Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
18. Dansa Bergantian


__ADS_3

Part 18


"Tapi dia sudah meninggal," sahut Ken.


"Ah, syukurlah. Eh maaf, maksudnya saya turut berduka cita." Ria meringis malu.


"Inget Arga," bisik Anta.


"Iya iya iya, maaf khilaf." Ria mengerjap-ngerjap.


"Mata kamu kenapa? Kelilipan, ya?" tanya Ken pada Ria.


"I-iya, Ken, hehehe."


Anta mulai fokus pada pria tua yang baru memasuki kafe itu. Di belakang Hoka muncul kakeknya Hoka dan Hanako, Tuan Takurugi. Pria tua itu bersanding dengan dua wanita di kanan dan kirinya. Sang asisten yang bertubuh sintal dengan pakaian seksi juga mengikuti.


Meski usia Tuan Hoki sekitar enam puluh lima tahun, tetapi pria tua itu masih bertubuh tegak dengan cambang dan janggut yang menyatu lebat. Ia menggunakan kaca mata hitam. Ketika ia duduk, ia menghisap cerutu di tangannya.


"Itu Tuan Hoki, pemilik pulau ini," lirih Ken.


"Oh…." Ria dan Anta menyahut bersamaan seraya manggut-manggut. 


Arya terlihat berusaha menyembunyikan wajahnya karena takut pada Kakek Hoki, tetapi sayangnya Nona Arisa sudah menangkap wajah Arya saat menatap ke lantai atas. Wanita itu tersenyum melihat Arya.


Hanako lalu memerintahkan Paman Kenta agar membawa Arya ke hadapan kakeknya. Tak butuh waktu lama, pria itu langsung mengiyakan perintah sang majikan. Laki-laki kekar itu melangkah tangga menuju Arya yang sudah tak bisa berkutik dan tak bisa kemana-mana lagi.


"Tuan Arya, Nona Hana memanggil Anda. Ayo, ikut aku, Nona ingin kau menemui Tuan Besar," ucap Paman Kenta.


"Ba-baik, Paman." Arya menurut.


Dia sempat melewati Arisa yang  tersenyum genit padanya.

__ADS_1


"Hadeh... kenapa ini orang udah tua masih demen aja sama cewek," gumam Arya.


Dengan terpaksa dia mengikuti Paman Kenta. Keberadaannya langsung disambut oleh Hanako. Wanita itu memeluk Arya dari samping dan memberi hadiah kecupan di pipi kanan dan kiri Arya. Ia lalu memperkenalkan Arya pada kakeknya, Tuan Hoki, seraya melingkarkan lengannya di lengan Arya. 


Sebenarnya, Arya sangat risih, tetapi ia mencoba bertahan. Hal-hal buruk sudah dia dengar terkait kekuasaan Kakek Hoka. Arya memaksakan senyuman yang terlayang ke arah pria paruh baya itu. Cerutu di tangannya, dia berikan pada salah satu wanita muda bayarannya yang duduk dengan manja di sampingnya.


"Dia itu kekasih Anta, tadi kita ketemu. Sayangnya dia hilang ingatan," ucap Anta.


"Oh, jadi itu yang namanya Arya." 


Ken menatap dan menyimak pertemuan Arya dan Nona Hanako tersebut. Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menangkap gambar secara diam-diam.


"Mau apa, Ken?" tanya Ria.


"Aku punya teman yang bekerja di rumah besar Tuan Hoka. Mungkin saja dia tahu tentang Arya. Kalian pasti penasaran, kan, kenapa bisa Arya ada di rumah Hanako?" tanya Ken.


Anta dan Ria mengangguk bersamaan.


"Jadi, sampai sekarang kau masih belum tahu jati dirimu?" tanya Tuan Hoki.


"Belum, Tuan Besar," sahut Arya.


"Panggil saja Kakekku dengan sebutan Kakek, jangan Tuan Besar. Sebentar lagi juga kau akan menjadi bagian keluarga ku," ucap Hanako.


"Cih, gadis picik!" cibir Hoka seraya memcumbu gadis di atas pangkuannya yang terlihat ketakutan sebenarnya. Dia merupakan gadis belia yang baru saja dijual oleh orang tuanya untuk membayar hutang. Sesekali dia menatap Arya untuk meminta tolong. Namun, Arya juga tak bisa berkutik.


