkan ketika harus disunat lagi.


"Yanda mau apa?" tanya Dita melirik tajam.


"Nggak kok, Bun! Aku nggak mau kawin lagi Bunda! Sumpah tadi aku tuh ditarik sama si Herdi nih biar ikutan!" Anan pasang badan menyalahkan Herdi.


"Kok, jadi gue?" Herdi mengernyit.


"Udah iya iya aja, sih! Terus kita kabur!" Anan menarik tangan Herdi untuk pergi dari area tengah.


"Yanda!" Dita mengejar Anan diikuti Tasya.


Ria bersiap untuk melempar bunga.


"Semuanya … siap ya? Satu … dua … tiga!!!" 


Lemparan bunga dari Ria dimenangkan oleh Arya yang sebelumnya berebut dengan Raja. Arga tertawa puas melihat adegan barusan. Pasalnya kali ini Arga sudah selangkah lebih maju dari Arya yaitu menikah. Kini, dia dan Ria sudah menjadi pasangan yang halal.


...***...


Setelah acara makan malam dilangsungkan. Semuanya kembali ke dalam kamar. Namun, berbeda dengan Ria dan Arga. Mereka kembali ke kamar pengantin yang sudah disiapkan.


"Aaaahhh ... akhirnya bisa rebahan juga." Ria langsung membaringkan tubuhnya di kasur pengantin penuh mawar itu.


Arga sudah bersiap dengan tubuh atletis nya tanpa sehelai benang apapun membuka semua yang menempel di tubuh Ria.


"Astaga! Yang, aku mandi dulu ya," ucap Ria.


"Udah deh diem aja nurut sama suami!" titah Arga.


Akhirnya, Ria pasrah membiarkan Arga berkelana di atas tubuhnya semalaman suntuk. Meskipun Arya dan Raja berkali-kali jail dengan mengetuk pintu secara bergantian. Sesekali, Arya juga menelepon ponsel Arga dan Ria sampai keduanya memutuskan untuk mematikan ponsel. 

__ADS_1


"Tau gitu kita langsung malam pengantin di hotel deh daripada digangguin dua cunguk itu," gerutu Arga.


"Udah lanjut aja. Pura-pura nggak denger aja. Atau kita sumpal telinga pakai kapas hihihi," ucap Ria seraya meraih kapas dan menyumpal lubang telinga miliknya dan juga milik Arga.


"Arya, Raja! Jangan iseng! Balik ke kamar!" Anta menarik daun telinga kedua pemuda tersebut dan membawa mereka menuju ke kamar untuk pria.


"Sakit, Nta! Ampun jangan kenceng-kenceng!" seru Arya.


...***...


Anta tersentak kala mengetahui ada sosok anak kecil yang berasal dari lantai dua dan senang bolak-balik dari lantai atas ke bawah. Anak kecil itu juga yang sering mengintip dari tangga bila ada orang asing yang datang ke dalam villa tersebut. Anta yang penasaran malah mengikuti hantu anak kecil tadi.


"Rumah ini sudah seperti terminal. Ada beberapa 'kiriman' makhluk yang saling menikah dan beranak pinak. Ada juga yang memang sudah ada di sini sejak lama. Namun, banyak juga yang hanya sekadar transit," tutur Bi Ijah yang mengagetkan Anta.


"Astagfirullah! Si Bibi Ijah main muncul aja, ngagetin tau!" seru Anta.


"Maaf, Non. Kirain Non tau kalau ada Bibi di sini kan dari tadi saya tegur Non eh diem aja," ucap Bi Ijah.


"Masa sih? Kok, Anta nggak dengar, ya. Ummmm, tadi Bibi bilang apa? Terminal hantu?" Anta mengernyit.


"Sosok nenek itu memang belum pernah menampakkan secara langsung sih, tapi amit amit juga jangan sampai ketemu. Cukup saya denger aja dari Kang Asep," tuturnya lagi.


"Oh, jadi Pak Asep bisa lihat hantu, ya, Bi?" tanya Anta.


Gadis itu masih berpikir kenapa mereka tetap ada di dalam villa, padahal kemarin malam bunda dan yanda sudah mengusir mereka. 


"Tapi, Non, pernah ya ada yang datang ke mimpi Bibi. Lalu, ada makhluk hitam bertanduk dan bermata merah di sumur. Bibi pernah melihatnya langsung saat iseng mengintip isi sumur yang di belakang sana."


