Pasangan Indigo

Pasangan Indigo
55. Masa Lalu Siti dan Vivi


__ADS_3

"Eh, perempuan tua! Jangan ikut campur ya, kalau nggak tau apa-apa jangan main nyerocos aja!" Vivi mulai mengalihkan telunjuknya pada Ibu RT.


"Eh, asal kamu tahu ya, saya percaya sama Herman. Dia tidak seperti yang kamu tuduhkan. Dia telah lama mengontrak rumah ini, dan saya kenal siapa Herman," jelas Ibu RT.


"Iya, Ti, suami kamu itu ganteng. Wajar kalau banyak perempuan yang suka sama dia," ujar salah satu wanita berusia empat puluh tahun yang berdaster tetangga dari Siti.


"Eh, kamu siapa juga main ikut-ikutan aja?! Saya dan Mas Herman sudah lima tahun bersama tau!" 


"Kamu yakin? Kamu nggak bohong kan? Bisa aja Mas Herman nolak kamu tapi kamu nggak sadar," ucap Siti. 


"Jaga ya ucapan kamu, dia itu pacar aku sebelum dijodohkan sama kamu! Kamu tuh pelakor tau!" tuding Vivi.


"Eh kamu yang pelakor kali, dasar perempuan nggak punya malu, udah ditolak masih aja kegatelan nyariin laki orang. Mending kamu pergi dari sini, sebelum kamu kami cekokin pakai cabe rawit ini," tambah Ibu RT mulai kesal seraya mengangkat kantong berisi cabe rawit merah.


"Iya, kamu pergi dari sini atau saya jambak nih," ancam Ibu Erna tetangganya Siti.


Merasa kalah jumlah dan takut dikeroyok, Vivi mulai takut juga.


"Oke, aku akan pergi. Tapi kamu jangan lupa, aku akan kembali dan merebut Mas Herman dari kamu!" seru Vivi penuh ancaman lalu pergi menjauh.


"Terserah kamu saja, Mbak!" sahut Siti dengan cuek. 


"Jangan kamu pikirin, Ti!" ucap Ibu RT.


"Iya, Bu. Terima kasih semuanya udah bantuin saya tadi," ucap Siti lalu kembali sibuk memilih sayur dengan ibu-ibu yang masih mengomel kesal. 


Tiba-tiba saja Vivi kembali dan menarik rambut Siti sampai wanita hamil itu jatuh terjungkang. Siti langsung berteriak saat merasakan sakit di kepalanya. 


"Syukurin luh!" seru Vivi lalu pergi menjauh kembali.


"Heh, dasar pelakor gila," seru Abang Tukang Sayur yang akhirnya tak bisa tinggal diam. 


"Kamu gak apa-apa, Ti?" ttanyaIbu RT.


"Saya nggak apa-apa, Bu. Umm anu, tadi cuma kaget aja." Siti mencoba berdiri dibantu oleh para ibu lainnya 


"Kamu kenal dia, Ti?" tanya Bu Erna. 


"Saya nggak kenal, Bu. Saya juga heran kenapa dia datang terus marah marah. Coba nanti saya tanya sama Mas Herman," jawabnya.

__ADS_1


Setelah Herman pulang, Siti menanyakan perihal tentang wanita bernama Vivi pada suaminya. Rupanya Vivi merupakan  adik kelas semasa kuliah dulu. Wanita itu memang menyukai Herman, tetapi ibunya Herman tak menyukai sosok Vivi. Ibunya malah menjodohkan putranya dengan Siti. 


Vivi bahkan rela menggunakan tabungan untuk mengguna-guna ibunya Herman sampai lumpuh dan akhirnya meninggal tanpa tahu sebab pasti penyakit yang diderita. Sayangnya pernikahan Herman dan Siti tetap berlangsung. 


Mendengar pernikahan Siti dan Herman, Vivi mulai naik pitam dan ingin balas dendam. Sayangnya, dia belum punya uang untuk membayar jasa dukun atau orang pintar untuk mencelakai keluarganya Herman. Sampai dia menunggu empat tahun untuk kembali datang ke kehidupan Herman dan Siti untuk menuntut balas. Vivi juga sudah memiliki uang untuk menyewa jasa dukun santet.


***


Dita melepas pegangan tangannya dadi Vivi. Dia mundur beberapa langkah dan menahan kegeraman. Rasanya ingin menarik rambut wanita itu dan memukulinya habis-habisan. Namun, dia mencoba mengumpulkan kesabaran kembali. Apalagi sosok Vivi telah pergi menggunakan mobil sedan Toyota Agya miliknya.