"Tak apa kan, Kek? Aku tak peduli dengan jati dirinya. Lagi pula aku akan membuatnya jauh lebih hebat dibandingkan kakak. Bahkan kalau perlu lebih hebat dari Kakek," ucap Hanako seraya menepuk dada bidang Arya dengan punggung tangannya penuh bangga. 


"Uhuk uhuk!" Arya sampai terbatuk-batuk.


"Kelihatannya kau sangat menyukai pemuda ini," ucap Tuan Hoki seraya tertawa.

__ADS_1


"Tentu saja, Kek. Aku yakin Asahi juga menyukai aku, iya, kan?" Hanako Takurugi menoleh pada Arya dan mengharap jawaban iya dari pria itu.


Cairan saliva di dalam tenggorokan Arya terasa sangat berat untuk ditelan, seolah ada buah nanas yang berada di sana untuk dia telan secara utuh. Kegalauan langsung melanda Arya, dia sangat bingung kenapa Nona Hanako bisa sangat agresif seperti ini. Lagi pula rasanya sulit untuk mengucapkan kata iya. Tiba-tiba, mic berdengung seolah menyelamatkan Arya dari pertanyaan Hanako.


"Semuanya, tes tes tes! Satu dua, satu dua tiga, yuhuuuuu! Yuk, kita buat pesta ini makin panas!" Suara Dion terdengar berseru dari atas panggung. Tali gitar dia selempangkan dan suara petikan senar mulai terdengar mengalun.


Sorak gembira para tamu yang hadir terdengar. Bahkan para makhluk astral yang sedari tadi bertengger di atas pohon kelapa tak jauh dari kafe yang Anta lihat sedari tadi juga ikut bersorak. Bagian atap kafe mulai terbuka bagai kubah stadion yang membuka otomatis, sehingga sinar bulan purnama masuk menyinari bagian tengah panggung. 


"Aku akan mempersembahkan sebuah lagu untuk seorang gadis yang selalu ada di hati saya," ucap Dion berseru seraya menunjuk ke arah Anta.


Ria menyikut bahu Anta seraya mengucapkan kata "cie cie" pada sahabatnya. Anta sampai menutup wajahnya yang malu karena sukses menjadi bahan tontonan para tamu undangan. Dia mencoba bersembunyi di belakang bahu Ria.


"Ratu Ananta, lagu ini buat kamu!" seru Dion.


Pria itu memulai lantunan lagu berjudul Baby dari Justin Bieber yang diubah nadanya menjadi sedikit Rock.


"Cih, norak banget!" ketus Arya bergumam.


"Loh, bukannya tadi dia bilang dia kekasih kamu? Kenapa sekarang dia kekasih pria itu? Tuh, kan wanita itu pembohong." Hanako mencibir dengan puas.


Sementara itu, Hoka menatap Anta penuh terkesima. Gadis di bawah cahaya sinar rembulan itu membuat nafsunya meningkat. Wajah polos nan ayu itu membuatnya ingin memiliki. Pria itu mengangkat tangannya memanggil Tuan Endo, sang asisten.


"Kau cari tahu gadis di atas sana. Gadis yang memakai kaus pink itu. Kalau bisa kau bawa ke rumahku segera," bisik Hoka.


"Baik, Tuan," ucap Endo.


Dion lalu turun dan menarik Anta untuk bernyanyi bersama serta berdansa. Disusul Ken yang mengajak Ria berdansa. Mereka terlihat bersenang-senang sampai membuat Arya merasa risih dan kesal. Entah perasaan apa yang hingga di hatinya kala melihat Dion menari bersama gadis yang bernama Anta.


Hanako benar, kalau Anta mengaku sebagai kekasihnya, kenapa dia mau menari dengan Dion. Apalagi tawanya sangat lepas. Namun, harus Arya akui, wajah itu sangat cantik dan membuat hatinya bergetar setiap melihat senyumannya. Akhirnya, Arya merasa tak mau kalah. Dia juga ikut menarik tangan Hanako untuk turun berdansa. 


Sang pembawa acara pesta malam itu membuat permainan. Para tamu yang turun untuk berdansa, diminta berdansa dengan menukar pasangan saat berddansa. Semua setuju dan mengikuti. Mereka pun saling tertawa. Mereka saling berganti pasangan berdansa menikmati alunan lagu yang diperdengarkan. Sampai tiba giliran Arya berhadapan dengan Anta. Keduanya saling tatap.

__ADS_1


...*** Bersambung ***...


__ADS_2