"Terus, Bi?" tanya Anta masih penasaran.


"Nah, pas Bibi ngintip ke dalam sumur, dan langsung deh disambut oleh mata merah nyala nya, hahaha serem banget."


Bibi Ijah sampai merinding saat menceritakannya.


"Tapi, Non, alhamdulillah saya bersyukur karena sosok itu tidak pernah mengganggu Bibi dan Akang Asep. Sepertinya kami saling menghormati keberadaan masing-masing di sini," tuturnya.

__ADS_1


"Kalau hantu yang lainnya gimana?" tanya Anta.


"Ya, Bibi sih nggak memungkiri kalau beberapa ada yang suka mengganggu. Entah maksud mereka benar-benar berniat mengganggu kami atau hanya ingin diakui keberadaannya, tapi bagi manusia ya keberadaan mereka itu benar-benar ganggu."


Anta jadi teringat kejadian tadi selepas magrib. Dia merasa hal ganjil saat mandi di toilet kamar mandi di lantai bawah samping dapur. Ada sesuatu terus mengetuk-ngetuk pintu. Saat dia sedang di kamar mandi dapur itu, selalu ada suara yang menyerupai orang yang yang tidak dia kenal memanggil. 


"Tuan Daniel juga tadi mendapat gangguan begitu menaiki tangga terakhir. Sosok perempuan centil mencolek-colek pinggangnya dan berlarian dari sudut ke sudut lain saat hendak dia hendak mengambil lukisan di lantai dua." Bibi Ijah menambahkan lagi.


"Tuan Daniel tahu kalau tempat ini angker?" tanya Anta.


"Tahu, Non. Tapi dia nggak peduli. Bibi rasa Tuan Daniel berniat membeli villa ini karena dijual murah. Dia akan tinggal di sini karena bangkrut, gosipnya sih begitu kata Akang Asep," ucap Bi Ijah.


Tiba-tiba, sosok hantu anak perempuan yang bersimbah darah di pakaian dress putih lusuhnya kembali mondar-mandir naik turun tangga seraya tertawa. Anta menoleh ke arahnya. 


"Liat anak kecil ya, Non?" tanya Bi Ijah.


"Iya, Bi." Anta mengangguk.


"Non tahu kenapa dia suka banget bolak balik?" tanya Bi Ijah.


Anta menjawab dengan gelengan kepala.


"Kata Kang Asep, ternyata alasan anak kecil itu bolak-balik ke lantai atas karena terdapat sosok kuntilanak yang mengasuhnya. Kuntilanak itu menghuni kamar utama yang ditempati aden-aden."


"Oh, Anta inget, Bi. Kayaknya Arya juga cerita deh kalau ada hantu perempuan yang ngintip dari kamar mandi," kata Anta. 


"Tuh, bener kan Non. Selain itu ya, Non, dalam penglihatan Kang Asep, katanya ada sosok paling tinggi dan besar yang menjadi sosok raja atau pimpinan di villa ini. Raja setan itu menghuni sebuah kamar yang kami sebut kamar panjang. Dulu kata ibu saya bilang, karena makhluk seperti itu tidak menapakkan kakinya, mereka akan memilih lantai dua. Tapi jangan khawatir, Non, setidaknya, sosok 'raja' itu tidak akan mengganggu," tuturnya.


"Ya, tetep aja bisa menakuti yang lain soalnya villa ini bagaikan pusatnya para hantu keluar masuk. Ada yang datang sebentar atau pun datang untuk menetap, ya kan?" Anta berasumsi. 


"Bener sih, Non. Meski begitu, jika villa ini terus dibiarkan menjadi terminal atau pusatnya makhluk gaib seperti ini, hidup kami tidak akan tenang. Padahal Kang Asep udah mencoba segala ikhtiar yang terus kami coba. Dari mulai rutin menangkap 'mereka' ke dalam botol sama orang pintar hingga pembersihan berkala oleh Pak Kiai dari daerah Ujung Kulon. Namun, tidak cukup dengan hal itu. Jika ingin menghentikannya, hanya ada dua cara katanya, yaitu menutup rapat langsung sumber nya atau mencari cara pengikisan alamiah dari hawa manusia."


"Oh, begitu." Anta mengangguk berkali-kali. 


Hantu anak kecil tadi datang kembali dan bermain cilukba dengan Anta.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2