"Bunda lihat apa?" tanya Raja yang sudah paham dengan tabiat bundanya, tabiat yang sama persis dengan kemampuan Anta.


"Bunda lihat tukang santet, Ja." 


"Astagfirullah, maksud Bunda?"


Dita menganggukkan kepalanya. Mereka paham satu sama lain dengan orang yang sedang mereka bicarakan.


...***...


Siang itu, Anta sampai di rumah sakit setelah diantar oleh Arya.


"Oke. Nanti malam Anta mau makan seafood yang di dekat Pantai Mangrove, kita ke sana dulu, yuk!" 


"Oke, Sayang … apapun buat kamu." Arya mencolek ujung hidung milik Anta lalu pamit pergi.


"Dah, Arya!" 


"Dah, I love you, Nta!" 


"I love you more!" 


Mobil Arya melaju pergi meninggalkan Rumah Sakit Keluarga. Lalu, Anta bergegas menuju ke ruang mayat. Dia sempat melihat sosok hantu Nisa dan Rahmat yang selalu tampak mesra dan kompak menjadi hantu penunggu di rumah sakit tempat Nisa magang.


"Minggir minggir! Masih siang udah pada bucin aja. Huuuuuuu!" seru Anta dengan nada berbisik kala melewati keduanya.


Anta menarik sosok tubuh seorang gadis  dari dalam kotak penyimpanan jenazah. Dalam sebuah rumah sakit diharuskan adanya kamar mayat atau tempat penyimpanan mayat sementara yang bertujuan untuk penempatan jenazah sementara hingga keluarga membawa jenazah tersebut pulang untuk dikuburkan. 


Kamar mayat atau tempat penyimpanan mayat sementara juga digunakan untuk menunggu identifikasi maupun pemindahan untuk otopsi. Namun di zaman yang sudah modern ini, kamar mayat atau tempat penyimpanan mayat yang memiliki pendingin, lazim digunakan untuk menunda dekomposisi atau pembusukan mayat.

__ADS_1


"Keluarga kamu belum ada yang ambil kamu juga?" tanya Anta.


Sosok hantu perempuan bernama Tini itu menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. 


"Apa aku nggak punya keluarga, ya? Aku lupa, sih." 


"Hantu sih amnesia. Kayaknya kamu meninggalnya kepentok deh di kepala, makanya pada lebam gitu sampai lupa ingatan," ucap Anta seraya mengecek stok obat pengawet dan kelengkapan alat autopsi. 


"Hehehe, tapi aku boleh kan masih di sini?" tanya Tini.


"Ya boleh lah, emang jasad kamu masih di sini kok. Tadi ada mayat baru yang dateng, nggak?" tanya Anta karena memang Tini satu-satunya jasad yang tersisa di rumah sakit itu.


"Kayaknya belum ada.  Temen-temen kamu aja belum datang," sahut Tini.


"Hmmm, biar Anta aja deh yang buat laporan tentang kondisi tubuh kamu. Kelamaan soalnya kalau nunggu yang lain," ucap Anta. 


Setelah selesai dengan jasad Tini, Anta kembali memasukkan kotak pendingin berisi mayat Tini kala itu. Ponsel Anta berdering, suara teriakan riang seorang gadis kecil dia dengar dari dalam ponsel.


"Royco, kamu di mana sekarang?" tanya Anta.


"Aku di rumah Kak Anta. Kak Ken yang bawa aku ke sini sama Kak Ria." Royco berseru dari dalam ponsel dengan bahasa Jepang.


"Waaaahhh, tunggu Kak Anta ya. Kak Anta langsung pulang, deh." Anta lantas meminta izin agar dia bisa pulang ke rumah.


"Nta, aku mau ngomong sama kamu." Sosok Arga berdiri di depan pintu kamar mayat mengejutkan gadis itu.


"Argaaaaa! Jangan ngagetin, dong! Kamu mau ngomong apa?" 


"Siapa cowok ini?" Arga menunjukkan layar ponselnya. Di sana ada foto Ken yang sedang berbincang dengan Ria.


"Itu Ken. Dia yang punya rumah waktu Anta sama Ria numpang di Jepang. Arya sama Kak Dion juga numpang di rumah dia. Memangnya kenapa?" tanya Anta.


"Kok kayaknya … Ria deket banget sama dia." 


"Huuaaa, Arga cemburu, ya?" Anta menggoda pria itu.


"Hmmm… aku mau bilang ummi lah kalau aku mau nikahin Ria!" Arga langsung bergegas melangkah pergi dari Anta meninggalkan Anta yang terperanjat sampai melongo.


...*** Bersambung ***...

__ADS_1


__ADS_2